DIOFANO
DIOFANO
Author: Nawujungid
Prolog - Kisahku

Langit sore mulai menggelap, itu terjadi karena sang senja nampak lelah dan mulai menyembunyikan diri dalam bumi. Sang rembulan yang tak sabar untuk menyapa, mulai memancarkan sinar indahnya untuk berganti tugas menerangi gelapnya pijak. Rembulan dengan bangga menyombongkan diri pada makhluk bumi betapa indahnya sinar yang dia miliki. 

Salah satu makhluk bumi yang menikmati keindahan dari sang rembulan adalah gadis manis yang sedang bersandar pada bahu ranjang miliknya, dia mencoba menenangkan diri dengan merenung untuk menyemangati dirinya sendiri. Sesekali di menengok ke arah jendela dimana sang rembulan terpampang nyata dari balik jendela kamar miliknya.

Tok tok 

Suara ketukan pintu terdengar dari balik pintu kamarnya. Namun gadis ini belum mengindahkan ketukan itu karena masih asik dengan dunianya. Merasa ketukannya tak diindahkan ia langsung menerbas masuk ke kamari adiknya, 

 “Dek, kamu ada didalamkan?.”

Mendengar suara kakaknya dari balik pintu kamar membuatnya terhenyak. Setelah ia tersadar diapun menyahut “Masuk aja bang.”

Akta yang baru saja masuk dalam kamar adiknya disambut dengan manisnya lengkungan bibir sang adik, seakan terhipnotis Akta terbawa dan ikut tersenyum. Dia rindu dengan senyum manis Anna, akhir-akhir ini senyuman itu hampir sirna karena tertelan dibelahan bumi lain. Kiasan itu terbesit olehnya karena Anna hampir tak menunjukkan senyum manisnya. Dan itu membuat Akta gila karena merindukan senyum adiknya. Padahal senyum manis Anna adalah candu untuk semua orang yang berada disekitarnya.

Akta membaur bersama adiknya diranjang yang sama. Akta memposisikan diri dengan duduk bersila berhadapan dengan adiknya yang sedang bersandar dibahu ranjang.

“Udah minum obat dek?” Anna hanya menggaguk saja menjawab pertanyaan Akta, "Abang baru pulang?” Anna bertanya sambil menunjukkan senyum manisnya. Akta senang melihatnya, ia rindu senyum itu. Senyum manis adiknya yang sudah lama hilang dari pandangan. Sampai tak sadar ia malah mengabaikan pertanyaan adiknya. Hingga membuat Anna menggoyangkan kepalanya ke kenan dan kiri untuk melihat wajah kakaknya yang berekspresi aneh baginya. Akta tidak berkutik dan masih asik dengan dunianya, dia masih diam tak mengindahkan pertanyaan dari Anna.

“Akta?” panggil Anna pada akhirrnya. Dia memanggil dengan suara yang cukup memekik telinga sang pemilik nama.

“Ehh panggil apa kamu?” koreksi Akta dalam sadarnya.

“Akta, kenapa?” Anna mengulang.

“Ajaran siapa itu? Aku kan abangmu. Berani sekali cuma panggil nama”

“Biarin ih! suruh siapa tadi matung. Ditanya baik – baik malah bengong senyum nggak jelas siapa yang nggak kesel. Satu lagi yang penting kita cuma beda sepuluh menit ya, saudara Abyakta Mahendra Faiz.”

“Yah meskipun cuma beda sepuluh menit aku lahir duluan daripada kamu, itu tandanya aku abangnya, kamu adiknya.” Akta membela diri tak terima jika Anna menganggapnya demikian.

Anna memutar bola matanya malas, berdebat dengan kakaknya memang tak ada habisnya. Tapi sekali lagi dia mengulang untuk menjahili kakaknya.

“Ta, Akta”

“Adek!” balas Akta menekankan kata adik sebagai jawaban panggilan Anna.

“Iya Abangku sayang”. 

Final, akhinya Anna menyelesaikan candaan pada kakaknya sebelum Akta benar -benar murka padanya. Dan akhirnya dia memanggil kakak kembarnya itu dengan panggilan seperti semula. Anna yang masih sedikit kesal dengan sikap kakaknya  membuatnya sedikit menekuk wajah ayunya. Akta yang melihat sikap adiknya itu merasa gemas sendiri ingin sekali dia mencubit bibir Anna. “Kenapa ditekuk gitu wajahnya hmm?.” Akta menanyai adiknya.

