Share

DUO JONES (INDONESIA)
DUO JONES (INDONESIA)
Author: Pupe Maelani

DJ 1 Curhat

Seorang pria gagah dengan rahang tegas berbalut celana jeans serta jaket hitam keluar dari mobil hitamnya. Tangan kirinya membawa sebuah papebag seperti kado atau sejenisnya. Langkahnya begitu yakin memasuki pintu rumah yang besar tanpa permisi. Tanpa ragu dia langsung menuju ruang keluarga yang terdengar suara anak kecil sedang bermain. Tak berapa sampailah dia dan berhenti menatap ada dua anak kecil sedang menonton tv. Senyumnya langsung terukir dan diam-diam menghampiri mereka yang duduk di karpet dari arah belakang, lalu mengangetkan.

‘Dorr’

Dua anak itu langsung kaget dan menoleh. Ketika menyadari siapa pelaku yang membuat mereka kaget, tanpa ragu keduanya langsung memeluknya.

“Om Mickyyyyyy!” teriak Lissa dengan suara nyaring nan melengking.

“Hahaha …,” suara tawa Mike bercampur teriak kebahagiaan anak-anak menggelegar seisi rumah. Mike dipeluk kuat oleh dua keponakan tercintanya hingga berbaring di karpet. Keduanya menempel bak perangko, hingga Nisa datang sekedar melihat apa yang sedang terjadi.

“Kak Mike!” seru Nisa melihat Mike yang masih terlentang dengan dua kakak beradik yang tengkurap di atas tubuh besarnya. Mendengar seruan Nisa, Mike menoleh diikuti dua kurcaci itu yang perlahan melepas pelukannya dan duduk merapat kembali pada Mike.

“Pasti baru datang langsung diserang si Om!” seru Nisa yang langsung ikut duduk di karpet dan mencium punggung tangan kanan Mike.

“Iya dong, Ma. Aldo kangen soalnya!” sahut Aldo cepat.  

“Eneng juga tangen Om Mickey, tangen sangat, Ma!” sambung Lissa yang setiap hari selalu kangen

siapa pun, termasuk iklan sabun di tv.

“Ah, pesona Kakak terpancar penuh binar rupanya, sampai dua kurcaci ini kangen berat, hehehe …,” sahut Mike bersombong ria atas pencapaiannya.

“Dikangenin mereka sudah biasa, terus dikangenin ceweknya kapan? Icha pengin lihat segera!” timpal Nisa membuat Mike diam seribu bahasa.

“Eneng penen punya cewek, Ma!” sahut Lissa tiba-tiba.

“Hah?” bingung Nisa mendengar ucapan Lissa.

“Eneng penen punya cewek juga pelti Om!” lanjutnya.

“Yeee … kamu itu anak cewek, Dek. Tak boleh punya cewek. Dosa!” terang Aldo menatap Lissa untuk memberi pengertian.

“Pelit, Kak Dodo. Eneng malahan. Eneng mau minta Om Popay pasti kasihin!” jawabnya dengan bibir cemberut dan ingin menangis. Nisa dan Mike yang melihat Lissa siap mengumandangkan suara cemprengnya mulai berancang-ancang dan dengan cepat, Aldo membungkam mulut Lissa.

‘Hmmpptt’

“Kalau nangis gak diajari nulis lagi sama Kak Al!” ancam Aldo menatap mata Lissa yang mulai berkaca. Dengan pelan, Lissa langsung mengangguk hingga bekapan Aldo terlepas. Nisa dan Mike tersenyum melihat cara Aldo menghentikan permintaan Lissa yang kadang membuat geleng kepala.

“Bajal sekalang, yuk, Kak. Eneng mau kilim culat buat pacal, hihi …,” ujar Lissa lagi.

“Kumatnya cepat anak Mama!” gerutu Aldo melirik malas kelakuan Lissa yang selalu menguji kesabaran.

Aldo akhirnya menggandeng tangan Lissa dan beranjak meninggalkan ruangan tersebut untuk menuju kamarnya demi mengajari Lissa untuk membuat surat cinta. Kini, tinggallah Mike dan Nisa yang masih berada di ruang keluarga dengan tv yang masih menyala dan menayangkan film "Kamen Rider" kesukaan dua kurcaci tadi.

“Kak Mike sudah makan?” tanya Nisa sambil merih jaket yang tergeletak di lantai.

“Sudah. Tadi sebelum ke sini makan dulu di tempat biasa. Kakak juga beliin tuh buat kamu dan anak-anak,” sahutnya sambil menoleh pada paperbag yang dia letakkan di meja.

“Aldy ke mana?” katanya lagi.

“Belum lama masuk ruang kerja. Katanya dia lupa sesuatu,” sahut Nisa cepat. Mike hanya mengangguk dan mata Nisa menelisik tajam pada Mike yang terlihat tampan di usianya yang sudah sangat matang.

“Kak, Icha boleh tanya sesuatu gak?” ucap Nisa sedikit ragu.

