10. Drama di pagi hari

Setelah mengepel lantai, kemudian menyiapkan pakaiannya dan Zara. Arlan melangkah untuk menghampiri Zara untuk memandikannya.

"Zara, bangun!" ucap Arlan duduk di tepian ranjang.

"Mmmmm," Zara menepis tangan Arlan yang mencoba membangunkanya.

"Zara, aku harus pergi kerja!" bisik Arlan.

Zara masih saja menutup matanya dan membelakangi Arlan.

"Zara, ayo mandi dulu!" seru Arlan.

Zara langsung bangun dan menjauh dari Arlan sembari tangannya melempar tangan Arlan yang berada di bahunya.

"Pergi!" teriak Zara menepi ke ujung ranjang.

"Huuuuft!" Arlan menarik napas dalam-dalam.

Arlan mendekati Zara berusaha memberi pengertian terhadap istrinya yang tampak gelisah itu.

"Kamu bisa mandi sendiri 'kan sayang!" seru Arlan.

Lalu Arlan menggendong Zara ke kamar mandi dan mendudukanya di closet.

"Mandilah!" Arlan menutup kamar mandi.

Sungguh Arlan berharap di pagi ini tidak ada drama seperti biasanya ketika meminta Zara mandi atau mengganti pakaiannya. Arlan menunggu Zara di balik pintu kamar mandi.

"Aku ini suaminya, tetapi perlakuannya seakan aku ini pejahat," keluh Arlan.

Suara percikan air terdengar dari dalam kamar mandi, tetapi sedari tadi Zara belum juga selesai padahal sudah cukup lama ia berada di dalam kamar mandi. Arlan yang curiga pun langsung membuka pintu kamar mandi. Benar saja, bukanya mandi Zara malah sibuk bermain air.

"Zara!" Arlan terkejut.

Arlan melangkah mengahampiri Zara yang sedang sibuk memainkan air dengan timba di tangannya.

"Aku sedari tadi menunggumu di luar. Kamu di sini sibuk main air," keluh Arlan gemes menjepit hidung Zara dengan jari jemarinya.

Zara menatap Arlan sejenak mendapatkan perlakuan begitu.

"Sayang, aku harus pergi kerja. Kamu mandi yang benar!" perintah Arlan.

Zara menggelengkan kepalanya. Menandakan ia tidak mau mandi.

"Kalau tidak mau mandi, istri jelekku ini makin jelek. Mandi, ya!" bujuk Arlan.

"Jelek!"

"Aku jelek?" telunjuk Zara menunjuk dirinya sendiri.

"Sangat jelek!" ucap Arlan sembari mendaratkan ciuman di pipi Zara.

"Mandi, ya!" bujuk Arlan lagi, melepaskan ciumannya.

Zara kembali menggelengkan kepalanya, bersekukuh tidak mau mandi. Arlan pun duduk jongkok di lantai, posisinya di depan Zara yang duduk di atas Closet.

"Apa kamu mau aku yang memandikan!" seru Arlan

"Suami!" jawab Zara dengan jari-jemari menyentuh hidung dan kemudian wajah Arlan.

"Gak pakai teriak-teriak, marah-marah, dan histeris,"  Arlan memegang tangan Zara yang menyentuh wajahnya.

Setelah memandikan Zara, ia mendudukan Zara di meja rias sederhana yang ada di kamarnya.

"Sisir rambut sendiri, ya!" Arlan memberikan sisir kepada Zara.

"Masak hari pertama kerja, aku udah telat," Arlan melihat jam dinding.

Ia bergegas berganti pakaian, dan bersiap-siap dengan kemeja putih dan celana dasar berwarna hitam.

"Sayang kamu belum menyisir rambut juga!" Arlan melihat Zara memainkan sisir yang ia berikan tadi.

Kedua telapak tangan Arlan berada di pipi Zara, ia memegang pipi mungil yang di tutupi rambut yang turun secara berantakan di depan wajah.

"Nakal!" Arlan menghembuskan napas kemata Zara.

Zara langsung berkedip dan menutup mata ketika merasakan angin masuk kematanya.

cup

Arlan mengibaskan rambut yang menutupi wajah Zara dan menciumnya. Zara menatap sinis Arlan.

"Jangan menatapku begitu!"

"Aku ini suamimu bukan musuhmu," seru Arlan setelah mencium Zara.

"Suami," gumam Zara memiringkan kepalanya.

Arlan mengambil sisir ditangan Zara dan menyisir rambutnya dengan santai, berdiri dibelakang Zara sembari berkaca.

"Kamu mau aku sisirkan," tawar Arlan, melihat Zara menatapnya dari balik kaca.

Zara memegang rambutanya. Sesekali mulut Zara mayun dengan sorot matanya fokus pada rambutnya yang berantakan.

"Sini!" perintah Arlan memiringkan badan Zara padanya.

Ia menyisir rambut Zara dengan perlahan dan lembut, tapi tiba - tiba Zara gelisah melihat rambutnya. Ia ketakutan dan berteriak, "Tidak, tidak, tidak!"