“Abang nyebelin.” Pungkas Anna mengeluarkan unek – unek hatinya untuk sang kakak tercinta.

Perdebatan antara Abang dan Adik kembar ini memang tak ada habisnya. Pasti akan banyak kejadian yang tak terduga.Tapi ini yang sang kakak rindukan, karena sudah beberapa bulan ini kejadian seperti ini hampir tidak terjadi, malahan tidak terjadi. Setelah kejadian hari itu, dimana Anna mendengar kabar yang mampu membuatnya terkejut dan lebih banyak diam, setelahnya.

Hening, suasana kembali hening. Anna terlihat kesal dengan kelakuan sang kakak. Akta yang melihat tingkah adiknya hanya gemas, dia pun berniat untuk menggoda adiknya untuk melihat respon Anna selanjtunya. Dan Akta yakin itu akan lebih menggemaskan.

“Woi! adik termanisnya Abang, jangan marah atuh.”

“Au ahh gelap” balasnya dengan kesal.

“Jangan marah dong, Abang senang aja lihat kamu gitu lagi. Abang kangen sama adiknya abang yang cerewet, penyebar kebahagian.” 

“Apasih bang! Kok malah ngardus” balas Anna merespon ucapan kakaknya yang menurut Anna berlebih.

“Tapi benarkan? yang Abang omongkan, adekk kan happy virusnya Abang.” 

“Jangan gombal terus ku udah kebal.”

“Abang nggak gombal sayang, abang serius!. Abang kangen banget.” Ujar Akta meyakinkan.

Anna menghela napas pasrah setelah mendegar semua ucapan kakaknya dan berubah sedikit melankolis. “Yaudah, aku minta maaf kalau selama ini banyak diamnya, kayak nggak peduli lagi sama hidup. Nggak bermaksud gitu sebenarnya, aku cuma takut aja bang” ucap Anna berusaha menyampaikan perasaannya selama ini.

Akta paham dengan apa yang dirasakan Anna, paham betul malah. Tapi Akta bingung bersikap. Saat ini yang bisa dia lakukan hanya menjadi sandaran untuk adik kembar kesayangannya.

Akta lega sekaligus senang dengan keadaan adiknya yang terlihat sedikit membuka diri seperti sedia kala. Tidak seperti hari-hari yang telah lalu, raut muram durja Anna yang setiap hari Akta saksikan. Sebenarnya Anna gadis yang ceria, sangat ceria malahan. Dia banyak bicara, tertawanya saja mampu membawa kebahagiaan untuk semua orang. Namun seketika hilang tertelan bumi karena suatu keadaan yang belum bisa Anna terima.

“Bang, aku mau cerita boleh?” Anna bicara pelan, dia bingung mau memulainya darimana.

Akta yang melihat adiknya berperilaku demikian malah mengundang tawanya. Ia  heran, sejak kapan adiknya itu merasa sungkan dengannya. “Ngomong aja, kenapa kamu hm? Biasanya juga langsung cerita. Segala pake malu-malu gitu, sok banget hahahah” tawa sang kakak terdengar nyaring dan menggelegar.

“Ishh Abang gitu deh” Anna merajuk dan sedikit kesal. Pipi Anna tiba – tiba  memerah,  seperti kepiting rebus yang baru saja ditiriskan dari didihan air. Anna malu ingin memulai. Padahal Anna hanya ingin bertanya yang akhir - akhir ini mengusik hati dan pikirannya.

Anna menarik nafas dalam sebelum mulai bercerita "jadi gini bang emmb..." ucapannya terpotong secara otomatis.

“Apa hmm?” sahut Akta yang  kini duduk mengahadap Anna siap mendengarkan dengan seksama.

Fuuuh

Lagi, Anna menghela napas entah sudah keberapa kalinya. “Abang pernah ngerasa punya penyemangat hidup nggak? kek Mood bosster gitu.”  Akhirnya terucap juga apa yang ingin disampaikan olehnya.

“Ada dong pasti, kamu, Bunda, sama Ayah mood bossternya Abang” Akta menjawab lantang sambil memamerkan senyum manisnya tanda meyakinkan.

“Bukan itu maksudnya aku, kalau itu mah udah pasti. Tapi maksud aku itu.” belum selesai berbicara Akta memotong omongan adiknya “Kamu ada orang yang disuka ya hayoo ngaku? Atau kamu lagi jatuh cinta?” Jawab Akta sok tau.

