BAB 6

Diana menatap Jake takut-takut. Dia berdiri di sudut dinding untuk mencari perlindungan meskipun gayanya saat ini sangat lucu hingga menggelitik Jake dan membuatnya tertawa mendapati tingkah menggemaskan Diana. Wajah Diana memelas meminta pengampunan dan mata bulat hitamnya berbinar menahan tangis.

“Aku tidak akan menyakitimu, Diana,” kata Jake.

Mendengar namanya disebut membuat alis Diana bertaut. Sejak meninggalkan taman dia tidak pernah menyebutkan identitas pada pria yang membawanya, sehingga terasa ganjil bila pria di hadapannya mengetahui namanya tanpa ia memperkenalkan diri lebih dulu. Pastilah mereka telah merencanakan sesuatu sehingga dia sampai ke tempat asing dan dikurung dalam kamar ini.

“Siapa kalian!” bentaknya meski diselimuti ketakutan, namun Diana mencoba terlihat kuat di hadapan Jake.

Jake menatap tangan gemetar Diana. Melihat arah pandangan Jake, Diana pun menyembunyikan kedua pergelangan tangannya ke belakang tubuh. Dagunya terangkat ke atas mencoba menantang Jake yang masih berdiam di tempat tanpa melakukan sesuatu, seolah pria itu menilai dirinya.

“Jangan menatapku seperti itu! Aku bukan lukisan yang harus kau pandangi!” lagi-lagi Diana meninggikan suara. Sejak tadi hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membela diri, meskipun terasa konyol untuk perempuan seperti dirinya yang lebih memilih menangis ketimbang teriak atau membentak, tetapi sikap diam Jake semakin membuatnya berani. Entah mengapa dia merasa aman dan hatinya berbisik bahwa Jake bukanlah orang jahat.

“Baiklah, aku akan meninggalkanmu sebelum kita membahas sesuatu,” kata Jake sembari berbalik, namun entah dorongan dari mana yang membuat Diana berlari mengejar Jake dan menahannya.

“Tidak, jangan biarkan aku terkurung di sini. Kumohon lepaskan aku, aku akan melunasi hutang-hutang ayahku dan berjanji tidak akan sembunyi lagi!” katanya dengan suara parau dan wajah mengiba.

Jake terkejut mendapati wajah Diana yang memerah menahan tangis. Dia bingung harus melakukan apa di hadapan wanita yang tidak lama lagi akan menjadi milik sahabatnya. Mengingat bejatnya pemikiran Mike, Jake mengumpat di dalam kepalanya. Dia harus memberi peringatan pada Mike karena telah memilih target yang lemah.

“Kalau begitu aku akan membicarakannya denganmu sekarang, tunggulah sebentar, aku akan kembali,” kata Jake yang langsung keluar dari kamar. Ada keraguan di mata Diana ketika melihat tubuh Jake yang menghilang di balik pintu. Dia tidak bisa mempercayai siapa pun saat ini. Kakinya bergerak gelisah sehingga yang bisa dia lakukan hanyalah berjalan mondar-mandir tanpa tentu arah.

Lima belas menit kemudian terdengar suara pintu dibuka. Diana berbalik dan mendapati Jake yang masuk dengan amplop kuning di tangan. Dia menatap Diana sebentar sebelum mempersilahkan Diana untuk duduk di bangku yang ada tepat di hadapan kasur.

Mereka duduk berhadapan. Jake masih terlihat tenang ketika menaruh amplop kuning itu ke atas meja dan menge-luarkan isinya, sementara Diana menanti dengan raut penasaran dan ingin tahu yang tidak bisa ia tutupi. Badannya condong ke depan melihat apa yang tertulis di atas lembaran kertas. Jake hanya tersenyum sopan dan gestur bersahabatnya tadi kini berganti menjadi lebih serius. Dia berdiri tegak dengan pandangan mengawasi sebelum akhirnya buka suara.

“Ini adalah surat kontrak yang telah  ditandatangani oleh ayahmu,” kata Jake menyerahkan surat itu tepat ke arah Diana.

Kepala Diana menunduk melihat kertas yang penuh akan poin-poin, membuatnya mengerutkan dahi hingga akhirnya dia mengerti apa yang tertulis di atas kertas tersebut. Diana terkesiap dan tanpa sadar membekap mulut dengan kedua tangan yang bebas. Matanya bergerak gelisah bercampur tidak percaya saat pandangannya bergantian beralih ke atas kertas kemudian ke wajah Jake. Begitu seterusnya hingga tanpa sadar air matanya jatuh dan membasahi kertas yang ada di bawah wajahnya.

