004 - Rumah Barun dan Miria

Barun mengarahkan Jai melewati gerbang. Mereka melewati beberapa rumah kecil dan juga beberapa gudang lumbung. Setelah itu mereka sampai di sebuah halaman kecil dengan sumur batu di tengahnya.

Jai melihat seorang gadis sedang duduk di tepi sumur, wajahnya menunduk ke bawah. Jai menyadari kalau gadis itu mengerutkan kening saat mereka berjalan mendekat. Tidak berapa lama, Barun yang ada di belakangnya memanggil, "Miria!"

Gadis itu mendongak dan ekspresinya langsung berubah menjadi sangat gembira.

"Kakek!" seru Miria. Dia pun lekas berlari ke arah Jai dan Barun dengan gembira.

"Apa yang kamu lakukan di sini, cucuku? Kenapa memakai pakaian seperti itu?” tanya Barun, nada khawatir terselip di suaranya.

“A-Aku menunggumu, kakek… aku khawatir…” Miria membela dirinya. Dia tersenyum meminta maaf kepada sang kakek.

Sekarang gadis itu hanya berjarak dua kaki dari Jai, dia bisa melihatnya dengan lebih baik. Gadis itu memiliki rambut berwarna kuning amber panjang dan dia mengenakan semacam gaun malam putih yang mencapai pergelangan kakinya. Bagi Jai, wajar jika Barun kesal. Gadis itu tidak mengenakan sandal atau apa pun di kakinya, dan dia bisa menebak bahwa gaun malam itu mungkin terbuat dari kain tipis.

"Siapa ini, kakek?" tanya Miria. Matanya menatap lekat pada Jai.

Jai balas menatapnya, memperhatikan mata hijau muda Miria yang sepertinya memancarkan kehangatan dan ketertarikan. Tiba-tiba, Jai merasa gugup dan tanpa sadar membuang muka.

"Pemuda yang baik hati ini akan tinggal bersama kita malam ini." Barun menjawab, dia juga memberikan senyum hangat pada Jai.

Miria tersenyum sopan dan memiringkan kepalanya. “Halo, namaku Miria. Senang bertemu denganmu."

Rona samar di pipi Jai semakin menebal walau sedikit. Meski begitu, Jai tetap berusaha untuk menahan rasa senangnya sebelum kemudian menjawab sapaan Miria.

“A-aku Jai. S-Senang bertemu denganmu juga.” Jai diam-diam mengutuk dirinya sendiri karena gagap.

Barun memperhatikan perubahan sikap Jai. Inginnya Barun tersenyum lebih lebar menanggapinya, tapi Barun tetap berusaha untuk menahan diri dan bersikap biasa saja.

“Yah, ayo kita pergi. Hari semakin dingin, dan kakek juga lapar," ujar Barun dengan nada suara yang seolah membanggakan dirinya sendiri tanpa alasan.

Miria tidak menyadari apa pun, dia dengan senang hati membalas perkataan kakeknya, "Ayo!"

Dan mereka pun pergi ke rumah Barun.

Jai tidak sadar kalau dia benar-benar kelaparan ketika Miria sedang menyiapkan makan malam. Ketika aroma makanan dari dapur mencapai tempat Jai di meja makan, hidungnya sedikit berair, dan perutnya mengeluarkan sebuah suara yang cukup memalukan. Suara dari perut Jai terdengar sangat keras dan jelas hingga sampai ke dapur yang hanya berjarak 2 meter dari ruang makan, membuat Miria yang sedang berada di dapur tertawa. Begitu pula dengan Barun yang ada di samping Jai, dia refleks tertawa kecil. Setelah makan malam selesai disajikan, mereka bertiga pun makan dengan tenang.

"Terima kasih untuk makanannya," kata Jai ​​sambil tersenyum.

Meski Jai merasa kalau dirinya bagaikan orang gila, tapi bukan berarti dia harus melupakan sopan santunnya. Meskipun Jai sama sekali tidak tahu apa yang baru saja dia makan, tapi baginya makanan itu terlihat sangat normal dan rasanya tidak buruk. Rasanya bahkan lezat! Apa karena saat ini Jai sedang gila? Entahlah. Ada kalanya menjadi gila sesaat tidaklah buruk. Jai yakin kegilaan ini hanya sampai besok. Dia pasti akan 'waras' besok.

“Seharusnya kakek yang berterima kasih. Kalau bukan karena kamu, kakek pasti sudah mati sekarang,” kata Barun.

Mendengarnya, seketika saja Miria menatap kakeknya dengan tatapan masam, "Kakek ..."

Barun menggelengkan kepalanya. "Itu benar, cucuku. Kakek tidak melebih-lebihkan.”

Miria menghela napas kemudian menoleh pada Jai, ekspresi di wajahnya terlihat campur aduk, antara syukur dan juga prihatin.

“Terima kasih telah membantu kakekku, Jai. Kami berhutang padamu.”

