Episode 8

2 minggu kemudian,akan diadakan pemilihan ketua osis. Aku kaget,melihat daftar calon ketua osis. Ferdi adalah salah satu calon ketua osis. Bukan aku saja yang kaget,teman sekelasku juga kaget. Karena selama ini tidak ada yang tahu kalau Ferdi mencalonkan diri jadi ketua osis.

Hari ini,seluruh calon ketua osis berorasi mencari dukungan agar dipilih. Mereka satu persatu bergantian berpidato menyampaikan visi misi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan beberapa siswa-siswi.

Aku kagum melihat cara berbicara Ferdi di depan umum. Sepertinya banyak yang suka juga dengan cara pembawaan Ferdi yang berwibawa. Kalau dibandingkan dengan calon yang lain Ferdi jauh lebih bagus cara berbicaranya di depan umum.

Pertanyaan yang diajukan kepada Ferdi,langsung dijawab dengan tegas,jelas,dan tepat sasaran tanpa bertele-tele. Berbeda dengan calon yang lainnya terlalu bertele-tele dalam menjawab pertanyaan.

***

Pemilihan ketua osispun dilaksanakan. Hari ini tidak ada pembelajaran di sekolah. Semua siswa dan siswi bergantian menuju bilik suara yang sudah di siapakan.

Aku juga mengantri untuk menuju bilik suara. Setelah namaku dipanggil,aku segera mengambil kertas yang sudah disiapakan lalu menuju bilik suara. Ada sedikit perdebatan hati,mau pilih Ferdi atau yang lainnya. Kalau aku pilih Ferdi,nanti dia kepedean lagi. Tapi,kalau dilihat dari kualitasnya Ferdi memang lebih unggul dari yang lainnya. Akhirnya dengan obyektif aku memilih Ferdi.

Teman-teman sekelaspun mendukung dan memilih Ferdi. Karena mereka bangga dengan Ferdi yang berani mencalonkan ketua osis.

Setelah pemilihan selesai,siang harinya langsung menghitung suara. Ramai sekali di lapangan,semua calon ketua osis memiliki banyak pendukung.

Aku tidak menyangka,hasil perhitungan suara terbanyak diraih oleh Ferdi. Wow! Ferdi berhasil mengalahkan calon lainnya yang mereka semua adalah kakak kelas. Hanya Ferdi sendiri calon ketua osis dari kelas 10. Semuanya berteriak,"Ferdi! Ferdi! Ferdi!" Aku juga ikut senang sih.

Guru-guru berdiskusi untuk mengambil keputusan akhir. Karena seharusnya yang menjadi ketua osis adalah kelas 11. Meskipun hasil suara Ferdi paling banyak,keputusan guru-guru menjadikan Ferdi sebagai wakil ketua osis. Dan yang menjadi ketua osis adalah suara terbanyak kedua. Ada yang sedih karena bukan Ferdi ketua osisnya dan juga yang senang. Namun,keputusan guru-guru sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.

Pada hari senin,ketua osis yang beserta jajarannya dilantik setelah upacara. Akupun mengikuti pelantikan itu,karena aku anggota osis. Ada rasa bangga bisa menjadi bagian dari osis tapi ada rasa malu juga karena didepan umum.

Saat di kelas,teman-teman banyak yang mengucapkan selamat kepada Ferdi. Bahkan dari kelas lain juga datang untuk memberi selamat kepada Ferdi. Sebenarnya,aku juga ingin memberikan selamat. Tapi,sekarang Ferdi dikelilingi banyak orang. Nanti saja kalau sudah tidak ada yang memberikan selamat,aku ke tempat Ferdi dan memberi selamat.

Aku sudah menunggu,tapi yang datang memberikan selamat kepada Ferdi datang silih berganti. Akhirnya,meskipun Ferdi masih dikelilingi banyak orang aku ke tempat Ferdi. Karena semua teman di kelas ini sudah mengucapkan semua hanya aku saja yang belum. Dari kelas lain saja sampai rela datang ke kelas ini,masa aku yang satu kelas malah terlambat ngucapinnya.

"Selamat ya Ferdi!" Aku memberikan uluran tangan kepada Ferdi.

"Iya,terima kasih. Selamat juga buat kamu!"kata Ferdi sambil membalas uluran tanganku.

Udah gitu doang,enggak ada 5 menit. Kenapa enggak dari tadi aja,kalau cuma sebentar. Akunya aja yang malu-malu. Dasar Hani! Hani!

Hari ini juga,akan diadakan rapat perdana formasi osis yang baru.

