Share

Bab 9

"Baiklah, cukup pembicaraannya Alpha Aralt dan King Sean. Silakan duduk."

Setelah keduanya duduk. Hadley pun mengumumkan, "Kerja sama antara kedua pack dengan wilyah red blood dari kerajaan vampire, telah diresmikan."

Berbagai jamuan telah disiapkan secara khusus, terutama kepada King Hadley bersama anggotanya yang disediakan darah sebagai pelega mereka.

"Bagaimana King Sean?"

"Terima kasih, Alpha Hadley, darah ini sangat segar, kami menyukainya," jawab pria itu, menjilat sisa-sisa darah yang masih melekat pada bibirnya. Reinard yang melihat moment tersebut, berusaha menahan kerutan dari keningnya agar kaum mereka tidak tersinggung.

Berbicara mengenai perbincangan mereka, semuanya membahas mengenai belahan jiwa, tentu Aralt hanya terkekeh saja apalagi mengingat mate-nya yang begitu menggemaskan di pack.

"Bagaimana dengan Anda Alpha Aralt? Anda sudah menemukan mate?" tanya Sean.

"Tentu, King."

"Selamat, pasti kau telah menandainya bukan?" tanya Sean dengan tatapan yang jahil, kini ... mereka beralih ke zona asmara para pasangan ketika melakukan penyatuan yang biasa disebut sebagai menandai.

"Belum, King. Aku akan melakukannya, ketika mate-ku telah siap, karena, dirinya bukan serigala atau pun makhluk immortal lainnya, melainkan dia seorang manusia yang membuatku harus berpikir dua kali untuk menandai belahan jiwaku," jawab Aralt, membuat Hadley dan Sean terkejut. Mendapatkan mate seorang manusia, sangatlah langka dan sulit untuk dicari, karena ... apakah ada seorang manusia yang berada di dunia immortal? Jika iya, para makhluk seperti mereka akan yakin jika manusia itu kebetulan masuk di dunia yang sering dianggap fantasi oleh mereka sendiri.

"Bagaimana mungkin kau menemukannya?"

"Di hutan, saat aku berburu dan kebetulan pula anak panahku tak saja mengenainya ketika membusur ke sembarang arah, beruntung dia hanya tergores."

"Aku terpukau mendengar kisahmu. Namun aku harus memberitahumu bahwa nyawa mate-mu akan terancam jika kau tak melindunginya," balas Sean.

"Kau harus menjaganya, jangan sampai dia keluar pack tanpa ada pengawasan, kalau pun ada, itu bukan jaminan dan tetap beresiko Alpha Aralt," sambung Hadley.

"Yah, benar. Dan kemarin aku hampir kehilangan dirinya saat dia mencariku dan berakhir keluar dari hutan kemudian tersesat di sana. Aku pun bersyukur telah menemukannya ketika ia hampir diculik oleh seorang demon. Jika aku terlambat, maka aku kehilangan dirinya," ujar Aralt, sangat bersyukur jika ia tidak terlambat kemarin. Hadley dan Sean menghela napas, untunglah mate pria itu berhasil diselamatkan, karena berurusan dengan demon sangatlah merepotkan dan sulit pula untuk dikalahkan.

"Terima kasih. Lalu, bagaimana dengan Anda King? Sudah menemukan belahan jiwa?" tanya Aralt. Sean tersenyum, meneguk minumannya dulu lalu menjawab pertanyaan, "Heuft ... sampai sekarang aku belum menemukannya, jikalau pun ada, kemungkinan ia akan kabur karena melihat gigiku yang runcing, ha ha," jawabnya, memberikan kesan yang hangat dan mengisi pembicaraannya agar tidak terlalu kaku.

"Sayang sekali, padahal Anda tampan, kemungkinan hal itu yang menyebabkan mate Anda takut untuk muncul," canda Hadley dan Sean membenarkan.

"Kemungkinan besar dan aku yakin itu, hanya saja ... aku tetap bersabar untuk menantinya, kapan dia akan datang dan menyambutku dengan tulus, tanpa memandang diriku bahwa aku seorang raja vampire yang kejam," jawabnya.

"Kejam?"

Sean mengangguk, wajahnya menampilkan rasa penyesalan karena sifatnya yang egois dan diktator sehingga para pengikutnya perlahan menghilang karena menyerah menghapi sifat itu.

"Aku bersyukur jika dua pengikut di belakangku ini, masih setia dan selalu sabar, karena merekalah, aku menjadi sadar dan mengubah seluruh sifat burukku menjadi seseorang yang menghangatkan, dan ini benar-benar berefek baik karena aku tak lagi kesepian, dengan pelan ... orang-orang kembali padaku, bahkan menemukan orang baru seperti kalian. Aku sangat berterima kasih, walau berbeda kaum, kalian menerimaku dengan baik dan apa adanya, a-aku tidak tahu harus berkata apa lagi," ujar pria tersebut, seorang vampire yang terkenal menyeramkan, kini menitikkan air kata ketika mengingat keburukannya dan masih ada orang yang sabar menghadapi sifat itu.