“Ihh ngawur nggak gitu maksudnya. Abang tau kan? Akhir-akhir ini aku lebih sering diam karena itu? Aku bukannya sedih apa gimana, cuma mikir aja aku bisa nggak melalui semua ini.” Anna mulai mencurahkan semua yang dia rasa.

“Abang tahu kan ini mendadak banget buat aku. Seharusnya aku udah menikmati masa – masa perkuliahan yang aku angan – angan selama ini. Ehh malah jadi kayak gini. Aku harus istirahat total, setiap hari minum obat, setiap sebulan sekali cek – up rutin sampai keadaan aku stabil nggak tahu sampai kapan. Dokter aja nggak ngejelasin detailnya kayak apa, dokter cuma bilang kalau itu penyakit bawaan bayi dan nggak bahaya. Kata dokter cuma perlu minum obat rutin sama cek – up buat cegah rasa sakitnya datang. Aku capek bang kayak gini terus, aku takut kalau nggak sang.... “ belum selesai berbicara Anna sudah berdaerai air mata dan sedikit sesunggukan karena tak sanggup menahan gejolak dihatinya.

“Duh udah udah dong jangan nangis, kan dokternya bilang  kamu nggak papa cuma perlu pongabatan rutin kan supaya kamu ngga ngerasa sakit hmm” Akta memeluk dan mengusap punggung Anna menenangkan.

“Tapi tetap aja Bang, aku takut. Kan katanya itu nggak bisa sembuh, minum obatnya cuma jadi pereda rasa sakit aja” Anna berbicara dalam tangisnya.

“Aku takut kalau belum sempat bahagiain Bunda, Ayah sama Abang tapi aku udah...”

“Hust ngomong apasih kamu? Kamu nggak apa – apa percaya sama abang. Allah nggak pernah menyusahkan hambanya dek, jadi udah ya  jangan buat Abang sedih. Kamu kayak gini tuh buat Abang sedih deh, suer! Kamu sama Abang itu punya ikatan batin yang kuat jadinya kalau kamu sedih Abang juga sedih. Abang tahu apa yang kamu rasain tap - ...”  tanpa sadar Akta juga ikut menjatuhkan air matanya. Akta ikut manangis karena dia merasa sesak dalam hatinya melihat adiknya. Dia tak sanggup sebenarnya, sungguh.

“Loh kok abang ikut nangis sih?” Anna mengucap sambil menyeka air matanya.

“Lagian kamu gitu, kan Abang jadi nggak tega. Tadi katanya mau cerita soal mood bossternya, kenapa malah nangis gini sih ahh kamu mah” Akta berbicara disela – sela tangisnya yang sedikit tergagap karena kebawa perasaan.

“Iya ini tadi aku udah cerita kan? Aku nyampein unek-unek aku dulu sama Abang”

“Ayok di lanjutin.” Titah Akta pada Anna untuk melajutkan kisahnya.

Anna mengangguk lalu melanjutkan bercerita kisah panjangnya, jika diibaratkan sinetron mungkin ini sudah episode ke seratus. Setelah seratus episode berlalu tibalah di konflik utama alias inti cerita yang ingin Anna sampaikan, yaitu “beberapa hari yang lalu aku lagi bosan tuh, udah diubun itu bosannya. Udah bosan sakit pula, gimana tuh rasanya? Nggak tahu lagi deh aku, bingung ngejelasinnya.”

Akta mengangguk dan menyimak dengan seksama cerita sang adik “terus?.”

“Waktu itu nggak sengaja mainkan radionya Ayah. Ehh aku pas nyari – nyari nggak sengaja kecantol salah satu siaran radio, Gama fm nama siaran radionya"

“Terus hubungannya apa sama mood bosster yang kamu tanyain tadi dek.” Akta yang mendengar Anna berbicara seperti itu jadi takut sendiri, apakah anak ini lagi bermasalah lagi otaknya?. Apalagi Anna belum kontrol lagi, pasti obatnya sudah habis makanya adiknya jadi eror seperti ini. Akta jadi takut sendiri. “Kamu mau ngomong apa sih sebenarnya, yang jelas atuh.” Ucap Akta dengan semburat khawatirnya.

“Makanya dengerin dulu dong, jangan dipotong kalau orang lagi ngomong.” Anna mendengus sebal, kemudian ia melanjutkan kisahnya. Ia menceritakan tentang bagaimana dia merasa senang dan tenang saat mendengarkan siaran radio tersebut. Anna bercerita jika DJ radionya selalu memiliki kata – kata  motivasi yang works it  banget buat dia. Pas banget buat situasi dia saat ini. Anna juga merasa suaranya itu adem banget apalagi pas segment akhir, waktu DJ radionya bersholawat atapun membaca ayat suci, tenang banget rasanya.

