BAB 4

“Usia gadis itu akan menginjak dua puluh satu tahun, putri dari mantan pengusaha sukses, Hendri Sandoro yang meninggal karena bunuh diri satu tahun sembilan bulan yang lalu dan meninggalkan hutang dengan jumlah tidak sedikit. Seharus-nya, dia sudah di rumah bordil mengingat betapa tidak mampunya dia membayar semua hutang yang Hendri tinggal-kan.”

Mike menyerahkan seluruh kertas penyelidikan yang dia dapat dari Rudith seminggu yang lalu dan menunjukkannya pada Jake. Pria itu membacanya satu per satu. Jake membolak balik kertas di tangan. Perhatiannya juga tidak luput dari surat kontrak yang David tinggalkan. Keningnya berkerut ketika membaca berkas yang dia terima, berpikir keras mengapa sahabatnya sangat tertarik dengan ini semua.

“Lalu, apa yang kau inginkan dari gadis itu? Menyeret-nya dalam hidupmu atau membebaskannya seolah perjanjian ini tidak pernah ada sebelumnya?”

Jake mengamati reaksi Mike dengan seksama. Dia akan menjadi pria serius jika memang diharuskan.  Ada rasa tidak suka dalam hatinya melihat betapa besar ketertarikan Mike pada Diana Sandoro, terutama jika itu menyangkut David, ayah tiri Mike. Jake sadar, kontrak itu bagaikan hujan di musim kemarau panjang. Namun bukan sebuah berkah, melainkan petaka. Pria di hadapannya akan berubah menjadi monster yang tidak berbelas kasih dan ia takut walau hanya membayangkan.

“Tentu saja aku akan memilikinya, karena dia memang milikku. David mewariskan seluruhnya padaku, termasuk kontrak ini. Seharusnya itu sudah jelas, karena kontrak kepemilikan ini ada bersamaan dengan dokumen warisanku lainnya.” Mike berkata tanpa keraguan.

Jake menghela napas, memperhatikan surat-surat yang berserakan di atas meja.

“Jadi, kau ingin aku melakukan apa?” tanyanya tidak antusias. Percuma saja menolak, Mike tidak akan membiarkan, perkataan pria itu mutlak, tanpa bantahan dan Jake mau tak mau mengiyakan saja. Lagi pula, dia tidak disuruh melakukan hal kriminal.

Senyum Mike tampak menghiasi wajah tampannya, namun senyum itu terlihat dingin, dan penuh perhitungan, seolah dirinya siap memulai permainan kapan saja dan tidak pandang bulu untuk menjatuhkan lawan mainnya.

“Bawa dia dan paksa untuk menikah denganku. Aku sangat bosan, dan ingin sedikit bermain. Dia adalah mainan menarik untuk saat ini.”

Jake tercekat, wajahnya pias dan tatapannya penuh ketidaksetujuan. Dengan lantang dia menyuarakan perasaannya.

“Dia manusia Mike! Bukan mainan! Apa kau gila? Hanya karena dia wanita yang David inginkan dan kau ingin menghancurkannya?”

Emosi Jake tidak terkontrol, dia tidak peduli jika sahabatnya itu berbalik memusuhi, baginya ini sudah di luar batas. Baru kali ini dia melihat Mike ingin menyentuh sesuatu yang tidak berkaitan dengan bisnis serta hal-hal yang tidak berkaitan lainnya. Meskipun David masuk dalam kategori hal-hal itu, tapi ini berbeda. Gadis itu jelas tidak bersentuhan langsung dengan David.

“Kau lihat sendiri, bahwa Hendri yang telah menandatangani kontrak ini. Gadis itu mungkin tidak tahu jika dia terikat, Mike,” lanjut Jake sambil menunjuk tanda tangan yang Hendri bubuhkan di atas matrai perjanjian.

“Apa aku harus peduli? Tidak mungkin David menginginkan sesuatu yang tidak ada nilainya, kau juga tahu seperti apa si tua bangka itu. Dengan adanya surat ini, itu berarti gadis itu sangat berharga baginya.” Mike menatap Jake, meminta sahabatnya untuk mendengarkan secara seksama. “Dan si tua bangka itu seharusnya bisa mendapatkan apa pun dengan mudah, tapi mengapa dia harus repot-repot membuat kontrak ini?” Ada senyum tergurat di mata Mike, sebuah senyum kemenangan, karena pada akhirnya Jake bungkam. Dengan diamnya Jake itu artinya Mike memenangkan perdebatan.

Tanpa sadar Jake membenarkan perkataan Mike. Memang aneh, mengingat David adalah orang yang sangat berkuasa. Dia tidak seharusnya repot-repot membuat kontrak tersebut dan sampai menunggu hingga usia Diana dua puluh satu tahun.

“Baiklah, kau menang. Aku akan membawanya ke rumahmu segera.” Jake bersiap untuk berdiri, dia butuh sesuatu untuk menjauhkan diri dari kegilaan serta ambisi sahabatnya.

“Kau mau ke mana? Aku belum selesai bicara,” kata Mike tajam. Dia menggerakkan jarinya, mengisyaratkan pada sahabatnya untuk duduk kembali. Jake menatap Mike dengan gusar dan memilih patuh, duduk manis di depan Mike seperti remaja yang baru ketahuan merokok oleh guru killer di sekolah.

“Untuk saat ini, biarkan dia bebas. Jatuh tempo kontrak tinggal dua bulan lagi. Selama itu terus awasi dia.”

“Kau yakin tidak ingin memberitahunya tentang kontrak, sekarang?”

Mike mengangguk pasti.

