BAB 7

Dua hari telah berlalu sejak Diana meninggalkan rumah Mike. Dia masih tidak terima dengan apa yang menimpanya. Dengan berat hati Diana meninggalkan kontrakan dan pindah ke kontrakan Nia karena Diana tidak bisa tinggal sendiri sejak hari itu. Malam-malamnya hanya dipenuhi mimpi di mana selembar kertas mengejar dan meminta Diana untuk mematuhi beberapa baris huruf dan angka yang berputar-putar di kepala hingga dia merasa sesak.

Keadaan Diana saat ini tidak lebih baik sejak ia pindah, kantung matanya jelas menggelayut membentuk lingkaran hitam akibat tidak pernah tidur semalaman. Pikirannya juga dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada, bahkan dia tidak peduli menjadi pengangguran dan mengurungkan niat untuk mencari pekerjaan.

Nia dengan senang hati menampung, namun Diana sadar dia tidak bisa seperti ini selamanya. Hutang-hutang pada rentenir itu juga mengejar dan mereka siap kapan saja untuk menangkap dirinya. Memikirkan organ tubuhnya menjadi pengganti atas hutang-hutang ayahnya sudah cukup membuat Diana bergidik ngeri.

“Aku akan pergi,” kata Diana pada Nia yang duduk santai di sebelah sambil menikmati acara TV kesukaan mereka, namun entah mengapa saat ini tidak ada apa pun yang menarik bagi Diana. Semua terasa hambar, bahkan cokelat panas dalam mugnya juga sama hambar. Nia menoleh cepat pada sahabatnya, dia memandang Diana dengan tatapan tidak setuju.

“Aku tidak mungkin terus memberatkanmu, Nia,” ujarnya. Diana terdiam sejenak sebelum mengatakan, “Ada begitu banyak masalah yang menyertaiku secara bersamaan, dan aku tidak mau menyeretmu. Sudah cukup kau membantuku selama ini, aku tidak bisa menerimanya lagi, aku sudah tidak memiliki apa-apa untuk membalas semua kebaikanmu padaku.”

Diana menunduk, menatap mug berisi cokelat hangat, dan sekilas jari-jemarinya mengusap mata yang mulai basah. Nia meletakkan kotak cemilan yang ia pegang, lalu mendekati Diana sembari memeluk gadis itu dengan perasaan tulus.

“Aku tidak meminta apa pun padamu. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku adalah saudaramu sekarang? Jangan menganggapku sebagai orang lain Diana, itu hanya semakin membuatku sedih, dan ... aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri di luar sana bukan?” ucapnya. Mereka sama-sama terisak dalam keadaan saling berpelukan, menyalurkan perasaan masing-masing.

Diana menggeleng di sela tangisnya. “Aku tidak bisa, dan sudah kuputuskan untuk pergi dari sini. Setidaknya Ayah tidak pernah menjual rumah warisan kakek di Desa Pandan, dan sudah kuputuskan akan pergi ke sana besok. Maaf kan aku jika ini terlalu tiba-tiba, tetapi aku sudah tidak bisa lagi terus seperti ini,” katanya dengan suara serak. Nia semakin mengeratkan pelukan. Gadis itu tahu seberapa jauh tempat yang Diana sebutkan tadi, dan bila memang dugaannya benar, mereka mungkin tidak akan bertemu lagi.

“Aku tidak bisa melepasmu Diana, kau akan sendirian, dan siapa yang akan mengurusmu nanti?” Nia melepas pelukannya dan melihat Diana dengan pandangan serius.

Diana tertawa hambar. “Aku bisa menjaga diriku, kau tidak perlu takut. Lagi pula aku gadis dewasa yang akan berusia dua puluh satu tahun.”

Nia terlihat tidak bisa terima dengan keputusan sahabatnya, tetapi dia juga tidak mungkin menahan Diana di saat seperti ini. Mereka sama-sama tahu betapa pelik masalah yang Diana alami.

“Apa kau akan terus menghubungiku?” tanya Nia sembari berharap.

Diana menggeleng lemah. “Maaf  kan aku, sebaiknya kita jangan berhubungan dulu, aku takut rentenir-rentenir itu datang dan memaksamu untuk buka mulut,” jawab Diana dengan rasa bersalah.

“Oh ayaolah, aku tidak mungkin mengatakan pada mereka!” ucap Nia dengan nada bercanda, karena dia sangat mengerti maksud sahabatnya. “Dan ... jika itu keputusanmu, jangan pernah lupakan aku, kita akan terus berteman dan kau bisa mengetuk pintu rumahku jika kau tersesat.”

