Bride (Indonesia)
Bride (Indonesia)
Author: Writer in box

1. Mencari Jejak pujaan hati

❤Ketika sudut dunian pun tidak ada untuku, kau datang meraih tanganku dengan sebuah ketulusan yang tidak dapat aku pahami❤

Arlan Turun dengan senyum merengkah sempurna, Ia tampak gagah dengan penampilan casual. Tangannya sibuk menyeret koper dan kakinya yang panjang melangkah dengan santai, setelah menuruni pesawat yang telah melintasi benua Eropa. Setiap mata indah akan melirik ke arahnya, kulit yang dulu sawo matang. Kini terlihat begitu putih, dan kemerahan, setelah sekian lama tinggal di  Norwegia untuk menepuh pendidikan tinggi.

Sekilas dengan penampilan yang begitu menawan tak akan ada yang menduga bahwasanya Arlan dulu hanyalah seorang bocah pemimpi yang tinggal di sebuah desa pelosok di pulau jawa. Dengan pendidikan, dan beasiswa, ia mengubah garis tangan hidupnya. Tak ada lagi bocah ingusan yang mencari keong di sawah, ataupun pemuda lusuh yang harus jadi kuli bangunan untuk membiayai uang sekolah. Semua telah berubah baik, penampilan, status sosial, dan pendidikan, tetapi hanya satu hal yang tak  berubah, dan tak akan pernah berubah, yaitu kepingan cinta untuk pujaan hatinya. Gadis dengan mata coklat, dan rambut keriting lembut, bernama Zara selalu mengisi hatinya sedari ia masih bocah ingusan, remaja dan sekarang.

Gadis itu masih saja memenuhi hatinya, meskipun tak ada kabar saling menyaut sejak ia menempuh pendidikan di Norwegia, tetapi keyakinan membawa Arlan pulang ke Indonesia untuk meminang gadis pujaanya itu. Tak peduli dengan resiko di tanah air apakah Zara sudah menikah atau Zara tak menerima cintanya.

Arlan cuma memiliki satu keyakinan bahwasanya ia mampu meminang Zara. Binar kebahagian tak dapat disembunyikan oleh Arlan, ia tidak dapat  berhenti tersenyum sepanjang perjalanan. Angin perdesaan yang meniup pipi tirusnya melalui jendela bus yang ia naiki, seakan lambaian kehangatan sebuah sambutan kedatangannya kembali ke kampung halaman.

"Assallamulaikum, Pak. Bapak mau roti?" tawar Arlan penuh sopan santun tak lupa budayanya, meskipun telah lama hidup di Negeri orang.

"Tidak usah, Nak. Buat kamu saja, sepertinya kamu habis melewati perjalanan yang sangat jauh,"  jawab lelaki tua yang duduk di sebelah arlan dengan binar mata penuh keramah tamahan yang dirindukan Arlan.

"Saya punya dua. Satu untuk Bapak satunya lagi buat saya." Arlan memberikan satu dari dua roti yang ia pegang ke pria tua itu sejari tersenyum.

"Terima kasih, Nak!" jawab pria itu yang ditanggapi senyuman hangat Arlan.

"Sepertinya kamu bukan orang kampung sini, Nak. Bapak tidak pernah melihatmu sebelumnya," ucap pria tua itu lagi.

"Saya orang sini, Pak. Kebetulan saya udah lama merantau."

"Rindu kampung halaman, ya. Jadi melepas rindu balik ke sini?" tanya pria tua itu lagi.

"Iya, Pak. Melepas rindu akan kampung halaman dan ingin meminang gadis pujaan hati yang masih berada di kampung ini." Arlan tampak sangat bahagia.

"Kamu pasti sangat mencintainya. Siapa gadis beruntung itu?"

"Tak hanya sangat cinta, tetapi juga sayang, pak. Namanya Zara, gadis penuh kasih sayang dan lemah lembut." tergambar kebahagian tak berbatas saat lidah Arlan menyebut nama gadis beruntung itu.

"Zara?"

"Zara! Tak mungkin Zara itu," Gumam Pria tua itu.

"Bapak kenal, Zara?" tanya Arlan melihat pria tua itu, tiba-tiba bengong ketika mendengar nama Zara.

"Ah, tidak ..."

"Kampung ini cukup luas. Mungkin Zara yang bapak kenal bukan pujaan hati yang hendak Anak muda tampan ini pinang!" suaranya gugup.

Arlan dan Zara memang satu kampung, tetapi berada di wilayah yang berbeda, tempat tinggal Arlan arah ke pesisir pantai, sedangkan Zara di bawah bukit. di mana banyak berjejeran sawah yang sangat subur. Kini Arlan menuju rumah Zara, ia begitu tak sabar berjumpa dengan pujaan hatinya itu, meskipun ia harus menyeret koper besarnya kemana-mana ia tak peduli.

***

Rumah yang terlihat paling bagus diantara sekelilingnya itu kini telah setengah hancur, cat kuning yang menempel di dinding - dinding, kini telah hitam pekat dan berlumut, setengah atap rumah telah roboh, halaman yang dulu di penuhi ragam bunga, kini ditinggali ilalang yang terus merambat ke bongkahan dinding-dinding yang telah roboh. Tak lupa bekas garis polisi yang telah koyak oleh masa melingkar di sekeliling pagar.

