Episode 6

Ngobrol apaan? Aku cuma mau pinjam bolpoin saja di tegur. Nanti kalau aku enggak nulis malah di marahin lagi. Aku berucap dalam hati,kesal sama guru yang seperti itu. Bukan hanya aku saja yang kesal, Sasya juga kesal. Akhirnya teman-teman sekelas jadi melihat kita.

Padahalkan, aku dan Sasya dari tadi memperhatikan dan mendengarkan apa yang di sampaikan oleh guru tersebut. Percakapan aku dan Sasya juga tidak banyak kok saat meminjam bolpoin. Entah kenapa,aku orangnya memang sensitif banget kalo di tegur seperti itu. Coba saja kalau guru itu tahu aku cuma ngomong mau pinjam bolpoin. Tapi tadi aku enggak bicara sama guru itu,palingan juga kalau aku  bilang cuma mau pinjam bolpoin nanti di jawab  'alasan saja' tapi kalau tidak memberikan alasan,nanti di tanya 'apa alasan kamu mengobrol' guru seperti ini tidak bisa menghargai muridnya.

***

Sepulang sekolah,Sasya dan Santi mengajak aku untuk ikut menjadi anggota osis. Kemarin,saat upacara ada pengumuman pendaftaran anggota osis yang baru.

"Han! Ikut pendaftaran anggota osis yuk!"ajak Sasya ketika aku sedang merapihkan buku-buku.

"Iya,Han. Ikut yuk! Bareng kita,"kata Santi mengajakku lagi.

"Enggak ah! Aku enggak berminat," jawabku yang memang tidak berminat bergabung di osis.

"Pokoknya kamu harus ikut! Enggak boleh pulang!" Sasya dan Santi menahan aku untuk tidak pulang.

"Sudah kalian saja yang daftar. Aku dukung!"ucapku mengepalkan tangan ke atas tanda memberi dukungan.

Sasya dan Santi terus menahan aku dan memaksa agar aku ikut pendaftaran anggota osis. Karena mereka terus memaksa,akhirnya aku setuju juga ikut pendaftaran.

Kami sudah menunggu satu jam lebih,tapi pendaftarannya belum di buka. Kakak kelasnya sedang istirahat dan sholat dulu. Perutku lapar banget,aku mau pulang dan makan di rumah. Karena aku tidak ada uang lagi untuk beli makanan di sekolah.

"Aku pulang ya,kalian saja yang daftar." Aku membawa tas dan bersiap pulang.

"Jangan gitu dong!"ucap Sasya cemberut.

"Aku laper banget serius,mau makan di rumah."ucapku sambil mengelus perut.

"Makan  di kantin aja,"ucap Santi memeberi saran.

"Uangku sudah habis,tinggal buat ongkos aja. Udahlah aku mau pulang! Lama banget nunggunya." Aku sedikit kesal karena beneran lapar sekali.

"Bentar lagi kok,itu kakak kelasnya lagi siap-siap,"kata Santi yang melihat kakak kelas sedang siap-siap.

"Ya udah kita makan di kantin dulu yuk! Aku yang bayarin,tenang saja,"ajak Sasya. 

Kamipun pergi ke kantin. Aku makan dengan lahap,karena lapar sekali. Sasya dan Santi juga kelihatannya lapar juga,karena mereka tidak mau ketinggalan pendaftaran jadi laparnya di tahan.

Setelah selesai makan,kami kembali ke tempat pendaftaran. Kami mendaftar dan langsung di wawancarai oleh kakak kelas. Namun,ada beberapa seleksi lagi setelah wawancara. Nama-nama yang lolos wawancara akan di umumkan lewat sms ke nomor handphone yang sudah ditulis.

Akhirnya selesai juga pendaftarannya dan aku langsung pulang. Aku sih tidak terlalu berharap di terima,karena aku hanya menemani Sasya dan Santi saja. Jawaban aku saat wawancara juga tidak terlalu serius. Pasti aku tidak akan di terima.

***

"Mah! Tadi aku ikut seleksi anggota osis,"ucapku pada mamah yang sedang menonton TV.

"Bagus dong kalau begitu! Kamu bisa aktif di sekolah. Tapi,awas jangan kecapean kalo ikut osis banyak kegiatan,"kata mamah masih serius dengan sinetron yang di tontonnya.

