Why
Why
Author: Amy L Yanto
Episode 1

'Chitttt ....'

'Braakkk ....'

Terdengar suara nyaring mobil mengerem, tapi tetap saja. Mobil itu tidak bisa menghentikan kecepatannya, hingga menabrak seorang wanita yang kebetulan menyebrang tanpa melihat kanan dan kiri jalan terlebih dahulu.

Wanita yang ditabrak terpelanting jauh, hingga kepalanya membentur trotoar. Sang pengendara mobil yang panik pun melarikan diri, dan meninggalkan wanita tak berdaya itu di tengah jalanan.

'Akkhh ...,' terdengar suara rintihan kesakitan wanita cantik, bergaun warna putih dan rambutnya tergerai dengan indah. Saat ini tengah terbaring kesakitan, dengan luka parah baik di kepala dan tubuhnya. 

Wanita yang mempunyai tinggi badan 158 cm itu, masih mengerang kesakitan di tubuhnya. Namun, luka yang ia rasakan saat ini belum seberapa. Di bandingkan luka dalam hatinya, yang baru saja ia rasakan seumur hidupnya.

Wanita itu bernama Aina Anindya, ia seorang wanita cantik dan modis. Tidak ada cacat sama sekali di tubuhnya, kehidupannya pun sempurna. Ia mempunyai suami yang tampan, kaya dan sangat mencintainya. Begitu pula, ia mempunyai seorang kakak bernama Alya Adriana yang tidak kalah cantik darinya. 

Jarak umur yang terpaut satu tahun, membuat Aina dan Kakaknya Alya seperti pinang di belah dua. Banyak yang mengira kalau ia dan kakaknya kembar, padahal tidak. 

Sejak kedua orang tuanya meninggal ia hidup di Jakarta, bersama pengasuh yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Sedangkan Alya, meneruskan study-nya di luar negeri tepatnya di negara Amerika.

Ya, Alya memutuskan kuliah di Amerika selepas ia lulus dari SMA. Sedangkan saat itu Aina masih kelas 3 SMA, sampai Aina lulus terus kuliah ia tetap berada di Indonesia. Sedangkan Alya, tidak pernah pulang. Begitu kembali ke Indonesia, saat itu Aina tengah melangsungkan pernikahannya dengan suaminya Raditia Rafael. 

'Jahat sekali kalian, hiks,' gumam Aina, seraya memandang kado yang berisikan jam tangan mewah sengaja ia beli untuk suaminya. Tepatnya malam ini, Rafael hari ini sedang berulang tahun.

Ia ingin memberikan kejutan manis, tapi di tempat yang ingin ia jadikan tempat spesial bagi suaminya. Ia malah yang dibuat terkejut sendiri, dengan air mata mulai membasahi pipi mulusnya ia berlari tanpa tahu arah. 

Karena kurang hati-hati ia pun mendapatkan kecelakaan, dalam peristiwa kecelakaan itu di hati kecilnya, ia meminta pada sang kuasa agar mengambil dalam kecelakaan itu. Ia ingin luka di hatinya menghilang, dan tidak membuat sesak di dadanya.

Namun, saat di keputusasaan dan harapan. Tiba-tiba datang segerombolan orang tengah mengkhawatirkan dirinya, ada yang menelepon ambulan. Ada pula yang menawarkan untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Ya, di saat ia mulai tidak kuat menahan rasa sakit di tubuhnya, ia mendengar suara orang-orang mengerubunginya.

"Kasihan sekali, cepat kita bawa ke rumah sakit,'' ucap salah satu wanita.

"Iya ... lukanya cukup parah, dan darahnya banyak yang keluar," sambung pria muda.

"Woi ... telepon ambulan, cepat!''

"Tidak usah panggil ambulan, pakai mobilku saja. Cepat angkat ke mobilku," tawar seorang pria dewasa kebetulan melintas, dan memberhentikan mobilnya.

Aina pun di masukkan ke dalam mobil, lalu di bawa ke rumah sakit. Kebetulan yang mempunyai mobil bersama sang istri, dan tulus membantu Aina ke rumah sakit.

***

Di salah satu rumah sakit besar di Jakarta pusat, terlihat seorang dokter tampan baru saja menyelesaikan operasi. Terlihat gurat lelah di wajahnya, tapi tidak mengurangi kharisma yang dipancarkan. Pria itu tidak lain adalah Dokter Jaden.

"Apakah setelah ini Anda akan langsung pulang, Dok?" tanya perawat yang merangkap sebagai asisten Jaden.

''Ya! Hari ini aku lelah sekali, dan aku ingin cepat pulang ke apartemen lalu tidur," jawab Jaden ramah, seraya mengambil kunci mobil di dalam laci kerjanya.

"Aku pergi dulu," pamit Jaden, lalu meninggalkan ruangannya.