“Berhubung pria yang akan kau nikahi telah meninggal sembilan bulan yang lalu, maka ahli warisnya yang mengambil alih. Dan tugasku adalah menunjukkan ini padamu,” kata Jake memberi sedikit informasi.

Diana berdiri dari kursi dan menatap Jake tajam. Jelas sekali dia sedang menahan amarahnya.

“Aku bukan barang, dan aku tidak akan menikahi siapa pun. Aku tidak peduli dengan kontrak ini, aku tidak peduli dan tidak akan mengakuinya. Ini persetujuan sepihak antara ayahku dan siapa itu ... David. Aku bahkan tidak tahu menahu soal kontrak yang mereka buat!” Diana menarik napasnya yang memburu. Dengan susah payah dia menahan diri untuk tidak menangis, entah mengapa dia merasa hidupnya begitu sial.

Jake dapat melihat rasa putus asa di mata Diana. Ia menjadi iba dan sedikit melunak di hadapan gadis itu. “Tetapi di sini tertera jika kau tidak menerima isi perjanjian maka kau harus membayar dua kali lipat dari apa yang telah diberikan kepada ayahmu,” katanya melanjutkan.

Diana terkesiap dengan pandangan ngeri, tadi dia sempat melihat angka dua milyar yang tertera di sana. Tidak mungkin dia membayar denda dua kalinya.

“Ayahku tidak pernah pulang dengan membawa uang sebanyak itu!” katanya dengan rasa marah.

“Aku tidak tahu menahu soal itu, tetapi kontrak ini sudah bermatrai dan memiliki kekuatan hukum. Tidak ada pilihan selain mengikuti perjanjian atau membayar denda jika kau menolak,” kata Jake yang terdengar bagaikan putusan mati di telinga Diana.

Akhirnya, pertahanan Diana runtuh juga. Tubuhnya merosot ke lantai dan kini dia terisak. Rasa sesak membuat napasnya terdengar berat dan air mata seolah ikut membuatnya tersiksa, melihat itu Jake merasa bersalah. Dia ingin mendekati Diana, namun gadis itu lebih dulu menepisnya.

“Aku tidak mau kau menyentuhku, dan jangan menatapku seperti itu!” bentaknya. Diana segera berdiri dan menatap Jake dengan tatapan benci yang kentara. “Aku mau pulang, biarkan aku pergi dari sini!” kata Diana dengan frustrasi.

Jake menatap Diana sebentar, dia sedang berpikir untuk mengambil keputusan.

“Kami akan mengantarmu kembali ke rumahmu dengan pengawalan yang aman, dan akan ada yang mengawasimu sebelum jatuh tempo kontrak. Kau bebas melakukan apa pun sebelum tenggat waktunya, dan ...,” Jake memberi jeda, “jangan coba-coba untuk kabur, karena kami bisa menemukanmu dengan mudah,” lanjutnya dengan sedikit penekanan agar Diana paham dengan posisinya.

Gadis itu langsung berbalik badan, dia sudah tidak sanggup berlama-lama di rumah asing ini. Jake menghubungi dua pria yang membawa Diana tadi untuk mengantar gadis itu pulang. Dalam perjalanan, Diana terlihat tidak bersemangat, baru kali ini dia merasa ingin benar-benar menghilang dari muka bumi. Semua masalah yang mengitarinya membuat dia merasa dunia membencinya. Kali ini Diana memilih untuk menginap di kontrakan Nia. Dia tidak peduli apabila rentenir itu mendatangi-nya, ataupun menyeretnya. Baginya sama saja. Toh sebentar lagi dia juga akan menikah dan tinggal bersama orang asing.

...............

“Diana?” Nia menatap sahabatnya dengan raut tidak percaya dan dia memandang aneh pada dua pria yang mengantarkannya hingga ke halaman. Wanita itu membawa Diana masuk dan menuntunnya ke atas sofa.

Awalnya Diana hanya diam saja, tetapi kemudian tangisnya pecah. Dengan rasa sayang dan sabar Nia mengusap lembut punggung Diana yang kini telah memeluknya dengan erat. Gadis itu menceritakan semua, termasuk kontrak yang telah melibatkan ayahnya yang menyeretnya juga.

“Aku tidak mau menikahi siapa pun, aku tidak mengenalnya,” isaknya. Nia mendengarkan Diana mengeluarkan isi hatinya. Wanita itu juga tidak tahu harus berbuat apa.