"Inikan baru seleksi. Aku enggak tahu lolos atau tidak. Aku mau ganti baju dulu." Aku segera ke kamar untuk ganti baju.

Setelah ganti baju,aku ikut menonton TV bersama mamahku.

"Mah! Kenapa sih Papah kerjanya di kapal? Aku jadi jarang ketemu sama papah,"kataku bertanya pada mamah.

"Dari dulu,Papahmu sudah bekerja di kapal sebelum menikah dengan Mamah,"kata mamah.

"Berarti Mamah tahu dong kalau papah jarang pulang,"kataku heran kenapa mamah mau sama papah yang jarang pulang.

"Iya,tahu. Sebelum nikah,Mamah udah di kasih tahu kalau papah kamu jarang pulang,"jelas mamah.

"Terus Mamah mau?"tanyaku lagi.

"Ya maulah! Buktinya punya anak kamu. Awalnya sih Mamah biasa-biasa aja ditinggal papah. Tapi lama-kelamaan ya enggak enak juga kalau jarang ketemu. Sebenarnya Mamah ingin papah enggak kerja di kapal lagi. Tapi,untuk saat ini katanya papah belum bisa,"jelas mamahku terlihat sedih.

Aku rasa hanya aku saja yang kangen berat sama papah. Karena, mamah tidak memperlihatkan kesedihannya dan kerinduannya kepada papah di depan aku. Mendengar penjelasan mamah tadi,aku jadi ngerasa bersalah bertanya seperti itu. Mungkin,justru mamahlah yang lebih berat kerinduannya kepada papah.

Aku tidak tahu menahu mengenai pekerjaan papah,yang aku tahu papah hanya kerja di kapal. Karena itu urusan orangtua jadi aku tidak berani bertanya lebih. Semoga saja papahku cepat pulang dan berkerja di tempat yang dekat saja dengan rumah.

***

Beberapa hari kemudian,aku mendapatkan sms dari nomor yang tidak dikenal. Setelah aku baca pesannya,ternyata itu nomor dari kakak kelas osis. Isi pesannya adalah bahwa aku berhasil lolos seleksi pertama dan harus melanjutkan seleksi kedua. Wow! Aku enggak nyangka banget kalau aku akan lolos seleksi. Pasti Sasya dan Santi juga lolos,pikirku.

Pagi harinya,ketika aku sampai di sekolah. Kebetulan Sasya dan Santi sudah datang lebih dulu.

"Sya! San! Kalian udah dapat sms dari kakak kelas osis belum?"tanyaku pada mereka berdua yang sedang mengobrol.

"Sms? Sebentar aku cek hp dulu!"kata Santi lalu mengambil handphonenya dari saku roknya.

Setelah membuka hpnya dan melihat pesan, Santi berkata,"loh! Aku kok enggak ada sms dari kakak kelas ya?"

"Aku juga enggak ada,"kata Sasya yang juga melihat pesan di hpnya.

"Kok kalian belum dapat smsnya ya? Padahal seleksi selanjutnya diadakan hari ini setelah pulang sekolah." Aku heran,kenapa cuma aku saja mendapatkan sms.

"Berarti kamu lolos,Han. Kita yang enggak lolos,"ucap Santi.

"Masa sih? Kalau kalian enggak lolos,aku enggak mau lanjut,"kataku kecewa karena mereka enggak lolos.

"Eh! Jangan gitu dong! Kamu harus lanjut ke seleksi selanjutnya. Karena,kamu yang akan jadi perwakilan kita. Kalau kamu enggak lanjut,kamu akan membuat kita kecewa," kata Sasya memberiku semangat.

"Tapi,aku sendirian. Enggak ada teman. Kalian tega ih!'kataku yang semakin sedih.

"Eh! Ada juga kok teman sekelas kita yang lolos. Sudah kamu jangan khawatir! Pokoknya pulang sekolah harus ikut seleksi selanjutnya. Nanti kita temenin kamu sampai selesai,"kata Sasya yang terus memberi dukungan kepadaku. 

Sebenarnya ada teman sekelasku juga yang lolos seleksi,tapi aku tidak kenal dekat dengan mereka. 

