Sheet 3

"Asher! Mommy bilang, jangan colek makanan sembarangan." teriak Mommy dan Asher langsung berlari sambil memeluk Mommy dan mencium pipi Mommy. 

Seperti sudah menjadi tradisi, jika Kelsea pulang ke rumah, maka rumah akan heboh dan Mommy menyiapkan berbagai macam hidangan. Berhubung saudariku kesini, jadi aku akan menginap di rumah Mommy dan mungkin tidur bersama Kelsea. Aku ingin bercerita banyak dengannya. 

Aku hanya memperhatikan keluargaku tercinta yang sangat heboh dan ikut tersenyum. Walau aku sendiri tak bisa menjawab saat Mommy bertanya tentang Bryce. Aku berharap si bajingan itu mengangkat telepon dariku dan bisa bekerja sama, minimal Bryce hadir di sini 20 menit sedikit berbasa-basi dan ia bisa pamit karena masalah pekerjaan. 

"Woi!" Aku menoleh ke belakang saat melihat Kelsea mengangetkanku. Dia begitu wangi dan terlihat sangat segar. Semenjak hamil aku memang tak terlalu bugar seperti orang normal, apalagi banyak pikiran yang mengganguku. Mungkin wajahku juga terlihat sangat pucat seperti vampire haus darah. 

"Melamun terus." Aku hanya menggeleng. Ingin menghubungi Bryce dan meminta padanya untuk bekerja sama, tapi si bajingan itu memang tak bisa diandalkan. Aku menimbang, sebaiknya aku bilang saja. 

SkyeN : Kuharap kamu bisa datang dan memenuhi undangan Mommy. Datanglah walau hanya 10 menit, aku belum memberitahu apa yang terjadi. 

Aku langsung mengirim pesan itu, walau yang bersangkutan belum tentu membalasnya atau mungkin Bryce langsung memblok nomorku. Tapi dia langsung membacanya, luar biasa. Aku menunggu dengan cemas, apa Bryce akan membalas atau tidak. Mommy sangat menyukai Bryce, bagi Mommy Bryce laki-laki yang bertanggung jawab, walau yang ia tunjukan padaku hanya brengseknya saja. Bryce memang tak guna. Aku hanya mampu menggeleng dan mengelus perutku, berharap Bryce cepat mati agar anakku tidak lagi mengenal dirinya. 

"Nih." Kelsea langsung memberiku buah lokal yang ia bawa khusus dari Indonesia, ini adalah salah satu buah kesukaan Mommy selain strawberry, Mommy itu seperti hantu strawberry, buah mata kucing selalu menjadi barang wajib yang harus Kelsea bawa saat pulang ke rumah. Padahal buah di rumah ini melimpah, Mommy menanam sendiri atau saat musim dingin beli di supermarket. Mommy sangat suka makan buah, jadi semua anaknya juga suka buah. 

Kelsea duduk di sampingku dan kami makan buah bersama, Mommy sedang sibuk menyiapkan makanan, baunya sudah tercium sedari tadi dan membuat perutku merintih minta makan. Sebenarnya aku bersyukur Mommy sudah tahu kabar kehamilanku, jika tidak aku harus buat drama agar tidak hamil, walau perutku akan bertambah besar, aku bersyukur tumbuh di antara keluarga yang positif, selalu mendukung, keluarga yang membuat anak-anaknya berani mengambil keputusan. 

Aku melihat Mommy masih memakai apron, wanita pendek itu begitu sibuk. Di antara semua keluarga, tubuh Mommy paling pendek, terkadang jika Mommy pergi bersama anak-anaknya orang salah mengira jika kami bukan anak mommy tapi adik Mommy, apalagi Mommy bersama Kelsea membuat Kelsea suka jengkel dan Mommy hanya tertawa. 

"Berapa hari di sini?" tanyaku pada Kelsea dan mengupas buah mata kucing begitu Kelsea yang sibuk mengunyah dan mengelurkan bijinya dari dalam mulut. 

"Belum tahu." 

"Kelsea kalau udah tamat kuliah, mau kembali kesini?" 

"Belum tahu." Aku menyadarkan belakangku, Kelsea lebih dahulu memikirkan masa depannya tidak denganku yang nasibnya masih abu-abu. Sungguh aku tidak menyangka, aku mendapatkan status janda semuda ini, padahal dalam benakku kami akan menjadi keluarga bahagia bersama Bryce dan anak-anak. Bryce itu awalnya sangat manis, peduli, sayang, dewasa, ia terlihat tenang, tapi aku tak pernah motif yang pasti dari semua tingkah Bryce. Hal ini yang kadang membuat terjaga semalaman, aku berpikir kira-kira kesalahan apa yang telah aku buat? Tidak ada sama sekali. Aku juga bukan malaikat yang tak luput dari salah tapi maksudnya aku membuat kesalahan besar yang membuat Bryce benar-benar murka dan memutuskan pernikahan secara sepihak padahal aku tengah mengandung, laki-laki macam apa itu? 

