4. Makna Gambar Zayn

🌹Apapun kisah dibaliknya, hubungan antara Ibu dan Anak akan selalu begitu. Menyimpan kasih sayang satu sama lain🌹

Zayn setelah mencuci muka berjalan ke ruang tengah di mana Sofia dan Arlan sedang berbincang-bincang.

"Tidak masuk akal, kamu ingin menikahi Zara dengan kondisi Zara saat ini," ucap Tante Sofia, mendengar tujuan Arlan menemui Pamannya Zara, Radit.

"Lebih tak masuk akal membiarkan Zara terpasung seperti itu." Arlan merapatkan giginya menahan emosi.

"Kami tidak punya pilihan lain," sesal Tante Sofia dengan keadaan Zara.

Dilihat dari kondisi ekonomi keluarga Pamannya Zara, bisa dikatakan mereka keluarga berada, malahan lebih. Radit memiliki usaha sendiri dan Pabrik tahu di desanya. Ia juga termasuk orang terpandang di desa, dan tak mungkin mereka kurang uang atau kesulitan hanya untuk melakukan pengobatan pada Zara.

"Tidak punya pilihan!" seru Arlan dengan nada suara kesal.

"Kenapa tidak melakukan pengobatan terhadap Zara," tambah Arlan.

"Kamu bisa tanyakan sendiri nanti pada Pamanya," jawab Tante Sofia Gugup.

Zayn berlari menghampiri Sofia dan Arlan, memembuat mereka menghentikan perbincangan.

"Mama!" Zayn mengucek matanya dan duduk dipangkuan Tante Sofia.

"Iya, sayang. Udah selesai cuci mukanya." Tante Sofia mengusap lembut pipi mungil Zayn.

"hmm." Zayn mengagukan kepalanya.

" Mama, Zayn lapar," seru mulut kecil zayn, sembari jemari kecilnya memegangi perut.

"Baiklah, Mama siapin makan siang dulu bentar. Zaynnya temanin Kak Arlan di sini, ya!" Tante Sofia mencium pipi Zayn.

"Iya, Ma!" senyum sumringgah Zayn mengarah kepada Arlan. Arlan hanya melirikan matanya ke arah Zayn.

"Arlan saya tinggal sebentar, ya!" Tante Sofia pergi menuju dapur.

"Om ini temannya Kak, Zara?" tanya Zayn, sembari ia melangkah ke arah lemari kecil tempat Tante Sofia meletakan buku, dan crayonnya tadi.

"Om ...?" Arlan menunjuk dirinya sendiri.

"Iya, siapa lagi!" Sungut Zayn membawa buku gambar, dan crayonnya duduk di sebelah Arlan.

"Lucunya Anakmu Zara. Seandainya, dia Anakku bersamamu." Arlan memandangi wajah mungil di depannya.

"Om, hello ...!" Zayn menghentikan lamunan Arlan dengan melambai-lambaikan tangan munyilnya di depan wajah Arlan.

Arlan yang memiliki hati lembut pun tersenyum melihat bola mata coklat kecil itu.

"Kenapa Anak laki bisa seputih ini?" tanya Arlan mencairkan suasana dengan mengacak rambut lurus Zayn.

"Om...!" seru Zayn tidak suka rambutnya di acak-acak.

"Gatot kacanya Mama dilarang keras main diluar, karena itu putihan. Lagi pula om juga putihan, jadi jangan ngejek!" jawab Zayn, mulutnya mayun.

"Ternyata bukan cuma matanya mirip dengan Zara, warna kulitnya juga," Gumam Arlan di dalam hati.

"Oh, jadi ini gatot kacanya Mama!" Arlan gemas dengan pipi merah Zayn.

"Om ...!" Zayn mengusap pipinya.

Arlan tertawa geli melihat expresi Zayn yang mulutnya makin mayun dogoda Arlan. Seketika menghabiskan beberapa menit dengan Zayn, ia lupa bahwa bocah mungil yang imut ini adalah bagian dari penderitaan Zara.

"Om, Kak Zara itu dulu seperti apa sebelum dia sakit?" tanya Zayn tiba-tiba,  sembari tangannya tetap sibuk dengan buku yang sedang ia gambar.

"Ternyata dia memanggil Ibu kandunya, Kakak. Baguslah setidaknya ia bisa hidup dengan baik bersama paman Radit dan Tante Sofia sebagai orang tua asuh," pikir Arlan.

"Oom oh Om, dijawab atuh!" perintah Zayn.

"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya hal itu?" Arlan mengabil teh di meja yang sudah tinggal setengah.

"Aku tidak pernah melihat Kak Zara ketika ia masih sehat, karena waktu itu kata Mama aku belum lahir masih di perut Mama," penjelasan Zayn, mulutnya bicara, tetapi tangan sibuk menggambar.

