Demi Statusmu (bahasa Indonesia)
Demi Statusmu (bahasa Indonesia)
Author: Iestie Adja
1. Dekat karena terbiasa

Seorang gadis muda usia 23 tahun yang baru saja bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan swasta. Gadis mungil dengan tinggi 155cm dan berat 45kg, berambut panjang sebahu dan lebih sering mengenakan celana panjang setiap kali memasuki tempat kerjanya. Panggil saja dia Za. Iya nama lengkapnya Zahira Oktiawati, gadis lulusan psikologi yang berasal dari kota kecil dan merantau ke Jakarta demi sebuah pekerjaan yang ia gadang-gadang akan merubah nasibnya menjadi lebih baik.

Jam makan siang, ia berjalan menuju kantin kantor bersama dua rekan satu divisi dengannya. Seorang pria muda umur 25 tahun dengan badan tinggi kecil berkacamata, dan seorang gadis 23 tahun dengan rambut panjang sedada yang terurai. “Za, lu mau makan apa? “ tanya pria berkacamata dengan hidung mancung dan kulit putih itu.

“Seperti biasanya aja ya mas Adit. Tolong pesenin dulu, aku mau ke toilet sebentar. “ jawab Zahira pada temannya yang bernama Adit.

Aditya Herlambang pria dengan wajah ganteng yang tertutup kacamata bulatnya. Dia adalah senior Zahira yang sejak awal selalu bersedia membantu Zahira dalam segala hal. Sebenarnya Adit tampan bahkan bisa dikatakan nilainya di atas pria tampan yang ada di kantornya, hanya saja ia salah dalam mengenakan kacamata. Ia lebih memilih kacamata bulat besar seperti jengkol yang menutup matanya dengan sempurna dan menghalangi aura ketampanannya keluar.

“Oke, gue sama Tia cari tempat duduk ya... “ ucap Adit sambil berjalan bersama satu temannya yang bernama Tia.

Rastia Saputri yang lebih akrab dipanggil Tia. Dia pegawai baru seperti Zahira dan sama-sama berasal dari kota kecil. Jika Za berasal dari Wonosobo, sedang Tia asli dari Boyolali. Sama-sama asli suku Jawa membuat mereka bisa cepat akrab dan dekat dalam waktu yang singkat.

Saat Adit dan Tia sudah duduk dan mulai menikmati makan siang ya, barulah Za datang bergabung.

“Ini ya makananku? “ tanya Za penuh keceriaan yang diiyakan Adit dengan anggukan sambil mengunyah makanannya.

“Makasih ya mas Adit yang ganteng... “ ucap Za sambil bersiap menikmati makan siangnya.

“Sama-sama Za... Lu juga cantik, cuma sayangnya satu... Pendek. “ jawab Adit dengan senyum.

“Cocok banget nih. Udah lah, kalian jadian aja. Daripada tiap hari aku cuma suruh dengerin gini terus. Ntar kalau satu gak ada, yang satu kebingungan nyarinya kaya kehilangan mouse di komputer. “ ucap Tia meledek.

“Selama mas Adit masih pakai kacamata jengkol itu, aku pastiin gak akan pernah suka sama dia. “ jawab Za penuh percaya diri.

“Yakin nih? “ ucap Adit sambil menatap Za tajam.

“Iya dong. Makanya mas Adit jomblo terus, itu karena kacamata itu.” Jawab Za kembali.

“Awas ya nanti kalau kamu sampai jatuh cinta sama aku... “ ancam Adit sambil tertawa kecil.

“Kita lihat aja ya... Aku saksinya nih... “ ucap Tia menengahi.

Selesai makan mereka segera menuju ke ruang kerjanya masing-masing setelah sebelumnya melaksanakan sholat di mushola kantor terlebih dahulu. Kubikel yang berdekatan membuat mereka jadi semakin akrab. Tak jarang mereka saling bercanda ketika pekerjaan mereka sedikit longgar.

Jam kantor berakhir, semua karyawan mulai meninggalkan kantor satu persatu termasuk Za, Adit dan Tia. Mereka terlihat bersama saat keluar ruangan. Adit menuju parkiran mobilnya, sedang Tia dijemput oleh kekasihnya. Kini tinggal Za yang masih berdiri di halte bus menunggu angkutan itu datang. Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti dan si pengemudi membuka kacanya.