Sementara itu di kediaman Mike Hill, pria itu tampak santai dengan atasan rajutan putih dan celana denim hitam panjang. Tangannya sibuk memutar cangkir kopi sedangkan kepalanya menunduk ke bawah seolah dia tengah berpikir. Melihat sikap Mike yang hanya diam tanpa bertanya apa-apa mengenai Diana membuat Jake sedikit jengkel.

Dia ingat bagaimana gadis itu terkejut dengan kontrak yang disodorkan padanya serta tangis Diana saat dia mengatakan gadis itu tidak memiliki pilihan. Jake tahu bahwa Diana terlalu baik untuk menjadi target permainan sahabatnya.

“Mike,” panggilnya. Mike mendongak dan melihat sahabatnya dengan pandangan bertanya.

“Kau tidak ingin tahu tentang pertemuan kami tadi?” tanya Jake hati-hati. Mike hanya menggeleng dan menyeduh kopinya, dia mengernyit saat mendapati kopi itu telah dingin. Dengan tidak berselera Mike menghabiskannya dalam sekali sesap hingga kemudian berlalu meninggalkan meja makan serta Jake yang masih berdiam di sana.

Jake sempat merasa aneh melihat reaksi Mike yang tidak biasa. Bahkan, setelah mengantarkan Diana, Jake terkejut ketika melihat Mike duduk sendiri di meja makan dengan ditemani secangkir kopi dan juga McBook. Pria itu tampak termenung dan baru menyadari kehadirannya setelah lima menit Jake duduk di sebelah.

♥♥♥

Mike menghempaskan tubuh di atas kasur dengan posisi telungkup. Dia mengumpulkan selimut dan menutup sebagian tubuh sedang matanya terpejam sesaat lalu membuka kembali, begitu seterusnya hingga dia merasa lelah sendiri. Tadi, dia tidak sengaja mendengar percakapan Jake dan Diana di kamar yang seharusnya akan menjadi kamar Diana nanti. Mike bahkan sudah menyiapkan semua keperluan gadis itu, termasuk pakaian dan kebutuhan wanita lainnya.

Ingatannya melayang pada kejadian tadi, di mana suara isakan tertahan Diana sayup-sayup terdengar hingga ke kamar. Mike mencoba menutupi kepala dengan bantal dan berusaha mengusir suara-suara itu, tetapi dia semakin tersiksa hingga akhirnya Mike memilih untuk turun dari ranjang. Dia hendak berenang. Olahraga sore sepertinya cukup untuk membuatnya waras kembali.

Baru saja Mike menuruni tangga, dia mendapati Jake tengah menelepon seseorang, dan Mike memilih untuk mendengarkan percakapan tersebut sembari menyandar pada kusen pintu.

“... terus awasi dia, dan jangan sampai gadis itu kabur,” kata Jake, jeda cukup lama sebelum melanjutkan. “Ya, termasuk pria-pria yang mengejarnya.”

Jake berbalik sedikit karena merasa diperhatikan. Dia menatap Mike hingga akhirnya mengangguk kecil sebelum menutup sambungan.

“Mike, kau ingin menanyakan perihal Diana?” tebak Jake saat melihat sahabatnya kembali lagi.

“Tidak,” jawab Mike. “Aku ingin berenang.”

Jake menatap Mike dengan raut bertanya. Ada rasa tidak suka di hatinya saat menyadari Mike tampak tidak begitu peduli mengenai Diana.

“Mike, sebaiknya kau lupakan saja kontrak itu dan...”

“Itu urusanku Jake, tugasmu hanya mengawasinya dan aku tidak akan mengubah apa pun. Sekarang menyingkir dari hadapanku, kau menghalangi jalan,” ucapnya tanpa bantahan. Jake cukup tahu untuk tidak melewati batas yang telah Mike buat. Saat ini mereka sedang bekerja secara profesional, dan memang sudah tugasnya karena saat ini perannya bukan sebagai sahabat tetapi partner kerja.

Mike melewati Jake, dia hendak ke halaman samping di mana kolam renang pribadinya berada, namun langkahnya terhenti saat Jake mengatakan sesuatu.

“Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu? Aku tidak ingin kau menyesali ini Mike, dan ... Diana tidak seperti yang kau pikirkan. Jangan menjadi buta hanya karena dia terlibat dengan David. Aku memperingatkanmu sebagai sahabat,” katanya sebelum berbalik meninggalkan Mike yang masih mematung di tempatnya tadi.

Mike menghela napas dan dia mendongak, menatap langit-langit rumahnya hingga akhirnya kembali melanjutkan langkah dan menulikan telinga dari suara-suara yang semakin mendesak di kepala.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status