Nanar mata hitam pekat itu pun tak mampu mengalihkan pandanganya, sejari bulir-bulir kristal menetes. Tubuh gagahnya yang tegak, roboh seketika dengan kaki berlutut.

"Apa yang terjadi?" Teriak Arlan tak mempedulikan beberapa warga desa yang lalu - lalang.

Kekasih hati yang hendak ia cari, kini hanya meninggalkan puing-puing bangunan tua penuh tanda tanya. Kemana ia cari jejak langakah pujaan hatinya. Ia telah bertanya ke semua tetangga yang ada di sekitaran rumah, tetapi tak ada yang mau menjawab, semua seolah membisu dan mengabaikan rintihan hatinya. Sepanjang jalan ia bertanya soal Zara dan keluarganya. Semua menjawab dengan exspresi, dan jawaban yang sama.

"Kemana aku harus mencarimu, Zara?"

ucap Arlan pada dirinya sendiri sembari matanya menatap mentari yang begitu terik.

Arlan terus menyeret kopernya sepanjang desa hingga akhirnya, ia bertemu dengan pria tua yang ia jumpai di Bus tadi.

"Nak, Apa kamu yang di bus tadi?" Pria tua itu, menghampiri Arlan yang terlihat begitu lelah menyeret kopernya sepanjang desa.

"Bapak ...!" Arlan tersenyum, berpikir pria tua itu bisa membantunya menemui Zara.

"Kamu sudah menemukan gadis yang hendak kamu pinang itu?" tanya pria tua itu lagi.

"Belum, Pak." Arlan dengan wajah putus asa menyapu keringat yang ada di dahinya.

"Kalau begitu, ayo mampir ke rumah bapak untuk istirahat sejenak, sebelum kamu melanjutkan pecarianmu," tawar pria tua itu, yang tidak ditolak Arlan, karena ia begitu lelah setelah berkeliling mencari Zara.

Di rumah pria tua sebatang kara itu, Arlan didudukan di sebuah ruang tamu yang sangat sederhana, tak lupa ia dihidangkan secangkir teh hangat dan Kue kering di dalam sebuah plastik yang diikat karet gelang.

"Bapak tinggal sendirian?" tanya Arlan melihat tak ada seorang pun di rumah sangat sederhana tapi cukup luas.

"Iya, Nak. Anak bapak satu-satunya telah meninggal disusul pula oleh istri Bapak tahun kemaren." Pak tua itu, menelan salivanya, menahan sedih.

"Yang sabar, Pak. Hidup memang begitu seringkali tak dapat ditebak dan dimengerti. Tugas kita cuma sabar dan ikhlas." Arlan dengan binar mata kesedihan.

"Kalau boleh tau bapak bicara dengan siapa ini. Dari tadi kita ngobrol, tetapi Bapak tidak tau nama, Nak?" pria tua itu menanyakan nama Arlan.

"Maaf, Pak. Kita dari tadi ngobrol, tetapi saya tidak kunjung memperkenalkan diri. Perknalkan nama saya Arlan sujibto."

"Arlan sujibto anaknya Burhan sujibto yang tinggal di  desa hilir,  temannya nona Zara Adhira?" Pria tua itu, mengejutkan Arlan.

"Ini Pak sholeh. Salah satu pegawai dan tangan kanan Pak Adhi, Papanya Nona Zara," tambah Pria tua lagi membuat hati Arlan lega.

"Pak, sholeh! Kenapa Arlan tidak bisa mengenali Bapak. Seingat Arlan dulu Pak sholeh sangat tampan dengan rambut hitam, dan tas kulit yang selalu dijinjing." Arlan terpaku kaget melihat pria tua yang rupanya orang yang sangat ia kenal.

"Hahahaha, itu cerita lama Arlan," tawa pria tua itu, memenuhi ruangan.

"Sekarang Bapak sudah tua, rambut pun telah memutih, apalagi sejak kepergian Pak Adhi. Masa kejayaan Bapak pun berlalu," suara sendu, dan sedih terdengar dari ucapan Pak Sholeh.

"Memangnya, Pak Adhi kemana, Pak?" tanya Arlan bingung.

"Nak, Arlan tidak tau apa yang terjadi dengan keluarga Pak Adhi?"

"Tidak, Pak!"

"Jadi pujaan hati yang Nak Arlan ceritakan tadi, Nona Zara Adhira?"

"Iya, Pak. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Zara dan keluarganya?"

Pak Sholeh terdiam sejenak dan tidak menanggapi pertanyaan Arlan.

"Bapak juga tidak akan menjawab pertanyaan ini. Saya telah mencoba mencari tahu keberadaan Zara dan keluarganya dengan berkeliling desa, menanyai  orang sedesa ini, tetapi tak ada satu pun yang menjawab." Arlan dengan raut wajah sangat putus asa.

