KISSING MY EX-HUSBAND
KISSING MY EX-HUSBAND
Author: Rose Marberry
Awalan

"Eugh.." Aku mengeluh dengan nikmat, saat pria itu memasuki begitu dalam. Aku hanya mencengkram erat seprai. Dan dia semakin menghentakan begitu dalam naik turun, membuat kepalaku pusing karena nikmat dan tak ingin rasa nikmat ini pergi sekarang. 

"Ada yang ingin kukatakan." bisikku padanya. Bryce tersenyum, dan menggigit cupang telingaku dan menggodanya membuatku merasa tak karuan. Akhirnya aku memeluk belakang Bryce saat ia memasuki semakin dalam dan liar, harusnya aku mengingatkan dia jika aku sedang hamil. 

"Katakan saja." Aku hanya diam, setelah ini, setelah kami bergelung dengan kenikmatan dan aku ingin mengatakan kebahagiaan ini, aku hamil. Aku senang sekali, saat mengetahui kabar ini, dengan begini ada pengikat antara aku dan Bryce yang membuat kamu terus bersama. 

Bryce mencampai puncaknya dan aku merasakan rahimku hangat. 

"Aku juga ingin mengatakan satu hal padamu." Aku menutup tubuhku dengan selimut. Bryce berdiri masih dengan tubuh telanjangnya. Aku memandang dirinya, penasaran apa yang ingin ia katakan.  

"Apa itu?"

"Aku ingin kita bercerai." Aku merasa duniaku seperti berhenti berputar. Bryce? How dare he? Kenapa dia begitu tega padaku? Apa mau dia sebenarnya. 

"K-kenapa?" 

"Tidak semua hal bodoh butuh alasan. Jangan terus bertanya yang membuatmu semakin terlihat bodoh di mataku." Air mataku meluruh. Dia bukan seperti Bryce yang aku kenal. Bryce yang kukenal sangat manis dan perhatian padaku. 

"Katakan apa yang mau kau katakan!" desak Bryce. Aku menggeleng, terlanjur sakit hati dan kecewa padanya. Kenapa dia begitu tega padaku seperti ini? Apa tak tersisa rasa cinta lelaki ini padaku? Jadi selama ini dia menganggap diriku apa? 

"Aku juga mau bercerai!" jawabku tak kalah keras dan menyeka air mataku. Dengan begini dia merasa puas dengan jawabanku. Bryce mengetatkan rahangnya, aku mengalihkan wajahku tak ingin melihat wajah si bajingan ini. Jika boleh, aku ingin menendangnya tapi aku ingat, aku sedang mengandung anaknya. Anakku takkan pernah kenal si bajingan sial ini. 

Bryce pergi. Dia pergi dan tak kembali. Meninggalkanku yang terlanjur sakit hati dan meringkuk seharian tak berdaya, dan masih belum percaya Bryce tega melakukan semua ini padaku. Bryce membuangku. Itu kesimpulan yang kudapat dari hasil aku menangis setiap hari. 

🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯

Suatu malam saat aku sedang meringkuk dan merindukan si bajingan itu, dia datang. Entah setan apa yang membawanya, ia masih ingat sandi flat. Saat itu kehamilanku memasuki usia empat bulan dan perutku tidak terlalu terlihat dan mungkin juga, si bajingan itu takkan peduli jika aku hamil atau bahkan mati sekalipun. 

Harusnya aku menendang Bryce tapi saat aku mencium aroma tubuhnya yang tidak pernah berubah, aku sadar aku merindukan si bajingan sial ini. 

Saat Bryce naik ke atas ranjang dan menciumku. Tubuhku menggigil, aku merindukan senrugannya tapi aku menahan diri sekuat mungkin jangan sampai aku lemah. Bryce mencium pucuk kepalaku berkali-kali, aku mengepalkan tanganku jangan sampai aku terlena dengan semua ini. 

"Aku tahu kamu belum tidur. Berbalik lah." Aku mengepalkan tanganku semakin erat tapi akhirnya berbalik, dan menatapnya. Bagaimanapun, aku masih mencintai si bajingan ini dan juga sudah banyak hal manis yang kami lalui bersama, tapi kenapa? Sampai sekarang aku tak menemukan jawaban pasti dari perlakuan aneh Bryce kecuali sikapnya yang semakin membuatku bertanya-tanya. Apa Bryce kesurupan? 

Bryce mengambil tanganku dan meyusupkan jari-jarinya dengan tanganku dan menciumnya. Rasanya rahimku langsung disirami sesuatu yang hangat, anakku pasti senang kehadiran ayahnya di sini. Tapi si bajingan ini takkan pernah tahu anaknya dan aku juga sanksi memberi tahu Bryce apa yang menimpaku. Bryce takkan pernah tahu anaknya. 

"Merindukanku?" Aku diam, masih berspekulasi sendiri dengan sikap aneh Bryce. 