“Jangan mengatakan sesuatu yang akan membuatku semakin berat untuk meninggalkanmu!” Mata Diana sembab hendak menangis, tetapi Nia malah menertawainya.

“Kau cengeng sekali, siapa yang mau menikahimu jika kau secengeng ini,” ledek Nia sembari menepuk punggung tangan Diana.

“Tentu saja akan ada yang menikahiku, lagi pula aku tidak jelek kalau menangis, dan kau tidak lupa bukan dengan julukanku.”

Nia menggeleng dramatis. Tentu saja dia ingat siapa Diana ketika mereka sama-sama duduk di bangku SMA. Gadis itu selalu menjadi tren center di seluruh sekolah hingga dijuluki sebagi Queen Bee. Banyak gadis seusia mereka yang berusaha agar bisa menjadi temannya, dan untuk urusan laki-laki, Diana dikenal sebagai princess of  broken heart. Dia ahlinya untuk membuat hampir setengah siswa di sekolah mereka menangis karena penolakan gadis itu.

“Ya, dan sebaiknya aku pergi bersiap ke salon, sudah pukul setengah sepuluh dan aku tidak mau terlambat kali ini. Wanita itu nanti mengomeliku jika aku tidak juga ada di sana setengah jam lagi,” kata Nia sembari beranjak dari sofa.

Diana mengangguk dan mengambil alih remot TV, lalu mengganti chanel sesukanya sembari menunggu Nia bersiap-siap sebelum berangkat kerja. Tangan Diana berhenti mengutak-atik remot ketika ponselnya berdering dan layarnya berkedip. Di sana tertera nama Ari yang membuat perasaan Diana semakin berat. Jika dia pergi dari tempat ini, itu artinya dia juga akan pergi meninggalkan pria itu. Pria yang telah menemaninya sejak tiga tahun yang lalu, walaupun mereka sebatas teman tapi hanya pria itu yang benar-benar peduli padanya. Lama Diana melamun sembari menatap layar ponselnya yang mati.

Nia keluar dengan blus biru laut dan rok span selutut lima belas menit kemudian. Dia berdecak melihat Diana yang tampak termenung di atas sofa.

“Ada apa Diana? Kau sedang memikirkan sesuatu?”

Diana mendongak lalu menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya sedang berpikir apakah menyetujui ajakan seseorang. Ari memintaku untuk bertemu,” jawabnya. Nia tersenyum dan menggangguk.

“Pergilah, manfaatkan waktumu sebelum kau benar-benar meninggalkan tempat ini.”

Diana menghela napas dan menggangguk sebelum akhirnya beranjak dari tempatnya untuk bergegas ke kamar. Dia akan bersiap dan segera menemui pria itu di tempat biasa mereka bertemu.

...................

Mike duduk di bangku kekuasaannya, dia tampak sibuk memerhatikan sebuah rancangan kasar untuk bangunan Hotel MikeHill yang bekerja sama dengan perusahaan MJ Group. Berkali-kali dia menautkan alis karena tidak puas dengan desain dasar yang tidak sesuai dengan seleranya.

“Jake, apa kau sudah menghubungi Maldeva mengenai rencana pembangunan hotel ini?”

Jake yang tengah duduk sembari menyelesaikan pekerjaan di sofa akhirnya mendongak.

“Ya, dan beliau memintamu untuk segera mengatur pertemuan dengan perwakilan  MJ Group untuk membahas pembangunan kelanjutannya. Mereka sedang menyelesaikan pembebasan lahan dan pemerikasaan AMDAL.”

Mike menatap Jake dengan tatapan tajam. “Segera atur pertemuan dengan mereka karena aku tidak menyukai desain hotel ini, kau tidak lihat bahwa desainnya terlalu sederhana.”

Jake menggeleng lemah dan dia tahu bahwa Mike terlalu banyak menuntut.

“Sudah tiga kali kau mengganti desainnya Mike, apa kita harus mencari perancang baru lagi?”

Mike menggangguk mengiyakan. “Ya, aku tidak akan pernah puas jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginanku. Aku sudah menginvestasikan banyak uang hanya untuk hotel ini saja, dan aku tidak ingin rugi. Hotel ini harus menjadi salah satu Best Asian Hotel dan satu-satunya di Indonesia. ”

Jake menghela napas dengan suara lemah. “Baiklah, akan kulakukan apa pun yang kau minta,” katanya dengan suara yang mengisyaratkan ketidaksukaannya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status