"Hati-hati, Dok. Jangan ngebut kalau mengendarai mobil," pesan sang asisten dengan hati berbunga.

Sang asisten begitu mengagumi Dokter Jaden, bukan hanya dia tapi hampir semua dokter wanita dan juga perawat pasti akan menaruh hati pada pria berumur 27 tahun itu.

Mengingat status Jaden yang masih single membuat kaum hawa berlomba-lomba menarik perhatiannya.

'Uhh, senang dan beruntungnya aku bisa selalu dekat dengan Dokter Jaden. Mudah-mudahan aku bisa meluluhkan hatinya, dan bisa menjadi kekasih dokter tampan itu,' gumam sang asisten, seraya membereskan ruang kerja sang dokter.

Jaden yang baru saja melangkah keluar, dan berniat ke parkiran mobil. Langkahnya terhenti ketika ia melihat mobil yang sedan berwarna hitam, berhenti tepat di depannya. Sang pengendara turun dengan tergesa, lalu membuka pintu penumpang.

Lalu dengan tergesa pula sang pengendara mobil sedan itu membopong Aina, sesaat anak rambut menutupi wajah cantiknya. 

Entah apa yang dipikirkan Jaden, padahal ia sangat lelah dan ingin cepat pulang. Namun, naluri alamiahnya melarang. Ketika ia melihat darah menetes di lantai rumah sakit.

'Apa yang kamu pikirkan, Jaden. Bukahkah sudah seharian ini kamu kerja, ayo sekarang pulang. Tubuhmu juga butuh istirahat, jangan paksa lagi. Di dalam masih banyak dokter yang akan merawat pasien itu, jadi ayo pulang,' sisi gelap Jaden melarang mendekat, bahkan mengikuti pria pengendara mobil yang menolong Aina.

'Jangan, Jaden. Kamu harus memeriksa korban itu, lihatlah. Sepertinya korban itu terluka parah, jangan sampai kamu menyesal,' sisi baik Jaden mendorong agar ia kembali masuk ke dalam rumah sakit.

'Yah, sepertinya malam ini aku tidak akan istirahat. Meskipun pekerjaan ini tidak kusukai, tapi aku tidak bisa melihat wanita itu sampai lewat malam ini,' guman Jaden menyemangati dirinya, seraya masuk kembali ke dalam.

"Sayang, cepat panggil dokter. Biar wanita ini cepat mendapatkan perawatan," perintah sang pengendara pada istrinya.

Tanpa menjawab sang istri langsung berlari mendahului sang suami, dan berteriak pada dokter mau pun suster jaga. 

"Tolong, ada pasien korban tabrak lari. Saya dan suami saya saat ini tengah membawanya ke mari," ucap wanita dewasa itu.

Beberapa suster yang mendengar itu seketika berlarian, dan mendorong brankar pasien. 

"Pak, rebahkan pasien di sini saja," ucap Jaden tiba-tiba, seraya menunjuk brankar dorong.

Sang pengendara itu patuh, dengan hati-hati ia membaringkan Aina di tempat tidur. 

"Apakah Anda keluarga pasien? Kalau, iya, bisa ke administrasi untuk melengkapi data pasien. Biar kami bisa melakukan tindakan cepat," saran Dokter Jaden ramah.

"Bukan! Saya bukan keluarga pasien, Dok. Saya membawa wanita muda itu ke mari, karena wanita itu tergeletak di pinggir jalan. Mungkin wanita itu korban tabrak lari, kalau begitu saya permisi dulu," jelas sang pengendara, dengan nada takut.

"Sayang, ayo pulang," lanjut sang pengendara menarik tangan sang istri, dan mengajak pergi meninggalkan rumah sakit.

"Iya, tunggu sebentar. Biar aku memberikan ini dulu sama Dokter," jawab sang istri, lalu berjalan ke arah Dokter Jaden dan memberikan tas Aina.

"Dok, ini adalah tas wanita muda itu. Dokter bisa melihat, apakah ada nomer yang bisa dihubungi nanti," ucap istri pengendara mobil, setelah itu pergi begitu saja.

Jaden hanya bisa terpaku, seraya memandang kepergian sepasang suami istri itu pergi. Kemudian sesaat ia memandang ke arah brankar, ia sudah menebak meskipun tanpa ia memeriksa keadaan pasien terlebih dahulu. Jika Aina mengalami luka yang cukup parah.

''Dokter, Jad ---"

Ucapan dokter magang terpotong, begitu mendengar suara tegas Jaden.

"Berikan stetoskopmu, cepat!" perintah Jaden dengan ekspresi serius.

Dokter magang itu pun dengan patuh memberikan stetoskop miliknya, dan dengan cekatan Jaden memeriksa Aina. Saat ia ingin memeriksa luka di wajah Aina, ia dengan perlahan melerai anak rambut yang sedari tadi menutupi wajah cantik itu.