“Za, ayo bareng gue... “ ajak Adit.

Tanpa mengambil pusing Za lalu masuk ke mobil Adit seketika. Di perjalanan pulang mereka lebih banyak diam karena rasa letih bekerja seharian. Beberapa waktu kemudian akhirnya mobil hitam itupun sampai di depan kost – kost an Za.

“Besok malam temani gua ya, penat banget... Ntar gua jemput... “ucap Adit sebelum Za turun.

“Asal kamu ganti kacamatanya. Eh iya, makasih tebengannya... “ jawab Za lalu turun.

***

Sabtu sore yang sepi, Za hanya berbaring di kost sambil menonton televisi sambil menghabiskan keripik yang ada di toples. Kegiatannya tiap akhir pekan selalu ia gunakan untuk istirahat di rumah, tiduran dan bermalas-malasan sambil menonton acara tv sembari ngemil.

Di saat yang sama benda pipih yang letaknya tidak jauh dari tempatnya duduk bergetar dan berteriak memberitahukan ada pesan masuk. Segera ia raih benda kecil itu dan segera membuka pesan yang masuk.

“Mas Adit?! “ celetuk Kayla pada diri sendiri.

{Za, kemarin udah gue kasih tumpangan. Sekarang keluar dan temenin gue... Ini gue di depan}

“Hah? Udah di depan? “ ucap Za kemudian menuju pintu kost.

Begitu membuka pintu, ia mendapati seorang pria tengah duduk santai di bangku depan kost nya sambil menyesap rokok. Sadar pintu terbuka, si pria tersebut bangun dan tersenyum pada si tuan rumah.

“Hai... Ayo, temani gue jalan sebentar... “ ajak pria berkacamata jengkol dengan senyum manisnya.

“Ke mana? “ tanya Za malas.

“Ke mana aja lah. Ke mall, atau club juga ayo... “

“Kacamata kamu masih itu aja sih. Aku temani jalan tapi mas Adit yang ngikut aku ya, gimana? “ tawar Za dengan kebawelannya yang khas pada Adit.

Laki-laki itu entah kenapa selalu saja diam meski Za sering berkomentar pedas, bahkan mengkritiknya habis-habisan. Adit yang sejak awal kenal Za sudah menaruh hati padanya, rela selalu dapat ucapan menyakitkan dari gadis itu.

Setelah selesai berganti pakaian akhirnya mereka berdua pergi dengan mobil sesuai petunjuk Za. Ternyata ia mengarahkan Adit pergi menuju sebuah optik besar tak jauh dari kost nya.

“Ayo kita turun... “ ajak Za semangat.

“Ngapain ke sini? “ tanya Adit bingung.

“Nurut aja deh. Oh iya, bawa ATM kan? “tanya Za yang diiyakan dengan anggukan oleh pria tinggi itu.

“Saldonya banyak kan? “ lanjut Za serius namun justru Adit membelalakan matanya karena kaget dengan pertanyaan Za.

“Biasa aja deh, nanti kalau saldo mas Adit gak cukup pakai punyaku kurangannya. Tapi hutang ya... Ayo mas... “ ucap Za melanjutkan dengan nada ringan tanpa beban.

Setelah turun, Za menarik pria tinggi itu masuk. Segera ia meminta pelayan optik untuk mengganti kacamata. Za sibuk memilih bentuk yang menurutnya menarik dan beberapa kali Adit diminta untuk memakainya. Tanpa protes Adit menuruti kemauan gadis itu.

Setelah beberapa saat akhirnya Za menemukan kacamata terbaik untuk pria di sampingnya itu llengkap semuanya sesuai ukuran minus mata Adit. Saat tiba waktu membayar tanpa rasa canggung atau malu Za meminta kartu ATM Adit di depan kasir.

“Nih, totalnya mas... “ menunjukkan jumlah yang harus dibayarkan.

