Episode 9

"Ikut kemana?" Aku bertanya kepada Sasya saat Sasya menarik-narik tanganku.

"Udah pokoknya ikut dulu! Nanti kamu lihat sendiri!"jawab Sasya yang terus menarik tanganku menuju lapangan.

"Apaan sih,Sya? Kamu narik-narik tangan aku. Sakit tahu!!"kataku kesal.

"Itu lihat!" Sasya menyuruhku untuk melihat pameran seni yang sedang berlangsung.

"Lihat apa?"tanyaku yang tidak dijawab oleh Sasya. Setelah itu aku menyadari,ternyata yang sedang tampil adalah kakak kelas yang aku kagumi.

"Sya! Itu serius dia? Ya ampun,keren banget!" Aku melongo melihat penampilan kakak kelas yang aku kagumi itu.

Sebenarnya bukan aku saja sih yang mengagumi,Sasya juga. Bahkan,hampir seluruh siswi di sekolah ini. 

Beruntung sekali Sasya mengajak aku ke lapangan daripada melihat Ferdi dan Santi yang bikin kesal.

***

Hari selanjutnya,aku diberi kabar oleh ketua osis bahwa setelah pulang sekolah akan ada rapat untuk lomba kebersihan dan kerapihan kelas.Siang harinya,ketua ikatan remaja masjid mengumumkan juga untuk berkumpul setelah pulang sekolah. Satu jam menjelang bel pulang berbunyi panduan suara juga latihan setelah pulang sekolah. Aku bingung,semuanya bentrok waktunya. Mana yang harus aku utamain?

Setelah aku berpikir,kayaknya aku harus izin tidak ikut kumpul ikatan remaja masjid. Pasti ketuanya mengizinkan,karena orangnya baik-baik. Sekarang tinggal pilih antara kumpul osis atau latihan paduan suara. Kalau aku pilih osis,maka aku tidak ikut latihan dan tidak bisa tampil. Kalau aku ikut latihan,aku akan ketinggalan informasi mengenai teknis perlombaan. Meskipun,aku bisa bertanya,tapi kalau tidak ikut rapat aku enggak ngerti apa yang harus aku lakukan nantinya.

Akhirnya,aku memilih latihan paduan suara dan izin tidak bisa ikut rapat osis. Tadinya aku pikir latihannya hanya sebentar,tapi sampai rapat osis selesai latihan paduan suara malah belum selesai.

Ya Allah! Maafkan aku. Aku lebih memilih latihan paduan suara dan osis daripada memakmurkan masjid di sekolah. Entah kenapa aku lebih memilih itu. Mungkin karena anggota ikatan remaja masjid orangnya baik-baik jadi mereka bisa memberi toleransi kepadaku. Tapi,aku jadi merasa bersalah karena belum bisa ikut andil dalam memakmurkan masjid padahal aku sudah menjadi anggota ikatan remaja masjid.

Aktif eskul dan berorganisasi kelihatannya menyenangkan. Tapi,ketika dijalani tidak semenyenangkan yang dibayangkan. Yang pertama harus pintar membagi waktu,yang kedua harus siap lelah hati,pikiran,dan fisik.

Setelah latihan paduan suara,aku bertemu kakak kelas anggota ikatan remaja masjid.

"Hani!"serunya saat aku sedang fokus berjalan.

"Eh! Kakak!" Aku membalikkan badan dan mencari sumber suara itu.

"Aku kira kamu enggak masuk sekolah. Tadi kenapa enggak ikut kumpul di masjid?"tanya kakak kelas itu yang membuat aku tidak enak hati menjawabnya.

"Eh iya,maaf kak. Tadi habis latihan paduan suara,"kataku yang sedikit malu untuk menjawab.

"Oh begitu. Minggu depan hadir ya!"katanya.

"Iya,Kak. Insyaallah." 

Seperti biasa sehabis latihan,pasti suaraku serak. Hari ini aku pulang lebih sore dari hari biasanya. Mamah khawatir sama aku yang pulang terlambat. Aku menjelaskan kegiatan-kegiatan di sekolah yang sangat padat hari ini. Mamah mengerti itu dan menyuruhku agar aku membawa handphone ke sekolah. Tapi aku enggak mau,karena kalau ada razia pasti ribet. Dan aku juga masih kelas 10 jadi aku enggak mau neko-neko.

***

Aku datang pagi sekali di sekolah,baru ada beberapa temanku yang datang. Aku melihat Ferdi sedang berjalan ke arahku.

"Han! Kemarin kenapa enggak ikut rapat?"tanya Ferdi yang bikin aku malas menjawab.

"Iya,aku udah izin kok sama ketua osis,"jawabku yang tidak melihat ke arahnya.

"Memangnya kamu kenapa izin?"tanya Ferdi penasaran.

"Mau tahu aja,"kataku. Lalu Ferdi pergi karena mendengar jawabanku yang ketus. Ketika Ferdi bertanya kepadaku ada rasa kesal yang kemarin tapi pas dia pergi kok aku jadi merasa bersalah ya? Aduh! Aku enggak tahu deh kenapa aku jadi seperti ini.