"Sebesar apa pun dosamu, bukan berarti kau tak berhak mendapat kebahagiaan King, selama dirimu ingin berubah dan tak kembali ke sifat yang buruk itu, aku jamin kau akan mendapatkan kedamaian," balas Hadley, sangat simpati kepada pria itu, begitupun dengan Aralt yang terharu kepada pengikut King Sean yang sangat setia.

Pertemuan antara ketiga pemimpin besar benar-benar lancar dan berlangsung baik, serta mengeratkan kedekatan mereka untuk semakin menjalin kerja sama dan saling melindungi. Setelah acara jamuan itu, Aralt pun pamit, begitupun dengan King bersama pengikutnya.

"Alpha, saya tidak menyangka jika kita menjalin hubungan baik dengan kaum berdarah dingin itu," ujar Reinard saat mereka dalam perjalanan pulang. Aralt mengangguk, ia pun tak menyangka.

"Bagaimana awal pertemuan Anda dengan Alpha Hadley?"

"Dia mantan mate Bibi Fasha," jawab Aralt. Dan ini sesuatu yang mengejutkan untuk Reinard, kenapa ia tidak tahu berita ini? Sementara dirinya pun sangat dekat dengan Bibi Fasha, walau tak sedekat alphanya dengan wanita tua itu.

"Alpha Hadley me-reject Bibi Fasha ketika dia tahu bahwa Bibi merupakan mate-nya dan juga lebih tua darinya, dan Alpha Hadley tidak suka jika ia memiliki pasangan yang lebih tua. Mungkin kau bertanya, mengapa Alpha Hadley tak membahas belahan jiwanya, karena dia tidak ingin mengingat kesalahan terbesarnya, dan kau tahu pasti, apa maksud kesalahan terbesar," jawab Aralt, tak melanjutkan ucapannya karena dia ingin Reinard sendiri yang menebak.

"Alpha Hadley menyesal?"

"Seperti itulah, walau Bibi Fasha telah tua, dia tetap awet muda dan cantik bukan? Bahkan aku sering mendengar para warrior yang ingin menjadi mate Bibi, bahkan mereka ingin menikahinya, walau Bibi bukan pasangan mereka."

Reinard membenarkan hal itu, sampai sekarang, Bibi Fasha tetap cantik dan awet muda, bahkan tangannya tetap mulus. Hanya, Bibi Fasha tidak malu untuk mengakui dirinya yang sudah tua, karena ia tidak ingin membohongi orang lain, juga dia selalu menerapkan hal itu kepada dirinya dengan Aralt bahwa; "Nak, jangan pernah berbohong, jika kalian ketahuan ... Bibi akan menyubit kalian sampai menangis, mengerti?" Perkataan itu, sampai sekarang masih diingat oleh Reinard dan Aralt, dan keduanya tak pernah berbohong karena takut kepada Fasha.

"Aku terkejut, dan apakah Bibi Fasha marah kepada Hadley?"

"Aku selalu mengagumi Bibi karena sifatnya yang pemaaf dan penyayang, dia tak pernah marah, walau rasa kecewanya besar, tapi sebisa mungkin, ia akan meredam amarahnya agar tak terpercik akan dendam dalam dirinya. Tapi, aku penasaran jika Alpha Hadley dengan Bibi Fasha bertemu," ujarnya penasaran dan Reinard pun sama.

Sampai di pack, Aralt mencari Emely hingga menemukan mate-nya yang sedang menonton para warrior ketika latihan. Ia melangkah dengan pelan agar dapat mengejutkannya. Namun, Emely berbalik dan menangkap basah pria itu. "Hm, kau ingin mengejutkanku, kan?"

"Benar, tapi sayang, kau berbalik sayang."

Emely tertawa, kemudian menarik tangan Aralt lalu membawanya ke kursi menonton dan duduk bersama. "Aku daritadi menunggumu, sempat ingin kucari tapi aku mengingat perkataanmu bahwa jangan mencari dan tunggu dirimu sampai pulang. Akan tetapi," Emely menghela napas, kemudian melanjutkan ucapannya, "aku selalu bosan setelah membantu para omega untuk bekerja."

Aralt tertawa, mengunci mate-nya agar berbaring di pahanya kemudian menatapnya dengan lekat, "Maaf, pertemuannya agak lama dan aku tidak bisa pulang karena merasa tidak enak. Jadi, selalulah bersabar untuk menanti kepulangan mate-mu yang tampan ini."

"Mulai lagi," sebal Emely dan Aralt terkekeh. Sedetik kemudian, Aralt baru sadar jika pakaian yang selalu dipakai wanitanya akhir-akhir ini, memancing tatapan para pria untuk memandang kemolekan tubuh mate-nya.

"Sayang, walaupun pakaian ini longgar, dirimu tetap seksi dengan bagian atasmu yang terbuka, dan kau harus tahu bahwa aku sedang cemburu sekarang," ujar Aralt.

"Cemburu? Apa yang membuatmu cemburu?"

Aralt mendengus sebal, kemudian berkata, "Coba kau pandang di sekelilingmu."

Emely pun bangkit dari bantalan paha Aralt, kemudian memerhatikan orang-orang di sekitarnya, dan ... ia mendapatkan beberapa orang yang sedang memandangnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status