“Tentu boleh dong, Dek. Kamu boleh tanya apa pun sama Kakak. Emang mau tanya apa? Wajahnya serius banget macam nahan mules!” timpal Mike penasaran.

“Hehehe, bukanlah. Icha mau tanya, kapan Kakak mau nikah?” kata Nisa akhirnya buka suara.

“Itu pertanyaannya?” sahut Mike singkat. Nisa hanya mengangguk dan perlahan menarik tangan Mike dan menggenggamnya erat.

“Nisa khawatir sama Kak Mike. Gak tenang lihat Kakak hidup sendiri terus dan tak ada yang urus. Kakak mau gak Icha jodohin?” kata Nisa menatap sendu pada Mike yang ternganga.

“Hah, dijodohin?” sahut Mike kaget.

“Iya. Cari sendiri tak mampu juga, jadi biar Icha bantu cari, ya. Gimana? Kakak setuju?” terang Nisa dengan mata masih mengunci pandangan Mike. Dia terdiam sesaat, tapi jarinya bergerak mengelus genggaman tangan adiknya yang dia pahami sangat mencemaskan dirinya.

“Kakak mau cerita sedikit, ya, terus kasih komentar!” ujar Mike dan langsung diangguki Nisa penuh semangat.

“Jadi, kemarin malam Kakak duduk-duduk di taman dekat rumah. Saat sedang asik baca, tiba-tiba ada cewek duduk di sebelah dan berbicara sendiri. Kamu mau tahu gak dia bicara apa?” tutur Mike santai.

“Apa?” timpal Nisa cepat.

“Dia sedang kesulitan uang, kalau tak segera bayar kost, maka besok alias tadi pagi, dia akan diusir,” ujar Mike.

“Kasihan, Kak!” ucap Nisa.

“Iya. Selain itu, ibunya sedang sakit dan harus segera dioperasi. Jangankan untuk bayar operasi, sedangkan untuk bayar kost saja tak ada,” lanjut Mike kemudian mengambil softdrink dalam paperbag yang dia bawa.

“Lalu? Kak Mike bantu dia gak?” tanya Nisa cepat.

“Dia menawarkan barang dagangannya pada Kakak. Karena, terpaksa beli, deh!” jawab Mike dengan senyum bahagianya.

“Alhamdulillah kalau Kak Mike beli dagangannya. Semoga bisa bantu dia. Kak Mike memang paling the best. Icha sayang banget pokoknya!” kata Nisa yang langsung bermanja ria pada Mike dan sekilas mencium kening Nisa.

Tanpa diketahui keduanya, Aldy tengah berjalan ke arah mereka yang sedang asik berbincang. Walaupun datang dari arah belakang, Aldy tahu persis siapa pria yang berani mencium kening istrinya di rumah dia sendiri.

“Peluknya jangan kencang-kencang! Nanti bini gue lecet, kadal!” seru Aldy setibanya di ruang keluarga. Mereka menoleh bersamaan pada arah datangnya suara dan tersenyum geli. Aldy langsung duduk di karpet bersama mereka dan meraih paperbag serta mengambil makanan yang ada di dalamnya.

“Sudah selesai kerjaannya, Kak?” tanya Nisa menatap Aldy yang sedang membuka sekotak kentang goreng.

“Sudah. Ternyata map itu terselip di laci bersama dokumen lama,” sahut Aldy menjelaskan.

“Anak-anak pada ke mana, Sayang?” tanya Aldy karena tak melihat biang rusuh berkeliaran.

“Lagi di kamar Aldo. Lissa minta diajari bikin surat cinta buat pacar!” sahut Nisa apa adanya. Tiba-tiba leher Aldy tercekat mendengar penuturan Nisa. Aldy sudah tahu siapa orang yang memberikan doktrin itu pada si bungsu.

“Sopian minta ditebas burungnya. Ajari Lissa aneh-aneh terus. Bisa rusak pikiran Lissa sejak dini. Awas saja kalau dia datang. Kutendang burungnya biar tahu rasa!” geram Aldy yang tak terima dengan didikan Sopian pada anak bungsunya yang lucu.

“Paling Sopian datang nanti sore. Tadi ngabarin ada urusan sebentar di Depok,” kata Mike menimpali.

“Oh, iya, Kak. Meneruskan pembicaraan tadi. Cewek yang Kakak bantu itu jual apaan? Enak gak? Kalau sekiranya enak, Icha mau beli setiap hari buat camilan Kak Al. Dia jual kue apa?” cerocos Nisa yang membuat raut wajah Mike meringis. Mike bungkam. Wajahnya seperti sedang menahan buang angin. Aldy yang melihat Mike berwajah aneh menatap bingung.

“Lo kenapa, Mike? Ditanya kok bukannya jawab malah mengkerut. Jawab doang gak pakai meringis macam gitu!” sambung Aldy yang tak sabar juga menunggu jawaban.

“DIA JUAL KEPERAWANAN!”

Related chapters

DMCA.com Protection Status