Melihat raut wajah Arlan, Pak Sholeh pun menceritakan tragedi yang menimpa keluarga Zara yang sebenarnya tak ingin ia ingat lagi, karena sangat meningalkan luka baginya yang merupakan tangan kanan Pak Adhi Papanya Zara.

"Keluarga, Pak Adhi semuanya terbunuh," cerita singkat Pak Sholeh.

Arlan yang tak mampu menahan air matanya, menangis sejadi-jadinya. Ia masukan jari-jemarinya ke mulut untuk menahan tangisnya.

"Pantesan, tadi pagar Rumah Zara ada bekas garis polisi. Mereka semua terbunuh dirumahnya?" Arlan menundukan kepalanya denga suara bergetar.

"Iya, rumah itu adalah saksi bisu terbunuhnya Pak Adhi dan sekeluarganya oleh para maling yang memasuki rumahnya, tetapi belakangan ini terdengar pula berita bahwa yang membunuh Pak Adhi bukanlah Para kawanan maling, tetapi pesaing Pak Adhi yang merupakan sesama tuan tanah," cerita pak Sholeh panjang lebar.

"Zara ..." Arlan terus menyebut nama Zara dengan air mata terus membasahi pipinya.

Kini lelaki gagah nan tampan itu terlihat sangat hancur, "Bawa saya ke makam Zara, Pak!" seru Arlan bangkit dari duduk dan kehancuran hatinya.

"Makam?"

"Iya, Makam Zara ...,"   suara Arlan melemah, terdengar sangat hampa.

"Zara, ia masih hidup, tetapi kondisinya sangat buruk." wajah Pak Sholeh Berubah begitu dingin.

"Zara, masih hidup! Alhamdulilah saya akan menerimanya tak peduli apapun keadaannya. Di mana dia sekarang, Pak?"

"Lebih baik Nak Arlan pulang ke rumah!"  perintah pak Sholeh dan berlalu meninggalkan Arlan.

"Saya balik ke indonesia bukan untuk pulang kerumah, tetapi untuk Zara." Arlan mengikuti Pak sholeh.

"Tolong saya, Pak!"

"Pak sholeh tau betul arti Zara bagi saya."

Pak sholeh tahu persis bagaimana kedekatan Zara dan Arlan dari kecil, karena Arlan sering main ke rumah Zara ketika pulang mengaji dan sekolah. selain itu, hingga remaja mereka tetap sangat akrab baik pas SMP maupun SMA, Arlan juga satu sekolah dengan Zara. Mereka berpisah ketika Arlan dapat beasiswa kuliah ke Nowergia. Di titik inilah sama sekali tak ada komunikasi diantara mereka, tetapi saling menyimpan hati satu sama lain.

"Nak, Arlan tidak akan sanggup di sisi Nona Zara yang sekarang." Pak Sholeh duduk di kursi rotan panjang.

"Apapun yang tarjadi saya berjanji akan selalu ada di sisi Zara. Semasih dia hidup apapun kondisinya akan saya terima, dan saya tetap akan menjadikannya istri saya, seperti niat awal saya. Jadi bawa saya padanya." Pria gagah itu mulai mengeluarkan air mata lagi untuk seorang gadis yang bernama Zara.

Melihat kesungguhan hati Arlan, sungguh pak Sholeh tak ingin ia kecewa, tetapi dari pada terus membiarkannya mempercayai keyakinan yang semu, maka Pak Sholeh terpaksa memperlihatkan kenyataan pada Pria yang meagungkan cintanya pada seorang gadis yang bernama Zara itu.

"Zara adalah satu-satunya yang dibiarkan hidup oleh para penjahat itu, bukan tanpa Alasan. Setelah semua keluarganya dibinasakan, Zara yang merupakan salah satu kembang desa tak mungkin dibiarkan begitu saja. Ia diperkosa oleh para penjahat itu, dan melahirkan seorang anak yang kini dirawat oleh satu-satunya wali dan keluarga yang dimiliki Zara yaitu Pamannya yang kebetulan tidak memimiliki anak."  Pak Sholeh memandang langit - langit rumahnya menahan sedih di hati.

Arlan yang mendengar cerita Pak Sholeh tak mampu menahan sesak di rongga dadanya. Ia terus memegangi dadanya dengan napas tersengal, sesak dengan tubuh tegap gagahnya mebungkuk menahan rasa kecewa dan sakit hati yang memenuhi relung jiwanya.

"Antarkan saya padanya! Dia tetaplah pujaan hati saya. Terimakasih untuk tetap hidup Zara ..." Arlan dengan expresi wajah yang tidak bisa digambarkan, marah, sedih, terluka, kecewa, bersyukur karena Zara masih hidup.

Pak sholeh yang mendengar ucapan Arlan pun mengantarkan Arlan menuju Zara. Dengan semboyongan dipukul kekecewaan hidup, Arlan terus berjalan menuju Zara dengan dibantu pak Sholeh memopong tubuh tingginya, sembari  tangan kanannya tetap memegangi Dadanya yang sesak.

***

Terima kasih telah mampir, mohon maaf apabila ada cerita yg kurang berkenan ini hanya fiktif dan imajinasi penulis🙂

fb leeana ratna sari

iG @Gadis pecinta mendung@writer_ in_box

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status