“Ya, tapi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, langsung bawa dia ke rumahku, beritahu padanya tentang kontrak ini.” Mike menatap Jake dengan binar mata penuh gairah. Dia seperti pemburu yang membiarkan mangsanya tergelepar mengenaskan dan menunggunya mati secara perlahan.

“Baiklah, aku akan menyuruh Rudith dan Bima untuk mengawasi.”

...............

Diana mematung di depan etalase sebuah butik. Berkali-kali dia menghela napas dengan berat hanya untuk mendapat penolakan kesekian kali. Awalnya dia bersemangat untuk kembali mencari pekerjaan, tapi semangatnya seolah pudar karena semua tak sesuai harapan.

Gadis itu kembali membawa langkah nyaris terseok, meninggalkan pusat perbelanjaan menuju taman tempatnya biasa menyendiri. Dia membawa kakinya dengan malas, sedikit diseret menuju bus yang akan mengantarkannya hingga ke taman. Dalam perjalanan ke sana, dia termenung. Membiarkan kepalanya menempel pada dinding kaca bus sambil melihat pergerakan lalu lintas di sepanjang jalan.

Berkali-kali Diana berpikir mencari solusi dan tindakan selanjutnya, tetapi sebanyak itu pula dia membentur kebuntuan. Jawaban yang dia dapat hanyalah satu, menyerah atas keadaan yang enggan berpihak padanya. Seakan dia tidak memiliki harapan untuk melanjutkan hidup sesuai keinginan.

.................

Kaki Diana menapak jalanan beraspal setelah sampai di halte. Tubuhnya masih mematung, menatap kepulan asap dari bus yang dia tumpangi tadi. Melihat asap yang bergulung di udara mengingatkan Diana dengan kecamuk hatinya seperti asap pekat hitam itu. Diana mengedarkan pandangan, meneliti pengunjung di sekitaran taman hanya untuk memastikan dia tidak sedang diikuti. Tubuhnya merosot kaku di atas sebuah bangku kayu panjang, di bawah naungan pohon linden. Kakinya bergerak membentur kerikil, dan jelas dia sedang berpikir.

Kepala Diana bergerak pelan ke kanan, saat itulah dia melihat tiga pria berbadan besar dengan wajah sangar tampak mendekat. Diana panik. Dia tidak mampu menelan saliva yang kini terasa pahit di ujung kerongkongan, tubuhnya kaku seketika. Dia mencoba menatap mereka meski dengan perasaan ngeri dan ingin lari. Tetapi ternyata otaknya lebih dulu merespon untuk menyuruhnya lari sebelum jarak mereka menipis.

Diana terus berlari, dia tidak tahu lagi ke mana langkah kaki membawanya. Yang ada dalam benak hanyalah pergi sejauh mungkin, lepas dari kejaran pria-pria itu. Tubuh Diana berdiri dengan rasa ngeri di tepi jalan yang padat, dia hendak menyeberang, tetapi mobil-mobil di depannya merayap dengan laju cepat. Dia tidak sebodoh itu menembus jalanan yang dilewati mobil tanpa lampu merah, namun harus ada keputusan jika dia ingin selamat dari kejaran pria yang sudah dekat dengan tempatnya saat ini.

“Ayah, bantu aku,” bisiknya dengan suara bergetar takut.

Diana tidak lagi dapat berpikir. Dia terlalu panik jika hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun, tanpa pikir panjang, dia bertekad menerobos jalanan yang padat oleh lalu-lalang mobil pada jalan di hadapannya, namun langkahnya terhenti ketika sebuah tangan menghentikannya dan menyeretnya ke dalam mobil sedan hitam. Jerit tertahan lolos dari bibir mungil Diana, rasa takut menyergapnya. Dia tidak bisa melihat siapa yang telah menangkap serta memaksanya memasuki mobil itu.

Saat kesadarannya bertumpu barulah Diana bisa melihat dua pria berkaus hitam mengapit dirinya. Di bangku belakang. Dahinya berkerut bingung melihat orang asing di kanan-kirinya. Dia tidak mengenal mereka, dan jelas sekali bahwa orang-orang ini bukan rentenir yang mengejar tadi. Tidak mungkin rentenir-rentenir itu berubah menjadi kumpulan pria-pria berwajah tampan, meski sama menakutkan karena tiada senyum di wajah-wajah itu.

“Si-siapa kalian?” tanyanya masih dengan rasa takut yang menjalari sekujur tubuh, hingga membuatnya bergetar dan panik.

Salah satu dari pria itu tersenyum, hanya senyum kaku tanpa keramahan. Menambah kebingungan Diana. Mereka tidak kunjung menjawab, seolah Diana berbicara pada diri sendiri.

“Aku tanya, siapa kalian sebenarnya?!” bentak Diana tidak sabar, meskipun ketakutan itu masih menggelayuti, namun dia tidak bisa diam saja saat dirinya dibawa ke suatu tempat tanpa mengenal orang-orang yang membawanya.

Ke suatu tempat?

Diana membatin gusar. Dia tidak mau bersama pria-pria asing ini, tubuhnya berontak meminta diturunkan dari mobil.

“Lepaskan aku!”

Namun, pria-pria itu menahannya. Mereka tidak membiarkan Diana mengambil alih keadaan. Rasa pasrah serta putus asa menjalari hati Diana yang kini mendidih perih. Lepas dari rentenir-rentenir tadi, kini dia dihadapkan pada situasi yang tidak bisa dia cerna. Siapa mereka, dan apa tujuannya sama sekali tidak dia ketahui yang tanpa sadar membuatnya menggeram marah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status