003 - Obrolan Kecil tentang Kegilaan

Jai dengan santai menarik gerobak yang ada di belakangnya. Dia berjalan dengan penuh semangat, seolah-olah Jai tidak baru saja melawan delapan pria yang mencoba merampok seorang kakek tua. Batin sang kakek yang saat ini sedang duduk di gerobak yang sedang Jai tarik, menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Di pangkuannya ada seekor anak kucing putih yang sedang tertidur tanpa peduli dengan dunia sekitarnya.

Mereka sudah berjalan selama hampir satu jam lamanya dan Jai pun telah berusaha mengobrol dengan sang kakek. Jai dengan hati-hati bertanya siapa dia, bagaimana perasaan sang kakek tua itu saat ini, apa yang ada di gerobak, atau siapa orang-orang yang telah menyerangnya itu. Hal-hal semacam itu.

Kakek tua itu memperkenalkan dirinya sebagai Barun. Dia memiliki seorang cucu perempuan bernama Miria, dan mereka tinggal di sebuah desa bernama Letush. Letush adalah desa kecil yang terletak di barat daya Kerajaan Aeronvein.

Saat Jai mendengar nama-nama itu, Jai merenungkan apakah pikirannya masih dalam keadaan sadar atau tidak. Letush? Apakah maksud kakek itu selada? Seperti sayur selada? 

Dan apa nama kerajaan itu lagi? Ae-apa-vein?

Jai ingat dengan jelas bahwa dia sebelumnya berada di Amerika, dan dalam ingatannya tidak ada sama sekali nama ae-vein atau apalah itu di Amerika. Apa itu nama tempat teater seperti Broadway? Mungkin saja. Tetapi kalau diingat lagi, kakek tua itu menyebutkan bahwa itu adalah sebuah kerajaan. Sekali lagi, mungkin, itu adalah nama tempat rekreasi. Tapi sekali lagi, Jai hanya bisa memukul kepalanya sendiri. Meski tidak sekeras itu, tentunya.

Semua ini mungkin hanya mimpinya. Meski rasanya terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Jai menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Terserahlah.

Jai menerima kenyataan kalau dirinya saat ini bagaikan orang gila, tapi kemudian Jai kembali menaruh perhatiannya pada sang kakek.

“Ini adalah beberapa hasil pertukaran yang kakek lakukan di kerajaan. Menukar hasil panen kami dengan beberapa obat-obatan, buah-buahan, kain, dan beberapa peralatan. Tapi para bandit itu merusak beberapa buahnya. Oh... Anak-anak akan marah.”

Jai tersenyum meminta maaf, “Maaf aku tidak bisa datang tepat waktu. Jika aku bisa, kita pasti bisa menyelamatkan lebih banyak buah.”

“Oh, tolong jangan katakan itu, Nak. Mau bagaimana pun kedatanganmu adalah sebuah keajaiban. Setidaknya mereka tidak mengambil obat atau barang penting lainnya,” ujar sang kakek sambil tersenyum.

Mendengarnya, rona merah muda pun terlukis di pipi Jai.

Mereka terus melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di tanah yang lebih normal. Jai tidak bisa untuk tidak memperhatikannya, dia ingat dengan jelas kalau sebelumnya tanah yang diinjaknya berwarna merah dan kali ini pucat—lebih seperti tanah yang tidak terawat dan tipikal kotoran yang tidak sehat.

Jai mengerutkan keningnya melihat perubahan itu dan dia tidak bisa melakukan apa pun selain menanyakannya pada sang kakek.

“Tempat itu memiliki sejarahnya sendiri,” sang kakek menjawab.

Jai menunggu kelanjutan cerita sang kakek hingga beberapa tarikan napas, tapi sang kakek tidak kunjung melanjutkan. Jai menoleh ke belakang, tapi sang kakek hanya tersenyum padanya. Ya sudahlah kalau begitu.

Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.

Beberapa menit kemudian, Jai mendengar suara ngeongan di punggungnya dan seketika saja Jai teringat anak kucing yang dibawanya. Tanpa memperlambat jalannya, Jai melihat ke belakang, tepat pada anak kucing yang tengah duduk di salah satu kain.

Kucing itu kembali mengeong.

"Ada apa kucing?" tanya Jai.

Anak kucing itu melirik ke arah Jai sebelum kemudian membuang muka lagi.

"Ah, lihat ke depan, nak." Sang kakek memberi tahu Jai.

Jai mengangkat alisnya tetapi kemudian melakukan apa yang diperintahkan dengan menghadapkan kembali kepalanya ke depan. Kemudian, Jai pun menyadari ada sebuah desa yang letaknya tidak jauh di depannya.

"Apakah itu desanya, Kek?" tanya Jai sambil tersenyum.

Kakek tua itu menghela napas lega sebelum menjawab, “Ya, benar. Itu Letush, Nak.”

"Bagus! Ayo pergi!" Jai menarik gerobak lebih cepat, membuat yang dibelakangnya terkesiap dan mengeong kaget.

“Pelan-pelan, Jai!” Sang kakek berseru.

Jai tertawa terbahak-bahak, "Maaf ..."

Saat mereka mendekat, salah satu penduduk desa yang menjaga gerbang kecil itu melambaikan tangannya. Barun melambai balik pada pria itu dan mereka pun berhenti di gerbang.