“ATM nya mas... Mas Adit yang urus deh... “

Adit menggeleng melihat tingkah Za lalu mengeluarkan kartu kecil dari dompetnya. Setelah selesai mereka duduk sebentar di sofa tunggu yang ada di optik itu.

“Nah, gantengan gini kan? Suruh anterin kondangan juga aku mau ini.... “ ujar Za sambil tersenyum memandang penampilan baru Adit.

Memang benar Adit terlihat jauh lebih menarik, lebih tampan dan jauh terlihat fresh dan cerdas. Beberapa kali Za mengajak Adit berfoto untuk mengabadikan penampilan baru tersebut.

“Gimana, mas Adit jauh lebih pede kan? “

“Iya, tapi duitku terkuras banyak gara-gara ini... “

“Gajimu lebih banyak dariku lho, lagian buat nunjang penampilanmu sendiri. Biar nanti cepet dapat cewek. Kamu itu sebenarnya ganteng mas, Cuma gara-gara jengkol kesayangan kamu itu jadi nutupin aura kamu. Kalau sekarang, yakin deh banyak yang minat sama kamu. “ ucap Za panjang lebar penuh semangat.

“Okelah, asal kamu senang Za... “

“Iya dong, sekarang traktir aku makan ya... Pecel lele pinggir jalan gakpapa deh.... “ ucap Za sambil berdiri lalu beranjak meninggalkan tempat itu dengan diikuti Adit.

***

Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang begitu lembut menyibak pagi. Udara segar khas Jakarta tercium. Iya khas Jakarta, segarnya karena belum begitu banyak kendaraan yang berbaris di jalanan menyemburkan asap hitam dari ujung knalpotnya masing-masing. Namun segarnya Jakarta memang tidak bisa jika dibandingkan dengan segarnya udara pedesaan khususnya kota kelahiran Za yang begitu asri, hijau, dan sejuk.

Tentulah berbeda, sebab jumlah tanaman yang ada pun berbeda. Jika di Wonosobo tanamannya adalah pepohonan hijau beraneka macam, besar kecil berbagai jenis ada turut menyumbang kandungan oksigen yang berkualitas. Sedang tanaman di Jakarta adalah gedung-gedung tinggi pencakar langit dan bangunan tempat tinggal penduduk yang begitu rapat hingga tak jarang satu gang tempat tinggal belum tentu kenal semua karena saking banyaknya tempat tinggal manusia.

Di kantonya Za sudah duduk santai sambil menikmati sarapan yang ia beli di jalan ketika berangkat tadi. Di sebelah kubikelnya masih kosong, karena Tia belum datang saat itu. Tiba-tiba sebuah sapaan dari suara berat laki-laki menyapa sembari sedikit mengacak-acak rambutnya. Suara yang sudah tak asing lagi, dan perlakuan iseng yang biasa ia terima dari pria muda seniornya itu. Iya, dia adalah Adit.

“Mas Adit tuh, nih rambutku berantakan... “ gerutu Za ambil menyendok sarapannya.

“Baru sarapan aja kamu gadis kecil?” tanya Adit meledek sambil duduk di kubikelnya yang berada

tepat di depannya.

“Iya, tapi jangan minta... Aku Cuma beli satu .” jawab Za santai sambil bercanda yang dibuatnya seperti serius.

“Kenapa itu kacamata jengkol dipakai lagi? Sia-sia kemarin aku temani seharian.” Lanjut Za seraya memajukan ujung bibirnya tanda kesal.

“Maaf lupa... Nanti aku pakai saat kita makan siang ya...” jawab Adit lembut.

“Hmmm... Mau dipakai atau gak terserah lah. Nanti aku izin keluar kok sebelum jam istirahat.” Jawab Za santai sambil menikmati sarapannya.

“Kamu mau ke mana? Perlu aku antar?”

“Gak usah... Aku pemberani kok.” Ucap Za riang.

“Aku gak tega anak kecil kaya kamu keluyuran sendiri di Jakarta.”

Za hanya terdiam tanpa menjawab ucapan Adit, ia hanya tersenyum dan lebih memilih untuk melanjutkan sarapan nasi uduk yang ia beli di dekat kontrakannya sewaktu ia berangkat.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status