"Fokus aja ke hamil itu. Sering baca buku parenting, biar nggak salah didik." ujar Kelsea. Terkadang Kelsea sok tahu seperti seorang psikolog tapi setelah ditelusuri apa yang keluar dari mulutnya semuanya benar. 

"Iya." Aku menjawab lemah dan mengupas kulit buah dan memasukan buah manis itu dalam mulutku. 

"Emang sekarang berapa bulan?" 

"Aku lupa." Aku tidak berbohong, jika aku lupa usia kandunganku, terkadang aku merasa seperti ibu tak berguna. 

"Periksa ke dokter." Aku mengangguk lagi. 

Kulihat Mommy dan Daddy sedang bercanda dengan tertawa bersama.  Daddy membut lelucon dan Mommy tertawa sambil mukul lengan Daddy dan mencubit perutnya. Ah mereka begitu harmonis! Andai hubunganku seperti mereka. Sejak kecil hingga sekarang, aku tak pernah melihat Mommy dan Daddy bertengkar hebat, mungkin mereka bertengkar di dalam kamar karena mereka tak pernah menunjukkan di depan anak-anak mereka. Atau kadang aku bisa melihat aura mereka yang tidak bertegur sapa, tapi itu hanya berlaku beberapa jam setelah itu keduanya kembali mesra bersama. Apa itu seharusnya suami-istri? Apa Bryce layak disebut suami? Walau status itu sudah ia lepas. Kenapa Bryce mau menikahiku jika akhirnya ia mencampakkan aku? Aku ingin bertanya ini dan ingin Bryce menjawabnya. 

"Udah semua ini ayo." Dengan malas aku bergabung di meja makan. Karena aku tahu, Mommy pasti akan bertanya Bryce dan aku memang belum menyiapkan jawaban jika Mommy bertanya tentang Bryce. 

Dan sekarang posisiku salah aku duduk bersebrangan tepat di depan Mommy hal ini tentu membuatku tak bisa berbohong. Karena aku tipikal orang yang berbohong akan langsung ketahuan. Semoga aku punya waktu dan bisa menjelaskan sendiri ke Mommy. 

"Wah Mommy masak rendang betulan. Ini sangat enak." Rendang warna coklat tersebut mengunggah seleraku dengan potongan kentang. Ada makanan lainnya juga, ada ikan asin disambal hijau. Ada kuah opor ayam. Mommy benar-benar menyiapkan semuanya dan aku sangsi jika si bajingan Bryce mau datang. Walau dia sudah membaca pesanku. 

"Kan Mommy udah bilang." Kami semua mengambil dalam porsi besar, mungkin Mommy sedang home sick. Tapi belum ada waktu karena daddy sibuk kerja dan belum menemukan waktu libur yang tepat kecuali liburan di musim panas, sedangkan musim panas Mommy sibuk dengan tanamannya. Jadi memang tak pernah sigkron waktunya. 

Aku mengambil air putih terlebih dahulu, dan meminumnya. Kulihat ke samping Kelsea yang hanya makan sedikit. Apa dia sedang diet? Tapi kurasa Kelsea sudah bosan dengan makanan ini, tapi kami akan senang karena Mommy jarang memasak rendang dan makan nasi. Padahal semua anak-anaknya suka makan nasi karena selalu membuat ketagihan. 

"Oh iya Bryce udah dihubungin?" Aku gagal menggigit daging itu dan mencoba memastikan jika itu bukan bumbu yang Mommy sebut lengkuas yang rasanya begitu keras ketika tak sengaja menggigitnya. 

"Udah Mommy." Aku menutupi kegugupanku dengan memasukan nasi dalam mulutku. Ugh... Aku benci jika berada di situasi seperti ini. 

Kulirik ke samping Kelsea yang sepertinya curiga. Aku memang harus menceritakan hal ini pada Kelsea agar merasa sedikit lega. Dan mengatur strategi apa ya sebaiknya aku ambil. 

"Harusnya kita nunggu Bryce. Kan nggak enak, makan nggak nunggu." Sungguh nafsu makan langsung hilang. Aku langsung meminum air putih. Ya Tuhan Mommy. 

"Udahlah makan aja. Udah pada lapar tuh." Aku bersyukur Daddy menyelamatkan dari situasi ini. 

