Amagl's Bride
Amagl's Bride
Author: Miafily
1. Keraguan

Para nona dan tuan muda dari keluarga bangsawan, terlihat duduk dalam dua barisan terpisah. Mereka tampak berkonsentrasi mendengarkan ceramah dari pendeta. Di kekaisaran Bonaro, ada tradisi bahwa setiap satu bulan sekali, para generasi muda yang belum menikah akan mendengarkan ceramah mengenai sejarah kekaisaran serta sejarah keagungan Amagl di kuil-kuil suci yang tersebar di sepenjuru kekaisaran Bonaro. Khusus bagi para nona dan tuan bangsawan yang tinggal di ibu kota, akan mendengarkan ceramah secara khusus di kuil utama yang berada di ibu kota kekaisaran. Di antara mereka, terlihat seorang gadis berambut cokelat almond yang memejamkan matanya. Ia terlihat sangat berkonstrasi mendengarkan ceramah pendeta. Namun, sebenarnya ia tidak mendengarkan ceramah dan memilih untuk memikirkan hal lain. Karena pada dasarnya, ia bahkan sudah hafal setiap kata yang diucapkan oleh pendeta.

“Bagi kita, Amagl adalah sosok agung, pelindung kekaisaran yang menjaga keseimbangan dunia ini. Karena itulah, sudah menjadi kewajiban bagi kita, untuk terus percaya dan memberikan persembahan yang mulia untuknya. Kita harus memastikan jika pujian terus mengalir padanya, agar kekaisaran kita bisa mendapatkan perlindungan untuk waktu yang panjang.”

Kekaisaran Bonaro memang menganut kepercayaan jika Amagl adalah sosok yang diutus oleh Dewa untuk melindungi kekasaran mereka. Kaum Amagl diciptakan hampir sempurna, baik tampilan maupun sifat mereka. Dikisahkan, bahwa sosoknya sangat menawan sekaligus memiliki kekuatan yang begitu besar. Kaum Amagl memiliki ciri khas berambut abu-abu keperakan, serta netra biru keperakan yang indah. Mereka memiliki fitur wajah yang sempurna dan didukung dengan tubuh proporsional, jelas mereka sangat rupawan. Kaum Amagl dikaruniai kemampuan sihir tingkat tinggi yang beragam. Kemampuan sihir yang harus dipergunakan untuk menjaga keseimbangan dunia. Meskipun dulu eksistensi mereka begitu lekat dengan dunia manusia, mereka tidak tinggal di dunia yang sama dengan para manusia. Para Amagl tinggal di dunia Savyrh, dunia yang dihuni oleh makhluk mistis. Namun, dunia Savyrh dan dunia manusia terhubung oleh portal yang dijaga ketat oleh Amagl terpilih.

Karena itulah, selain memiliki kuil untuk memuja Dewa, ada pula kuil khusus yang dipersembahkan untuk memanjatkan doa bagi Amagl terakhir, yang keberadaannya kini seperti sebuah legenda. Sebenarnya, Amagl yang tersisa bukan hanya Amagl yang dipuja oleh para rakyat kekaisaran Bonaro. Konon, ribuan tahun yang lalu, kaum Amagl hampir punah karena ulah salah satu dari mereka. Dunia Savyrh dan kaum Amagl hancur karena ulah seorang Amagl yang dibutakan oleh ketamakan akan kekuasaan. Amagl itu dikenal sebagai Amagl terkutuk. Dipercaya sebagai perwujudan dari segala hal buruk dan bahkan namanya dilarang untuk disebutkan karena dipercaya akan membawa bencana. Amagl terkutuk itu dikisahkan dipaksa tertidur oleh Amagl Xavion, sang Amagl terakhir yang dipercaya menjadi sosok pelindung bagi kekaisan Bonaro.

“Sekian untuk hari ini. Semoga berkat Dewa dan perlindungan Amagl melingkupi kalian semua.”

Saat itulah, gadis berambut cokelat yang selama ini menutup matanya, segera menunjukkan netra hijau segar selayaknya pucuk daun berembun di pagi hari. Gadis itu beranjak dengan anggun, ke luar dari kuil tersebut bersama para nona bangsawan lainnya. Namun, begitu gadis bangsawan cantik bernetra cokelat itu melenggang ke luar dari kuil, seorang pria sudah lebih dulu menghadang jalannya. Ia pun berusaha menahan diri untuk tidak menghela napasnya. Pria itu tersenyum lebar dan berkata, “Selamat siang Nona Amora. Hari ini pun kau terlihat sangat cantik.”

Benar, gadis cantik itu memang bernama Amora, atau lebih tepatny Amora Neiva Salvador. Putri satu-satunya dari keluarga Count Salvador yang terkenal selalu berkecimpung dalam dunia politik. Amora pun sedikit menunduk dan memberikan salam yang sopan pada pria yang berada di hadapannya. “Selamat siang, Tuan Marquess Rafe.”

