Bagian 4 ||∙Lagu kematian∙||

"Kalian sudah datang?" 

Alice, Logan dan Xander yang tadinya duduk di atas sofa segera beranjak berdiri begitu mendengar suara itu. Sosok lelaki paruh bayah dengan pakaian merah marron, serta jubah hitam nya yang membuat sosok paruh baya itu sedikit terasa berbeda. Alice seketika merasakan bahwa bulu kuduknya naik saat maniknya bersitatap dengan lelaki itu. 

"Ayah!" ujar Xander sambil menunduk 

"Silahkan duduk Xander dan kalian berdua juga!" ujar Sosok paruh baya itu namun tidak melepaskan tatapan nya dari Alice. Xander sadar akan hal itu, ia segera batuk  dan membuat semua perhatian tertuju ke arah nya. 

"Silahkan duduk!" seru sosok paruh baya itu lagi "ahhh sebelumnya, perkenalkan, kalian bisa memanggil ku Erick!" ujar sosok paruh baya itu 

"Saya Logan dan ini Alice Mr. Erick, senang bisa bertemu dengan anda!" ujar Logan mewakili Alice yang masih setia memeluk tangan Logan sejak tadi, tepatnya sejak lelaki paruh  baya bernama Mr.Erick itu memperkenalkan dirinya. 

"Benarkah? Apa kalian sudah lama berteman dengan Xander?" seru Mr.Erick 

"Sejak masuk sekolah menengah lebih tepatnya Sir!" ujar Logan 

"Baiklah, ahhhhh. Saya tidak membawa banyak, ini ada beberapa makanan yang sempat saya bawa! Silahkan di cicipi!" ujar Mr.Erick saat beberapa pelayan membawakan piring berisi makanan ke tempat mereka. "Dan jika kalian merasa bosan, kalian bisa mengelilingi rumah ini! Saya tinggal dulu sebentar, ada urusan yang harus saya lakukan!" seru Mr.Erick lalu segera berdiri, namun sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, Alice bisa merasakan bahwa sosok lelaki tua itu menatap ke arah nya. 

***
"Apa kau tidak ingin bicara pada ayah mu Xander? Aku rasa dia menunggu mu!" seru Logan memulai pembicaraan dan untuk sedikit mencairkan suasana menegangkan yang berada di ruangan tempat mereka duduk saat ini. 
Xander yang sejak tadi diam sambil menatap ke arah jendela di belakang Logan dan Alice mengalihkan perhatiannya pada Logan. "Aku rasa tidak perlu!" seru Logan dingin "Dan, aku rasa kita sudah bisa pulang saat ini!" sambung Xander 

"Pulang? Mengapa tiba-tiba sekali? Apa kau tidak ingin berbicara lagi dengan ayah mu?" seru Logan 

"Tidak usah, mari kita segera pergi sekarang!" seru Xander segera bergegas berdiri. Perasaannya semakin aneh sejak beberapa menit yang lalu. Tepatnya setelah ia mendengar suara piano itu lagi, entah mengapa. Xander seperti merasakan ini semakin aneh saja. 

"Baiklah, aku rasa juga lebih baik begitu!" ujar Alice yang tiba-tiba berdiri dan segera berjalan menuju arah Xander. 

"Aneh, kalian tiba-tiba sekali!" seru Logan sambil menggerutu. Namun karena Alice yang sudah beranjak dari duduknya, mau-tidak mau, ia juga harus segera beranjak. Dan mengikuti Alice dan Xander.  Mereka kembali melewati ruangan dengan aksitektur seperti yang pertama mereka lewati. Kali ini Xander mengambil jalan tepat di sebelah Alice, dan diam-diam menatap gadis itu. 

Alice merasakan kepalanya terasa berat, suara piano itu serta lagu-lagu itu kembali terdengar di dalam gendang telinganya. Bulu kuduk nya semakin berdiri. Bahkan ia sendiri tidak sadar bahwa Xander memperhatikannya semenjak tadi. Alice menatap ke arah tembok-tembok tersembunyi itu dan lagi-lagi ia menatap ada sosok yang memperhatikannya dan lalu menghilang lagi. "Ingat apa yang aku katakan pada mu Alice?" 

Alice tergelonjak saat mendengar suara Xander yang berada di sebelahnya. Alice yang menatap Xander segera mengangguk. Ia lalu menatap ke arah Logan yang juga sedang menatap nya. Alice tetap berjalan sampai di parkiran. Dan semakin aneh, ketika tidak ada yang menyapa kepulangan mereka. 

"Tunggu, aku ikut bersama dengan kalian!" seru Xander lalu segera naik ke mobil Logan 

"B-bagaimana dengan mobil mu Xander?" seru Logan sebelum benar-benar menjalankan mobil nya dari kompleks perumahan Xander yang entah mengapa tiba-tiba terasa lebih menyeramkan dari pada saat mereka sampai. 

"Sudah, cepat jalankan mobilnya!" ujar Xander lalu sedikit melirik Alice yang duduk di depan dengan wajah pucat nya. 

"Baik!" seru Logan dan segera melajukan mobil nya melihat ekspresi dari Alice dan Xander. 
Alice menatap ke arah gerbang yang sudah mereka lewati dan bersamaan dengan suara-suara horor yang juga hilang dari pendengarannya. Alice menghela nafas nya legah dan sedikit melirik Xander yang juga melirik nya. 