"Maaf terlambat semuanya. Musim dingin membuat jalanan selalu licin jadi aku berhati-hati sekali." Panjang umur si bajingan itu. Ia membuka coatnya dan menyapu rambutnya dari salju. Sialnya, aku ingin membersihkan rambutnya dari salju-salju tersebut. 

"Untung belum selesai. Mommy masak buat kamu khusus." Bryce tersenyum miring dan langsung bergabung dan sialnya dia duduk di sebelah kanan. 

"Hi babe." Dan si sialan ini langsung mencium pipiku seolah tak terjadi apa-apa. Dia pandai sekali bermuka dua. Aku melihat Mommy yang mengode untuk mengambilkan nasi untuk Bryce sebagai budaya Mommy. Terpaksa aku mengambil nasi pada Bryce dengan sengaja mengambil nasi sedikit biar dia cepat pulang. 

Tanpa perlu bertanya porsi Bryce aku langsung meletakan di depan Bryce. Mata Kelsea tak pernah lepas memandangku mungkin ia semakin curiga sekarang. Melihat bahasa tubuh yang mengisyaratkan aku tak suka padanya. 

"Kamu suka makan ini kan?" tanya Mommy yang melihat ekspresi Bryce yang begitu lahap seperti orang kelaparan. 

"Oh iya. Aku pernah makan ini, saat dulu sekali Mommy pernah menjamu makanan ini." Aku dan Mommy saling memandang, lupa dengan kejadian itu. Atau si bajingan ini mengada-ada? 

"Oh iya ya ampun Mommy lupa. Saat Mommy masak daun ubi. Asal kalian tahu, daun itu Mommy pesan dari Belanda. Di sini mana ada, tapi akhirnya mengobati kangennya Mommy pada masakan kampung." Kami semua terdiam dan menikmati makanan. Punyaku belum setengahnya selesai dan milik Bryce sudah selesai. 

"Kayaknya Bryce mau nambah." Aku menatap Bryce tajam. Ingin menusuk matanya dengan garpu, sepertinya lebih baik ia tak usah datang. 

Dengan menarik napas panjang dan gesture yang terpaksa sekali aku mengambilkan untuk Bryce, kali ini sengaja banyak biar dia muntah. 

"Skye. Itu kebanyakan, kalau habis gampang nambah." Aku menatap Mommy dan menyisahkan lagi nasi dan mengambil lauk. Ada sambal tadi sepertinya sedikit pedas dan Bryce tak suka makan pedas.

"Bagaimana kerjaan?" tanya Daddy. Laki-laki tak lain dan tak bukan bahas pekerjaan tak jauh-jauh dari itu. Jika para ibu berawal dari masalah dapur dan memutar hingga segala hal sampai masalah kucing tetangga. 

"Aku sedang menabung sekarang untuk membeli rumah." dusta Bryce bahkan ia tak segan memeluk lenganku sekarang. Aku menepisnya, Daddy melihat itu tapi semoga Daddy tidak menyadari kejanggalan yang terjadi. 

"Saran Mommy beli rumah yang sudah jadi, karena beli tanah sendiri dan memakai jasa arsitek itu ribet dealnya lama bahkan mereka belum kerja saja harus bayar DP di muka. Kalau mau, beli yang tetanggaan sama Mommy biar Mommy nggak kesepian." Aku tak mencerna kata mommy. Justru yang aku pikirkan, bagaimana aku terus membohongi semua orang tentang status ini. Ya Tuhan, ini tidak mudah. 

"Oh tentu Mommy. Aku akan membeli apa yang menurut kesukaan Skye. Karena ia yang akan lebih banyak mengurusi rumah." Bryce bahkan mencengkram lenganku. Diam-diam tanganku mencubit perutnya karena kesal. 

Meja makan diisi dengan percakapan Mommy dan Bryce tentang rumah masa depan khayalan Bryce. Karena si sialan ini pasti merencanakan untuk perempuan lain bukan diriku. Ya Tuhan betapa sialnya hidupku karena mengenal laki-laki ini. 

"Aku pulang dulu. Karena hanya izin sebentar." Aku bernapas lega. Akhirnya. Kelsea menangkap kegelisahanku. 

"Terima kasih telah menghadiri undangan Mommy." 

"Aku yang berterima kasih Mommy." 

Bryce berdiri. Mommy mengode untuk aku mengantarkan ke depan. Dengan malas, aku berangkat dari kursiku dan menuju keluar melihat Bryce mengambil lagi coatnya. 

Saat aku berada di luar pintu aku hanya menatap Bryce dengan pandangan malas. 

