Foxy Paranoia
Foxy Paranoia
Author: Ailana Misha
Chapter 1 - His Little Daughter

This Novel is owned by Ailana Misha

Please, don’t copy and remake!

Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas, dengan jarum panjangnya sudah sampai di angka tiga. Sudah waktunya makan siang, pria itu melihat jam tangan mahalnya sesaat. Dia lalu menutup file berisi laporan posisi keuangan milik anak perusahaannya di Belgia. Ada tambahan modal disetor di ekuitas perusahaan bulan lalu, dan ia ingin memastikan apakah penambahan modal disetor tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaannya. Untuk sesaat Sean William Hiddleston bisa mengakui keberhasilan ekspansi bisnisnya yang lain melalui kinerja anak perusahaannya yang baru.

Sean berdiri dari kursi direktur utamanya, ia berjalan melewati ruangan kantornya yang luas. Ada banyak rak – rak buku di ruangan kantornya, buku – buku bisnis dan manajemen bisnis internasional mendominasi daftar bacaan buku di deretan rak – rak itu. Sean memang pribadi yang begitu gemar membaca buku, sebagai anak laki – laki satunya dari keluarga tersohor seperti Hiddleston, pria itu terlihat sekali hasil didikan keluarga terpandang yang konvensional.

Baru sampai di ruang tamu di ruangan kantornya, langkahnya berhenti saat pintu kantornya terbuka. Seorang laki – laki muncul di balik pintu tersebut, Sean mengenalinya sebagai Michael, sekretarisnya. Laki – laki itu menunduk memberi hormat kepadanya.

“Ada hal yang ingin kau sampaikan, Michael?” tanya Sean langsung. Pria itu menyedekapkan lengannya, tanda jika dirinya merasa terganggu.

“Maaf mengganggu waktu istirahat anda. Putri tuan sedang di cafetaria sekarang, tuan Hiddleston.”

“Angela?” tanyanya, dan Michael mengangguk membenarkan.

Sean mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa putrinya ada di kantornya di jam seperti sekarang? Waktu pulang sekolahnya baru satu jam lagi. Sean mengeluarkan Iphonenya dari saku jas abu – abunya. Ia mengecheck apakah ada pesan dari isterinya atau pesan dari baby sitter putrinya yang melaporkan kedatangan anaknya ke perusahaannya.

Nyatanya tidak ada pesan satupun yang dikirim oleh anggota keluarganya. Ia lalu menelfon nomor isterinya, ditunggu hingga dial ke tiga, sambungannya tidak terjawab. Sean langsung menutup sambungannya. Tanpa kata pria itu lalu meninggalkan ruangannya dengan setengah berlari.

Michael sudah akan mengikuti direktur utamanya, namun pintu lift atasannya itu sudah menutup. Tuan Sean William Hiddleston telah turun ke lantai dua dimana letak cafetaria kantornya berada. Sekretaris dari direktur utama perusahaan bank ternama di Asia itu menepuk jidatnya, ia harap yang berada di cafetaria tersebut benar nona Angela, putri semata wayang direkturnya.

Kalau bukan, dia bisa mati di tempat bila telah kedapatan memberi informasi yang salah kepada direktur utamanya itu. Bukan rahasia umum lagi, semua karyawan di kantornya tahu jika tuan Sean William Hiddleston begitu menyayangi putrinya itu.

Seorang anak perempuan berusia empat tahun, berambut pirang panjang sedang duduk di atas kursi cafetaria. Anak kecil itu menepuk – nepukkan tangannya. Ada lima cup es krim berbeda rasa tersaji di depannya. James mendesiskan lidahnya saat ia dapati putrinya seperti hendak melahap semua cup es krim itu.

Is it yummy, Angela?” tanya Sean dengan senyuman hampir seringaian.

Ia sudah menyeringai kepada seorang wanita yang ia tahu sebagai baby sitter baru putrinya untuk hari ini. Kini pria pewaris kekayaan keluarga Hiddleston itu sudah sampai tepat di belakang meja putrinya. Melihat kedatangan direkturnya di kala waktu istirahat seperti sekarang di cafetaria, membuat para staff dan karyawan perusahaannya berseru heboh. Sean William Hiddleston tidak biasanya ada di cafetaria di saat jam makan siang seperti sekarang. Pria itu biasanya pergi makan siang bersama putrinya atau makan siang sendiri di restoran favoritnya.

Daddy!!” pekik anak kecil itu saat melihat kehadiran ayah kesayangannya.