“Tidak perlu kaku seperti itu, Amora. Panggil saja aku Thomas. Toh, jika kau menerima lamaranku, kau akan segera menikah denganku. Jadi lebih baik kau belajar memanggil namaku. Aku lebih senang dipanggil dengan akrab oleh istriku,” ucap Thomas sang Marquess Rafe.

Mendengar hal itu, Amora pun tersenyum tipis. “Tuan Marquess, ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan hal seperti itu. Sebaiknya, Tuan membicarakan hal ini dengan Ayah di tempat yang tepat. Kalau begitu, saya permisi. Saya harus segera kembali ke kediaman saya,” ucap Amora. Tentu saja, Amora sangat tidak merasa nyaman ketika Thomas mengajaknya membicarakan hal sensitif seperti itu di tempat umum. Saat ini saja, beberapa orang sudah mencuri-curi pandang pada mereka, berusaha untuk menguping pembicaraan mereka.

Amora kembali memberikan salam sopan, sebelum beranjak pergi bersama pengawal yang memang sudah datang menjemputnya. Thomas tentu saja mempersilakan Amora pergi bergitu saja, tetapi Thomas menatap kepergian Amora dengan tatapan tajam. Ada sesuatu yang jahat dalam sorot mata tajam Thomas tersebut. Seakan-akan, Thomas memiliki rencana jahat pada Amora yang selama ini terus mengabaikan godaannya. Thomas menahan seringainya, jelas ia akan memberikan pelajaran pada Count Salvador, yang sudah berulang kali menolak lamarannya untuk Amora. Thomas akan menciptakan situasi yang mau tidak mau, membuat Amora jatuh ke dalam pelukannya.

***

Jade—ibu Amora—terlihat begitu cemas saat dirinya masih merasakan suhu tubuh sang putri yang tinggi. Sudah berhari-hari Amora demam tinggi. Lebih tepatnya, sehari setelah mendengarkan cermah di kuil, Amora tiba-tiba jatuh sakit. Sakitnya itu membuat Amora tidak bisa membuka mata dan turun dari ranjangnya. Sudah puluhan dokter dan tabib yang datang untuk memeriksa Amora, tetapi semuanya berkata jika Amora hanya kelelahan dan memerlukan istirahat yang cukup. Namun, setelah berhari-hari meminum obat serta beristirahat total, Amora tetap saja belum membaik. Kondisinya malah semakin memburuk, membuat Count dan Countess Salvador merasa semakin cemas. Karena itulah, hari ini mereka memutuskan untuk meminta bantuan dari pendeta untuk memeriksa kondisi Amora. Jade kembali menyeka keringat pada kening Amora sembari memastikan suhu tubuh Amora.

Lalu tak lama, para pelayan mengumumkan kedatangan pendeta bersama Count Salvador yang sudah kembali dari kuil. Leal—ayah Amora sekaligus Count Salvador—segera duduk di tepi ranjang dan mengusap kening putri tercintanya dengan lembut. Sentuhan penuh kasih Leal ternyata sanggup membangunkan Amora dari tidur lelapnya. “Ayah,” panggil Amora pelan.

“Iya, ini Ayah. Biarkan Pendeta memeriksa kondisimu, setelah ini kau akan segera sembuh,” ucap Leal lalu menyediakan tempat bagi pendeta untuk memeriksa kondisi putrinya.

Pendeta itu tersenyum. Ia membuka selembar sapu tangan dan melapisi pergelangan tangan Amora sebelum menyentunya sembari merapalkan doa. Lalu beberapa saat kemudian, sinar kebiruan muncul tanda jika sang pendeta mulai memeriksa kondisi Amora. Tentu saja, semua orang di sana menunggu dengan harap-harap cemas. Termasuk Amora. Ia sudah tersiksa selama berhari-hari karena kondisinya ini. Amora memang lebih nyaman menghabiskan waktunya di dalam kediamannya, tetapi Amora tidak senang jika dipaksa untuk tetap di rumah karena sakitnya. Amora ingin segera sembuh, dan berharap jika pendeta yang tengah memeriksa kondisinya ini bisa memberikan solusi atas sakitnya ini. Namun, Amora dan keluarganya merasakan ada hal yang aneh saat melihat sang pendeta mengernyitkan keningnya, seakan-akan telah menemukan sesuatu yang salah. Mereka pun merasa semakin cemas. Terutama Leal dan Jade yang dikenal sangat menyayangi putri mereka itu.

Tak berapa lama, sinar biru di tangan pendeta menghilang, lalu pendeta pun membuka matanya. Leal yang melihatnya segera bertanya, “Bagaimana kondisi putriku?”