"Kamu sungguh ingin tahu?" tanya Arlan lagi

"Hmmmm."

"Aku sangat sedih melihat kondisi Kak Zara, Om."

"Meskipun dia tidak tahu kamu adalah ibu kandungnya Zara, tetapi Anak ini masih peduli denganmu. Memang begitulah hubungan antara Ibu dan Anak. Bagaimana pun cerita dibaliknya tetap ada kasih sayang diantara kalian," gumam Arlan di dalam hati.

"Tetapi Om, aku juga sangat takut denganya. Ia selalu  penuh kebencian, dan berteriak padaku," nada suara Zayn bergetar.

"Kamu tidak boleh takut pada Kakak Zaramu. Dia sangat baik, lembut, dan penuh kasih sayang. Ia suka berbuat baik kepada siapapun bahkan hanya pada semut yang terjebak di dalam tetesan embun pagi," carita Arlan bersemangat.

"Benarkah!" senyum sumringgah Zayn, menoleh dari buku gambarnya.

"Hmmmm." Arlan mengagukan kepalanya.

"Ini untuk, Om!" Zayn memberikan gambar yang telah ia selesaikan pada Arlan.

Gambar yang dibuat Zayn terlihat tidak beraturan, seperti hasil tangan anak-anak umumnya. Gambar orang dibuat seperti lingkaran, kaki, dan tangan berupa garis, tetapi bedanya ada bayak garis di kaki yang digambar Zayn. hanya dia dan tuhan yang tahu makna dari gambar itu.

Arlan meraih gambar yang diberikan Zayn. Nanar mata Arlan tak lekat pada gambar itu.

"Ini gambar apa?" Arlan melihat gambar itu bingung.

Zayn mendekat pada Arlan, dan menjelaskan satu demi satu yang ia gambar, " Ini Kak Zara. Ini Rantai Kakinya, dan yang ini Kak Zara tidak di rantai lagi, ia bisa pergi bersama Om."

"Om yang mana?"

"Iiiih, ini Om! Masak tidak bisa lihat, sih!" sungut Zayn menatap Arlan yang merangkulnya.

"Iya hehehe. Kenapa Om di sini jelek. Om kan ganteng," protes Arlan.

"Emang Om jelek!" sungut Zayn.

"Bukan Om yang jelek, tetapi gambar kamu yang jelek." Arlan tertawa geli.

"Om kok nyebelin, sih!" Zayn mulutnya makin monyong.

"Ngambek, ya!" goda Arlan.

Disaat Arlan sedang asyik menggoda Zayn. Zayn tiba-tiba berlari ke arah pintu luar setelah mendengar salam Radit.

"Assallmualikum, Papa pulang!" Suara Radit terdengar dari arah luar.

"Walikumsalam, Papa ...," teriak Zayn berlari memeluk Radit.

"Anak, Papa udah makan siang?" Radit melonggarkan pelukan Zayn.

"Belum, Zayn nungguin Papa dari tadi hingga Zayn ketiduran habis menggambar." wajah zayn mewelas.

"Kenapa gak makan duluan, aja?" Radit mecium kening Zayn

"Gak mau. Maunya sama Papa," Zayn memangku tangan dengan mulutnya mayun.

"Baiklah! jagoan gatot kacanya Mama ini hendak makan dengan Papa!" menggelitik perut Zayn hingga tertawa geli.

"Ada tamu di dalam, sayang?" tanya Radit melihat sepatu Arlan di teras.

"Iya temannya, Kak Zara." Zayn menganggukan kepalanya.

"Temannya Zara, sejak kapan dia punya teman," gumam Paman Radit berjalan masuk rumah.

"Papa sudah pulang!" Tante Sofia menghampiri Paman Radit,  mengambil jeket dan tas kecil yang baru saja ia kenakan untuk dibawa ke dalam kamar.

"Siapa, Ma?" paman Radit melihat ke arah ruang tamu.

"Katanya teman Zara dan ingin bertemu Papa. Dia sudah menunggu Papa dari tadi, loh!"

"Ada keperluan apa teman Zara ingin menemui Papa ya, Ma?".

"Lebih baik Papa temui dan tanya sendiri," jawab Tante Sofia meskipun ia tahu apa tujuan Arlan menemui Paman Radit, tetapi ia ingin suaminya mendengar sendiri dari mulut Arlan apa maksud dan tujuan Arlan menemuinya.

***

ig@writer in box

@gadis_pecinta_mendung

youtube kumpulan puisi :writer in Box

terimakasi untuk dukunganya🥰💪🥰🥰🥰

Love you see ya...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status