Angela langsung berdiri dari kursinya dan merentangkan kedua tangannya. Gadis kecil itu meminta digendong oleh ayahnya. Sean yang sebenarnya ingin marah mengetahui putrinya dipesankan es krim sebanyak itu mengurungkan emosinya. Ia tak pernah sekalipun lepas kontrol dalam menahan amarah bila putrinya ada di depannya.

Dad, I am looking for you!” ucap putrinya, anak kecil itu merengek. Namun sedetik kemudian ia sudah mencium pipi ayahnya yang tengah menggendongnya. Sean tertawa saat pipinya di ciumi oleh putri kecilnya.

Really? I am doubt. You seem to have your five ice cream.” Sean memberikan penekanan pada kata lima cup es krim.

Aunty has offered me, dad...” Angela berbisik di telinganya, anak kecil itu lalu mengerling cantik kepadanya.

Sean mengedipkan matanya, ia mendekap putrinya lebih erat.

It’s not good for your healthy, sweety.

Sambil menggendong putrinya, dibalik punggung putrinya, ia dengan jelas sekali memberikan tatapan peringatan kepada seorang wanita yang tengah melihatnya dengan ketakutan. Sean harus memberikan peringatan kepada baby sitter yang baru satu hari ini dipekerjakan oleh istrinya itu. Melihat reaksinya, wanita itu pasti tahu mana letak kesalahannya.

“Kau harus tahu, jika putriku sedang sakit radang tenggorokan. Banyak sekali es krim yang kau pesan untuknya, hemm?”

“Tuan... Saya minta maaf, tadi nona bilang ia suka es krim.” Wanita itu mencoba menjelaskan, dia terlihat pucat saat berusaha merangkai kata untuk diucapkan.

Good job! Hanya karena ia bilang menyukainya, lantas kau belikan lima, lima cup es krim sekaligus? Temui aku dan istriku nanti sore,” tutup tuan Hiddleston dengan murka lalu membawa anaknya dalam gendongannya.

****

Hari sudah berganti sore dengan cepat sekali rasanya, terutama bagi orang yang telah melakukan banyak sekali rutinitas seharian ini. Sean Hiddleston yang baru saja sampai di depan mansionnya, melihat putrinya yang telah sedang terlelap di pangkuannya. Sejak peristiwa tadi siang, ia tidak membiarkan anak perempuannya itu untuk pulang bersama baby sitter barunya.

“Silahkan tuan, anda sudah sampai rumah.” kata supir pribadinya.

Saat supirnya akan menggendong Angela, Sean melarangnya. Ia sendiri yang akan menggendong putrinya. Pria itu menaikkan putrinya dengan hati – hati, anak kecil itu nampak mengigau sedikit di pundaknya. Ia tersenyum mendengar gumaman putrinya.

Pelayan – pelayan rumahnya yang mengetahui kedatangan tuannya langsung membukakan pintu, mereka sudah akan mengucapkan sapaan selamat datang sebelum ditahan oleh Sean, ia memberikan isyarat jika Angela sedang tertidur.

“Sean... Kamu sudah pulang?”

Seorang wanita berseru dari lantai dua, di balik pagar balkon lantai dua mansionnya. Sean memandang wanita itu dengan fokus saat wanita itu berlari menuruni tangga, gaunnya melambai di belakangnya. Tidak butuh waktu yang lama, wanita itu sudah berada di depannya. Wajahnya nampak terkejut saat mengetahui putri mereka telah jatuh tertidur.

“Angela sudah tidur?” tanyanya pelan.

“Hemm.” gumam Sean pelan, dan menyamankan pelukannya pada punggung putri kecilnya.

“Berikan Angela padaku, biar aku yang membawanya ke kamarnya. Kau pasti lelah, Sean.”

Wanita itu, Kate Hiddleston, berseru pada suaminya, lengannya yang putih terulur. Namun Sean menggeleng, ia yang akan membawa putrinya ke dalam kamarnya. Kate tertegun, wanita itu menurunkan lengannya. Sean melewati tempatnya berdiri dalam diam. Ketika Kate sudah berbalik, pria itu sudah menaiki anak tangga rumah mereka.

Suaminya itu pasti begitu kecewa kepadanya. Siang tadi, Sean telah sengaja menelfonnya saat ia sedang menghadiri pembukaan butik sahabatnya. Hanya dari mendengar suaranya. Kate bisa tahu, jika ada yang salah disana hingga suaminya itu menelfon saat jam kerja di perusahaan pria Hiddleston itu.