Jai dengan gugup melambaikan tangannya, “Oh tidak apa-apa! Kamu tidak perlu seperti itu. A-aku hanya kebetulan ada di sana, itu saja. Lagipula kakekmu juga sudah menolongku.”

Kali ini ekspresi wajah Miria terlihat saat menggemaskan saat melirik Jai dan kakeknya. “Sungguh kah?” tanya Miria. Tidak percaya kalau kakeknya telah membantu Jai.

Jai mengangguk sambil tersenyum. Rona merah di wajahnya mulai sedikit memudar.

Barun pun teringat saat pertama bertemu Jai, dia pun menambahkan, “Oh ya, saat itu kamu tersesat di hutan, ya, Jai?”

Jai tersentak. Dasar Kakek tua! Bisakah dia berhenti mempermalukannya di depan gadis imut ini?!

Miria menatap Jai sambil bertanya, “Benarkah? Kamu tersesat?”

Jai balas menatap Miria. Wajahnya kini kembali memerah seolah ada yang menyemprotnya lagi dengan cat.

Jai tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa mengangguk, meski sebenarnya enggan.

Barun tertawa geli melihatnya, sontak saja Jai mengerutkan kening padanya. Kakek tua itu membuat situasi Jai terlihat menjadi lebih memalukan.

Mendengar kakeknya terkekeh, Miria pun menyadari betapa malunya Jai saat ini. Miria hanya tersenyum dan mulai membereskan piring yang ada di meja.

“Tidak apa-apa kalau kau tersesat, Jai. Aku pun sering tersesat di hutan ketika masih kecil.” Miria berusaha untuk meyakinkan Jai.

Jai menatap Miria dengan tatapan tidak sepenuhnya yakin.

‘Itu ketika kamu masih kecil. Aku sudah dewasa! Tersesat itu memalukan bagiku!’ – itulah yang ingin dikatakan Jai, tetapi dirinya urung dan hanya bisa membatin. Jai kemudian berpura-pura batuk menanggapi perkataan Miria.

Miria tersenyum lagi. Kemudian dia berdiri dan membawa tumpukan piring itu ke meja yang ada di samping kompor. Kaki Miria secara tidak sengaja menyentuh sesuatu yang lembut. Seketika saja dia memekik karena terkejut.

"Astaga kucing kecil... Aku tidak melihatmu di sana, maafkan aku ..." Miria tersenyum sembari meminta maaf kepada anak kucing kecil yang ada di lantai.

Anak kucing itu mengeong dan mengusapkan kepalanya ke pergelangan kaki Miria.

Miria tertawa kecil. Dia mengulurkan tangan dan memeluk hewan kecil itu di tangannya. Kemudian Miria pun kembali ke meja makan.

“Dari mana asalmu, Jai? Dan apakah kucing ini temanmu?” tanya Miria sambil mengelus pipi anak kucing itu.

Jai menangkis kegugupannya dan berusaha untuk bersikap normal. Dia melirik anak kucing yang ada di pelukan Miria sebelum kemudian menjawab, “Aku tidak begitu tahu. Aku terbangun di hutan bertanah merah dan anak kucing itu sudah ada di sampingku.”

Miria terlihat sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan Jai. "Ya ampun, apakah kamu dirampok?" tanyanya dengan nada prihatin. Barun pun seketika menoleh pada Jai. Selama perjalanan ke desa, Jai tidak menceritakan apa pun tentang itu, jadi ini adalah pertama kalinya Barun mendengarnya.

“Oh, eh, tidak.” Jai gelagapan, tetapi dia memutuskan untuk mengatakan hal sebaliknya. “Aku tidak tahu. Mungkin saja? Sayangnya aku tidak ingat apa-apa sebelum itu.”

Jai merasa tidak ingin memberi tahukan kenyataan tentangnya. Berpura-pura hilang ingatan sepertinya ide yang jauh lebih baik untuk obrolan malam ini.

Kesedihan terlukis di wajah Miria. “Kepalamu pasti terbentur. Itu sebabnya kamu tidak bisa mengingat apa pun. ”

Jai tersenyum kecil dengan sedikit gelisah. "Mungkin."

Miria membalas senyuman itu dengan meminta maaf.

Barun berdehem. "Bukannya kamu ingat cara bertarung?"

Jai mengerjap. Benar, dirinya tidak memikirkan hal itu. Jai memang memamerkan keterampilan bertarungnya di depan sang kakek. Namun, saat ini Jai sedang berpura-pura hilang ingatan, kan? Sepertinya Jai harus berusaha meyakinkan kondisi dirinya lebih lama lagi.

"Kakek benar. Aku hanya ingat bagaimana cara bertarung!” Jai dengan semangat berbohong. Meski dirinya merasa salah.

Mata Miria berbinar. "Apakah kamu dari Jaden Bersaudara?"