"Kau sudah merasa lebih baik?" ujar Xander 

Alice menoleh dan menatap Xander "Apa kau juga bisa merasakannya?" seru Alice 

"Aku rasa kau tau jawabannya Alice! Dan apa kau bisa mendengar nya Logan?" ujar Xander 

"Mendengar? Mendengar apa? Dan mengapa kalian berdua seperti memiliki rahasia? Apa yang tidak aku ketahui?" seru Logan dengan alis terangkat 

"Jadi-, kau tidak mendengar nya ?" seru Alice 

"klise sekali Alice, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mendengar nya. Sebenarnya apa yang tidak aku ketahui?" kesal Logan 

"Suara piano dan lagu kematian!" seru Xander yang segera menyandarkan punggungnya ke sandaran mobil Logan. Logan mengerutkan keningnya dan berpikir, sesekali ia melirik ke arah gadis yang sedang duduk di depan nya. Mengapa Alice bisa melihat dan mendengar suara itu? Sementara Logan sama-sekali tidak mendengarkan apa-apa. 

Sebenarnya, alasan utama Xander tidak ingin tinggal di rumah itu adalah karena setiap malam. Ia pasti akan mendengar suara piano yang dimainkan serta lagi-lagu kematian. Xander pernah bertanya pada ayahnya mengenai suara itu, namun Mr.Erick selalu diam ketiak Xander sudah bertanya hal itu. Xander sering kali merasa ada yang mengawasi nya dan jujur saja itu tidak membuatnya nyaman. 

Pernah saat itu, Xander pergi naik ke lantai dua rumah nya. Tempat yang dilarang untuk tidak ia naiki. Saat melewati pintu utama ke lantai dua. Xander bisa meraskan bahwa ada sesuatu yang berada di sana. Bulu kuduk Xander naik saat menatap sebuah pintu hitam dengan corak merah yang tepat berada di dalam ruangan itu. Namun, sebelum tangan nya sempat membuka pintu itu. Erick sudah lebih dulu menariknya menjauh dan menghukumnya habis-habisan. Xander selalu bertanya-tanya mengenai suara itu, suara tangisan, suara jeritan, suara kekehan. Dan itu lah penyebab Xander tidak ingin kembali ke sana. 

"Ayolah, kalian berdua kenapa?" seru Logan yang merasa di abaikan sejak tadi. 

"Kau benar-benar tidak mendengar suara itu bukan?" seru Xander untuk memastikan 

"Klise sekali Xander, jika kau mendengar sesuatu, aku pasti akan mengatakannya pada kalian berdua. Namun, aku sama-sekali tidak mendengar apa-apa, pemandangan ku juga ada yang menghalangi dan aku juga bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang berada di dalam rumah mu Xander!" seru Logan mulai mengutarakan apa yang sejak tadi mengganjal di pikirannya 

"Aku tau dan untuk itu lah aku mengajak kalian ke rumah ku! Karena aku pikir, ada sesuatu yang disembunyikan di sana! Dan aku tidak tau apa itu lebih tepatnya!" jawab Xander 

"Apa itu yang membuat mu tidak ingin tinggal di sana?" ujar Alice mulai bertanya 

Xander menatap Alice sekilas, "Ya, kau benar!" seru Xander sambil menghela nafas nya. Kali ini ia benar-benar banyak bicara dan itu cukup melelahkan untuknya. Mereka akhirnya saling diam dengan pemikirannya masing-masing. Logan tidak ingin banyak bertanya untuk kali ini, karena ia jelas tau bahwa Xander bukan lah orang yang mudah menjawab pertanyaannya. Di lain sisi, Alice masih berkecambuk dengan pemikirannya sendiri, semua ini. Apa yang mereka alami, mulai dari nyayian, lagu, suara piano, rumah, patung. Semua ini ada di dalam mimpinya nya semalam. Lalu, apakah benar akan terjadi sesuatu yang buruk pada mereka? karena, di dalam mimpi Alice, mereka akan menghadapi hari yang panjang setelah keluar dari pintu gerbang itu. 

"Xander, boleh aku bertanya padamu?" seru Alice tiba-tiba yang sedikit mengagetkan Xander yang sedang melamun. 

"Ya!" 

"Apa kau tau mengenai lambang itu? Maksud ku, ahhh, itu. Logan bilang bahwa kau tau mengenai lambang yang aku lukis setiap malam nya. Dan lambang yang yang juga ada saat kejadian di sekolah!" 

Xander melirik Logan lalu kembali menghela nafas nya sambil memejamkan mata nya "Aku hanya mencari tahu nya, karena menurut ku ayah ku pernah membahas mengenai lambang itu. Itu adalah lambang kefanaan, saat itu aku mendengar ayah ku berkata pada seseorang. Benda harus di jauhkan dari seseorang yang ingin menguasai semua bumi. Untuk sekarang aku masih harus mencari tahu nya lagi!" 

"Sebelumnya, aku minta maaf karena tidak memberitahukan nya pada mu. Karna aku rasa kau pasti tidak akan peduli, namun opiniku salah. Kau bahkan memberikan ku infomarsi yang cukup penting!" 

"Hmm, tidak masalah. Aku mencari tahu nya karena aku juga perlu informasi mengenai benda itu. Bukan karena apa-apa!" jawab Xander sedikit ketus. 

Logan menatap Xander yang kembali memejamkan mata nya dari kaca spion nya. Ia juga sedikit melirik Alice yang terlihat kesal dengan jawaban Xander. Logan hanya menaikkan bahu nya saat Alice menatap nya dengan mata yang menyipit. Gadis itu kembali menghela nafas nya, lalu kemabli sibuk menatap setiap jalanan yang mereka lalui. Setidak nya, ia sudah punya sedikit clue untuk hari ini. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status