Episode 10

Lalu ada suara laki-laki mengentuk pintu kamarku. Itu pasti laki-laki yang tadi di kamar mamah. Aku tidak berniat membuka,tapi setelah itu mamah yang mengetuk pintu aku langsung membukanya.

Aku kaget melihat mamah dan laki-laki itu berdiri di pintu kamarku. Mataku mengamati dari ujung kepala sampai kaki laki-laki itu. Setelah aku amati,sepertinya aku mengenal laki-laki itu.

"Papah?"tanyaku penasaran.

"Iya."

"Papaahh!" Aku langsung memeluknya sangat erat. Ternyata laki-laki itu adalah papahku.

"Papah aku kangen banget,kenapa Papah lama sekali pulangnya?"tanyaku kecewa karena papah selalu jarang pulang. Tapi sekarang aku senang papah udah pulang.

"Yang penting sekarang Papah udah pulang. Kamu cepat ganti baju,kita akan jalan-jalan,"kata papah.

"Beneran?"tanyaku penuh harap dan dijawab anggukan oleh papah.

"Yeayyy!" Aku bersorak gembira sekali.

Aku segera mengganti baju dan bersiap pergi jalan-jalan bersama keluargaku. Aku tidak menyangka papah pulang hari ini tapi aku senang sekali dengan kehadiran papah. 

"Aku sudah siap!"kataku setelah memakai baju rapih.

"Papah juga sudah siap,tapi kita tunggu mamah dulu ya!"kata papah.

Beberapa menit kemudian mamah keluar dari kamar dan kita berangkat pergi ke mall. Papah mempersilakan aku dan mamah untuk membeli sesuatu yang diinginkan.

"Aku enggak mau beli sesuatu,aku maunya beli Papah. Biar aku bisa dekat sama Papah terus,"manjaku pada papah.

"Iya. Mamah juga,"kata mamah ikutan manja seperti aku.

Papah tertawa melihat manjanya aku dan mamah. Kami bertiga bahagia bisa berkumpul seperti ini. Meskipun papah hanya 1 minggu saja di sini. Maka dari itu,kita harus membuat momen yang indah.

Setelah berbelanja,kami makan di salah satu restaurant yang ada di mall. Restaurantnya sangat penuh,membuat kami harus menunggu lama. Pokoknya aku senang sekali hari ini,rasanya aku ingin memberhentikan waktu agar momen ini tidak cepat berlalu.

"Gimana di sekolah,Sayang?"tanya papah yang sudah lebih dulu menyelesaikan makannya.

"Hani jadi anggota osis loh,Pah?"jawab mamah memberitahu ke papah.

"Wah! Hebat anak Papah!"kata papah sambil mengacungkan jempolnya.

"Pokoknya nanti aku mau cerita banyak sama Papah tentang kegiatan aku di sekolah,"kataku sambil mengunyah makanan.

"Siap,Bos! Sekarang habiskan dulu makanannya,"kata papah.

Setelah pulang dari mall, aku menceritakan semua kejadian yang aku alami selama di SMA. Dari mulai nyanyi fals,ke kantin setelah upacara,osis,ikatan remaja masjid,latihan paduan suara sampai aku menceritakan Ferdi yang dibully di kelas. Papah antusias mendengar ceritaku,terkadang papah juga memberikan masukan dan saran buat aku. Papah bangga banget sama aku,karena sekarang aku bisa aktif di sekolah tidak seperti dulu yang pendiam. Sebenarnya aku ingin papah mendengarkan ceritaku sampai malam dan tidur bersamaku. Tapi,katanya kasian mamah udah tidur duluan di kamar. Jadi,besok lagi deh aku bisa cerita sama papah.

Pagi harinya Papah membangunkanku,akupun langsung bangun dan merasa bahagia dibangunkan papah. Hari ini aku bisa sarapan bareng papah tapi sayangnya aku harus segera pergi ke sekolah.

Efek bahagiaku sampai di sekolah,aku senyum-senyum sendiri dan semangat belajar. Padahal hari ini aku mendapatkan tempat duduk di belakang lagi sedangkan Sasya duduk di depan karena dia berangkat pagi.

"Hani! Kayaknya kamu senang ya duduk sama Andre?" Tiba-tiba Sasya datang mengagetkanku.

"Enggak kok biasa aja,"jawabku yang memang biasa saja duduk bareng Andre,karena enggak ada tempat lagi. Andre itu dulunya duduk bareng Santi jadi aku lumayan kenal dekat sama dia.

"Kalau duduk sama aku enggak sebahagia ini mukanya,"kata Sasya yang cemburu.

"Duduk bareng kamu bikin banyak masalah,Sya. Hehehe!" Aku bercandain Sasya.

Lalu aku menceritakan alasan kebahagiannku hari ini pada Sasya. Dia juga terlihat bahagia mendengar ceritaku bahwa papahku sudah pulang.

Aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah,tapi sayangnya hari ini ada tugas kelompok dan rapat osis. Aku meminta izin kepada teman kelompokku untuk mengerjakan tugasku di rumah. Dan aku juga minta izin kepada ketua osis untuk tidak ikut rapat hari ini.

