Bab 4 Kedatangan Reino

Bab 4

Kedatangan Reino

Keesokan paginya aku terbangun dengan tubuh yang sedikit kaku. Bagaimana tidak, aku baru saja melakukan perjalanan jauh dari Jakarta ke Cirebon. Meskipun tidak terlalu jauh juga dengan memakan waktu sekitar 3 jam, tapi tetap saja badanku rasanya pegal.

Kulihat jendela kamarku masih hanya tertutup kain kerudung seadanya dengan seberkas cahaya yang masuk. Aku sengaja merangkak dan menyibak kain itu sedikit, mengeluarkan kepalaku dan melihat kondisi di luar yang sudah pagi.

Tidak terlalu lama berada di sana, aku pun bangkit berdiri. Mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah selesai berganti pakaian dan sholat shubuh yang nyaris terlambat itu, aku pun ke ke luar dari rumah untuk mencari sarapan.

Baru saja ke luar dan memakai sandal rumah berwarna putih, kulihat tepat tetangga rumahku ternyata berjualan. Kemarin aku tidak begitu memperhatikan atau hanya sekedar lewat jadi tidak tahu bahwa di samping ada warung.

Aku menghampiri warung yang sudah cukup sepi lalu membeli 2 bungkus roti, air mineral, dan lotion nyamuk. Kemarin terasa sekali banyak nyamuk, tapi karena sangat lelah aku hanya menutup tubuhku dengan selimut serapat mungkin.

"Mbak baru kelihatan. Orang mana?" tanya Ibu pemilik warung berambut pendek dan ikal.

"Saya tinggal di sebelah, Bu. Baru kemarin pindah," jawabku seadanya.

"Oh yang sekarang tinggal di rumahnya Ade Wiwi." Ibu pemilik warung itu terlihat ramah. "Itu yang punya rumah keponakan saya, Mbak. Dikontrakan soalnya orangnya kerja ke Taiwan. Mbak namanya siapa? Dari mana asalnya?"

"Saya Tita, Bu. Dari Jakarta," jawabku pendek.

"Oh Mbak Tita. Saya Bu Nensi, panggil aja Bu Nen. Tinggal sama siapa, Mbak Tita?"

"Sendiri, Bu."

"Sudah menikah belum?" tanya Bu Nen lagi.

Aku bingung menjawab. Ingin kujawab sudah, tapi sudah bercerai. "Sudah...."

"BU NEN BELI GALON!" teriak seseorang dari belakangku, membuatku dan Bu Nen kaget.

"Kamu nih, To, ngagetin aja. Saya enggak budeg."

"Maaf, Bu Nen. Beli galon, Bu Nen." Laki-laki itu terlihat tidak sabaran.

"Sebentar," jawabnya. Ia menatapku lalu memasukan belanjaan ke dalam plastik bening berwarna hijau sambil berhitung. "Jadi 9000, Mbak Tita," katanya sambil menatapku.

Aku mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari dalam dompet lalu menunggu kembalian. Setelah mendapat kembalian, aku pun pergi dari warung Bu Nen. Pulang menuju rumah dan memakan sarapan pagiku yang berupa roti dan air mineral.

***

Selesai sarapan, aku mengambil ponselku. Kulihat ada panggilan tak terjawab dari Reino. Laki-laki itu sungguh tidak tahu diri. Mengapa masih menghubunginya terus menerus? Seharusnya ia fokus saja dengan restorannya. Jangan sampai bangkrut lagi seperti yang dulu pernah terjadi.

Aku mengambil kertas kecil dari dalam tas dan bulpen hitam lalu mulai menulis daftar barang yang akan kubeli untuk kebutuhan di rumah ini.

'Keperluan Dapur,' tulisku yang pertama.

1. Sabun Cuci Baju

2. Sabun Cuci Piring

3. Pelembut Pakaian

4. Piring

5. Gelas

6. Kompor 2 tungku

7. Gas+Selang

8. Pisau

9. Teflon

10. Wajan

11. Panci

12. Spatula

Setelahnya aku berhenti menulis dan mengambil laptopku. Kubuka dan masuk ke laman web marketplace. Aku memutuskan belanja online. Biar praktis.

***

Tiga hari kemudian belanjaanku mulai berdatangan satu persatu. Aku menerimanya dengan senang hati. Beruntung saat tinggal ngekost semasa kuliah, aku sudah biasa mengganti tabung gas dari selangnya, jadi sekarang aku tidak perlu takut lagi. Aku membeli kompor, selang, dan tabung gas dari Bu Nen. Yang memasang selang ke kompornya pun suaminya, Pak De, memang namanya Pak Dewo.

