Part7:Kecelakaan.

Saat aku tiba di samping Mr.Alex,dia terlihat memperhatikan model wanita lain yang sekarang sedang difoto.

Pemoteretan kali ini menggunakan dua model pria dan tiga model wanita.

"Kau tidak jadi memberikan kopi pesananya?"tanya Mr.Alex menatap dua kopi cappucino yang masih aku bawa.

"Nanti saja jika dia keluar dari dunianya aku tidak mau mengganggu acaranya yang memadu kasih."ucapku datar dan semakin kesal saat mengingatnya yang hanya menatapku biasa saja tanpa rasa malu dia justru terlihat begitu menikmatinya acara.

"Maksudmu?"tanya Mr.Alex bingung.

"Ya memadu kasih Mr.Alex pasti mengerti maksudku dan mengenal kebiasaan Mr.Dimitri."jelasku dan seketika itu juga dia tertawa kecil.

"Di mana si Angel,habis ini dia harus melakukan pengambilan gambar terakhir?"tanya sang penata rias dengan kebingungan karena salah satu modelnya menghilang.

Tentu saja menghilang karena dia sedang berada di sangkar emas bersama sang pangeran dan memadu kasih berdua.

"Dasar Dimitri."umpat Mr.Alex yang menyadari ucapanku.

"Apa kau sudah melihatnya?"tanya Mr.Alex dengan senyum menggodanya.

"Tentu saja bahkan saat melihatku dia malah tidak peduli dan melanjutkan aktivitasnya dengan begitu nikmat,itu terlihat menjijikan dan mataku yang suci telah ternodai."jawabku panjang dan kesal karena harus melihat hal itu.

"Bagaimana bisa kau melihat hal itu?"tanya Mr.Alex dengan tertawa.

"Itu kesalahanku Mr.Alex karena tidak mengetuk pintunya terlebih dulu karena pintu itu terbuka dan aku menduga mungkin dia ada di sana tapi sayangnya aku malah disuguhi film live action yang sangat langka seharusnya Mr.Alex melihatnya."ceritaku panjang dengan dramatis.

"Melihat film live action apa?"tanya Olivia penasaran saat mendengar pembicaraanku dengan Mr.Alex sedangkan Mr.Alex sendiri tertawa kecil.

"Kau sial hari ini Al,matamu sudah tidak suci lagi."goda Evan mengejekku yang sedari tadi dia sudah mendengar ceritaku.

"Ada yang bisa menjelaskan,apa maksud Alina padaku?"tanya Olivia yang masih belum paham dengan maksud ucapanku mengenai Mr.Dimitri.

Lalu Evan membisikinya dan seketika itu juga membuat wajahnya memerah seperti tomat.

"Benar Al?"tanyanya tidak percaya dan aku menganggukkan kepalaku pelan menjawabnya.

"Dia memang gila."komentar Olivia.

"Itulah Dimitri."Mr.Alex menambahinya.

Tak lama aku merasakan pelukan tangan di bahuku saat aku melihat siapa pelakunya dan ternyata Mr.Dimitri,dia sempat membisikkan sebuah kalimat."Kenapa kau pergi? Seharusnya kau ikut bergabung bersamaku dan dia."

Ucapnya menunjuk seorang model wanita itu yang tadi bersamanya dan sekarang sedang melakukan pengambilan gambar.

Secepat kilat aku menyingkirkan tangannya dari pundakku dan menjauh beberapa langkah darinya,aku melihat Mr.Alex sibuk dengan Olivia membahas masalah kantor lalu Evan dia sibuk berkenalan dengan beberapa model.

Tidak ada yang mau membantuku lepas dari pria tampan dan seksi serta brengsek ini.

"Jika Mr ingin melakukannya ingatlah untuk menutup dan mengunci pintunya dengan benar.Untung aku yang masuk jika orang lain dan ingin bergabung dengan apa yang kau lakukan,bagaimana?"

"Ya sudah aku ajak saja sekalian,aku suka melakukan theresome."jawabnya dengan muka mesum."Aku belum sempat menutup pintunya karena dia terlalu agresif dan menyuruhku untuk segera memuaskannya."