Miria terlihat bersemangat dan menatap Jai dengan penuh harap.

“Eh?” Jai mengerjap heran. Persaudaraan apa?

Barun dan Miria saling berpandangan. Jelas, pemuda di hadapan mereka itu tampak tidak mengerti.

"Kamu ... bukan dari Jaden Bersaudara?" Miria bertanya dengan hati-hati.

Jai menggelengkan kepalanya dengan ringan. “Tidak? Apa itu?"

“Itu adalah salah satu tempat pembelajaran yang ada di kerajaan. Mereka mengajari warga cara membela diri.” Miria menjawab dengan senyum kecil.

Alis Jai terangkat mendengarnya, dirinya sedikit geli mengetahui bahwa ada sekolah seni bela diri di sekitar tempatnya berada. Tentunya itu tidak akan jauh dari wushu atau karate, tapi itu tidak masalah. Kedua seni itu bisa menghilangkan kebosanannya untuk sementara waktu. Jai harus pergi ke tempat itu, jika mungkin, dia akan pergi esok hari setelah mengucapkan selamat tinggal pada Barun dan Miria.

“Aku tidak tahu tentang komunitas itu, tapi aku tertarik.” Kali ini Jai berkata jujur.

Barun terkekeh. "Nak, meski kamu hanya berdiri di sana, mereka pasti bisa melihat bakat yang kamu miliki."

Tatapan Jai terlihat berbinar dipenuhi warna merah muda, Miria hanya tersenyum melihatnya.

Suara ngeongan pun terdengar di ruangan, Miria pun menatap anak kucing yang ada di pelukannya, “Ya? Ada apa kucing kecil?”

Anak kucing itu mengeong lagi dan mengusapkan kepalanya ke lengan atas Miria, kucing itu terlihat merasa nyaman.

Miria terkikik dan kembali menatap Jai. "Apakah dia punya nama?"

Jai tersenyum malu-malu. “Aku bahkan tidak tahu apakah kucing itu jantan atau betina, tapi kamu bisa memberinya nama apa pun yang kamu inginkan. Lagipula kucing itu bukan milikku."

Senyum Miria melebar. “Kalau begitu, aku akan menamaimu Usha!”

Anak kucing itu menatap Miria, membalas tatapannya dengan saksama selama beberapa detik sebelum menggosokkan kepalanya ke Miria sekali lagi. Tindakan itu membuat Miria tertawa girang.

“Apa kamu tidak ingin tidur, Nak? Ini sudah larut dan aku yakin kamu kelelahan setelah mengalahkan para bandit itu,” ujar Barun.

Mendengarnya, sontak saja Miria menatap kakeknya dengan khawatir. "Kakek diserang oleh bandit?!"

"Iyaa, bukankah kita sudah memberitahumu tentang itu?" Barun bertanya balik sambil tersenyum.

“Tidak. Kakek tidak memberitahu! Aku hanya tahu kalau Kakek membutuhkan bantuan Jai!”

Barun tersenyum penuh arti. "Ah, itu tidak jauh berbeda." Dia kemudian menyeruput tehnya dengan santai.

Miria mengerjap, wajahnya menunjukkan kebingungan melihat betapa santainya kakeknya memberitahu kalau dia hampir sekarat.

Jai menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia pun meminta izin untuk menginap malam ini. Lekas saja Miria membawa Jai ke kamar kosong untuknya bermalam. Miria sudah menyiapkan tempatnya sebelum makan malam, dan Jai berterima kasih padanya untuk itu meski di kamarnya hanya ada kain tipis dan tumpukan jerami di lantai. Rumah Barun dan Miria tidak terlalu besar, cenderung sederhana dan nyaman. Oleh karenanya Jai tidak mengharapkan lebih.

Usha si anak kucing melompat dari pelukan Miria dan mengikuti Jai ke dalam kamar. Mulut Miria mengerucut kecil, dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan kucing itu, tetapi hanya bisa pasrah. Dia pun pergi setelah Jai mengucapkan terima kasih dan selamat malam padanya.

Jai membaringkan dirinya di atas kasur jerami. Sedangkan Usha sudah membuat dirinya nyaman di samping kepala Jai. Sebelum memejamkan mata, Jai mengucapkan selamat malam kepada Usha si kucing kecil.

Jai harus bangun besok dan menjadi lebih 'waras'. Dia mencoba menyimpulkan apa yang sebenarnya telah terjadi seharian ini. Namun Jai tidak yakin, bisa jadi pikirannya kacau karena diselimuti oleh depresi setelah kehilangan pacarnya, atau mungkin karena dia jatuh dari jembatan ke sungai yang beraliran deras. Hal terburuknya, dia mungkin sudah mati dan saat ini dirinya ada di akhirat.

Ah, Jai bisa mengkhawatirkan tentang hal itu besok. Setidaknya untuk saat ini, dia harus tidur.

DMCA.com Protection Status