"Sebenarnya apa maksudmu?" tanyaku karena sudah tak sabar dengan tingkah Bryce. Sungguh ia membuatku sangat muak padanya. 

"Maksud apa?" Bryce yang memegang ganggang pintu berhenti dan menatapku. 

"Kenapa kau harus berpura-pura dengan semua ini dan menunjukkan seolah kita baik-baik saja. Padahal kau tahu, hubungan kita kandas!" 

"Kau yang memintaku untuk datang walau hanya 10 menit." Sial dia benar! Aku ingin menendang Bryce sekarang. Udara dingin semakin menusuk tubuhku tapi hatiku sangat panas. Aku marah! 

"Maksud aku, kenapa kamu mencampakkan aku tanpa alasan yang jelas? Setiap saat aku bertanya-tanya apa kesalahan fatal yang kubuat." 

Bryce maju. Ia mendekat ke arahku, dan sekarang mengukung tubuhku di balik pintu. Ia menatapku dalam, aku juga menantangnya. 

"Bisakah aku menjadikan rasa bosan sebagai alasan?" 

"Alasan macam apa itu? Alasan yang mengada-ada dan sangat kekanakan. Tidak! Aku tak bisa menerima alasan konyolmu itu!" 

"Jadi, kau masih mengharapkan aku?" Aku menganga. Apa-apaan ini? Kenapa laki-laki ini begitu percaya diri, padahal aku begitu membenci dirinya sekarang. 

"Sial! Tidak Bryce! Aku senang berpisah dengan pria bajingan sepertimu. Hanya saja membuatku bertanya-tanya kau sangat kekanakan rupanya." Aku hanya menggeleng. Masih belum percaya, jika alasan konyol Bryce karena bosan. Bahkan orang yang pacaran saja berusaha bagaimana agar hubungan mereka tak terasa jenuh. 

"Atau kau mau mendengar jika aku punya kekasih lain?" 

Sial! 

Mataku langsung memanas. Aku seperti tak sudi dan tak rela laki-laki ini memiliki kekasih lain. Rasanya aku ingin menampar Bryce. Enteng sekali ia berbicara seperti itu. Tidak tahukah dia jika aku sedang cemburu sekarang? 

"Kau!" Aku menggertakan gigiku, tanganku naik ke atas ingin menampar Bryce tapi ia malah menahan tanganku dan meletakan tangannya di atas. 

"Sssst! Terima takdir saja, jika kita tidak bisa bersama kau wanita membosankan." Setiap kata yang keluar dari mulut Bryce membuatku mati rasa. Ya Tuhan mulut Bryce terbuat dari apa, hingga ia tega berbicara seperti itu. 

Aku menatap Bryce nyalang dengan air mata penuh di pelupuk mataku. 

"Kau bajingan! Kau sialan! Cepat mati saja—emphhhh." 

Bryce menyumpal mulutku dengan bibirnya. Ia menciumku brutal, dan tanpa ampun mengabsen semua rongga gigi yang ada di dalam. Aku menutup mataku berusaha tak tergoda dengan lidahnya. Bryce semakin memperdalam ciumannya dan kau bisa merasakan miliknya yang sudah mengeras. Lelaki sialan! Lain di mulut lain di tempat lain. 

Aku membalas menggoda mulut Bryce, ia malah kesenangan dan menghimpit perutku. Aku bersyukur nyawa dalam perutku belum bisa menendang jika tidak, Bryce akan tahu. Lagian aku sangsi dia akan peduli dengan kehamilanku. Bryce sepertinya senang jika aku menderita. 

Bahkan udara dingin tadi kurasakan bukan lagi dingin tapi terasa panas karena hawa yang terjadi di antara kami. 

Rencana untuk belas dendam gagal, karena aku malah terbuai dengan ciuman di bajingan ini. Harus kuakui Bryce adalah seorang pencium yang handal. 

"Emummm..." Aku mengeluh berharap Bryce melepaskan ciumannya karena tubuhku terhimpit dan stok udara menipis di antara kami. 

Aku hampir terjatuh, beruntung Bryce menahan tubuhku. Karena tiba-tiba pintu dibuka, karena posisiku bersandar di pintu masuk. 

"Pantas aja lama. Rupanya minta jatah dulu." cibir Kelsea. Rupanya ia menyusulku karena lama sekali. 

Tanpa mempedulikan Bryce, aku langsung berlari ke dalam. 

💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸

Semoga suka🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗

Cerita ini lebih ke keresahan Skye. 

Makasih udah baca. Kita nantikan drama-drama mereka selanjutnya. 

See you💋💋💋💋💋💋

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status