Part3:Tendangan

Setelah pertemuan dengan Mr.Dimitri kemarin,kami tidak ada pertemuan lagi.

Hingga pada akhirnya hari ini kami bertemu kembali setelah seminggu tidak bertemu dan malam ini memaksa kami semua bertemu dengannya meski dari jauh dan tidak saling sapa karena kami menghadiri sebuah pesta ulang tahun dari rekan kerja Mr.Alex di sebuah hotel mewah dan terkenal.

Ini adalah pesta ulang tahun dan pestanya sangatlah meriah,ramai serta penuh dengan lampu,music dan tentu saja banyak orang.

Mr.Alex dengan ditemani Olivia segera memberi selamat kepada sang tuan rumah sedangkan aku dan Evan pergi mencari makanan karena kami memang tidak mengenal satupun orang di sini.

"Em...kue coklat ini enak."komentarku dan memakan kue coklat atau mungkin bisa disebut lava cake.

"Kalau aku paling suka red valvet ini karena ini sangat enak,coba kau rasakan."Evan memberiku satu suapan dan dengan senang hati aku menerimanya.

"Hem,ini enak.Ev,benar kamu di sini tidak mengenal siapapun?"aku menatap Evan yang terlihat asyik memakan kuenya dan dia terlihat menganggukan kepalanya.

"Sama sepertiku."jawabku  memberitahunya bahwa aku juga tidak mengenal siapapun di pesta ini.

"Tidak apa Al,aku temani."ucapnya dengan tertawa.

Tak lama terlihat Mr.Alex dan Olivia mendatangi kami lalu datanglah orang yang tidak diharapkan oleh Mr.Alex yang tak lain dan bukan Stela Ananta seorang wanita yang dari beberapa hari lalu selalu menghubungi Mr.Alex tapi juga selalu dihiraukan.

"Alex,aku rindu kamu."ucapnya manja dan langsung memeluk Mr.Alex dari belakang.

Uh...wanita ini memalukan padahal dia sudah tahu Mr.Alex tidak menyukainya bahkan dengan terang-terangan Mr.Alex menyingkirkan tangannya yang memeluk tubuhnya.

"Kau kenapa,selama ini selalu menghindariku dan tidak pernah menjawab satupun telephonku ataupun membalas pesanku?" tanya Mrs.Stella dengan gemas.

"Karena aku tidak ingin berhubungan denganmu cari orang lain sana.Bila perlu dekati saja Dimitri itu,dia lebih kaya dan hot dariku."jawab Mr.Alex cepat dan menunjuk Mr.Dimitri yang minum dengan ditemani oleh banyak wanita.

Mata wanita itu terlihat berbinar dan segera pergi meninggalkan Mr.Alex lalu menghampiri Mr.Dimitri dan Mr.Alex dia tersenyum senang serta melambaikan tangannya seperti mengucapkan selamat tinggal pada pengganggu.

Jarum jam berjalan sangatlah lambat,pesta semakin meriah dan gila sedangkan aku sungguh sangatlah bosan dan mengantuk ingin pulang ke rumah tapi Mr.Alex tidak memperbolehkan dan harus menunggu hingga pesta usai.

Karena ini adalah pesta rekan kerjanya yang sangat baik dan sudah menjalin hubungan lama dengan perusahaan Mr.Alex jadi Mr.Alex ingin menjadi sosok yang menghargai dan penuh cinta untuk temannya.

Mr.Alex sangat menikmati pesta dengan beberapa temannya lalu tak lama Olivia pamit pergi padaku ke toilet dan aku mengangguk mengerti.

Tak lama tanpa sengaja mataku menangkap Mr.Dimitri yang meninggalkan para wanitanya dan keluar dari ballroom hotel,entah kenapa perasaanku berubah menjadi tidak tenang dan langsung mengingat Olivia.

Aku pun akhirnya meninggalkan kursiku dan pergi menyusul Olivia.

Benar saja aku melihat tangan Olivia yang ditarik paksa menuju lift dan aku dengan cepat menyusulnya tapi sial mereka berdua terlebih dulu naik lift tak hilang akal,aku langsung menuju tangga darurat dengan berlari menuju lantai yang mereka tuju.

Dan ini benar-benar seperti olahraga membakar lemakku,nafasku hampir putus-putus tapi aku tidak menyerah hingga akhirnya aku sampai di lantai yang mereka tuju yaitu lantai enam.

