Sheet 4

Musim dingin sangat menyebalkan, dan sekarang aku harus merapatkan coat, sarung tangan dan dinginnya tetap saja terasa menusuk, walau pakaian sudah berlapis-lapis. Minus 3 derajat, itu yang tertulis di ponselku. 

Dingin membuatku ingin terus berada dalam ruangan, bergumul dengan selimut, tapi tuntutan pekerjaan yang membuatku harus bekerja. Padahal, aku bisa izin satu hari tidak datang ke toko, tapi di rumah juga aku selalu terlihat menyedihkan. 

Aku berjalan menuju ke toko roti walau tokonya sudah terlihat di depanku. Sudah ada pelanggan padahal biasanya pelanggan datang sekitar siang hari. 

Aku mendorong pintu masuk dan melihat Liesel sedang meletakan roti. Pagi-pagi dan aroma roti yang baru keluar dari oven adalah salah satu hal yang membuatku terus datang ke toko roti ini. Mungkin karena passion hingga aku terus melakukan semuanya walau terkadang toko roti sepi, walau sekarang kulihat semakin banyak yang tahu walau toko roti ini tempatnya kecil, terjepit di antara banyak bangunan yang tinggi dan megah. 

"Hi Lisie." Lisie tersenyum padaku. Aku langsung mengambil apron kesayangan dan berjalan ke belakang, melihat Paula yang sibuk memintir tepung. Aku melambaikan tangan padanya dan melihat apa yang dipanggang Lisie. Aku memindahkan bagian atas ke bawah dan bawah ke atas. Dari dalam, ada kaca yang membuat kita bisa melihat bagaimana pelanggan yang masuk, ada lagi pelanggan yang datang. Aku tersenyum, semoga toko kecil ini terus berjalan walau tidak seramai toko roti yang lain. Aku membangun toko roti ini agar mengisi waktu luang, walau kulihat pasarnya bagus sekarang dan memberi peluang agar bisa membangun yang lebih besar dan menambah menu maupun stok. 

Aku mengintip dan napasku berhenti, itu Bryce. Si bajingan datang. Tapi yang membuat napasku hampir putus ia bersama perempuan. Jadi itu alasannya? Hanya karena dia bosan? Apa benar aku membosankan? Aku bersandar di dinding. Lisie masuk. 

"Customer baru mau berjumpa sama owner." Aku mengangguk dan keluar dari ruang pemagangan. 

Bryce berbicara begitu akrab dengan wanita itu. Mungkin mereka sudah lama kenal sebelum Bryce benar-benar mencampakkan aku. Memikirkan ini membuatku ingin meneteskan air mata setiap saat. Tapi aku tak punya kuasa untuk mencegahnya. 

"Begini toko roti kecilmu. Aku penasaran apa benar ada pelanggan. Rupanya sepi." Bryce berdiri di hadapanku dan mengejek. Aku hanya menatap si bajingan ini nyalang siap-siap melemparkan roti ke wajahnya jika mulut jahatnya berbicara yang lain lagi. 

"Bukan urusanmu! Dan aku tidak menerima pelanggan sepertimu!" balasku sengit. Bryce malah tersenyum miring, membuatku benar-benar ingin menamparnya. Tanganku sudah berkedut gatal. Tolong sadarkan aku. 

"Sayang. Lihat, kita diusir." Ya Tuhan laki-laki ini gila! Bryce mengadu pada kekasihnya yang sekarang memandangku sinis. Jadi begitu selera si bajingan ini? Wanita modis pandai merawat diri, bukan wanita rumahan sepertiku. 

"Well. Aku bisa menyebarkan rumor, jika toko roti ini menjual roti berjamur." 

Aku benar-benar mencatat wajah Bryce. Jika ia berani kesini, aku akan mengusirnya. 

"Mind your won business!" 

"It's my business." Bryce malah mengelus pipiku. Bodohnya aku sempat menahan napas dan sempat terlena. Sial! Kenapa aku selalu bodoh jika menyangkut semua sentuhannya. 

"Aku mau pesan yang paling enak." Aku tak menghiraukan Bryce dan pura-pura mengatur roti. 

Aku menunggu Lisie agar ia yang melayani manusia setan ini. Lelah sekali rasanya menghadapi Bryce. Apa laki-laki ini tidak sadar jika aku mengandung anaknya? Bagaimana jika perutku besar dan ia sadar? Tapi aku sangsi Bryce seperti peduli. Si sialan ini takkan peduli padaku. Ugh... Suram sekali nasibku. 

"Lisie! Gantian." Aku terpaksa berteriak karena ingin menunjukan pada Bryce aku tak sudi melihatnya di sini. 

