Diary
Diary
Author: Imaliccious
Diary 1

Hari yang begitu melelahkan untukku ditambah terik matahari yang tak berpindah sedikitpun diatas kepalaku begitu menyengat membuatku terpaksa harus memesan minuman di kafe mahal ini. Kafe yang hanya biasanya aku lewati saja, kini aku sedang duduk di kursi yang berada diluar menunggu minuman yang sudah dipesan. Bukannya tidak mau, tapi harga satu minumannya saja disini sudah membuat dompetku menganga. Bayangkan saja, lima  minuman disini setara dengan gaji ku selama dua minggu.            

Ah kalau saja dia tidak menyuruhku untuk bertemu disini, aku tidak akan mau. Tapi aku benar-benar penasaran dengan orang itu yang sudah berani-beraninya membuka bahkan mungkin sudah membaca semua isi Diaryku. Pagi ini, aku temukan diary ku yang telah usang dan telah hilang enam tahun yang lalu tepat di depan pintu kontrakan. Tidak perlu berlama-lama aku untuk mengenalinya karena dengan jelas sekali aku langsung hafal kalau itu adalah diary ku. Diary berwarna merah muda yang kini telah pudar dimakan usia dengan gantungan berbentuk love yang masih menempel. Dengan cepat ku ambil dan kubuka semua isinya, tidak ada keanehan dalam diary ku semua tampak baik-baik saja bahkan tidak ada bekas sobekan apapun sampai aku melihat dibagian belakang ada tulisan yang tidak sama dengan tulisan di halaman halaman lain. Kupastikan itu tulisan tangan orang yang berbeda. Benar saja, saat aku membacanya dengan cepat ku tutup mulutku yang sudah terbuka lebar akibat terkejut.         

"Gadis ceroboh! Bisa-bisanya meninggalkan curhatanmu dibuku jelek ini. Aku sudah membaca semuanya!" Begitu tulisan yang ada di dalamnya.          

Sampai tulisan selanjutnya orang itu menyuruhku untuk bertemu di tempat yang dia janjikan, kalau tidak datang bisa dipastikan curhatan ku berada di surat kabar besok. Begitu isi pesan nya. Memangnya siapa nya dia? Mau menyebarkan curhatanku. Tidak, bukan itu yang penting. Isinya lah yang penting, curhatan ku di diary itu hanya tentang satu lelaki dari halaman pertama sampai halaman terakhir sebelum diary ku hilang, aku hanya membicarakan lelaki itu. Jika besok dia membaca nya disurat kabar, bisa gawat. Mau ditaruh dimana muka ku dan harga diriku.         

Dan saat inilah aku disini sedang menunggu orang itu. Entah lelaki atau perempuan yang penting aku sudah disini sesuai janji nya. Minuman datang, dengan cepat ku raih dan ku minum setelah sebelumnya aku aduk-aduk dahulu. Ah sungguh segar ketika cairan manis dan dingin itu melewati kerongkonganku. Biarlah, sesekali tidak ada salahnya aku minum ditempat mahal ini. Kafe dengan style anak muda kekinian ditambah interior bangunan yang dapat memanjakan mata cocok untuk berselfie ria. Belum lagi tempatnya yang strategis, jadi wajar saja kalau harga satu minuman ini setara dengan sembilan cup jus buah yang biasa ada dipinggir jalan.          

Oh iya, aku Lisa Ayudia usiaku duapuluh empat tahun. Saat ini aku bekerja sebuah salon kecantikan, memang gajinya tidak besar tapi minimal bisa memberiku makan dan membayar uang kontrakan tepat waktu. Orangtuaku? Ayah bekerja sebagai buruh, sedangkan ibuku berjualan gado-gado dirumah. Memang mereka melarangku untuk bekerja tapi aku sadar, tidak selamanya aku harus merepotkan mereka. Toh aku sudah lulus kuliah tahun kemarin, aku tidak ingin lagi membebani mereka. Jadi kuputuskan untuk mencari kerja di kota bermodalkan nekad sampai akhirnya aku menemukan pekerjaan di salon. Walaupun itu bukan tipe ku tapi aku bahagia disana. Bekerja dengan orang-orang baik dan ramah. Sampai akhirnya aku bisa menyesuaikan diri.          