Aku bergidik ngeri menatapnya ternyata dia memang orang yang gila akan seks dan aku tahu maksudnya tentang theresome.

Dia tertawa keras saat melihatku menatapnya ngeri lalu dia memajukan langkahnya dan berbisik tepat di telingaku seperti tadi."Tapi sayangnya aku hanya bercanda Dimitri tidak suka berbagi wanita."

Aku mendorong tubuhnya menjauh dari tubuhku,sungguh dia adalah orang yang berbahaya dan mengancam diriku meski aku bukanlah kriteria wanita ranjangnya,tapi tetap saja tubuhku seorang wanita sama seperti para wanitanya yang dapat dia masuki dengan begitu mudah,bagaimana jika dia lepas kendali dan ingin meniduriku juga?

"Terserah anda,em....ini kopi pesanan Mr.Dimitri."aku memberikan kopi pesanannya dengan cepat dan mengalihkan pembicaraannya agar tidak berlanjut terlalu jauh.

Akhirnya dia diam dan meminum kopinya tapi saat aku akan pergi menjauh darinya.Dia menyodorkan satu gelas kopinya padaku."Untukmu."

Aku segera mengambilnya lalu pergi dari hadapannya dan duduk di samping Evan.

"Kenapa Al,kau takut dengan Mr.Dimitri?"tanya Evan dengan tertawa.

"Tentu saja dia menakutkan seperti yang diucapkan Mr.Alex."jawabku dengan bergidik ketakutan dia memang bukan hantu tapi dia penjahat kelamin.

Setelah itu pemoteretan benar-benar telah berakhir semua orang yang bertugas mengatakan terima kasih dan itu waktunya untuk kami semua akhirnya keluar dari gedung.

Aku,Mr.Alex dan Olivia menunggu Evan membawa mobil yang di parkir sedikit jauh dari gedung tua ini karena parkirnya memang jauh untuk mengantarkan kami pulang.

Mr.Dimitri juga melakukan hal yang sama tak lama mobil jemputannya yang dikendari asistennya sudah datang berada di depan cafe lalu jauh di belakang disusul mobil Evan.

Saat dia akan menyebrang untuk masuk ke dalam mobilnya aku melihat dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang seperti ingin menabraknya.

Aku yang reflek segera berlari ke arahnya dan mendorongnya keras hingga akhirnya membuat tubuh kami berdua jatuh mencium aspal jalanan.

Tangan kananku rasanya sakit mungkin karena terlalu keras jatuhnya membuat tanganku mungkin sedikit lecet.

Mr.Dimitri dia terlihat terkejut lalu menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan mungkin seperti khawatir atau...entahlah aku tidak tahu.

"Alina!"

"Dimitri!"

Teriakan terkejut juga terdengar dari Olivia dan Mr.Alex serta beberapa orang yang melihat kejadian itu.

Saat mendengar teriakan banyak orang aku bangkit dari jatuhku dan membantunya bangun.

"Dasar orang itu gila,kenapa mengendari mobil seperti orang kesetanan,bagaimana jika tadi dia menabrak orang lain hingga tewas?"gerutuku menatap mobil yang melaju kencang itu yang sudah tidak terlihat dipandanganku.

"Kak Dimi,baik-baik saja?"tanya asisten Mr.Dimitri pria yang waktu lalu berada di proyek dan memandang semuanya dengan datar tapi kali ini dia terlihat sangat khawatir dengan Mr.Dimitri.

Tapi Mr.Dimitri terlihat diam saja dengan menatapku tapi sebisa mungkin aku mengabaikannya karena aku yakin dia tidak mungkin memperhatikanku dan khawatir dengan keadaanku.

"Kau tidak apa Alina?"tanya Olivia khawatir dan mengalihkan perhatianku.

"Aku baik-baik saja dan Mr.Dimitri apa kau baik?"tanyaku padanya yang hanya memperlihatkan wajah datarnya."Maaf tadi aku mendorongmu."

Evan datang dan bertanya apa yang telah terjadi."Ada orang yang menyetir dengan mengebut dan hampir menabrak Mr.Dimitri."jawabku.

"Kau yakin tidak apa Alina,perlu ke dokter?"tanya Mr.Alex yang juga terlihat khawatir padaku.

