Episode 11

Mataku sembab dan hitam habis nangis semalaman. Kali ini aku tidak memikirkan duduk bersama Ferdi. Tapi yang tersisa hanya kursi yang di sebelah Ferdi dan kursi paling depan dekat meja guru.

"Aku boleh duduk di sini lagi enggak?"tanyaku tidak tersenyum padahal biasa aku selalu murah senyum.

"Mau banget ya duduk di sini? Tuh di depan masih ada yang kosong,"kata Ferdi yang malah tersenyum kepadaku.

"Di depan dekat sekali dengan meja guru. Tapi,kalau kamu enggak ngizinin aku duduk di sini enggak papa kok. Lebih baik aku duduk di depan saja,"kataku yang sedang malas untuk berdebat masalah tempat duduk.

"Eh!" Ferdi menarik tanganku dan berkata lagi,"cuma becanda,serius amat. Sini duduk!"kata Ferdi menarik tanganku untuk duduk.

Ternyata Ferdi membalas becancaan aku yang kemarin. Tapi,aku sedang tidak mood becanda. Alhasil Ferdi tidak berhasil becandain aku.

Aku tidak berkata apapun pada Ferdi setelah itu. Aku masih sedih papah berangkat berlayar lagi. Tapi sepertinya Ferdi bingung dengan sikap aku yang tidak seperti biasanya. Diapun bertanya kepadaku,awalnya aku menjawab tidak apa-apa. Habis itu,dia bertanya lagi perihal aku tidak hadir saat rapat osis beberapa hari yang lalu. Aku jadi teringat waktu itu aku izin karena ada papah dirumah. Akhirnya aku menceritakan kesedihanku pada Ferdi,sampai aku menangis. Ferdi merasa bersalah karena melihat aku menangis. Aku segera menghentikan tangisanku.

Heran,harusnya Ferdi yang menceritakan masalahnya padaku. Malah aku yang cerita dan nangis di depan dia. Akupun mencoba membuka pembicaraan ke arah masalah dia,tapi dia masih tertutup dan belum bisa terbuka sama aku. 

"Hari ini ada kumpul osis,kita bareng yuk!"ajak Ferdi.

"Oh iya,ayo!"jawabku sembari membereskan kotak bolpoin.

Di perjalanan menuju ruangan osis,aku dan Ferdi saling berdiam diri tidak ada yang berbicara hingga sampai di ruangan osis.

Karena ketua osis tidak masuk sekolah,jadi Ferdilah yang memimpin rapat hari ini. Berbeda dengan di kelas,di ruangan osis Ferdi lebih merasa nyaman. Raut wajahnya pun berbeda ketika dia bertemu dengan teman-teman osis lainya.

Setelah rapat selesai,aku pamit kepada Ferdi untuk pulang duluan. Saat sedang berjalan,tiba-tiba ada orang di belakangku lalu menyamakan langkah kakiku. Pas aku lihat,ternyata Ferdi.

"Loh! Bukannya kamu masih ada urusan?"tanyaku kaget.

"Udah selesai. Sekarang mau pulang,"jawab Ferdi.

"Oh..." Aku membulatkan bibirku membentuk huruf O. "Eh btw,kamu keren bangst sih kalau lagi bicara di depan umum. Berwibawa dan bijak sekali." Aku memuji Ferdi.

"Enggak kok. Biasa aja,"katanya merendahkan diri. Lalu kami pulang ke rumah masing-masing. Karena arah rumah kita berlawanan jadi enggak bisa naik angkot bareng.

***

Ke-esokan harinya aku berangkat pagi ke sekolah biar bisa pilih tempat duduk. Aku tertarik lagi untuk duduk bersama Ferdi dan membantu dia untuk semangat lagi. 