Pendeta itu menatap Amora yang kini sudah dibantu untuk duduk bersandar oleh Jade. Sang Pendeta menatap Amora beberapa waktu sebelum melontarkan sebuah pertanyaan, “Sebelum saya menjelaskan kondisi Nona Amora, apa saya boleh mengajukan beberapa pertanyaan terlebih dahulu?”

Leal dan Jade pun merasa semakin cemas. Keduanya berpikir jika kemungkinan kondisi Amora sangat buruk. Leal segera mengangguk. “Silakan,” jawab Leal.

“Apa Nona Amora sudah memiliki kekasih atau seorang tunangan?” tanya pendeta tersebut membuat semua orang yang mendengarnya jelas mengernyitkan kening. Kenapa pendeta menanyakan hal seperti itu? Memangnya apa hubungannya hal itu dengan kondisi kesehatan Amora saat ini?

Namun, Leal tahu jika apa pun yang ditanyakan oleh pendeta pastinya memang berkaitan dengan kondisi sang putri. Jadi, Leal menjawab, “Putriku tidak memiliki kekasih apalagi seorang tunangan.”

Mendengar jawaban Leal tersebut, pendeta itu pun kembali menatap Amora sebelum menghela napas panjang. Ia pun berdiri tepat di hadapan Leal dan berkata, “Kalau begitu, saya akan memberikan kabar buruk.”

Leal dan Jade pun saling bertatapan. Keduanya sangat takut ketika mendengar perkataan sang pendeta. “A, Apa putriku mengidap penyakit yang serius dan sulit untuk disembuhkan?” tanya Jade mulai kesulitan untuk menahan tangisnya. Tentu saja, mana ada seorang ibu yang tega melihat putrinya mengidap penyakit keras yang sulit untuk disembuhkan.

Pendeta itu kembali terdiam. Ia terlihat ragu untuk memberikan kabar buruk yang sudah ia ketahui. Tentu saja, ia bisa melihat kasih sayang yang begitu besar yang dimiliki oleh Leal dan Jade. Namun, sang pendeta sendiri tahu jika dirinya tidak bisa menyembunyikan fakta yang sudah ia ketahui. Sudah sepantasnya Leal dan Jade sebagai orang tua untuk mengetahui kondisi Amora saat ini. “Ini bukan penyakit, tetapi kondisinya bisa saya sebut sama buruknya dengan kondisi sakit parah,” jawab pendeta itu semakin membuat semua orang merasa panik dan cemas mengenai kondisi Amora.

Leal mengepalkan kedua tangannya, merasa sangat cemas. Ia pun bertanya, “Sebenarnya apa yang terjadi? Tolong jelaskan Pendeta, kami sudah tidak tahan lagi melihat penderitaan putri kami yang harus berbaring berhari-hari karena sakitnya.”

Pendeta itu pun menghela napas. Ia kembali melirik Amora yang juga menanti penjelasan darinya, sebelum menatap Leal untuk menjawab sejujurnya. “Nona Amora sama sekali tidak sakit. Namun, kondisi tubuhnya memang melemah karena ia tengah … hamil,” jawab pendeta itu sukses membawa kejutan besar yang sakin mengejutkannya bahkan tidak bisa dipercaya oleh semua orang yang mendengarnya.

Terutama Amora. Gadis itu berkata, “Hamil? Apa Anda bercada? Aku bahkan tidak pernah berhubungan dengan pria mana pun!”

Leal juga ikut berteriak marah karena berpikir sang pendeta tengah mempermainkan dan menghina keluarganya. “Apa kau tengah merendahkan keluargaku? Kau bilang apa? Putriku hamil? Aku bahkan bisa menjamin jika putriku masihlah seorang gadis yang suci yang belum pernah disentuh pria mana pun. Bagaimana bisa kau menyebut jika putriku hamil?!”

Pendeta itu menghela napas, karena sebelumnya sudah membayangkan jika reaksi seperti inilah yang akan ia dapatkan saat mengungkapkan kebenaran. Pendeta itu tetap terlihat tenang sebelum berkata, “Tentu saja fakta ingin mengejutkan. Tapi saya sudah memeriksanya berulang kali, dan hasilnya tetap sama. Jika masih meragukannya, silakan panggil pendeta atau dokter lain untuk memeriksanya. Tapi saya yakin, jika hasilnya akan sama. Kalian bisa memaki dan menyumpahi saya, tetapi saya tidak akan mengubah hasil pemeriksaan saya. Sekali lagi saya nyatakan, bahwa Nona Amora tengah hamil.”

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Kiki iqy
si pendeta juga sengkokol dengan Thomas
goodnovel comment avatar
nyaiDia
Sungguh menakjubkan alur cerita yang paling menarik ...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status