Share

Bab 4. Rumah Ayah

Begitu mereka sampai di rumah Ayah, Dewangga langsung menyambut anaknya dan tentu saja juga menantunya.

Waktu siang hampir sore ini, terbilang cukup pas. Tapi, Saka tentu saja sebenarnya tidak ingin terlalu lama disini.

Tujuannya hanya makan siang dan pulang. Kalau seperti ini, tamatlah riwayatnya.

Ia dan Rani pasti akan diminta untuk menginap semalam.

"Ayah kok makin kurus sih! Apa Rani harus kirimin makanan juga ke Ayah?"

Dewangga hanya terkekeh. Nada anaknya ini sungguh mirip sekali dengan almarhumah istrinya, Wanda.

"Boleh juga. Ayah ga tau kalau kamu udah pinter masak sekarang."

Pintar memasak? Mbok yang masak kok.

Saka hanya bisa diam sambil mengunyah makanannya pelan-pelan.

Rani langsung menyingkap rambutnya ke belakang.

"Kan Rani harus bisa masak biar suami betah di rumah, Yah."

Saka langsung tersedak.

"Lho, lho. Saka makannya pelan-pelan. Rani tahu kok makanannya enak tapi jangan buru-buru."

Saka hanya mengambil minuman yang telah diambilkan oleh Rani dan meneguknya pelan-pelan.

"Saka seperti ga makan setahun, ya. Padahal kan di rumah juga makan makanan kamu. Kayak takut kehabisan saja."

Dewangga dan kata-katanya yang memiliki ketajaman setajam pisau asah.

Rani yang diam kali ini, tepukannya dipunggung Saka pun berkurang.

Ia tersadar bahwa bahkan Saka tidak pernah menyentuh makanan di rumah.

Ia pun melihat ke arah Saka.

Apa Saka malu ya kalau makan sama Rani? Kalau begitu besok-besok Rani bawakan bekal untuk ke kantor aja, ya?

Rani langsung terkekeh lagi setelah pikiran-pikiran berlari-lari di otaknya.

"Kan Ayah sendiri yang bilang Rani sudah pinter masak, makanya Saka selalu ketagihan sama masakan Rani."

Saka langsung menatap Rani.

Gila, ya?

Saka tidak habis pikir dengan Rani dan ucapannya barusan.

Ia saja tidak pernah makan masakan Rani sebelumnya dan perlu ia tegaskan lagi, ini adalah masakan Mbok, kok.

Soal rasa, ya enak. Walaupun Rani bantu atau apapun itu, tetap saja resep dan masakan Mbok.

"Semoga kamu selalu makan masakan istri kamu seperti ini ya. Masakan istri adalah satu-satunya makanan yang dimakan oleh seorang suami. Karena apapun rasanya, bentuknya, dan lauknya tidak mempengaruhi rasa cinta istri saat memasaknya."

Saka hanya bisa diam dan tetap lanjut memakan makanan di depannya ini.

Ia tidak berniat membalas ucapan Dewangga atau membanggakan istrinya.

Ia hanya ingin pulang secepatnya dari sini.

"Ah ya. Apa kalian menunda kehamilan?"

Rasanya, Saka tidak berselera lagi untuk makan.

Sudahlah telat makan dan sekarang ia tidak bisa makan.

Berapa keburukan yang harus ia dapatkan dalam sehari?

"Maksud Ayah?"

Kepolosan Rani bisa membuat Saka mendapatkan masalah.

Saka harap gadis ini tidak menjawab yang aneh-aneh.

"Kapan Ayah punya cucu dari kamu? Anak Ayah cuma kamu. Ayah ga bisa dapat cucu dari yang lain."

Rani berpikir sebentar.

Ia bahkan belum pernah berbuat apapun. Bagaimana ia bisa memberikan Ayahnya cucu?

Tapi, tidak mungkin kan ia berkata seperti itu? Semua ini persoalan keluarga yang ia bangun dengan Saka. Mungkin Saka terlalu segan dan mereka juga masih sangat muda untuk mempunyai anak.

Rani pikir Saka pasti mencegah hal itu terjadi daripada mereka belum siap.