Setelah pulang sekolah,Sasya dan Santi mengantarkanku ke ruangan seleksi osis. Seleksi kedua ini adalah seleksi pengetahuan umum. Aku ditugaskan untuk mengisi soal seperti ujian.

Benar saja,Sasya dan Santi menungguku sampai selesai.

"Ngapain kalian masih di sini?"tanyaku heran karena mereka duduk di depan ruangan seleksi.

"Ya nungguin kamulah!"kata Santi.

"Harusnya kalian pulang saja. Aku enggak perlu ditungguin,memangnya aku anak TK apa? Ayo kita pulang! Btw terima kasih ya kalian udah nungguin aku,"ucapku sambil tersenyum kepada mereka.

Malam harinya,aku mendapatkan sms lagi bahwa aku lolos lagi ke seleksi berikutnya. Seleksi berikutnya adalah seleksi yang terakhir sekaligus seleksi yang paling berat. Seluruh peserta diharuskan membawa peralatan dan perlengkapan yang sudah diberitahu oleh kakak kelas. Karena pada hari sabtu akan menginap di sekolah.

Kegiatannya selama menginap di sekolah ialah seluruh peserta dikerjai dan dimarah-marahi oleh kakak kelas. Jam 12 malam kami dibangunkan oleh kakak kelas secara kasar, sampai-sampai aku yang sedang tidur seakan ada bencana gempa bumi. Karena kakak kelas menggedor-gedor pintu dan tembok sangat keras. Bangun tidur langsung di suruh pakai baju putih abu-abu lengkap dengan dasi dan topi.

Setelah itu,kami berbaris di lapangan. Kakak kelas memarahi kami lagi. Katanya,"siapa yang suruh kalian pakai baju putih abu-abu?" Dan kami di suruh mengganti baju olahraga dalam waktu 1 menit. Gila! Emang gila banget, lari menuju kelasnya aja menghabiskan waktu beberapa detik belum nyari bajunya ditas,lalu lepas baju putih abu-abu dan memakai baju olahraga.

Pada saat aku memakai baju olahraga rasanya baju kebalik,lalu aku balik eh malah kebalik lagi. Di balik lagi kok aku ngeliatnya kebalik lagi. Ya Allah! Mana lampunya nyala-mati nyala-mati terus kayak lampu disko. Emang kakak kelasnya niat banget pencet-pencet saklarnya. Untungnya ketika sampai di lapangan lagi,ternyata baju aku enggak kebalik. Padahal aku udah deg-degan banget.

Kami semua sudah memakai baju olahraga,eh si kakak kelas minta kami ganti baju putih abu-abu lagi. Ya Allah! Ampun!  Waktunya 1 menit lagi. Pada saat ganti baju olahraga,baju putih abu-abunya main asal taro aja, jadi aku enggak tahu dimana punya aku. Aku ciumin parfum baju,akhirnya nemu juga punya aku. Lalu aku mencari topi dan dasi.

"Eh! Dek itu topi kakak," kata kakak kelas 11 yang ikut seleksi ini juga namanya kak Afni.

"Bukan kak,ini punya aku. Aku ingat banget kalau aku simpan di sini,"kataku yang deg-degan ingin mengakhiri percakapan ini,karena kakak kelas panitia sudah memaki-maki agar kami segera ke lapangan.

"Terus punya kakak mana? Tadi kakak juga simpan di sini," kata kak Afni sambil mencari topi di tengah kegelapan.

"Aku enggak tahu kak." Aku langsung meninggalkan kak Afni dan segera pergi ke lapangan. Sebenarnya kasian juga ninggalin kak Afni yang lagi nyari topi. Tapi, kalau aku bantuin nyari topi,nanti aku kena marah.

Aku melihat kak Afni tidak memakai topi ke lapangan. Karena,setiap ada satu orang yang buat kesalahan semuanya ikut kena hukuman. Kami di suruh push up 10 kali per kesalahan. Sedangkan malam itu sudah lebih dari 3 kali yang buat kesalahan. 

Saat semuanya sudah berbaris di lapangan,tanpa ada yang berbicara satupun ditengah kesunyian malam ini. Tiba-tiba ada yang menangis.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status