Share

Bab 7. Dua nasihat berbeda

"Kamu tuh ya, kapan sih dengerin ibu ngomong? Mau sampai kapan begini, Saka?"

Ini masih pagi tapi Saka sudah harus mendengarkan celotehan ibunya.

"Sudah dua tahun kamu belum bisa terima dia juga? Mau jadi apa, Sak.

Walaupun kamu ga mau sama dia. Walaupun kamu ga pernah minta maharani seperti dia dan ga mau punya maharani seperti dia. Ya, tapi kamu ditakdirkan untuk jadi mahendranya dia, Sak. Mahendranya dia."

Saka sudah terlatih mendengarkan ini, ia akan menutup rapat bibirnya dan mendengarkan ibunya sampai ibunya lelah sendiri.

"Ibu kasih nama kamu Mahendra tuh ya biar jadi raja yang sabar, yang bisa diandalkan, lapang dadanya seperti gunung. Jangan bisanya lancipnya doank, lho. Tajam benar kalau ngomong sama orang lain."

Saka hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Heh! Ibu ngomong ini, lho. Dijawab. Punya mulut, kan?"

"Iya, Bu. Iya."

Sekar sudah mulai emosi.

"Jangan iya-iya aja tapi ga dijalani. Itu namanya podo wae
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status