"Kami ga pernah nunda-nunda kok, Yah. Pokoknya Ayah tunggu aja. Ayah ingin cucu laki-laki apa perempuan?"

Saka langsung menoleh ke arah Rani.

Gadis ini benar-benar gila. Tingkat halusinasi dan kesadarannya terlalu berbanding kebalik.

"Oh? Bisa direquest gitu, ya? Ayah maunya laki-laki donk. Biar bisa jadi lawan debat."

Lawan debat? Dia pikir ini cucu atau pemerintah?

Saka bisa ikut gila kalau di sini terlalu lama.

"Bisa, ntar pokoknya Rani sama Saka bawa cucu laki-laki khusus buat eyang Dewangga."

Dewangga tertawa kecil.

"Baik, Ayah tunggu kabar baiknya."

Rani ikut tersenyum lucu dan mereka pun melanjutkan acara makan-makan mereka.

Tidak lupa setelah itu, Rani menyiapkan sop buah dengan sirup melon yang Ayahnya inginkan.

Rani selalu membuat itu untuk pemanis mulut dan hidangan penutup.

"Kalian menginap ya malam ini. Pakai kamar biasa. Besok pagi baru pulang."

Rani sih senang-senang saja. Pada dasarnya ini rumah lamanya yang lebih megah tiga sampai empat kali dari pada rumahnya ketika menjadi istri Saka.

Sedangkan Saka, walaupun ia sudah menginap di sini sekitar enam sampai tujuh kali, tapi ia tetap tidak nyaman di sini.

Kalau Dewangga sudah berkata-kata, tidak ada lagi yang bisa ia katakan.

Ia hanya akan menuruti dalam diam, memangnya apa lagi yang bisa ia perbuat?

"Ayah pasti kangen banget ya sama Rani. Sini Rani peluk dulu."

Rani pun memeluk Ayahnya.

"Uh, Ayahnya Rani."

Dewangga menikmati pelukan dari belakangnya, ia masih duduk tapi Rani memeluk kepalanya saja.

"Kamu jarang pulang ke sini sih, sesekali main lagi donk. Masa mesti Ayah suruh terus. Lupa ya sama Ayah karena udah punya suami?"

Saka langsung melirik kedua manusia yang ada di depannya ini.

Saka dari tadi diam, lho. Terus kenapa Saka kena terus?

Ia pun lanjut meminum sop buahnya kembali. Pura-pura tidak mendengar.

"Iya nih, Rani lupa sama Ayah. Abisnya, setiap hari dikasih pemandangan laki-laki seganteng Saka, gimana Rani ga lupa?"

Saka langsung menatap Rani.

Kenapa dia dibawa-bawa terus sih dalam percakapan dua orang ini?

"Oh gitu? Jadi kamu udah lupa sama Ayah? Gitu?"

Rani langsung menempelkan wajahnya ke samping wajah Ayahnya.

"Mana bisa sih, Yah. Rani emang sayang Saka, tapi Rani juga sayang Ayah. Ayah kan laki-laki pertamanya Rani. Rajanya Rani, lho. Kalo Saka kan pangerannya Rani."

Bagaimana bisa Rani memakai istilah seperti itu? Memangnya Rani masih bocah kelas lima SD? Jadi sekarang mereka lagi main kerajaan-kerajaan?

Rani putri dari raja Dewangga gitu. Lalu ayahnya Saka adalah penasihat raja sekaligus tangan kanan raja?

"Oh, gitu. Pengandaiannya boleh juga. Yasudah, kalian ke atas gih. Bersih-bersih dulu, nanti baru ke bawah lagi."

Rani pun langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Saka duluan gih. Rani siapin yang lain dulu."

Tanpa basa-basi Saka hanya menganggukkan kepalanya ke arah Rani dan Dewangga dan naik menuju kamar Rani yang dulu.

Kamar yang bernuansa merah muda, Saka tidak pernah lupa akan pajangan boneka setiap sudut kamar itu, dari bentuk hati hingga kelinci.

Rani memang penggemar boneka kelinci.

Rani pernah bercerita sendiri yang entah kenapa Saka masih mengingatnya bahwa ia menganggap kelinci adalah binatang kesukaannya, dan dirinya sendiri pun mirip dengan kelinci.