"Roti yang tak layak dan pelayanan yang benar-benar buruk." komentar Bryce. Aku menarik napas panjang, laki-laki sial ini kadang berbicara kenyataan lebih baik aku mengalah dan daripada toko roti kesayangan bangkrut karena si sialan ini menyebarkan rumor yang tak benar. 

Aku mengantarkan roti untuk Bryce dan pasangannya. 

"Aku ingin kita dinner date yang romantis di restoran shusi." 

Keduanya terlihat begitu dekat. Apa pernah Bryce bagaimana hancurnya hatiku sekarang? Apa ia pernah peduli pada bentuk hatiku sekarang? Kenapa ia dengan sengaja ingin memamerkan semua ini padaku? Apa dengan begini Bryce akan merasa puas? Apa Bryce psikopat?

Aku meletakkan roti di hadapan mereka dengan Bryce yang menatapku dan tersenyum mengejek. Mungkin ia merasa menang, ia cepat sekali mendapatkan pengganti. Jika dia ingin bersaing, Bryce salah alamat, aku sedang tidak ingin berlomba dan juga fokusku sekarang memajukan toko kue dan kandunganku. Mungkin aku harus memeriksa besok, karena aku seperti tak peduli pada kandunganku sendiri dan terus merenungi nasib, padahal aku selalu menantikan anakku walau pernikahanku hancur. 

"Kami ingin memesan lebih banyak." Aku menatap Bryce tak senang, tadi ia mengejek rotiku dan sekarang apa? Dasar manusia plin-plan. 

Aku berdiri dan mengambil catatan pada pesanan orang. Walau kali ini ada yang memesan khusus dan banyak. Terpaksa Paula dan Lisie harus lembur, walau aku juga. 

"Mau rasa apa?" 

"Pesan muffin bisa?" Aku melihat Bryce yang terus tersenyum. Toko roti kami tidak membuat muffin tapi mungkin bisa dicoba dan jadi menu tambahan. P

"Iya." Aku menuliskan muffin di sana. 

"Muffin 50. Baggute 70, croissant 100." 

Croissant termasuk menu kami di toko. Aku menuliskan pesanan dan hari yang diminta beserta jam berapa. Aku tidak untuk apa mereka membeli roti-roti sebanyak ini. 

"Itu saja?" 

"Sudahlah, nanti kau tak sanggup membuatnya." Ya Tuhan kenapa dengan Bryce ini? Dia menjawab dengan wajah yang begitu menyebalkan. 

Aku langsung berdiri dan tak perlu terlihat ramah di pelangganku jika ada manusia setan ini. Astaga Skye dia adalah ayah dari anakmu. Aku mengelus perutku berharap Bryce cepat mati, agar anakku tahu dia tak punya ayah. 

Kebetulan ada pelanggan yang membeli jadi aku sibuk melayani pelanggan. Walau Bryce juga seperti enggan meninggalkan tempatnya. Sebenarnya aku berhak mengusirnya ia juga seperti orang pengangguran padahal saat hidup bersamaku ia seolah tak punya waktu karena sibuk terus. Apa benar Bryce sibuk dengan banyak perempuan di sana? Dan saat ia benar-benar bosan ia mencampakkan aku? Apa tak ada alasan lain selain bosan? 

Melihat Bryce di sekitarku membuat hati dan mataku terasa nyeri. Aku izin duluan pulang ke rumah karena malas melihat wajah Bryce. 

Saat aku melewati laki-laki itu, dia tersenyum mengejekku. Harusnya aku melepas boots yang kupakai dan mengetok kepalanya karena kelewat kesal. 

Aku pulang ke flat dan menangis karena kehadiran Bryce yang membuatku makin merasa hina. 

💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸

Puas menangis aku tertidur dan mendengar bunyi flat. Siapa itu? Oh iya, aku menitipkan hasil hari pada Paula untuk mengantarkan stelah toko tutup karena jarak flat dan toko roti dekat, hingga aku berjalan kaki kemana-mana. 

"Kau—" suaraku tenggelam dalam lumatan Bryce. Kenapa laki-laki ini tiba-tiba datang dan menciumku? Aku tak dapat menahan serangan, saat Bryce menjatuhkan tubuhku di sofa dan menciumku. Udara di sekitarku langsung terasa panas karena ciuman Bryce dan lidahnya yang menggodaku, aku tak tahan dan membalas ciumannya walau harus bersikap seperti murahan dan orang yang haus akan sentuhan. Karena aku masih mendambakan laki-laki ini. 

Aku menutup mataku, saat lidah kami saling bertaut dan ada bagian yang meminta dituntaskan sekarang. 