Sean melaporkan terkait insiden es krim Angela dan baby sitternya. Kate ingat dia menghela nafas berulang kali saat mendengar semua keluhan dan kritikan suaminya untuk baby sitter anaknya yang baru hari ini ia pekerjakan. Di kasus lain, di keluarga lain, pergantian baby sitter yang berulang kali pasti disebabkan oleh anak mereka yang membuat ulah, yang terlalu nakal hingga baby sitter mereka tidak betah.

Namun itu berbeda dengan yang terjadi di keluarga kecilnya. Bukan Angela yang nakal dan berbuat kekacauan hingga baby sitternya sering silih berganti orang, yang ada malah suaminya yang begitu tak bisa diajak bekerja sama. Pria Hiddleston itu begitu rewel dan pemilih untuk ukuran menyeleksi karyawan yang menjaga anaknya. Dia yang sebagai ibunya saja, tidak mengapa jika baby sitternya melakukan satu kali dua hal yang kurang berkenan, bukankah setiap orang perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja baru mereka?

“Apa kamu tak memberi tahu kepada wanita itu jika Angela sedang radang tenggorokan?” ucap Sean saat dia mendapati istrinya telah mengekorinya hingga kamar putri mereka.

Wanita itu mendekati ranjang Angela yang didominasi dengan bed cover bewarna pink dan ungu pucat. Merapikan bed cover yang menutupi dada anaknya, lalu mencium kening putrinya. Kate berbalik menatap suaminya yang tengah menyedekapkan tangannya.

“Aku baru akan memberi tahunya malam ini. Aku kira tadi siang tidak ada hal yang terjadi dengan Angela.”

“Pastikan lagi bila kamu ingin mempekerjakan baby sitter untuk Angela, Kate. Jangan asal mempekerjakan orang asing!”

“Aku tidak mempekerjakan sembarang orang untuk anak kita. Aku mengambilnya dari yayasan baby sitter ternama di kota ini, Sean. Aku akan menasehatinya nanti, biar besok bibi itu lebih hati – hati.”

Kate merajuk kepada suaminya. Wanita berambut pirang panjang itu lalu mendekat pada Sean, menyentuh bahu kokoh pria di depannya. Tangannya bergerak pelan untuk mengendurkan dasi bewarna perak milik pria itu, akan tetapi hanya sampai satu kali simpul yang berhasil ia utas, Sean menghentikan pergelangan tangannya. Kate terkejut dibuatnya.

“Pecat dia, jangan pekerjakan dia lagi!” Bisik laki – laki itu penuh penekanan.

“Sean.... Tidak ada yang menjaga Angela besok kalau begitu.”

“Kosongkan jadwalmu besok, dan jaga Angela kalau begitu. Jadilah ibu yang baik untuknya,” ucap Sean lalu meninggalkan istrinya sendiri di kamar penuh nuansa Rapunzel, putri Disney kesayangan putrinya.

Suara langkahnya beradu pelan dengan kesunyian koridor lantai dua di mansionnya. Cahaya sinar lampu menyinari sebuah bingkai foto besar berisi sepasang manusia yang memakai gaun pengantin dan juga tuxedo putih, itu adalah foto pernikahan dirinya dan Kate lima tahun yang lalu.

Sean berdiri dan menatap pigura foto itu, ada dirinya kala itu yang hanya tersenyum masam, bertolak belakang dengan Kate yang tersenyum lebar disana. Gadis itu pasti mengira pernikahan mereka berdua akan berjalan dengan baik selayaknya rumah tangga keluarga kebanyakan.

Namun apa yang bisa diharapkan dari pernikahan yang telah diatur oleh kedua belah pihak keluarga? Pernikahan yang sering terjadi di kalangan keluarga kaya raya dan terhormat, kalau bukan suatu pernikahan yang terjadi karena perjodohan?

Berusaha seperti apapun untuk menutupinya dari orang luar di luar sana, dari orang sekitar mereka, mereka tidak akan bisa menyembunyikan keretakannya jika hanya ada mereka berdua. Tetapi sekarang itu berbeda, telah ada Angela di antara mereka, putri mereka adalah bukti yang nyata. Pernikahan ini tidaklah berisi mereka berdua saja. Apa dengan begitu mereka akan bisa mengubah hal yang sudah terlanjur salah kaprah ini?

------To be continued------

DMCA.com Protection Status