Degh!

Dalam sesaat Jaden terkejut, saat melihat wajah yang sudah lama tidak pernah ia lihat. 

'Aina!' batin Jaden dengan ekspresi terkejut ketika menatap lekat wajah cantik, dan mulai pucat itu.

'Aina, apakah ini benar kamu?' tanya Jaden sedikit keras, hingga membuat dokter magang dan suster saling berpandangan.

"Dokter mengenal pasien ini?' tanya dokter magang penasaran.

Tanpa menjawab dengan langkah cepat Jaden mencari tas milik Aina, lalu membongkar. Lebih tepatnya mengeluarkan semua barang di dalam tas, hingga ia menemukan ponsel dan juga dompet milik Aina.

Dengan tergesa ia membuka isi dompet itu, lalu pandangannya jatuh pada sebuah foto yang tersemat indah di dalam dompet. Ya, Sebuah foto mini pernikahan Aina dengan Rafael, yang sengaja Aina taruh di dompetnya.

Degh! 

'Kamu sudah menikah, Aina?' batin Jaden, dengan pandangan yang sulit di artikan. 

Namun, dengan cepat ia mengenyampingkan perasaannya. Saat ini yang ia pikirkan keselamatan Aina, dan itu harus mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga Aina. Salah satunya adalah Rafael.

Tanpa pikir panjang, ia membuka ponsel wanita yang terbaring itu. Ia tidak mempedulikan lagi sopan santun, karena telah berani membuka tas dan privasi orang lain. Karena hanya dengan caranya sekarang, ia cepat bisa melakukan tindakan yang tepat pada Aina.

Drrrttt 

📱My Husband

Jaden terus menghubungi ponsel Rafael, tapi hampir lima menit lewat ponsel itu tidak kunjung tersambung.

"Shiit! Di mana pria berengsek itu, jika dia tidak bisa dihubungi bagaimana keadaan Aina nanti," marah Jaden, dengan mengepalkan tangan kirinya.

Tut.

Setelah mematikan telepon, dan memasukkan semua barang milik Aina di dalam tas. Jaden memberikan tas itu pada asistennya.

"Simpan ini baik-baik," perintah Jaden tegas, tanpa ada senyuman seperti biasa.

"Ba--baik, Dok," gugup asisten Jaden, karena merasa takut saat melihat ekspresi Jaden yang dipenuhi aura kemarahan.

"Siapkan ruang operasi sekarang, cepat. Saat ini pasien dalam kondisi kritis, bahkan mungkin saja dia telah koma. Jadi kita harus menyelamatkannya," perintah Jaden tegas, terselip rasa khawatir yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Tapi, Dok. Kita belum mendapatkan persetujuan dari keluarga pasien, bagaimana kita bisa melakukan tindakan dahu ---"

Ucap salah satu dokter pria, dan itu menyulut kemarahan Jaden kembali. Hingga para dokter dan suster yang melihat perubahan sikap Jaden tak biasa dari biasanya, karena aura dalam diri Jaden itu membuat semua orang mengenal dokter tampan itu seketika takut.

"Tutup mulutmu itu! Apakah harus melihat pasien mati dulu, baru kamu bertindak saat semua keluarga pasien tidak ada di sini?!" marah Jaden, dengan menyengkeram kerah kemeja Dokter Lay. Lalu melepaskan dengan kasar, dan membuat Dokter Lay terdiam. Ia membenarkan apa yang dikatakan Dokter Jaden adalah benar.

"Jika kalian takut, untuk memasukkan wanita ini ke dalam ruang operasi. Maka aku yang akan menjadi walinya, dan akan kubayar semua pengobatannya. Aku akan bertanggung jawab penuh untuknya, apa kalian mengerti!"

"Sekarang cepat bawa dia, dan siapkan ruang operasi. Biar aku yang melakukannya, tunggu aku ganti dulu," perintah Jaden tegas, yang di angguki dokter dan suster

'Aku pasti bisa menyelamatkanmu, Aina. Bertahanlah,' batin Jaden, dengan terburu.

"Kenapa dengan Dokter Jaden, kenapa dia begitu marah. Padahal selama ini dia selalu bersikap ramah, dan murah senyum," tanya salah satu suster yang mengidolakan Dokter Jaden.

"Sstt ... lebih baik, kita kerjakan apa yang diminta Dokter Jaden. Apa kalian mau di bentak kayak Dokter Lay, tadi," nasehat suster yang mulai mendorong brankar pasien, yang di atasnya ada Aina.

Bersambung

Comments (1)
goodnovel comment avatar
lysayovita22
Suka ceritanya. Lanjutkan, Akakthor.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status