Ah lama juga dia datang, sambil menunggu aku membuka kembali lembaran diary ku. Belum sempat aku baca karena tadi pagi bertepatan dengan diriku yang ingin berangkat kerja lalu dengan cepat aku mengurungkan niatku untuk ke salon dan memilih duduk disini. Awas saja jika nanti gaji ku dipotong, itu pasti gara-gara kamu tukang kepo diary sialan.          

Lembaran pertama.        

Enam tahun yang lalu.       

Dear Diary ...         

Hari ini gue ketemu sama cowok ganteng banget, tau gak? Ternyata dia satu sekolah sama gue. Kenapa setelah gue udah kelas tiga dan mau lulus dari sekolah ini, kenapa baru  sekarang ketemu nya? Telat banget gue liat rezeki wajah cowok ganteng. Sumpah dia ganteng banget tapi gue gak tau siapa namanya yang jelas seragam yang dia pake sama kayak seragam sekolah gue.         

Kulitnya putih banget kalo dipegang pasti mulus banget kayak kulit bayi. Rambutnya yang diponi kepinggir kayak oppa-oppa korea, tinggi pula. Gue aja tingginya 160cm masih harus mendongak ke atas untuk liat dia. Kira-kira tinggi cowok itu 180cm menurut gue. Kalau di ibaratkan dia kaya Siwon Super Junior.         

Gue ketemu sama dia gak sengaja sih, pas pulang sekolah gue lari terburu-buru pengen ke warung nyari minum. Haus banget habis pelajaran orlahraga, gak sengaja gue nabrak dia.          

"Aduuuh!" Gue yang nabrak kenapa gue yang jatuh. Dia masih berdiri dengan kokohnya liatin gue tanpa ada tanda-tanda mengulurkan tangannya untuk bantu gue berdiri. "Sorry-sorry, gue tadi gak liat. Buru-buru sih." Dengan cepat gue berdiri untuk melihat lebih jelas wajahnya.         

Oh my God, sumpah ganteng banget walaupun dia liatin gue tanpa senyum. Gue liatin baju seragam nya putih banget, bersih kayak baru beli dari toko. Gue lirik logo sekolahnya ternyata sama kayak gue. Tanpa membawa tas dipunggung nya dengan gaya tangan satu dimasukin ke dalam saku celana makin tambah cool aja. Gue terus menatapnya walaupun dia terlihat risih gue tatap. Bodo ah, yang penting gue nikmatin dulu wajah tampan bak malaikat itu di depan gue. Jarang-jarang kan gue bisa ketemu sama orang tampan mirip boyband Korea itu.         

Gue pengen tau namanya, plis ngomong. Tapi tak berapa lama yang gue dengar ada helaan napas panjang dari mulutnya mungkin dia pengen cepet-cepet pergi karena diliatin terus sama cewek kayak gue. Baju seragam yang sudah menguning, tas selendang yang sudah dimakan usia, sepatu bagian depan yang terlihat kelaparan menganga terus minta di lem. Rambut hanya di ikat satu dibagian tengah. Ah bener-bener 360 derajat kalau dibandingkan sama cowok tampan itu.       

Benar juga, dia langsung pergi ninggalin gue gitu aja yang masih terpesona dengan ketampanannya. Dengan cepat gue berbalik, "Lo satu sekolah sama gue?" Dia terus melangkah tanpa melihat gue. "Lo anak baru?" teriak gue namun cowok itu hanya semakin menjauh.        

Ok, gue masih penasaran dengannya. Anak baru? Atau anak lama yang baru gue tahu? Yang jelas dia satu sekolah sama gue, besok gue pengen tahu namanya dan harus tau siapa namanya cowok itu karena tadi gue perhatiin di baju seragamnya gue gak nemu papan nama dia di dadanya. Sayangkan ketemu orang ganteng di biarin begitu aja. Kalau gue beruntung, jadi pacar gue lah, hihihi.        

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status