Ada dua orang di pintu gerbang. Salah satu dari mereka tampak seperti pria dewasa setengah baya dengan janggut di wajahnya. Yang lain tampak seperti seorang remaja yang sedang memainkan jerami di mulutnya.

Pria dewasa itu tersenyum hangat pada Jai. “Halo, anak muda. Apa kakek tua ini memberimu masalah? ”

"Err ..." Jai tidak tahu harus bagaimana bereaksi.

Ketiga laki-laki itu tertawa bersamaan.

"Ya, aku yakin telah memberikan masalah pada pemuda baik ini, Rugard." Barun yang menjawab.

Pria itu, Rugard, tertawa kecil. “Orang tua yang merepotkan, bukan? Terima kasih telah membantunya tadi ya.”

“Ahh…” Jai tersenyum gugup dan menggaruk kepalanya. “Sebuah kesenangan bisa menolong, Pak.”

Rugard tersenyum lebar mendengar perkataan Jai.

“Kakek Barun! Bagaimana hasilnya?” Remaja itu menyapa.

Barun menghela napas. “Yah, masalah datang dan pergi. Setidaknya hal-hal penting tidak tersentuh, tetapi kupikir anak-anak harus berbagi apel. ”

Remaja itu sedikit mengernyit, "Apakah Kakek baik-baik saja?"

Barun menepuk perutnya dengan ringan untuk memeriksa, lalu dia mengangguk. "Iya. Aku baik-baik saja. Sudah tidak sakit lagi.”

“Meski begitu, Kakek harus meminta Miria untuk mengeceknya lagi.” Remaja itu menambahkan dengan ekspresi sedikit khawatir.

Barun mengangguk sambil tersenyum.

Setelah memastikan keadaan temannya cukup baik untuk sampai di rumah, Rugard menoleh lagi kepada Jai. "Apakah kamu akan menginap malam ini, Nak?"

Jai berpikir sejenak. Kepalanya mungkin tidak sakit, tapi segala yang dilihatnya tidaklah masuk akal. Semuanya seolah berubah hanya dalam satu malam, saat itu Jai berada di kota yang sangat ramai dengan gedung pencakar langit, tapi kemudian Jai terbangun di sebuah hutan mati bekas kebakaran tanpa ada satu pun gedung tinggi atau pencakar langit yang dia lihat.

Jika itu bukan pertanda yang cukup baik baginya untuk beristirahat, maka Jai tidak tahu harus berbuat apa lagi. Menginap semalam terdengar bagus dan esoknya Jai bisa memastikan isi kepalanya bisa benar atau tidak.

"Bagaimana?" Rugard mengangkat alisnya. Sebuah senyuman ramah terlukis di wajahnya.

“Lebih baik kamu tinggal, Nak. Kamu bilang kamu tersesat, bukan?” Barun menawarkan.

Jai menoleh padanya dengan gugup. “Uhm... Tapi apa tidak apa-apa? Aku mungkin akan menjadi beban.”

Barun melambaikan tangannya. "Omong kosong. Jika bukan karena kamu, Kakek mungkin tidak akan pulang malam ini.”

"Ahh... aku kebetulan saja ada di sekitar sana..." Jai merespon.

“Harus aku katakan kamu lebih baik tinggal. Lagipula sekarang hampir larut malam.” Remaja itu ikut menimpali.

Jai dengan gugup menggaruk pipinya. Kemudian dia mendengar suara ngeongan. Seketika saja Jai melihat ke tempat anak kucing itu duduk di gerobak—masih di atas kain.

“Hei, ada seekor anak kucing!” seru remaja itu. “Hai, kucing!”

Rugard tertawa terbahak-bahak. “Kami hampir tidak memperhatikanmu. Kamu sangat kecil!"

Kucing kecil berbulu putih itu menjilati telapak kakinya dan mengelus dahinya, mengabaikan bisikan di sekitarnya. Tetapi kemudian ia menatap Jai dengan sebuah ekspresi.

Jai mengangkat salah satu alisnya, bingung. Tapi anak kucing itu terus menatapnya. Ekspresinya hampir menunjukkan sebuah harapan, seolah mendesak Jai untuk melakukan sesuatu.

Jai mengerjap. Dia tidak mengerti mengapa dirinya mendapatkan sinyal itu dari kucing, tetapi Jai hanya bisa mengangkat bahu. Tinggal mungkin tidak terlalu buruk. Jai hanya sedikit gugup.

Jai menatap ketiga orang yang ada di sekitarnya lagi dan mengangguk. "Baik. Aku akan menginap."

Mereka pun menanggapi Jai dengan ramah.

“Ayo cepat ke rumahku, Nak. Miria-ku mungkin sedang bertanya-tanya ke mana kakeknya pergi.”

Rugard mendengus. “Dia sudah cukup tua untuk—“

"Jangan berani-berani melanjutkan itu, Ruru." Barun memotong kalimat Rugard.

Rahang Rugard ternganga mendengar julukan yang diberikan Barun padanya. Sedangkan sang remaja itu malah tergelak tawa.

"Ayo cepat. Perutku sudah keroncongan.” Barun berkata dengan agak percaya diri, jelas mencoba menggoda pria berjanggut itu lebih jauh.

Jai hanya bisa tersenyum gugup dan menurut.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status