Aku mendapat panggilan dari Mama dan segera mengangkatnya. "Halo, assalamualaikum, Ma."

"Wa'alaikum salam warrahmatullah, Dek. Kamu ini kok enggak ngehubungin Mama dari nyampe ke Cirebon?" tanya Mama khawatir.

"Maaf, Ma. Aku lagi ngisi kontrakan soalnya," jawabku apa adanya. "Pas aku datang cuma ada kasur doang."

"Ya Allah, Nak. Kamu yang baik-baik di sana. Mama sih sebenernya enggak suka kamu ke sana di saat sekarang. Apalagi masih ramai berita tentang Corona."

"Maaf, Ma. Ini juga kan demi tes CPNS aku. Barangkali aja rezekiku di sini," kataku, menyakinkan Mama sekaligus diri sendiri.

"Iya, itu mah tergantung nasib kamu, Dek. Mama selalu berdoa demi kebaikan kamu." Aku mendengar suara Mama makin menjauh. Terdiam sejenak lalu kembali bersuara. "Reino minta alamat kamu di Cirebon. Dia mau nyusulin kamu."

"Ngapain sih si blegug itu mau nyusul-nyusul segala." Rasa kesalku langsung memuncak. "Mama kan tahu aku enggak mau ngelihat muka dia lagi."

"Iya, Mama tahu. Tapi coba kamu dengerin penjelasan dia, Dek. Mama percaya kok Reino anak yang baik. Dia enggak lelah minta maaf ke kamu. Coba kasih dia kesempatan untuk bicara. Supaya semuanya jelas. Mama yakin temen ceweknya itu yang jahat, bikin kamu salah paham, kamu tahu sendiri kan Reino itu orangnya setia selama ini. Dia sukanya bisnis, bukan main perempuan."

"Aku enggak percaya sama dia."

Mama mendesah berat. "Ya udah, terserah kamu. Tapi kamu tetep hati-hati ya selama tinggal di Cirebon. Kalau gagal ujian, kamu balik aja ke rumah. Mama kangen sama kamu, Dek."

"Iya, Ma. Aku juga kangen sama Mama," kataku sedih.

"Udah dulu ya, Mama mau siap-siap bikin kue buat acara arisan. Assalamualaikum, Dek."

"Wa'alaikumsalam," kataku dan kembali sedih dengan nasib. Mengapa harus begini? Hidupnya dulu baik-baik saja sebelum menikah. Tapi mengapa setelah akad semua hal terasa buruk dan menyedihkan.

Ya Tuhan, tolong aku! Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini.

***

Ketukan di pintu terdengar saat jam sudah menunjukan pukul 20.30 malam. Aku merasa bingung, karena tidak biasanya kurir datang malam-malam.

Tak ingin membuat kurir terlalu lama menunggu, aku pun membuka pintu rumah. Tapi yang kudapati bukan kurir melainkan seorang yang sangat tidak ingin kutemui. Seorang pria yang masih kubenci setengah mati, yang telah menorehkan luka di hati ini.

"Ngapain kamu ke sini?" tanyaku kesal pada Reino.

Reino terlihat begitu berantakan. Wajahnya yang biasanya penuh rasa percaya diri, berubah sendu. "Jangan tinggalin aku," katanya lalu memelukku dengan erat.

Aku mencoba melepaskan diri tapi pelukan Reino terasa sangat erat dan malah membuatnya sakit jika harus meronta lebih kencang.

"Please, Tita. Aku mohon, aku sayang kamu. Aku enggak mau kita berpisah. Semua ini salah paham. Aku emang salah, tapi aku mohon kasih aku kesempatan kedua." Reino berbicara dengan kesungguhan hatinya. Aku bisa merasakan itu dan tanpa sadar balas memeluknya. Terkadang aku ingin percaya, tapi terkadang lagi aku mengingkarinya dan mengatakan bahwa semuanya memang kesalahan fatal Reino yang tidak bisa dimaafkan.

Kuperhatikan di luar tidak ada mobil, apa Reino ke mari menggunakan transportasi umum? Kasihan dia. Tapi....

"Pergi sana!" Aku mendorong tubuhnya ke luar dari rumah lalu membanting pintu tepat di depan wajahnya. Aku pun segera mengunci pintu rumah dan berlari masuk ke dalam kamar.

****

Bersambung....

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status