Episode 12

Bagi raport semester 1 tiba. Pihak sekolah meminta agar orangtua yang mengambil raport. Aku dan mamahku pergi ke sekolah bersama-sama. Tidak banyak temanku yang ikut orangtuanya mengambil raport,bahkan aku tidak melihat Ferdi sampai aku pulang.

Liburan telah tiba,aku dan mamah berencana untuk pergi ke rumah kakek dan nenekku yang ada di Yogyakarta. Kami menyiapkan pakaian dan beberapa oleh-oleh yang akan dibawa ke Yogyakarta.

Kami berangkat menggunakan kereta api. Kereta api adalah transportasi yang aku sukai dibandingkan dengan yang lainnya. Selain cepat dan murah,aku bisa melihat pemandangan sawah dan pegunungan.

Saat sudah sampai di stasiun,aku dan mamahku dijemput oleh pamanku menggunkan mobil. Dari stasiun menuju rumah membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Aku tertidur di mobil beberapa saat. Lalu mamahku membangunkanku saat sudah sampai.

Kakek dan nenekku menunggu kami di depan pintu. Mereka menyambut kami dengan suka cita. Setelah masuk ke dalam rumah,kami disuguhkan banyak makanan padahal kami juga membawa banyak makanan.

Cucu kakek dan nenekku bukan hanya aku saja. Ada beberapa cucu yang lainnya juga. Mreka tidak semuanya tinggal di rumah kakek dan nenek. Tapi,rumah mereka tidak jauh dari rumah kakek dan nenek. Hanya aku cucu yang tinggalnya paling jauh. 

Kakek dan nenekku ini adalah orangtua dari mamahku. Sebenarnya mereka ingin kami tinggal bersama mereka di Yogyakarta,karena kami selalu ditinggal oleh papah. Tapi papah tidak mengizinkan kami tinggal di Yogyakarta. Alasanya,papah tidak ingin merepotkan orangtua dan kalau papah pulang tidak usah jauh-jauh pergi ke Yogyakarta. Tapi papah tidak melarang kami untuk pergi ke Yogyakarta kapan saja.

Sayangnya kakek dan nenek dari papah semuanya sudah meninggal sebelum aku lahir. Jadi,aku belum pernah bertemu mereka sama sekali. Aku hanya dikasih tahu fotonya saja. Kakek mirip sekali dengan papah. Papah punya adik yang juga tinggal di jakarta. Setelah orangtua papah meninggal,papah menjadi tulang punggung buat adik-adiknya. Maka dari itu, dari dulu papah sudah berkerja di kapal untuk membiayai adik-adiknya. Kini,adik-adik papah sudah menikah semua dan memiliki beberapa anak. Hanya papah saja yang memiliki satu anak.

Selama liburan,aku bermain dengan sepupuku yang seumuran. Kami berjalan-jalan keliling kota sambil mengobrol dan bercanda. Sepupuku ada yang malu-malu seperti aku ada juga yang enggak tahu malu. Mereka kocak dan seru sekali. Aku membeli aksesoris khas Yogyakarta yang akan aku bawa ke Jakarta. Setelah selesai jalan-jalan kami kembali pulang ke rumah. Tidak semua sepupuku tinggal di rumah kakek,namun karena ada aku disini mereka diizinkan untuk menginap di rumah kakek.

Saat aku ingin mengambil air minum di dapur,aku mendengar percakapan mamah dan nenek. Nenek ingin sekali agar mamah di tinggal di Yogyakarta. Kata mamahku, mamah tidak bisa mengambil keputusan sekarang karena harus menunggu papah pulang. Aku membayangkan,sepertinya asyik juga tinggal di Yogyakarta. Lagian Ferdi juga akan pindah sekolah,jadi aku tidak terbebani kalau harus tinggal di Yoygakarta.

Ngomong-ngomong Ferdi,aku jadi teringat kepadanya. Dia itu sering banget buat aku kesal tapi aku tetap suka padanya. Padahal Ferdi itu tampangnya bisa dibilang biasa saja sih,tidak banyak orang yang suka dari tampangnya,melainkan dari sikapnya,bijaknya,kesopanannya kepada orang yang lebih tua dan kepandaianya. Tapi aku tidak mau berharap lebih darinya,karena mungkin aku tidak akan bertemunya lagi. Setelah liburan selesai dan kembali masuk sekolah,dia sudah tidak ada di sekolahku lagi. Jadi,buat apa aku berharap lebih kepadanya.

Sudah 2 minggu aku di Yogyakarta,harusnya besok sudah mulai masuk sekolah. Tapi,aku dan mamahku kehabisan tiket kereta. Alhasil aku akan pulang 3 hari lagi dan izin 3 hari tidak masuk ke sekolah. Aku menduga awal masuk sekolah mungkin belum ada pembelajaran yang ada disuruh mengarang tentang liburan.

Setelah 3 hari,kamipun kembali pulang ke Jakarta. Kakek dan nenekku sedih melepas aku dan mamah kembali ke Jakarta. Aku juga sedih harus meninggalkan mereka,tapi mau enggak mau aku harus balik ke Jakarta karena sudah waktunya masuk sekolah.

Di perjalanan menuju Jakarta,aku lebih banyak tidur ketimbang menikmati perjalanan. Kata mamah, aku harus tidur supaya besok bisa langsung masuk ke sekolah. Aku dan mamah sampai di rumah jam 9 malam. Kamipun tidak melakukan aktifitas lainnya melainkan tidur karena lelahnya di perjalanan.