Yang benar saja aku melihat Olivia yang dikungkung dalam tubuhnya dan dicium begitu paksa,Olivia sudah memberontak tapi tenaganya tak seberapa kuat melawan Mr.Dimitri.

Benar apa yang dikatakan Mr.Alex benar,dia memang bajingan ulung dengan penuh tekad dan ambisi.Aku berlari kencang lalu menendang pinggangnya hingga dia terjatuh dan melepaskan Olivia,beruntung hari ini aku menggunakan celana jins.

"Apa yang kau lakukan?"dia terlihat marah padaku dan berusaha bangkit dari jatuhnya.

"Tentu saja menendangmu,dasar kurang ajar apa yang kau lakukan pada Olivia?"tanyaku dengan marah sedangkan Olivia dia terlihat syok dan bersembunyi di belakangku.

"Bukan urusanmu dia malam ini harus menjadi milikku."ucapnya angkuh yang tidak peduli pada ucapanku dan masih terlihat marah.

"Dan aku juga tidak peduli denganmu,aku hanya ingin melindungi temanku dan lihat wajahnya bagaimana dia menolakmu seharusnya kau sadar akan hal itu dan ingat satu hal tidak semua hal dapat kau wujudkan dan kau miliki."Aku berteriak didepan wajahnya dengan marah dan tersulut emosi.

"Kau tahu kau salah memilih lawan."ucapnya masih dengan nada marah dan pergi dari hadapan kami berdua.

Tak lama Mr.Alex dan Evan datang ke lantai enam,Mr.Alex langsung memeluk Olivia dan tadi aku sempat menghubungi Mr.Alex dan Evan untuk datang dan memberi tahu sebenarnya.

"Kau tidak apa Al?"tanya Evan menatapku dan aku mengangguk.

"Dasar brengsek Dimitri sudah aku larang jangan mengganggu milikku dia masih nekat.Aku akan memberinya perhitungan."Mr.Alex terlihat sangat marah setelah dia melepaskan pelukannya pada Olivia.

"Jangan Mr.Alex,lindungi saja Alina.Mr.Dimitri tadi terlihat sangat marah dengan Alina."ucap Olivia dengan menangis pelan karena syok.

"Apa yang dilakukan Alina dan kemana Dimitri pergi?"tanya Mr.Alex penasaran dan menatapku.

"Em...sebelumnya aku minta maaf karena tadi aku menendang pinggangnya sampai Mr.Dimitri terjatuh lalu dia marah,beradu mulut denganku dan tak lama dia pergi."jawabku jujur dan santai.

"Kau sungguh melakukannya?" tanya Mr.Alex dengan terkejut.

Aku mengangguk."Jika Mr.Alex tidak percaya Mr.Alex boleh bertanya pada Olivia."

Olivia berbicara dan membicarakan semua yang terjadi dan tak lama Mr.Alex terlihat tertawa tiba-tiba serta menatapku takjub.

"Kau keren,gajimu akan kunaikkan.Ayo kita pulang dan aku besok akan mengunjunginya."dia terlihat tersenyum senang dan membuatku,Olivia serta Evan bingung.

Kerena seharusnya dia marah atau khawatir karena temannya aku tendang sampai terjatuh bukannya tertawa seperti orang gila.

Dimitri.

Diposisi Dimitri dia terlihat memikirkan asisten baru temannya.

Dia adalah wanita aneh menurutku meski begitu aku tahu dia mengagumiku bukan karena terlalu percaya diri tapi aku bisa melihatnya dari tatapan matanya yang memujaku.

Aku juga baru tahu jika Alex itu memiliki asisten tambahan tapi kenapa dia memilih wanita itu jelas-jelas saja tidak pantas jika berjalan dengannya,dengan Evan dan juga Olivia.Dasar Alex aneh!

Meski dia mengagumiku dia sama sekali terlihat tidak tertarik padaku ataupun ingin menggodaku yang seperti wanita di luar sana lakukan bahkan dia lebih terlihat patuh pada Alex dan dia dengan terang-terangan berani menyindirku.

Setelah itu aku tidak bertemu dengannya lagi dan hari ini,malam ini saat aku ingin menarik Olivia untuk kujadikan milikku,dia tiba-tiba saja datang dan menendang pinggangku sangat keras bahkan sanggup membuatku terjatuh.