Pas bel istirahat ada pengumuman ikatan remaja masjid untuk berkumpul dan aku segera pergi ke masjid. Katanya ada salah satu siswa yang orangtuanya meninggal,jadi anggota ikatan remaja masjid ditugaskan untuk keliling kelas mengumumkan dan meminta sumbangan kepada seluruh siswa untuk keluarga yang ditinggalkan.

Setelah berkeliling ke kelas 11, sekarang giliran masuk di kelasku sendiri. Teman-temanku pada heboh menanyakan aku yang sedang berkeliling mengambil uang.

Setelah tugas itu selesai,aku kembali ke kelas.

"Keren!" Tiba-tiba Ferdi berkata seperti itu.

"Keren apa?"tanyaku bingung.

"Kamu keren jadi anggota ikatan remaja masjid. Terus tadi keliling kelas minta sumbangan. Itu hanya biasa di lakukan oleh orang yang baik,"katanya memujiku.

"Semua orang juga bisa kok seperti itu,"jawabku yang tidak mau terbang jika dipuji.

"Tidak semua orang bisa seperti kamu,"katanya. Lalu aku tidak menghiraukannya lagi.

Sudah beberapa hari ini aku duduk bersama Ferdi. Aku merasa nyaman berada di dekat Ferdi,Ferdipun sudah mulai sedikit terbuka denganku.

Sepertinya Ferdi merasakan sikap aku yang berbeda kepada dia. Aku memberikan perhatian lebih kepadanya. Aku tak tahu ini hanya rasa kagum atau rasa cinta kepadanya. Ferdi curiga kepadaku, dia memberikan tantangan kepadaku untuk duduk bersama teman laki-laki yang lain. Akupun menyanggupi tantangannya dan membutikan di hadapannya,bahwa aku bisa juga duduk bareng Andre. Mungkin Ferdi tidak suka jika aku menyukainya. Aku sedikit kecewa dengan sikap Ferdi yang seperti itu,tapi aku juga tidak mau menunjukan bahwa aku memiliki rasa kepadanya. Hari setelahnya, aku tidak duduk bareng Ferdi lagi. Aku ingin menjauh darinya,mungkin itu yang dia inginkan. 

Besoknya,aku datang pagi sekali ke sekolah. Ku lihat ada 2 orang temanku yang sudah datang. Karena kursinya masih banyak yang kosong,jadi aku bebas bisa memilih kursi dimana saja. Aku pilih kursi ditengah,lalu aku langsung menyimpan tasku dan duduk. Beberapa menit kemudian Ferdi datang,aku pura-pura membaca buku dan tidak melihatnya. Tiba-tiba dia duduk di sampingku.

"Saya bolehkan duduk di sini?"kata Ferdi yang sudah duduk di kursi sebelahku.

"Silakan!"jawabku yang sedang malas berbicara kepadanya.

"Tumben udah datang,biasanya siang,"kata Ferdi menyindir.

"Iya. Tempat duduk masih banyak yang kosong,kenapa mau duduk di sini?"tanyaku dengan nada ketus.

"Aku mau duduk di sini,memangnya enggak boleh?"tanya Ferdi.

"Siapapun boleh duduk di sebelah aku,bukan cuma kamu saja,"kataku semakin kesal melihat wajahnya.

Lalu aku dan Ferdi saling diam-diaman sampai banyak teman-teman yang sudah datang. Sambil menunggu bel masuk,aku ke tempat duduk dan Sasya dan mengobrol. Setelah bel beebunyi,aku segera kembali ke tempat dudukku.

Pelajaran pertama adalah pelajaran matematika,itu pelajaran yang paling di sukai Ferdi dan yang tidak aku sukai karena gurunya. Bu Rini memberikan beberapa soal yang harus di kerjakan. Aku sedikit kesulitan menjawab soal,mau nanya sama Ferdi tapi gengsi. Ku lihat Ferdi sudah selesai dan mengumpulkan jawabannya. Aku masih fokus ke beberapa soal yang tidak bisa aku jawab.