Esok paginya,aku seperti tidak bersemangat berangkat ke sekolah. Lagi-lagi aku kepikiran Ferdi yang pindah sekolah. Padahal aku sudah berusaha menahannya dan menjadi tempat berbagi ceritanya. Tapi,aku tidak berhak untuk ikut campur dalam urusannya.

Aku hampir terlambat sampai disekolah,karena tadi angkotnya penuh semua. Aku berjalan cepat menuju kelas. Ketika aku masuk kelas,ku lihat Ferdi sudah duduk di tempat biasa dia duduk bersamaku. Aku kaget dan bingung ternyata dia tidak jadi pindah sekolah. Alhamdulillah akhirnya Ferdi tetap sekolah di sini.

Karena sudah lama tidak mengobrol dengan Ferdi,aku jadi canggung untuk berbicara kepadanya. Aku hanya diam dan tersenyum.

"Kenapa kamu baru datang hari ini? 3 hari yang lalu kemana?"tanya Ferdi memulai percakapan.

"Liburan,"jawabku singkat.

"Waktu liburannya sudah habis dari tiga hari yang lalu. Kamu bolos ya,"ucap Ferdi mengejek aku.

"Aku udah izin. Soalnya aku kehabisan tiket kereta. Eh btw kamu enggak jadi pindah?"ucapku bisik-bisik karena tidak ingin ada orang yang tahu.

"Enggak,"jawabnya dengan wajah yang sedikit tidak enak.

"Alhamdulillah!"

Ferdi bilang sama aku katanya dia kangen sama aku,karena 2 minggu enggak ketemu ditambah 3 hari aku enggak masuk sekolah. Aduh! Aku jadi malu saat Ferdi bilang seperti itu.

Aku senang Ferdi tidak jadi pindah sekolah. Tapi,aku belum tahu alasannya tidak jadi pindah sekolah. Apa karena dia sudah nyaman berteman denganku? Eh tapi,aku tidak boleh kepedean seperti itu. Mungkin ada alasan lain yang lebih kuat selain karena aku. 

Selama duduk bareng Ferdi aku berusaha untuk menjadi teman baiknya,tempat berbagi suka maupun duka. Aku ingin membuktikan padanya,bahwa dia tidak sendiri dalam menghadapi masalahnya. Aku selalu memberikan semangat dan dukungan yang terbaik untuknya. Meskipun awalnya Ferdi belum bisa percaya sepenuhnya kepadaku,tapi sedikit demi sedikit dia mulai mengenal aku lebih dalam.

Kedekatan aku dan Ferdi dicurigai oleh teman-teman kelas. Ada yang bilang kita sedang pacaran ada yang bilang kita seperti suami istri karena saking dekatnya. Mereka tidak tahu kalau hubungan kita hanya sebatas teman yang berusaha saling mensuport.

Aku dan Ferdi tidak hanya berbagi cerita dan pengalaman tapi kami berbagi makanan dan berbagi ilmu. Lebih tepatnya Ferdi yang berbagi ilmu kepadaku,karena dia lebih pintar dariku.

Suatu ketika ada salah satu temanku kelasku yang suka sama Ferdi. Dia iri melihat kedekatan aku dan Ferdi. Sampai dia bilang sama aku kalau dia suka sama Ferdi dan dia cemburu kalau aku lagi berduaan dengan Ferdi. Akupun memberitahu Ferdi bahwa ada orang yang menyukainya. Respon dia sangat menyebalkan dan membuat aku tertawa. Katanya,wajar kalau banyak yang suka sama dia. Lalu Ferdi juga menceritakan bahwa ada juga yang suka sama dia dari kelas lain. Orang tersebut kenal sama Ferdi saat sama-sama mengikuti perlombaan. Wah ternyata bukan aku saja yang suka sama Ferdi. Tapi,aku lebih beruntung bisa dekat sama Ferdi.

Beberapa hari kemudian aku sakit dan tidak masuk sekolah satu hari. Hari itu,Ferdi mengira aku terlambat datang ke sekolah. Tapi ternyata sampai siang aku belum juga datang. Diapun mendengar kabar bahwa aku sakit dari sekretaris kelas.

Alhamdulillah aku hanya sakit satu hari saja. Aku kelelahan dan aku butuh istirahat. Besoknya,aku kembali masuk sekolah. Ferdi yang melihat aku baru datang,wajahnya terlihat bertanya kepadaku.

"Kenapa? Kok liatnya begitu?"tanyaku heran melihat wajah Ferdi.

"Kamu sudah sembuh?"tanya Ferdi bikin hatiku meleleh dengan pertanyaannya.

"Alhamdulillah udah baikan. Aku cuma kecapekan aja kok,"jawabku santai dan tersenyum.

Setelah itu wajah Ferdi berubah sedikit bahagia. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Ferdi terhadapku. Selama ini, dia terlihat biasa saja terhadapku. Tapi ada saatnya juga Ferdi mengkhawatirkan keadaanku dan itu membuat aku serasa diperhatikan olehnya.

"Ngapain senyum-senyum?"tanya Ferdi kepadaku. Aku sedang terbuai oleh perhatiannya.

"Enggak apa-apa kok,"jawabku sambil tersenyum.

"Enggak usah kepedean diperhatiin saya,"kata Ferdi. Tadi dia bikin aku terbang sekarang rasanya aku jatuh ketika Ferdi bicara seperti itu.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Widya Alice
Ditunggu lanjutannya thor
VIEW ALL COMMENTS
DMCA.com Protection Status