Bab 6

Happy reading

...

Daritadi kak jungmo keliatan gelisah gitu tiap ngeliat anak SMA yang lewat di sebelah mobil.Dia langsung meluk lengan gue erat banget.

Seakan-akan ada ketakutan tersendiri setiap kali dia melihat seseorang mengenakan seragam putih abu-abu tersebut.

Gue mencoba untuk menenangkan dia yang memang keliatan gemeteran dan takut.

"Udah kak gak apa-apa." Ucap gue seraya mengelus tangannya yang tidak ingin lepas memeluk lengan gue.

"Tuan muda memang suka seperti itu nona,Sebenarnya ini bukan mobil yang biasa tuan muda pakai." Gue menoleh dengan terkejut saat pak supir mengatakan hal tersebut.

"Maksud bapak?"

"Dia tidak akan mau naik ke mobil yang tidak memiliki korden sendiri di tiap jendelanya." Nada bicara pak supir terdengar penuh penyesalan.

"Maafkan saya tuan muda,Saya pantas di pecat."

Tidak ada sahutan dari Kak jungmo yang bener-bener ngerasa takut untuk sekedar mendongak.

"Nanti bisa dibicarakan baik-baik pak,Mungkin kak jungmo bisa mengerti." Sahut gue yang bikin pak supir tersenyum dan terlihat di kaca mobil.

Sesampainya di rumah.Gue membantu kak jungmo untul duduk di kursi rodanya.Dia bener-bener keliatan pucet dan gak menoleh kearah gue.

Karena biasanya kak jungmo pasti sesekali menoleh kearah gue.

"Kak?" Panggil gue.

Kak Jungmo bener-bener gak noleh.Padahal gue ada disamping dia gak mungkin dia gak denger.

"Maaf nona,Tuan muda mungkin kembali mengalami trauma." Pak supir menundukan kepalanya.

"Maafkan saya tuan muda."

Gue disini justru jadi orang yang paling cengo dan penuh dengan pikiran yang begitu rumit.

Tentang apa yang terjadi pada kak jungmo?

Kenapa dia begitu ketakutan melihat seragam sekolah?

Pertanyaan itu terus-menerus berputar di otak gue bahkan sampe malam ini.Malam dimanan Kak Jungmo cuman bisa diem menatap makanan yang ada di hadapannya.

"Kak...kakak makan dulu." Ucap gue lembut.

Tumben-tumben loh ya gue mau ngomong selembut sutra begini sama kak Jungmo.

Secara tu orang usil nya minta ampun.

Kak Jungmo gak bergeming.

"Kak jungmoo..." Panggil gue.

Kak Jungmo melirik kearah gue sekilas dengan tatapan datar dan dia balik lagi dengan kegiatan awal.

Yaitu menghayal.ng

gak ya

Maksud gue dia kembali diem kaya orang MAU kesurupan gitu.

"Kak jungmo makan dulu! nanti menghayalnya bisa dilanjut pas udah selesai makan."

Kak Jungmo bener-bener bikin gue icymocy.Maaf-maaf nih ya gue rada-rada gak suka sama orang yang kalau disuruh makan tu susah banget.

Padahal tinggal makan doang.

Ya walaupun gue emang secara harfiah dan etimologi gak ngerti sama sekali tentang masalah yang dihadapi kak jungmo.

Gak lama setelahnya terbesit ide gila di otak gue.

"Kak Jungmo kalau gak makan aku cium!"

Kak Jungmo AUTO noleh ke gue dengan pandangan yang mengisyaratkan.

'Maksud lo apa?'

Kak jungmo sedikit mangap pas noleh yang bikin gue langsung nyendokin sesuap nasi beserta lauknya kedalam mulut dia.

"Nah kalau gini kan akunya jadi lega."

"Ini kak makan yang banyak." Pas gue nurunin tangan gue eh kak jungmo malah angkat lagi dan ngisyaratin gue buat nyuapin dia lagi.

"Kakak mau disuapin lagi?"

Kak Jungmo ngangguk.

DEG!

Entah halusinasi atau emang bener yang gue liat sekarang.

Dimana kak jungmo yang senyum tipis pas gue mau nyuapin dia untuk yang kedua kalinya.


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status