Share

007 - Petir Putih

Bila saja Jai percaya lebih awal kalau para pengguna elemen yang disebut dengan Elemer itu benar-benar ada. Tentunya Jai akan menanyakan sedetail mungkin pada Miria agar keadaan tidak seburuk saat ini. Ya, Jai terlihat seperti orang bodoh saat melihat apa yang dilakukan oleh lawannya tepat di hadapannya sendiri.

Baik Usha maupun Jai refleks terkejut saat melihat salah satu pria bertubuh besar menghentakkan kakinya di tanah hingga segumpal tanah seukuran kelapa tiba-tiba melayang tepat di sampingnya. Bagi Jai, apa yang dia lihat saat ini bagaikan sebuah omong kosong yang membuatnya terlihat menyedihkan. Namun, untung saja Usha mengalihkan perhatian semua orang dari Jai. Reaksi anak kucing yang sedang tersentak diikuti raungan dan desisan terlihat sangat menggemaskan bagi semua orang yang memandangnya.

‘Bagaimana bisa dia melakukannya? Apakah dia seorang wibu yang begitu fanatik dengan animasi sihir seperti Korra?’ Batin Jai bertanya-tanya. Apakah ini yang dimaksud Miria dengan sebutan Ele... ah, apalah itu namanya?

Wajah pria itu terlihat mengejek Jai dengan sinisnya sambil mencibir, “Rubimu. Berikan rubimu sekarang. Anak bodoh!”

Yah, apa pun yang pria itu lakukan, Jai akan segera mengetahuinya nanti. Paling tidak Jai pun masih ingat kalau batu rubi itu termasuk ke dalam perhiasan yang harganya cukup mahal. Jai tidak bisa membiarkannya begitu saja, dia harus menghentikan para pereman pasar ini.

“Kenapa? Lagipula kalian yang membuat temanku terluka. Seharusnya kalian yang membayar kami,” jawab Jai dengan suara yang sangat mantap.

Alis pria itu terangkat. Dia kemudian menatap Jai dengan tatapan konyol.

"Dia mempermainkanmu, kakak," ujar pria botak di sebelah kirinya.

"Beri dia pelajaran, kak!" Tambah pria lain yang ada di sebelah kanan.

Pereman yang disebut kakak itu pun tertawa dan mengangguk. Ia mencuri pandang ke sekelilingnya kemudian menyunggingkan senyum sarkastik. Baginya saat ini adalah kesempatan yang bagus untuk memamerkan kemampuannya. Dengan begitu semua orang akan takut dan memberikan lebih banyak uang pada mereka.

Pria itu kembali mencibir Jai, "Jangan salahkan aku jika kau tidak bisa lagi berjalan.” Kemudian dia menggerakkan lehernya seolah sedang pemanasan.

Jai masih bertanya-tanya dengan segala hal yang terjadi pada dirinya. Kejadian kemarin malam saja masih tidak bisa dia mengerti, dan sekarang tukang palak yang terlihat seperti pecinta Avatar ini membuat beban pikiran Jai bertambah. Semua yang terjadi padanya sangat konyol. Terlebih situasinya saat ini.

Bongkahan batu yang melayang itu pun melesat terbang ke arah Jai bagaikan jurus pengendali bumi dari film Avatar. Jai mengelak tepat waktu ke kanan meski batu itu nyaris menyentuh telinga kirinya. Dia salah memperkirakan jarak dan kekuatan batu terbang itu, hampir saja Jai tidak bisa menghindarinya. Suara sorak teriakan pun terdengar dibelakangnya, membuat Jai sadar kalau saat ini dirinya tidak sendirian di tempat ini.

Jai mengedarkan pandangannya dan melihat orang-orang yang ada disekitarnya berada di dalam jarak yang aman. Dia pun berbalik untuk memeriksa apakah batu itu mengenai seseorang dibelakangnya dan untungnya tidak.

“Kau lihat ke mana, sialan?!” Pria besar itu berteriak sembari mengirimkan batu lain ke arah Jai.

Jai pun menoleh pada teriakan pria itu, dia bahkan bisa mendengar suara Usha mengeong histeris sebelum sebuah batu menghantam kepala Jai. Untung saja batu itu mengenai bagian kanan kepalanya. Kalau batu itu mengenai bagian belakang kepala, Jai tentunya akan berakhir koma di rumah sakit. Tapi tetap saja rasanya sangat sakit bukan main.

“Jai!” teriak Miria sangat khawatir.

Dua orang yang ada di belakang pria besar itu tertawa, sementara pria yang dipanggil kakak itu menyeringai puas.

“Makan itu, dasar brengsek. Mau lagi?” Pria itu bertanya dengan sinis. Dia mengeluarkan satu lagi sebongkah tanah keras seukuran kelapa. Batu itu dia lemparkan ke atas dan ke bawah dengan tangannya seperti bola.

Jai masih sadar ketika Usha memutuskan untuk bertindak secara individu. Anak kucing kecil itu mengaum dengan menggemaskan dan menerjang ke arah penjahat itu. Menaiki tubuh pria itu menggunakan cakar bayinya yang tajam, Usha menenggelamkan taring bayinya ke dada penjahat itu dan mulai mencoba meregangkan kain itu dengan penuh semangat.