Memang tidak begitu sakit tapi aku merasa seperti harga diriku turun di matanya,karena kenapa aku begitu saja mudah dijatuhkan?

Sial!!

Aku pasti akan membalas perbuatannya dan saat ini aku mengobati pinggangku dengan salep,aku takut pinggangku memar.

"Auh...sialan,ternyata sakit."gerutuku saat mengobati lukaku dan tak lama bel apartemenku berbunyi nyaring.

"Siapa yang datang pagi-pagi buta seperti ini?"gumanku kesal dan melangkah membukakan pintu untuknya.

Saat pintu terbuka di sana terlihat Alex yang memperlihatkan wajahnya dengan tersenyum menghina yang ditunjukkan padaku.

"Ada apa kau ke sini?"tanyaku dengan nada datar dan dinginku karena aku sedang kesal saat ini.

Dia memperlihatkan sekeranjang buah di depanku."Aku menjengukmu,aku pikir kau sedang sakit sekarang."

Wajah menghina dan senyum remeh seakan ingin membuatku mematahkan lehernya sekarang juga jika aku tidak ingat dia adalah teman baikku.

"Masuklah."aku mempersilahkannya masuk ke dalam apartemenku.

Dia dengan santai duduk di sofaku dan menaruh keranjang buah itu di meja lalu tak lama dia melemparkan sekaleng bir padaku yang dia bawa juga.

"Kenapa kau memberiku sekaleng bir?"tanyaku dan membuka kaleng bir itu untuk kuminum.

"Untuk mengobatimu,bagaimana tendangan asistenku? Andaikan saja Alina tidak menendangmu aku pastikan hari ini tinjuku yang akan melayang di wajah tampanmu."dia terlihat serius mengatakannya dan aku hanya memutar bola mataku malas.

"Aku sudah bilang Dimitri,jangan ganggu orang-orang yang berada dekat denganku."lanjutnya lagi.

Aku dan Alex adalah sahabat sedari kecil memang kami suka berlomba dalam bidang apapun,suka bertengkar tapi pada akhirnya kami selalu bersama dan menjadi teman tidak pernah satupun dari kami yang menjadi musuh.

"Sudah puas kau bicara dan tertawa menghina seperti itu,sialan asistenmu itu."omelku tapi dia hanya terlihat tertawa.

"Belum,aku juga ingin bilang setelah kejadian ini jangan sedikitpun kau mengancam Alina atau mengganggu Olivia jika tidak aku sendiri yang akan turun tangan."ucap Alex terlihat masih serius.

"Iya,iya aku tidak akan menggangu orangmu meski aku ingin sekali membalas perbuatan wanita itu."ucapku dengan nada kesal membayangkan wajah asistennya dan menatap Alex malas.

"Yakin? Kau ingin membalasnya asalkan kau tahu Alina itu tidak bisa ditebak dan beruntung dia hanya menendang pinggangmu dan bukan aset masa depanmu."Alex mengatakannya dengan tertawa keras.

"Sialan kau,darimana kau mendapatkan asisten seperti dia tidak ada cantiknya tidak menarik ataupun menawan bahkan dia terlihat tidak pantas berjalan bersamamu?"tanyaku dengan penasaran dan sedikit kesal.

"Kau tahu kenapa aku memilih Alina untuk menjadi asistenku?" tanyanya balik padaku dan aku hanya diam menunggunya berbicara.

"Karena Alina adalah wanita baik,jujur dan polos aku tidak peduli dia pantas atau tidak semua itu tergantung darimana orang melihatnya.Dan kurasa dia tidak mungkin akan menjadi wanita yang menggodaku saat bekerja.Lagipula dia adalah asisten yang penurut padaku dan saat itu juga,aku sedang membutuhkan asisten tambahan."jawab Alex dengan senyum tipisnya,sungguh sangat karakter Alex yang begitu dengan mudah mengetahui orang baik.

"Dan satu lagi jika kau bertemu dengannya pasti dia akan segera meminta maaf padamu.Aku beritahu satu hal lagi,dia adalah wanita yang berbeda."lanjutnya lagi dan setelah itu Alex pamit untuk pergi.

Entah mengapa saat Alex membicarakan tentang Alina tiba-tiba saja jiwa dalam diriku begitu penasaran dengan sosok Alina sang asisten baru Alex itu.

Tbc

Maafkan typo dan lainnya.

Selasa,070819

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status