Di rumah, waktunya aku bermanja-manja sama papah. Aku melanjutkan cerita yang kemarin sampai aku capek sendiri ngomongnya. Tapi papah tidak capek mendengar aku cerita,beliau malah senang dengerin aku cerita.

Sore ini, Papah mengajak aku main di taman yang tidak jauh dari rumahku. Kita piknik kecil-kecilan di taman. Mamahku membawa beberapa cemilan kesukaan papah yang mamah buat sendiri.

"Hani mau punya adik enggak?"tanya papah.

"Mau,Hani mau punya adik,"kataku yang senang membayangkan punya adik.

"Bilang sama mamah!"suruh papah melirik ke arah mamah.

"Mamah mau kok punya anak lagi. Tapi, syaratnya Papah enggak boleh kerja di kapal lagi. Kalau Mamah hamil terus lahiran Papah enggak ada,nanti siapa yang ngurus-ngurusnya. Hanikan sekolah, lalu belum mengerti bagaimana nanti saat mamah lahiran,"jelas mamah.

"Iya,Papah enggak usah kerja di kapal lagi. Biar Hani punya adik. Hani kan mau punya adik kecil yang lucu,"kataku membujuk papah.

Papah yang membuka pembicaraan seperti itu,tapi papah juga yang bingung. Sebenarnya aku kasian sama papah yang udah mau punya anak lagi tapi mamah enggak ngizinin kalau papag masih kerja di kapal. Papah sudah 20 tahun lebih berkerja di kapal,beliau sudah naik jabatan dan gajinya lumayan besar. Maka dari itu,beliau sayang untuk melepas pekerjaannya sekarang. Katanya kalau papah cari kerja lagi agak susah,karena umurnya sudah tidak muda lagi. Tapi papah akan mengusahakan untuk mencari pekerjaan yang dekat dengan rumah. Meskipun saat ini beliau belum bisa melepaskan kerja di laut sampai mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai.

***

Aku sampai di sekolah jam 7 kurang 5 menit,itu artinya aku harus duduk di tempat yang masih tersisa. Aku keliling kelas,ternyata yang tersisa hanya di sebelah Ferdi.

"Fer! Aku boleh duduk di sini enggak?"tanyaku pada Ferdi barangkali sudah ada yang menempati.

"Boleh,silakan!"jawabnya.

Akupun menyimpan tas di kursi lalu duduk. Ferdi terlihat tidak seperti dulu,dia lebih banyak diam. Aku merasa iba melihat kondisinya saat ini.

Ketika bel istirahat berbunyi,aku mengajak Ferdi untuk ke kantin. Tapi, dia menolak dan aku menawarkan jasa titipan kepadanya,diapun mau. Titipannya roti sama air mineral.

Akupun kembali ke kelas setelah beberapa menit mengantri di kantin.

"Nih! Titipannya,"kataku sambil memberikan plastik yang berisi roti dan air mineral.

"Terima kasih,"kata Ferdi mengambil plastik itu.

"Ongkirnya mana?"kataku becanda. Eh Ferdi malah beneran mengambil uang di sakunya.

"Aku cuma becanda,Fer. Serius amat!"kataku.

"Aku beneran mau bayar,nih uangnya!" Ferdi serius memberikanku uang tapi aku menolaknya. Terlihat dari wajahnya bahwa Ferdi tidak suka dengan candaanku.

Aku rasa sepertinya mental Ferdi agak terganggu. Aku ingin sekali membantunya bangkit dari keterpurukannya tapi aku bingung bagaimana cara membantunya. Mungkin cara pertama aku harus terus duduk di sebelahnya agar dia bisa dekat dan nyaman sama aku terus bisa menceritakan masalahnya kepadaku.

Ke-esokan harinya,aku berharap tempat duduk di sebelah Ferdi masih kosong. Tapi, di sana sudah ada Santi yang sedang mengobrol dengan Ferdi. Ferdi terlihat senang mengobrol dengan Santi. Mungkin hanya Santi yang bisa bikin Ferdi tersenyum bukan aku.

Aku menceritakan inisiatif untuk membantu Ferdi kepada papah. Dan aku juga menceritakan Santi yang mungkin bisa membantu Ferdi. Tapi,kata papah jangan karena cemburu sama Santi aku enggak jadi bantuin Ferdi. Kalau aku benar-benar ingin membantu,maka aku harus kembali pada niatku.

Sayangnya kebersamaanku dengan Papah harus berakhir malam ini. Karena papah akan pergi berlayar lagi sampai beberapa bulan ke depan. Aku menangis di pelukan papah dan menghalang papah agar papah tidak pergi. Tapi mamah menarikku,dan membiarkan papah pergi.

"Kalau kamu menangis,nanti papah enggak tenang perginya. Doakan saja semoga papah dapat kerjaan yang dekat dengan rumah kita,"kata mamah si sela-sela aku menangis.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status