11. Dosen Ganteng

Tak

Tak

Tak

Suara langkah Arlan terdengar begitu kencang dengan sepatu formal oxford shoes  yang desainya timeless. Ikatan tali sepatu tertutup (closed lacing), dan tidak begitu lentur mengikuti tinggi tubuh Arlan yang ideal. Kemeja putih, dan Celana dasar hitam yang ia kenakan menambah pesona penampilan hari itu, membuat nanar mata para mahasiswi tak lekat padanya. Arlan dengan santainya terus melewati lorong koridor, memasuki kelas untuk pertama kalinya sembari tersenyum kepada semua mata yang menatapnya.

"Ya, Allah gantengnya!" seru gadis berkaca mata bulat kepada teman di sebelahnya.

"Apaan yang ganteng, Idah?" Tanya Renata, gadis berambut cat pirang kemerahan yang mengenakan kaos oblong berwarna pink soft, jeans gantung di bawah lutut, dan sneaker putih.

Idah menggoyangkan kaca mata berulang kali. Membuka dan menutupnya memastikan apa yang dilihatnya.

"Lihat!" perintah Idah melihat ke  arah Arlan yang sedang berjalan hendak melewati mereka.

"Ganteng," gumam Renata memiringkan mulutnya.

"Itu tidak cuma ganteng, Re!" Idah masih terpesona dengan ketampanan Arlan.

"Sangat!" ucap Renata lagi, memangku tangan di dadanya.

"Selamat pagi!" sapa Arlan yang lewat di depan Renata dan Idah.

"Pagi, Mas! Maksudnya, Pak," jawab Idah gugup.

Sedangkan Renata tidak menjawab sapaan Arlan, ia hanya membentuk simpul senyum yang penuh makna dengan bola mata coklatnya menatap Arlan.

"Eh, Mas gantengnya masuk kelas kita," seru Idah memukul-mukul gemas bahu Renata sembari bola matanya melihat Arlan memasuki sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Ayo!" ajak Renata menarik Idah.

"Ayo, apa?" Idah bingung sesaat.

"Masuk kelas, Idah!" seru Renata mengangkat kaca mata Idah.

Renata dan Idah mengikuti Arlan, berjalan di belakannya untuk memasuki kelas.

"Assallammulaikum!" Ucap Arlan sebelum memasuki ruangan kelas.

Semua mahasiswi bengong sejenak dengan nanar mata mereka fokus pada ketampanan Arlan.

"Walakuimsalam, Pak!" jawab para mahasiswa setelah Arlan duduk di meja depan.

"Apa dia dosen barunya? Gantengnya," bisik - bisik mahasiswi yang tidak seberapa jumlahnya.

Idah dan Renata langsung berlari dari luar kelas menuju kursi paling depan, posisi paling sudut.

"Perkenalkan nama saya Arlan sujibto.  Saya merupakan dosen teknik pertambangan yang baru," ucap Arlan memperkenalkan diri secara singkat sembari berdiri di depan kelas.

Renata yang duduk di sudut ruangan. Berhadapan dengan Arlan berkata, "Singkat sekali perkenalanya, Pak. Tak kenal maka tak sayang!"

Semua mata para mahasiswi melototi Renata yang mencoba mencari perhatian Arlan.

"Dasar caper!" seru salah satu mahasisiwi yang duduk di sebelah kanan Renata.

Renata dengan santainya mengabaikannya. Ia membuang wajah ke arah Arlan dengan sombongnya.

"Apalagi yang ingin kalian ketahui tentang saya?" tanya Arlan sembari menutup tutup spidol yang tadi telah dibukanya.

"Alamat rumah, nomor  WA, dan satu lagi, Apakah bapak sudah punya pacar?" cetus Renata, memainkan pena di tangannya.

"Iya, pak! Kami ingin tahu!" seru mahasiswi lainnya.

"Dasar! Tadi semua polototin aku. Tengok mereka sekarang," gedumel Renata di dalam hati.

"Alamat rumah, dan nomor WA. Saya tidak bisa memberi tahunya, karena itu privasi. Tetapi kalau pacar, saya tidak punya!" jawab Arlan membuat wajah para mahasiswi di kelas sumringgah, merasa memiliki kesempatan.

"Saya punya kesempatan kalau begitu, Pak!" goda Renata dengan wajah tersipu malu.

Dion yang duduk di baris ke dua, tepat di belakang Renata mulai terbakar api cemburu. Air mukanya mulai berubah merah padam ketika kekasihnya menggoda Arlan di depan matanya.

"Uuuuuu!" sorak para mahasiswi mendengar ucapan Renata.

Arlan melangkah dari tempat ia berdiri, "Saya memang tidak memiliki pacar, tetapi saya memiliki istri."

"Hahahahaha," tawa para mahasiswa melihat kaum minoritas yaitu para mahasiswi patah hati masal.