"Bukankah kita sudah bercerai?" tanyaku dengan suara gemetar. Ingin menampar wajahnya sekuat mungkin. Agar sesekali wajah tampan di bajingan ini bengkok, dan dia tidak sembarangan menyakitiku. 

"Yeah, kau benar. Tapi tidak bisakah aku merindukan kau?" Aku menutup mataku, rasa nyaman dengan kurang ajar menyusup dalam dadaku ikut berdansa karena si bajingan ini mengatakan yang tidak seharusnya dan meruntuhkan semua pertahananku. 

Bryce merapatkan tubuhku pada tubuhnya. Aku bisa merasakan jantungnya yang terus berdetak, aku yakin ia juga merasakan jantungku yang tak kalah cepat berdetak. 

Kami berdua teriam saling meresapi dan menyalurkan rasa rindu. Andai Bryce tahu aku sedang hamil. Baiklah, kokohkan hatimu jangan sampai luluh ia akan melakukan circle yang sama menyakitiku berkali-kali. 

Usiaku masih muda, 21 tahun. Sejak umur 20 tahun, Bryce sudah melamarku dan meyakinkan orang tuaku untuk menikah muda dan berjanji akan melindungiku, tapi nyatanya ia mengikari janjinya sendiri. Dia menceraikanku di saat aku mendapat kabar bahagia, tengah berbadan dua. Tidak adakah kabar yang lebih gila dari ini? 

"Hug me please." Bryce bangun, aku bangun dan duduk di pangkuannya seperti kebiasaan yang kami lakukan saat masa-masa indah pernikahan kami. Aku hanya perlu menganggap ia suamiku, bukan mantan suami. Aku bersandar di dada Bryce dengan nyaman. 

"May I kiss you?" Bryce mengangkat wajahku, awalnya aku enggan tapi entah kenapa aku selalu luluh dengan semua sentuhannya. 

Bryce mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mulai melumat bibirku, aku menutup mataku dan hampir meneteskan air mata, aku merindukan laki-laki ini. Lumatannya terasa manis dan tidak terburu-buru, Bryce menyecap bibirku dengan rindu yang bisa kurasakan. Aku membalas lumatannya dan mencengkram kerah bajunya, kami sama-sama saling merindu tapi Bryce tak pernah memberitahu alasan pasti ia menceraikan diriku. Mungkin ia bosan? Bukankah itu kedengarannya sangat klise? 

Ia meyedot lidahku seolah tak ada hari esok, aku juga menghisap lidahnya seolah tak mengizinkan ia pergi dari hidupku. Kami berdua saling berebut ingin berciuman. Aku baru sadar, aku mencium mantan suamiku bukan suamiku. Merasakan penganganku lemah, Bryce semakin merapatkan tubuhku dan semakin memperdalam ciumannya. Aku terbuai dan larut dalam ciuaman kami. Ia merindukanku. 

"Bibirmu selalu menjadi candu, sweety." Wajahku memerah. Bryce suka memanggilku sweety, sebagai nama panggilan kesayangan. 

Aku menetralkan napasku, dan memeluk dadanya sambil menghirup aromanya sebelum ia pergi lagi dan kembali menjadi Bryce yang bengis dan kejam. Aku masih mencintai Bryce, tapi memang aku juga tak mengharapkan ia kembali dalam hidupku. Kami sudah selesai, saat ia mengatakan ingin menceraikanku. Mungkin ini hanya sebagai pemanis di kisah kami yang akan berkahir tragis nanti. 

Bryce berdiri. Aku mengikutinya, seolah tak mengizinkan dirinya pergi. Tapi aku sadar siapa diriku, dan hanya memohon. Jika ia melihat mataku, Bryce bisa membaca bahwa aku memohon agar ia tinggal bersamaku. 

Bryce berbalik. Hatiku langsung berloncat senang, dan benar saja. Bryce langsung menciumku dengan brutal siap tak siap aku langsung menyambut ciumannya yang terasa liar dan kasar. Hingga aku kewalahan,  awalanya aku ingin menyudahi tapi saat lidahnya menggoda langit-langit mulutku aku menyerah. Aku sudah bilang, aku lemah dengan sentugan laki-laki ini. Dan akhirnya kami kembali berciuman panas. Tak banyak bicara, tapi isyarat tubuh kami sudah mengatakan semuanya. Kami masih membutuhkan satu sama lain. Mungkin keegoisan yang membuat hidup harus tersiksa seperti ini. 

Saat Bryce melepaskan ciumannya ia tak berani berbalik dan langsung keluar tanpa mengeluarkan sepatah kata yang membuatku hanya mampu mengepalkan tanganku. 

🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯🍯

Comments (1)
goodnovel comment avatar
ManSungra195
klo ak sih emnk ska baca kta nya baku soal lebih paham aja gtu
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status