"Jangan!" tangis Zara mulai terdengar.

"Kenapa sayang?" jawab Arlan bingung dengan tingkah istrinya yang tiba-tiba berubah.

"Buang benda itu!" pinta Zara dengan badan bergetar ketakutan.

"Benda apa?"

"Itu!" Zara mengacak rambutnya.

"Ini rambutmu sayang, masak mau membuang rambut sendiri!" seru Arlan.

"Hiks hiks hiks hiks hik hiks," ratap Zara memeluk pinggang Arlan yang berdiri di sampingnya.

Arlan menurunkan badanya dan memeluk zara, "Sekarang ada apa?"

Zara tetap menangis begitu derasnya dipelukan Arlan.

"Tenanglah sayang!" Arlan mengusap-ngusap bahunya.

🌸🌸🌸

flash back keingiatan Zara 6,5 tahun yang lalu.

seorang pria bejat berjaket hitam menarik rambut hitam sedikit keriting Zara. Zara terus memohon ampun.

"Tolong ampuni saya!" pinta Zara penuh isak tangis.

"Rambutmu begitu indah," Pria bejat itu mengelus rambut Zara yang tertunduk diatas lantai dengan wajah penuh luka lebam.

Ia menarik rambut bergelombang itu sehingga rontok berserakan di lantai.

"Ampun!" rintih Zara  yang sama sekali tidak dipedulikan pria bejat itu.

kemudian pria bejat itu menarik Zara kepelukannya. hanya terdengar samar -samar di dalam keheningan, "Jangan!"

"Jangan sentuh aku!" rintih Zara.

🌸🌸🌸

"Aku benci rambut!" tangis Zara terisak-isak di dalam pelukan Arlan.

Arlan melonggarkan pelukannya, dan berjalan ke arah laci, membuka laci, dan mengambil ikat rambut.

"Sudah jangan menangis lagi!" Arlan mengusap air mata Zara perlahan dengan ujung jarinya.

"Sini!" pinta Arlan mendekatkan kepala Zara kepadanya.

Ia menyisir kembali rambut Zara yang telah Acak-acakan, dan menjalinya layak ekor kuda.

"Bagaimana melakukannya, ya!" gumam Arlan mencoba menjalin rambut Zara.

Setelah gagal beberapa kali akhirnya Arlan berhasil menjalin rambut Zara meskipun dalam bentuk seadanya.

"Sekarang kamu tidak bisa melihat rambutmu lagi," seru Arlan.

Zara tersenyum melihat tidak ada lagi rambut yang menutupi wajahnya.

"tidak boleh menangis lagi, ok!" Arlan mencium kedua kelopak mata Zara.

Zara mengagukan kepala, mengerti untuk sesaat apa yang dimaksud oleh Arlan.

"Ayo kita sarapan dulu! Aku udah telat untuk pergi kerja,"  Arlan mendorong kursi roda yang berada di sudut kamar.

Arlan menggendong Zara untuk duduk di kursi roda dan mendorongnya ke meja makan. Di meja makan Arlan menyiapkan makanan yang telah dibuatnya sedari subuh.

"Ah, udah dingin!" keluh Arlan menyadari nasi goreng yang dibuatnya sudah berubah rasa.

Arlan menyuapi Zara yang sedari tadi perutnya sudah berbunyi.

"Buka mulut!" pinta Arlan, Zara pun membuka mulutnya.

"Enak?"

"Arlan suami Zara!" jawab Zara ngaur.

"Ya, sudahlah!" Arlan mencium kening Zara.

Arlan terus menyuapi Zara hingga nasi goreng yang ia buatkan habis.

"Hari ini untuk pertama kalinya kamu tinggal sendirian di rumah. Tidur saja di kamar sampai aku pulang,"  pesan Arlan sebelum pergi berkerja.

"Arlan pergi, aku ikut!" rengek Zara.

"Nanti pas makan siang aku pulang," tambah Arlan.

"Tidak mau!" rengek Zara lagi.

Arlan memeluk Zara dan berkata, "Kalau aku tidak berkerja, nanti kita makan apa, Zara berobat dengan apa."

Zara melepaskan pelukannya dan menatap Arlan.

cup

Arlan mencium Zara lagi.

"Sudah, ya!."

"Aku pergi kerja dulu," seru Arlan.

Setelah Arlan menyiapkan hal yang dibutuhkan Zara di kamar, ia mematikan saluran listrik dan membuka gorden jendela sebagai sumber cahaya dan berangkat berkerja.

***

note:

Penderita Skizofrenia selain mengalami halusinasi, delusi, ganguan emosi yang mempengaruhi berpikir, merasakan, dan berprilaku dengan baik, penderitanya seringkali juga malas merawat diri.

Selain Skizofrenia Zara juga menderita rape trauma syndrome golongan PTSD,

Apa sih itu Author?

jangan lupa vote, like and love follow juga writer in box

@writer in box

youtube puisi, writer in box

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status