"Udah selesai belum?"tanya Ferdi kepalanya  melongok ke arah buku aku.

"Belum,"jawabku sambil pura-pura mikir padahal enggak mikir.

Lalu Ferdi sibuk dengan aktifitasnya sendiri.

"Mau di bantu enggak?"kata Ferdi tiba-tiba menawarkan bantuan. Aku bingung mau jawab iya atau tidak. Kalau aku jawab 'iya' nanti dia kepedean dikira aku membutuhkan dia. Tapi kalau tidak,aku enggak akan selesai-selesai jawab soalnya.

"Boleh deh, nomor 3 gimana ya caranya?" Akupun memilih untuk meminta bantuan kepadanya dari pada nanti jawabnya mengasal.

Lalu Ferdi menjelaskan cara mengerjakan soal nomor 3 dan beberapa soal lainnya. Lumayan jelas apa yang disampaikan sama Ferdi sehingga aku mudah mencerna apa yang di sampaikan. Dari kejadian itu,percakapan aku dan Ferdi sudah mulai mencair kembali. Ferdi juga mengatakan,bahwa aku sedang kesal kepadanya atas kejadian beberapa hari yang lalu. Dia bilang, dia hanya mengetes aku saja. Dia juga bilang, dia mau duduk sama aku terus,jadi aku enggak boleh duduk sama yang lain. Ya ampun aku senang banget dengar Ferdi berkata seperti itu. Aku enggak tahu sebenarnya dia itu peramal atau bukan. Karena dia tahu apa yang sedang aku rasakan.

Ke-esokan harinya,Ferdi mencoba untuk menghipnotis aku. Dia ingin aku menjadi bahan percobaannya dan aku menyetujuinya. Dia mengucapkan beberapa kalimat hipnotis dan akupun seperti tidak sadar. Dia bertanya-tanya kepadaku dalam keadaan aku dihipnotis. Aku enggak tahu sebenarnya aku sadar atau enggak. Kalau dibilang aku enggak sadar tapi aku masih bisa mendengar suara riuh teman-teman di kelas. Kalau dibilang sadar,aku juga enggak sadar sepenuhnya justru aku malah mengantuk dengan posisi tanganku menutup wajahku dan bersandar pada meja. Lalu dia membangunkan aku dari hipnotisnya,dia bertanya katanya apa yang aku rasakan. Aku jawab enggak tahu,terus aku bilang, kamu berhasil kok hipnotis aku. Biar Ferdi merasa senang. Hampir setiap hari aku dijadikan percobaan hipnotis.

Suatu hari saat Ferdi sedang mencoba menghipnotis aku. Sasya datang dan heran melihat apa yang dilakukan oleh aku dan Ferdi. Sasya bilang,katanya kenapa aku nurut saja apa yang dilakukan oleh Ferdi. Tapi, aku malu untuk menjawab kalau aku suka sama Ferdi. Akhirnya karena aku malu,aku enggak mau lagi dihipnotis. Ferdi juga mengerti dan diapun malu juga.

Aku dan Ferdi semakin lama,semakin dekat seperti tidak bisa dipisahkan. Setelah sekian lama aku mencoba agar Ferdi menceritakan masalahnya. Akhirnya,kali ini dia membongkar semua rahasianya kepadaku. Cukup sedih mendengar apa yang dia ceritakan. Kesimpulannya,saat dia dibully mentalnya benar-benar terganggu sehingga dia harus dibawa ke psikolog oleh orangtuanya. Dia juga mengatakan akan pindah sekolah setelah bagi raport semester 1. Aku sangat menyayangkan dia yang akan pindah sekolah. Aku membujuknya agar dia tetap sekolah disini. Aku memberikan alasan-alasan agar dia bertahan. Selama duduk bersamaku Ferdi sudah mulai semangat lagi meskipun tidak seperti dulu. Entah bagaimana nasibku kalau Ferdi benar-benar pindah sekolah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status