Aku langsung berlonjak kaget saat tangan dingin Bryce merayap melewati perutku dan langsung memilin pelan payudaraku. Apa-apa laki-laki ini tahu jika hamil seperti ini payudaraku begitu sensitif? Aku hanya melonjak-lonjak oleh letupan gairah. Padahal tadi aku merasakan kedinginan tapi sekarang aku ingin membuka seluruh pakaianku aku ingin telanjang di hadapan Bryce.

Aku langsung bangun dan melepaskan pakaianku. Bryce bisa mengejekku karena aku langsung menyerahkan diriku begitu saja, begitu murahan sekali. Bryce langsung menyecap payudaraku dan meremasnya. Beruntung belum ada air susunya, jika tidak laki-laki ini bisa tahu. Mungkin setelah ASI sudah keluar, aku harus tegas tapi biarkan kali ini aku menyalurkan kerinduan yang kurasakan pada setiap tidur malamku. Setiap malam aku mendambakan laki-laki ini, mendambakan tubuhnya dan ingin ia memelukku di setiap tidur malamku, walau aku hanya berteman dengan selimut. 

Tangan Bryce menyentuh celah-celah sempit miliknya. Aku hanya menahan desahan yang bisa kubayangkan bagaimana wajahku sekarang. Wajah Bryce terlihat begitu serius sekarang. 

Aku bangun dan menanggalkan seluruh pakaianku, urusan menyesal itu nanti yang penting kebutuhan ini harus dituntaskan sekarang. Sekarang aku sudah pasrah dan berbaring di sofa dengan tubuh telanjang. Wajah Bryce turun me bawah dan menjilati lembah di bawah. Jika aku membayangkan orang lain, aku merasa seperti menjijikan tapi jika Bryce yang melakukan aku merasa seperti seorang wanita yang seluruhnya. 

"Eungh..." Aku melolong keras. Gelombang itu datang, Bryce membawaku hingga ke puncak dan aku merasa sangat seksi sekarang. Laki-laki itu menatapku dengan tersenyum puas. Bryce menjilati bibirnya yang masih ada bekas cairanku. Aku menatapnya dengan napas yang masih terasa berat karena perlakuan Bryce. Bahkan aku melihat ada cairan di hidungnya. 

Aku langsung menarik Bryce dan menghujani dirinya dengan ciuman. Ciuman makin terasa panas. Saat tanganku menggerayangi tubuhnya. Bryce termasuk laki-laki yang banyak bulu dan aku suka mengelus dadanya yang banyak bulu. 

Sekarang kami duduk berhadapan masih dengan wajah yang memanas. Aku yang sudah telanjang bulat dan tak sabar agar Bryce juga telanjang. 

Bryce langsung menciumku saat aku membantunya melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya. Lidah kami masih bertautan dan tanganku langsung mencari gesper celananya dan secepatnya meloloskan celana ini. Tidak adil, dia masih utuh dan aku sudah telanjang seperti ini. 

Bryce berhasil meloloskan pakaiannya dan yang terakhir boxer itu. Aku melihat ruangan ini. Dulu Bryce sangat manis dan sering sekali kami bercinta di mana saja. Di dapur, meja makan, di sofa, di kamar mandi. Bahkan nonton TV sambil bercinta atau mungkin TV yang menonton kami bercinta. 

Bryce menggodaku lagi dan meremas payudaraku sebelum ia memasuki diriku dan menghujami dengan gerakan liar yang membuatku hanya bisa mengeluh. 

Aku memeluk Bryce sambil merasakan keenakan. Andai Bryce tidak brengsek, kami akan bercinta setiap saat. Dia pasangan yang pandai memuaskan lawannya. 

Bryce masih menghujami dan terus mencium bibirku. Aku memeluk belakanganya bahkan tak segan mencakar belakang Bryce. Dan ia tak bisa bercinta dengan kekasihnya. 

Sial! Dia punya kekasih kenapa harus bercinta denganku? Tapi aku seolah hilang akal dengan gerakan Bryce yang makin menggila. 

"Bukankah kau punya kekasih?" tanyaku saat gerakan Bryce dalam tempo pelan. Aku mengecup bibirnya dan mengelus-elus belakangnya. Lihat! Tadi pagi aku begitu membencinya dan sekarang tubuh kami menyatu. Aku tak mengerti dengan hubungan yang rumit. Bryce bertingkah aneh, ada saat ia seperti membenciku terkadang ia seperti sangat mengingikan diriku. 

"Kau kekasihku sekarang." bisik Bryce. Sial! Rasanya begitu romantis dan merdu di telingaku. Ingat, kau hanya dipakai setelah ini dia akan mengatakan yang menyakitkan lain. 