Pria itu menatap Usha dan tersenyum geli. "Yah, kitty, kamu harus sedikit lebih keras dari itu untuk menyakitiku." Kemudian laki-laki itu tertawa girang. Dia kemudian mengangkat tangannya ke Usha.

Sekarang, meski sebenarnya penulis ingin mengatakan sebaliknya, tapi bajingan itu dengan teganya melemparkan anak kucing kecil ke samping.

“Usha?! Tidak!" Miria dan penulis sama-sama shock di tempat kejadian.

Untungnya, makhluk kecil yang marah itu mendarat dengan anggun di tanah. Miria menghela napas pelan, tetapi kembali khawatir ketika dia melihat sang anak kucing kecil memanjat pereman dan melanjutkan 'pertempuran' dengan pakaian pria itu.

Kita kembali lagi pada Jai. Sekarang dia mengerti bagaimana pereman itu bertarung, dia bisa memikirkan sebuah rencana. Mengingat pengetahuannya tentang seri Avatar, Jai berpura-pura melawan pengendali element bumi yang sebenarnya. Dia tahu itu gila, tapi dia tidak unggul di sini, apalagi dengan Miria dan Usha kecil di sana.

Jai menatap para pereman yang sekarang cukup sibuk menghibur diri dengan tingkah Usha yang menggemaskan. Jai memperbaiki posisi kuda-kudanya dan bersiap sekali lagi.

"Hei! Bertarunglah dengan seseorang yang sesuai ukuranmu sendiri!” teriak Jai.

Mendengarnya, seketika saja para pereman itu mengalihkan perhatiannya ke Jai lagi dan mengejek, "orang bodoh sepertimu membutuhkan lebih banyak pelajaran rupanya."

Pereman itu meremas leher Usha dan melemparkannya dengan kuat tanpa peduli semua orang yang melihatnya di kerumunan. Dia kemudian melemparkan batu di tangannya pada Jai.

Kali ini, Jai mengelak dengan mudah. Meski begitu keduanya tahu kalau ini adalah lemparan yang mudah.

“Heh. Bagaimana dengan ini?" Pria itu bertanya dengan nada mengejek sebelum membuat lebih banyak batu di udara. Dia melemparkan semuanya pada Jai dalam sekali waktu.

Jai mengelak lagi, dan kali ini dia bergerak maju. Pereman ini adalah petarung jarak jauh, jadi Jai harus mendekat demi meningkatkan peluang menyerang. Tetap di tempat tidak akan membawanya kemana-mana.

Lebih banyak batu dilemparkan ke Jai dan dia menghindari sebagian besar darinya, sisanya Jai arahkan ke tanah dengan pukulan dan tendangan untuk menghindari korban manusia.

Pria itu sangat yakin Jai tidak akan bisa menghindari banyak batu yang dia lempar, jadi dia hanya melempar batu demi batu sampai dia merasa staminanya terkuras. Pada saat dia berhenti melempar, Jai sudah berjarak dua kaki darinya. Pria itu tidak sempat menghindar karena Jai langsung meninju perutnya. Pria itu jatuh ke belakang. Namun, dia tidak jatuh ke tanah karena antek-anteknya menangkapnya tepat waktu.

"Kau berani memukul bos, brengsek ?!" Pria botak mengutuk Jai.

"Dasar keparat!!" teriak yang lain.

Pria yang disebut bos itu mendengus kemudian bangkit. "Kamu akan membayar untuk itu." Suaranya terdengar lebih dalam dan lebih marah.

Bos memberi sinyal dan dua lainnya mengambil sikap. Yang botak meninju tangan kanannya ke atas sementara yang lain menginjak tanah demi memunculkan batu yang lebih besar.

Jai merasakan sesuatu menahan kakinya, seketika saja Jai melihat ke bawah. Tanah yang membatu 'menahan' kedua kakinya, menjebaknya di tempat. Jai mencoba menggerakkan kakinya, tetapi gagal, dia bahkan tidak bisa menggoyangkannya. Jai mengutuk diam-diam hingga sebuah teriakan membuatnya mendongak. Jai langsung membiarkan gravitasi mengambil alihnya ke belakang untuk menghindari batu yang dilemparkan ke arahnya. Jeritan terdengar dari kerumunan, tetapi dia tidak punya waktu untuk memeriksanya karena dia merasa tangannya terjepit. Tanpa perlu memeriksanya, Jai tahu kalau tangannya jatuh ke dalam trik yang sama dengan kakinya. Jai menggertakkan giginya kesal.

Bos menertawakannya, “Rupanya kau tidak terlalu kuat, ya?”

Setelah itu dia menoleh pada Miria dan mengulurkan tangannya. “Rubi! Atau aku akan membunuh pacarmu ini!"

Miria memucat dan melihat ke arah Jai dan pereman itu. Dia berada dalam posisi yang sangat sulit, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.

Jai merasakan amarah berkecamuk di dalam dirinya saat pereman itu mengancam Miria lagi. Dia juga bisa merasakan batu tanah di tangannya merengat sebelum batu yang menahan kakinya pecah hingga potongannya itu menyebar.

Pereman botak itu tampak terkejut dan mencoba memperingatkan bosnya, "Eh bos ..."

Bos menatapnya kesal sambil mengarahkan jarinya pada Jai. Bos itu kemudian menoleh ke depan lagi, tetapi langsung disambut dengan kilatan petir putih yang menyerang wajahnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status