Hari ini ada pelajaran matematika,aku malas sekali bertemu bu Rini kalau lagi mengajar matematika. Karena beliau selalu fokus sama murid-murid yang pintar saja. Waktu SD dan SMP suka sama pelajaran matematika karena gurunya asyik dan jelas saat menjelaskan. Ada yang bilang katanya, sukai dulu gurunya maka kamu akan menyukai pelajarannya. Mungkin aku rasa perkataan itu ada benernya juga,buktinya terjadi di aku sekarang. Tidak hanya matematika saja, hampir semua guru mata pelajaran aku tidak menyukainya. Padahal waktu SD & SMP aku suka sama semua pelajaran kecuali pelajaran TIK,karena gurunya galak banget dan enggak jelas sukanya marah-marah. Di masa SMA ini,aku harus bersaing lebih ketat lagi. Tidak hanya itu, di masa ini juga aku menuju proses pencarian jati diri untuk menjadi manusia dewasa,bijak,dan cerdas. Bukan hanya pintar di dalam kelas atau saat ujian saja. Tapi cerdas dalam berbagai hal yang harus dihadapi.

***

Sudah 3 bulan aku duduk di bangku SMA. Sedikit demi sedikit aku mengenal sifat dan karakter teman-teman di kelas. Ferdi salah satu siswa yang pintar dan aktif di kelas. Beberapa teman kelasku ingin bersaing dengan Ferdi. Banyak yang tidak suka dengan Ferdi karena kepintarannya dan agak sombong kalau lagi berdiskusi di kelas. Sampai suatu kejadian besar,hampir semua anak kelas mendiami Ferdi. Aku tidak termasuk orang yang ikut mendiami Ferdi. Aku pikir mereka yang mendiami Ferdi merasa iri dengan kepintaran Ferdi. Meskipun aku agak kesal juga kalau melihat dia menjawab pertanyaan guru dengan sedikit sombong.

Kejadian itu membuat Ferdi merasa down dan tidak semangat. Bahkan sekarang dia jarang sekali menjawab pertanyaan guru. Dia lebih memilih diam meskipun dia tahu jawabannya. Karena,kalau dia menjawab beberapa temannya pasti akan membully saat pelajaran selesai.

"Ferdi! Ayo jawab! Biasanya kamu selalu tahu jawabannya,"kata bu Rini yang sedang mengajar dan heran melihat perubahan Ferdi.

"Saya tidak tahu jawabannya,Bu,"jawab Ferdi berbohong padahal dia tahu jawabannya.

"Masa tidah tahu? Ini mudah loh! Ayo coba kamu jawab!" Bu Rini terus memaksa Ferdi untuk menjawab.

"Tidak,Bu. Saya tidak bisa,"jawab Ferdi terus merendahkan diri.

Setelah pelajaran matematika selesai,beberapa teman kelas membully Ferdi.

"Hey,Ferdi!! Sebenarnya kamu tahu kan jawaban tadi?" Teriak salah satu temanku yang bernama Juli di depan Ferdi.

"Enggak,Saya tidak tahu." Ferdi menjawab dengan muka datar.

"Halah! Ngaku aja kamu! Kamu pasti tahu jawabannya,malah sok-sokan enggak bisa jawab. Cuih!!" Juli meludahi Ferdi.

Ya ampun! Kasian banget Ferdi dibully tapi dia hanya bisa diam. Teman-teman kelaspun hanya diam melihat kejadian ini. Karena mereka takut Juli berbuat macam-macam yang lebih dari ini.

Kayaknya Ferdi merasa serba salah,mau jawab atau tidak dia tetap dibully. Karena yang bully adalah anak dari kepala sekolah. Juli memang orangnya baik,tapi kalau sekalinya dia tidak suka sama seseorang dan sedang dalam keadaan emosi,kejadiannya bisa seperti tadi bahkan lebih. Juli mengancam kalau ada yang memberitahukan perbuatannya kepada guru,maka dia akan membalasnya.

***

Seminggu kemudian,Juli mengusulkan kepada ketua kelas agar mengacak tempat duduk. Katanya,kasihan yang di belakang tidak mendapat perhatian lebih dari guru. Karena selama ini cuma yang di depan saja yang aktif di kelas.

Ketua kelas bingung bagaimana sistem mengacaknya biar adil. Akhirnya,diputuskan siapa cepat dia dapat. Jadi,bagi yang datang ke sekolah pagi maka dia bebas mau pilih duduk di mana saja. Kalau yang berangkatnya agak siang, ya dapat yang sisa-sisanya apalagi yang terlambat.

Wah! Selama inikan aku berangkatnya agak siang,meskipun tidak pernah terlambat. Siap-siap saja dapat tempat seadanya seperti pertama kali masuk kelas ini.

Biasanya setelah pulang sekolah,aku mengerjakan tugas kelompok. Tapi,hari ini tidak ada tugas kelompok dan tidak ada kumpul osis juga. Sedikit merasa aneh kalau aku langsung pulang,tapi aku juga mau ngapain di sekolah. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang.

Setiba di depan rumah,aku melihat ada sepatu laki-laki yang belum pernah aku lihat. Oh mungkin lagi ada tamu,pikirku. Pas aku masuk ke dalam rumah,tidak ada orang di ruang tamu. Tiba-tiba mamah keluar dari kamar dan kaget melihat aku. Baju dan rambut mamah berantakan sekali,mamah juga mencoba merapihkan bajunya. Ya ampun! Aku khawatir kalau mamah membawa laki-laki masuk ke dalam kamar. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri sampai mamah memanggilku sedikit berteriak aku baru sadar. Dengan memberanikan diri,aku bertanya soal sepatu yang ada di depan rumah.

"Mah! Kok di luar ada sepatu laki-laki,punya siapa?"tanyaku berhati-hati agar tidak menyinggung mamah.

"Itu sepatu laki-laki yang ada di kamar Mamah." Jangtungku rasanya berhenti sejenak mendengar mamah membawa laki-laki ke dalam kamar.

Tubuhku lemas hatiku kecewa,bisa-bisanya mamah mengkhianati papah yang sedang berlayar. Aku tidak bisa berkata lagi dan segera masuk kamar. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status