Teori yang entah dari mana entah Rani mendapatkannya.

"Saka selalu diam seperti itu sama kamu?"

Rani bingung, kenapa Ayahnya bertanya seperti itu?

"Engga kok, Saka banyak ngomong kalo sama Rani. Pas sama Ayah aja tuh jadi malu."

Dewangga menyipitkan matanya.

"Kok Ayah?"

Rani pun menaikkan bahunya.

"Ah udah ah, Rani mau ke atas dulu siapin bajunya Saka. Ayah mandi juga gih, bau asem."

"Sembarangan."

Rani langsung lari sambil cekikikan.

Hanya dengan Rani lah sikap tegas, kasar dan wibawa Dewangga hilang.

Hanya tergantikan Ayah yang menyayangi anaknya.

Tidak ada salahnya, bukan?

Rani adalah satu-satunya harta yang yang ia punya di dunia ini.

Begitu Rani sampai kamarnya, ia langsung mengeluarkan dua pakaian tidur yang memang sengaja dipersiapkan disini khusus Saka, kalau soal barangnya sih jangan ditanya. Barang-barangnya masih banyak di sini. Hanya sebagian saja yang ia bawa ke rumahnya.

Karena jika ada yang kurang toh tinggal balik kesini sebentar dan mengambilnya atau bahkan tinggal beli lagi.

Hanya saja Rani sedikit rempong saat memilih-milih barang-barangnya. Jadi, hanya barang favorite dan yang sering ia pakai saja yang ia bawa ke rumahnya itu.

Bayangkan saja, Rani bertapa seminggu di depan lemarinya untuk apa saja yang harus ia bawa, sampai si Mbok yang menyarankan saran yang di atas.

"Bawa seperlunya aja, Ran. Toh, nanti tinggal balik kesini kalau ada apa-apa."

Untung saja Rani punya Mbok. Kalau tidak ada Mbok, mau jadi apa Rani nanti? Bisa-bisa ia tidak jadi pindah.

Pokoknya, Mbok itu termasuk titisan yang dikirim Tuhan untuk menerangi jalan pikiran Rani yang tidak ada jalannya.

Rani sayang Mbok.

Pokoknya, Rani sayang sama semua orang yang ada di sekeliling Rani.

Begitu semuanya sudah selesai, Saka selesai mandi, dan Rani pun juga.

Mereka kembali nonton bersama sekitar satu jam lebih dan balik ke kamar mereka masing-masing.

Melihat Saka yang langsung menuju ke tempat tidur. Rani pun langsung mematikan lampu dan bersiap-siap untuk tidur juga.

Tapi sudah sepuluh menit ia berpindah-pindah posisi, ia tetap tidak bisa tidur.

Ia menatap Saka yang di sampingnya.

Tentu saja punggung Saka.

Untung saja Saka tidur menghadap kanan.

Rani pernah membaca kalau tidur menghadap itu baik, mengurangi beban jantung.

Ia pun mengambil posisi telentang.

"Saka...Saka udah tidur belum?"

Dalam hati Saka ingin mengumpat.

Bagaimana bisa ia tidur kalau Rani sangat lasak seperti ini.

Namun, Saka tidak menjawab.

Entah mengapa Rani merasa Saka masih terjaga, walaupun ternyata Saka sudah tertidur, ia hanya ingin bercerita dengan pria yang berbaring di sebelahnya ini.

"Kata-kata Ayah tentang cucu tadi..."

Saka langsung membuka matanya kembali dengan posisi yang sama.

Ia hanya sedikit terkejut ketika Rani ternyata ingin membahas soal itu.

"Kita kan ga buru-buru, mungkin Saka masih pengin habisin waktu berdua sama Rani tanpa anak-anak dulu, kan? Rani bisa ngerti kok, Saka."

Rani mendekatkan kepalanya ke dekat punggung Saka.

"Jadi, kita bisa jalanin hubungan ini dengan pelan-pelan."

Tidak ada suara lagi setelah perkataan itu. Saka yakin kalau Rani sudah terlelap.

Pelan-pelan?

Saka malah ingin semua drama ini selesai. Ia tidak ingin dijadikan mainan lagi.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Glow Peridote
wkwkwk kocak bgt ini saka
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status