"Cie! Ada yang mau rapat,"canda Sasya.

"Ayo kamu ikut! Kamu kan yang mau ikut osis bukan aku. Kenapa jadi aku sih yang diterima,"kataku sedikit kesal.

"Udah sana rapat!"usir Sasya.

"Kamu temenin aku sih. Aku enggak ada teman,"rengekku pada Sasya.

"Itu ada Ferdi. Bareng aja!"kata Sasya.

"Apaan sih,Sya? Ya enggak enaklah kalau jalan bareng sama cowok,"kataku yang risih mendengar jawaban Sasya.

"Ya sudah kalau enggak mau bareng Ferdi,kamu berangkat sendiri,"

"Aku berangkat sendiri saja,"kataku langsung pergi meninggalkan Sasya.

***

Di ruangan osis,baru sedikit yang datang. Inilah yang aku tidak suka yaitu ngaret. Jam kumpul harusnya jam 14.00 tapi baru pada datang jam 14.30 dan mulai jam 15.00. Kalau seperti ini kasian yang datang tepat waktu.

Kesimpulan dari rapat tadi adalah membagi tugas anggota dan mencatat acara-acara yang akan dilakasankan dalam satu periode osis.

Ferdi terlihat tidak banyak bicara,karena dia menghormati ketua osis yang seharusnya banyak bicara. Ketita dipersilahkan bicarapun Ferdi enggan untuk bicara.

Aku juga berkenalan dengan teman-teman osis yang lainnya. Ada yang pendiem juga seperti aku ada juga yang sok ngartis. Tapi,mereka baik semua kok hanya saja aku belum kenal lebih dekat.

***

Beberapa minggu yang lalu,aku mendapatkan informasi bahwa aku diterima sebagai member paduan suara. Aku senang sekali,bisa terpilih dari sekian banyak orang. Ya meskipun suara aku enggak bagus-bagus amat. Tapi,ini akan menjadi pengalaman buat aku.

Sore hari setelah pulang sekolah,aku berlatih paduan suara bersama member yang lainnya. Kami berlatih menyanyikan lagu indonesia raya dan mengheningkan cipta. Banyak tekhnik bernyanyi yang diberikan oleh bu Rini sebagai pelatih.

Latihan paduan suara selesai,suaraku serak seperti kodok. Padahal tadi udah pemanasan,tapi serak juga. Mungkin,karena tadi nyanyi berkali-kali jadi aku belum terbiasa.

Mamah membuatkan minuman hangat buat aku. Lumayan enak di tenggorokan dan suaraku sedikit pulih.

***

Di kelas,aku melihat Santi dan Ferdi sedang asyik mengobrol. Tapi,kok aku merasa kesal ya melihat mereka bedua tertawa-tawa bersama. Dengan memberanikan diri,aku mencoba bergabung bersama mereka.

"Aku boleh gabung?"tanyaku pada mereka.

"Boleh,"jawab Santi.

Mereka melanjutkan obrolan mereka yang aku tidak mengerti. Mereka tidak menghiraukan aku yang ada di depannya. Ku lihat mata Ferdi seperti ada pelangi buat Santi. Kayaknya Ferdi suka sama Santi,tapi kok aku kayak enggak rela ya. Padahal aku enggak punya rasa apa-apa sama Ferdi. Akupun memutuskan untuk tidak mengganggu dan pergi meninggalkan mereka.

Aku pergi ke lapangan bersama Sasya,karena hari ini ada pameran seni kelas 11. Setelah bosan menonton,aku dan Sasya balik ke kelas. Santi dan Ferdi masih mengobrol seperti 2 jam yang lalu. Mereka nyaman banget kelihatannya.

"Kalian enggak selesai-selesai ngobrol dari tadi,"ucapku pada Ferdi dan Santi yang masih asyik mengobrol dan tertawa-tawa.

"Tolong jangan ganggu ya!"kata Santi lalu melanjutkan obrolannya lagi.

"Iya,jangan ganggu! Lagi seru,"kali ini Ferdi yang berkata seperti itu.

"Oh! Oke." Aku kesal melihat mereka berdua seperti itu.

Lebih baik aku mencorat-coret buku daripada harus ganggu mereka berdua. Sasya mengajakku untuk kembali melihat pameran seni. Tapi,aku menolaknya karena lagi badmood. Sasya pergi bersama teman kelasku yang lainnya.

Tiba-tiba Sasya berlari dan berteriak memanggil-manggil namaku. "Han! Hani! Ayo ikut aku!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status