"Udah, ya!" isyrat Arlan untuk memulai pembelajaran.

Arlan duduk di kursi berwarna abu-abu, ia mengeluarkan beberapa berkas dan materi dari tas punggung yang ia bawa dan menaruhnya di atas meja, Sedangkan Renata mengeluarkan Hp dari sakunya dan mengambil photo Arlan secara diam-diam.

*lovely

My future husband*.

(Ketikan caption Renata yang ia share di instagram)

"Kamu main Hp, Re?" tanya Idah melihat Renata sibuk dengan Hpnya.

"Enggak aku cuma balas chat, Dion!" dalih Renata.

"Dion ada di belakangmu! Ngapain harus chattingan?" Idah menolehkan kepala ke dion.

"Kangen dianya," dalih Renata lagi.

"Orang pacaran lebay gitu, ya?" tanya polos Idah.

"Hmmmm!"

"Simpan ponselmu, gih!"

"Pak Arlan akan memulai pembelajaran!" seru Idah.

"Hmmmm!"

Dengan bekal ilmu dan gelar Ph.D. (doctor of philosopy), Alumni NTNU (Nowergian University of science and Technology), Arlan berdiri di depan kelas dengan sangat percaya diri, sembari tangannya menari-nari menjelaskan bagaimana genesa batu bara dan mamfaatnya.

"Unsur utama batu bara adalah carbon (C), hidrogen (H2), dan oksigen (O2)...," penjelasan Arlan terhenti.

"Kamu!" Arlan menunjuk seorang mahasiswi yang merupakan Renata.

Di kelas teknik pertambangan yang mayoritas kaum adam. Tampak sangat jelas yang mana memperhatikan pembelajaran, dan hanya meperhatikan wajah tampan Arlan.

"Saya, Pak!" Seru Renata menunjuk dirinya sendiri.

"Iya, siapa lagi yang bengong sedari tadi kalau bukan kamu!" tegur Arlan.

"Saya tidak bengong Pak. Saya memperhatikan," dalih Renata.

"Sebutkan dua tahap pembentukan batu bara?" tanya Arlan ingin membuktikan bahwa Renata tidak memperhatikan pembelajarannya.

"Saya tidak tahu, Pak!" Renata menundukan kepala.

"Lalu apa yang sedari tadi kamu perhatikan?" Arlan kesal.

"Bapak!"

"Uuuuuuuu!" sorak terdengar di dalam ruangan.

"Ada yang salah dengan wajah saya sehingga kamu harus memperhatikannya?" sungut Arlan.

"Ada! wajah Bapak mengalihkan dunia saya," jawab santai Renata.

"Re, ada apa dengan mu?" bisik Idah bingung dengan sikap sahabatnya itu.

Semua bersorak lagi mendengar pernyataan Renata, "Uuuuuuuuu!."

"Semua tenang ini bukan pasar," seru Arlan membuat kelas kembali kondusif.

Arlan yang tidak habis pikir dengan jawaban gadis itu, berbalik badan ke arah papan tulis, dan melanjutkan materinya.

"Sudahlah kita lanjut saja!"

"Lanjut kemana, Pak?"

"Lanjut kepelaminan, ayuk!" seru Renata lagi.

"Re, kamun kenapa," bisik Idah lagi.

"Abaikan saja, kita lanjut pelajarannya!" titah Arlan.

Semua mahasiswa melanjutkan aktifitasnya dan mengabaikan ucapan Renata.

"Re, kenapa kamu jadi genit sama dosen baru itu, sih!" gerutu Dion melirik Renata dengan tangan dikepal.

"Kenapa diabaikan, Pak!"

"Sepertinya saya jatuh cinta pada pandang pertama, dan saya tidak bisa mengabaikanya. Bapak juga tidak boleh mengabaikan perasaan saya!" celetuk Renata.

"Re!" Idah kaget sahabatnya bisa sekonyol itu, karena terpesona dengan dosen barunya.

Dion yang tidak tahan mendengar ucapan Renata pun menghampiri Renata dan menarik tanganya, "Ikut!"

"Apaan tarik-tarik!" keluh Renata.

Arlan memijat lembut keningnya melihat tingkah mahasiswinya.

"Kayaknya bucin pada padangan pertama sama Bapak, tuh," ucap mahasiswa yang duduk paling depan berhadapan dengan Arlan.

"Sudahlah!"

"Kita lanjut aja, ya!" seru Arlan.

Setelah proses belajar mengajar selesai. Semua mahasiswa dan mahasiswi meminta Arlan berfoto bersama.

"Pak ini hari pertama Bapak mengajar di kelas kami, ayo kita berfoto bersama!" ajak seorang mahasiswa.

"Boleh, Ayo!" Arlan menerima ajakan mahasiswanya.

***

vote, like, love and ikuti juga writer in box

love you see ya

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status