"Kau yang membuangku." Aku berbisik pada Bryce. Ia menghentikan gerakannya seperti berpikir sesuatu menggeleng dan kembali bergerak. 

Bryce menggigit telingaku membuatku melengkungkan belakangku dan tubuhku rasanya menggigil karena semua kenikmatan ini. 

"Kamu mau aku tiap hari aku seperti ini." Aku menggigit bibirku. Aku seperti orang munafik, jika aku berterus terang akan sangat murahan sekali di mata Bryce dan ia akan melihat diriku semakin hina, tapi jika aku bersikap munafik aku yang tersiksa karena merindukan semua sentuhan yang ia berikan. 

"Aku ingat, kau dan kekasihmu akan pergi makan malam romantis." 

"Kenapa kau cemburu?" Bryce mencium pipiku. Milik kami seperti mesin otomatis yang tak ada capeknya. Sudah lama sekali aku tidak bermain setelah si bajingan ini benar-benar menghilang kecuali ia mencuri-curi menciumku. Dan aku tak bisa menolaknya. 

"Atau kau mau ikut." Aku menggeleng. Aku bahkan tak ingin mengejar puncak begitu juga Bryce yang seperti betah tubuh kami menyatu dengan membicarakan banyak hal. 

"Tidak Bryce! Hubungan kita selesai, jadi tak ada lagi yang perlu diharapakan. Kau yang mencampakkan aku, tapi kau juga seolah tak ingin melepaskan aku." Bryce bergerak liar dan aku mencampai puncak dengan menancapkan kuku ke punggung Bryce. Ia juga mengejar puncaknya dan aku merasakan begitu banyak cairan hangat yang masuk dalam rahimku. 

Bryce langsung memeluk tubuhku dari belakang sambil mencium pundakku tanpa melepaskan tubuh kami yang masih menyatu. 

"Ahhh.." aku berteriak saat Bryce membalikan tubuhku dan membuatku berbaring di atas tubuhnya yang telanjang dengan penyatuan yang lepas dan banyak cairan yang meleleh di pahaku dan juga perut Bryce sekarang. Aku tak bisa membenci si sialan ini lama-lama jika ia bersikap seperti ini. Bryce seperti bunglon yang berubah-ubah. 

Aku masih bersandar di dada Bryce sebelum aku tal lagi merasakan dada ini dan hanya bisa mendambakan semua sentuhannya. 

Bryce mengelus-elus rambutku dan menyampir rambutku. Apa mungkin hidup kami akan terus seperti ini? 

"Aku harus pulang!" Kecewa. Aku begitu kecewa pada diri sendiri karena terlalu mengharapkannya dan kupikir setelah percintaan panas tadi Bryce akan berubah nyatanya ia hanya menganggapku wanita murahan dan selamanya akan terus seperti itu. 

Bryce bangun dan memakai kembali pakaiannya. Ia tetap seperti sebelum-sebelumnya. 

"Kau benar-benar bersikap seperti ini padaku?" Aku pun memakai lagi pakaianku dengan asal-asalan. Laki-laki itu langsung keluar membuatku ingin melempar Bryce karena kesal. 

"Bryce sialan! Mati aja kau! Kau pikir aku wanita murahan yang hanya bisa kau pakai setelah itu bisa kau buang seenaknya? Enyah kau iblis!" Bryce tak peduli dan terus berjalan ia tidak berbalik saat aku terus berteriak dan memaki dengan semua sumpah serapah. 

Setelah Bryce menghilang aku baru sadar Paula sudah berdiri di depanku. Dan sepertinya Paula tahu cerita hidupku yang menyedihkan. Semoga Paula tidak menceritakan ini pada Mommy.  

Oh Bryce mati saja kau! 

💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸

Nulis ditemani cuaca dingin. Jadi bayangin yg hot-hot biar panas 😆😆😆. 

Makasih udah baca. Ikutin terus kisah Skye. 

Oh iya, bentar lagi cerita Kelsea naik. Judulnya Broken Romance boleh dicek ya. 

Kelsea kakak Skye. 

Also, kalian cek nama pena aku. Aku punya 11 cerita seru. Boleh dibaca yg lainnya, aku jamin semua ceritaku seru hehehe 😅😅😅. 

See you💋💋💋💋🥰🥰❤️❤️

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Herlina
cewek ya terlalu lemah kesel aku
goodnovel comment avatar
Bunga Lily
Go Kelsea... belum ya kak, sdh dicek blm nongol2... pengen Tau dia di indonesia apa ketemu orang2 dimasa lalu Rara. pengen aja si Sheila dkk merasa tmbh iri😁
goodnovel comment avatar
Bunga Lily
💞💞💞 semoga cepat up😁
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status