Ganteng Sombong

Kamea memerlihatkan senyum termanisnya kepada Alif. Ingin meninggalkan kesan baik pada lelaki beralis tebal itu. Namun bukan membalas, Alif malah memalingkan wajahnya ke arah lain.

'Ganteng-ganteng tapi sombong,' gerutu Kamea dalam hati. Kesal karena Alif bersikap tak acuh kepadanya. 'Tapi aku tetep suka, kok,' sambungnya lagi sambil mengulum senyumnya.

Bibir mungilnya sedikit memanyun beberapa detik setelah tersadar dari lamunanya. Pendar iris hitamnya tajam menatap Alif yang masih bersikap tak acuh berpura-pura tidak melihatnya.

“Alif, ini Kamea yang mama ceritain kemarin. Dan Kamea … ini Alif, yang sering mama ceritain ke kamu.” Mama Anita memperkenalkan Alif dengan Kamea.

Wanita paruh baya itu tak henti mengembangkan senyum di bibirnya. Merasa bahagia karena sebentar lagi ia akan memiliki seorang menantu. Mama Anita dan suaminya sudah sangat cocok dengan Kamea.

Sejak lama mereka sudah memerhatikan sikap Kamea saat mereka berkunjung ke rumah gadis itu. Sikapnya yang manja dan ceria, juga kepolosan Kamea dirasa cocok dengan sikap dingin Alif. Mereka yakin, Kamea bisa meluluhkan hati Alif yang membeku seperti gunung es dan membuat putranya itu bahagia.

“Hallo … mmp-“ Kamea menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Dia melirik mamanya kemudian beralih menatap Alif. “Aku manggilnya apa, ya? Om, kakak, Mas, atau … apa?” tanyanya polos. Sengaja, ingin menggoda Alif yang sedari tadi terlihat tidak senang dengan kehadirannya.

Alif mengerlingkan matanya kesal. Sementara mama Anita dan papa Pradana terkekeh geli mendengar pertanyaan Kamea. Gadis itu menyeringai tanpa dosa memerlihatkan deretan gigi putihnya.

“Panggil om juga gakpapa. Terserah kamu enaknya manggil Alif apa,” tutur papa Pradana sambil terkekeh.

Kamea mengangguk. “Hallo, Om Alif. Aku Kamea Jovita Tasanee, senang bisa kenalan dan ketemu om yang ganteng ini,” ujar Kamea polos.

Hal itu mengundang gelak tawa dari sepasang suami istri mengejek putranya yang terlihat kesal karena ulah Kamea. Alif membulatkan matanya menatap sengit pada Kamea. Mulutnya berdecih sebal. Arrrgh ... Alif benar-benar merasa risih dengan Kamea.

Gadis belia itu kembali mengulum senyumnya. Ia tahu, Alif tidak suka dengan gelar yang baru saja ia sematkan di depan namanya "Om Alif". Ekspresi kekesalan yang terlihat jelas diwajah lelaki beralis tebal itu terkesan lucu dan menggemaskan di mata Kamea.

Entahlah ... belia itu memang aneh. Disaat gadis lain lebih menyukai lelaki yang ramah dan romantis, hatinya justru melah terpatri kuat pada sosok Alif yang dingin dan datar.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status