"Iya Mr.Alex,Olivia dan Evan aku baik-baik saja.Aku tidak ap...."ucapanku terputus saat aku menerima telphon dari adikku.

"...."

"Hampir terjadi kecelakaan tadi,kau menjemput kakak?"tanyaku terkejut karena adikku menjemputku.Dia memang tahu lokasiku karena tadi pagi dia sempat bertanya dan aku memberitahunya.

"...."

"Benarkah kau di mana? Aku tidak melihatmu."aku bertanya dan mataku melihat sekeliling lalu menemukan adikku yang membawa sepeda motor maticnya.

Aku melambaikan tangan agar dia tahu di mana aku berada dan aku menyuruhnya memutar.

"Baiklah kakak tunggu."putus sambungan telephonku.

"Mr.Alex,Olivia dan Evan aku pulang dulu ya Revan sudah menjemputku,itu lihat di sana bolehkan?"izinku lalu Mr.Alex memperbolehkanku.

Tak lama adikku sampai di depan kami dengan masih berpakaian seragam."Kau dari mana saja tadi?"tanyaku saat melihatnya masih memakai baju seragam sekolah padahal hari sudah malam.

"Tadi aku belajar kelompok kak,hallo kak."jawabnya dan menyapa Mr.Alex,Olivia dan Evan.

"Kau Revan?"tanya Olivia yang terkejut lalu Revan menganggukkan kepalanya."Kau memang tampan seperti yang diceritakan oleh Alina."lanjutnya dan membuat adikku malu.

"Tidak kak,aku biasa saja." jawabnya dengan rendah hati.

"Tapi apa yang diucapkan kak Olivia benar kau tampan jika ada waktu ikutlah kakakmu ke lokasi pemoteretan lalu aku akan mengenalkanmu pada fotografer agar kau bisa menjadi model."ucap Mr.Alex membuka suara.

"Memangnya aku pantas kak? Wajahku biasa saja."tanya Revan yang tidak percaya diri.

"Tentu saja kau tampan."jawab Mr.Alex dengan tersenyum tipis.

"Terima kasih untuk tawarannya,tapi aku ingin fokus ke sekolah dulu."tolak adikku halus dengan senyum tipisnya.

Lalu aku izin untuk pulang terlebih dulu dengan adikku."Baiklah Mr.Alex,Olivia dan Evan aku pergi dulu dahh...."ucapku dan naik ke sepeda motor adikku.

Mereka melambaikan tangan ke arahku sedangkan Mr.Dimitri tetap terdiam dengan ekpresi wajah yang sangat sulit untuk kubaca dan aku benar-benar pergi meninggalkan mereka semua.

Di pagi harinya,aku kembali bekerja seperti biasanya meski aku merasakan sedikit nyeri di bagian tangan kananku.

Kemarin memang benar lecet dan mengeluarkan darah tapi dengan cepat aku membersihkannya dan mengobatinya tapi entah kenapa tanganku masih terasa sakit.

Dari pagi hingga menjelang sore pekerjaanku belum juga selesai,tanganku juga masih terasa nyeri.Aku berharap tanganku tidak apa-apa dan tidak terluka parah karena kupikir kemarin hanya jatuh biasa.

Aku benar-benar tidak bisa beristirahat lama karena pekerjaan kantor Mr.Alex begitu menumpuk dan membuatku ke sana kemari mengambil serta mengantarkan berkasnya juga dibantu dengan Evan dan membantunya memilah serta menyalin berkas yang dibutuhkan.

Sebenarnya biasanya Mr.Alex tidak sesibuk ini tapi karena dia akan melakukan pemoteretan di sebuah resort mewah dan membutuhkan waktu beberapa hari,dia dengan terpaksa harus menyelesaikan semua pekerjaanya lebih awal.

Kami berempat benar-benar sibuk dan beruntung Mr.Dimitri tidak muncul serta mengganggu pekerjaan kami.Apa dia terluka ya,karena kejadian kemarin?

Aku sejujurnya juga khawatir dengan dirinya yang terluka atau tidak meski aku tahu dia adalah pria brengsek yang sebenarnya tidak perlu aku khawatirkan tapi perasaanku mengatakan yang berbeda.

TbC

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status