Mendengar penjelasan adiknya, Akta berpikir sungguh polos adiknya ini, klise sekali pikirnya, tapi tak apa. Asal Anna bahagia, Akta juga bahagia. Sampai akhirnya  muncul ide konyol dari Akta untuk menggoda adiknya. “Dari semuanya, yang Abang tangkep dari cerita kamu adalah kamu jatuh cinta sama DJ radio itu.” Jawab Akta to the point setelah mendengar curhatan adiknya.

“Bukan gitu maksud aku, Abang. Aku ngerasa aja pas dengerin siaran itu aku jadi mikir, ahh benar harusnya kayak gitu. Kenapa selama ini aku nggak sadar dan mikir sampai sana. Aku sadarnya pas DJ nya itu baca quotes yang menurut aku, kena banget”

"Apapun yang ada didirimu adalah milik-Nya. Rasa sakit, kesedihan, kebahagian apapun itu yang terjadi adalah bukti keagungan-Nya pada hambanya. Dia hanya menegurmu untuk selalu mengingatnya. Apapun itu sebagai seorang hamba harus senantiasa bersyukur. Karena dengan begitu kita bisa menemukan kunci untuk membuka pintu yang telah disediakan oleh-Nya, dimana jalan yang telah tersedia untuk hamba-Nya akan bisa dilewati jika kita bisa menjadi hamba-Nya yang percaya akan keputusan-Nya."

“Setelah dengerin kalimat itu aku sadar bang apapun yang terjadi udah keputusan Allah. Aku sebagai hambanya hanya bisa menerima dan menikmati, toh jika Allah yang memberi kesusahan pasti Allah akan kasih jalan dan penangkal buat hambanya kan?.”

 “Allah juga selalu ada untuk hambanya termasuk aku. Selama ini aku pikir kalau Allah nggak sayang  sama aku, makanya aku dikasih kayak gini. Tapi nyatanya salah, Allah sampaikan rasa sayangnya beda buat aku. Allah kasih aku anugerah melalui ini, meskipun dalam bentuk penyakit tapi tetap saja itu hadiah yang harus disyukuri.”

 “Karena apa? Karena semua itu salah satu jalan buat ngingetin aku untuk senantiasa kuat dan bersyukur dengan apa yang didapat didunia yang bersifat sementara ini.  Aku juga bersyukur banget ditempatkan disisi Bunda, Ayah, sama Abang orang-orang yang paling aku sayangi dan menyayangiku.” Anna menjelaskan apa yang ingin dia sampaikan.

“Padahal Bunda, Ayah sama Abang juga sedih lihat keadaan aku yang kayak ginikan?. Aku minta maaf kalau selama ini lebih mementingkan diri sendiri tanpa mikir perasaan kalian. Padahal kalian juga sedih lihat aku yang kayak gini, karena kalian sayang aku.” Anna berbicara sendu.

Akta yang mendengar perkataan Anna tersenyum dan lega karena adiknya mau terbuka dengan apa yang dia rasakan selama ini. Akta berterima kasih dan bersyukur dengan perubahan adiknya ini yang sudah legawa dengan apa yang dapatkan dari Allah SWT.

“Kamu masih dengerin segment yang ada DJ radio itu?” Akta bertanya.

“Tentu saja bang, karena secara nggak langsung dia udah jadi mood bosster – nya  aku. Adem banget hati kalau denger suaranya hahah” Anna ngomong sambil cekakak – cekikik tidak jelas.

“Haduh... Jangan – jangan kamu jatuh hati sama DJ radionya. Bahaya ini, belum lihat orangnya udah jatuh hati aja”.

“Ihhh bukan gitu bang, aku suka aja gitu sama suaranya adem.”

“Apapun itu, Abang senang karena bisa lihat adek ceria kembali. Nanti kita pergi jalan – jalan ya ajak Bunda sama Ayah sekalian. Ehh ngomong-ngomong siapa nama DJ nya?”.

“Diofano Alghiffary bang.”

Diofano Alghiffary nama yang familiar ditelinga Akta. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu disuatu tempat tapi entah dimana.

“Kayak pernah dengar” gumam Akta.

*** 

Cerita pertamaku di Goodnovel, semoga suka.

Terima sudah neluangkan waktu untuk membaca,

Salam cinta  - nawujung  

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status