Human sacrifice
Human sacrifice
Author: SIM
1. Balapan.

“Lo harus menang!”

Jalan raya yang sepi dari pengendara lain menjadi saksi bisu di tengah malam ini. Tepat pukul dua belas malam, wilayah ini memang selalu sepi dari pengendara umum.

Gelap gulita.

Mungkin karena kurangnya lampu penerangan dan suasana yang agak suram membuat beberapa orang tidak mau untuk lewat jalan ini. Lagipula tempat ini bukan jalan utama. Hanya penerangan dari lampu motor yang bisa diandalkan. Maka dari itu jalanan ini sering digunakan untuk ajang balapan liar oleh muda-mudi ketika tengah malam tiba.

Laju dan waktu. Dalam benaknya Adan tengah bernegosiasi. Batinnya tengah mewanti-wanti supaya ia tidak kalah dalam balapan ini. Dia harus menang. Pokoknya harus! Dia harus memberi pelajaran kepada tiga penantang yang sok jagoan tadi. Juga ia tidak mau gelar sebagai sang juara harus tercoreng malam ini.

Adan menambah kecepatan motor sport-nya. Kosentrasinya ia fokuskan pada rute jalan raya. Matanya menatap tajam kedepan dan hampir tidak berkedip sama sekali. Cahaya dari lampu motor menyoroti pepohonan di sepanjang jalan yang dilaluinya. Membuat otaknya mendeteksi rute-rute maupun rintangan yang akan dilalui selanjutnya. Setiap pembalap harus mengetahui rute yang akan mereka lalui. Tangan dan kakinya selalu siap siaga, berjaga-jaga di pedal rem dan kopling apabila mendadak diperlukan.

Adan merasa tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali.

Butuh tiga kali putaran untuk mencapai garis finis. Suara mesin dari motornya, juga suara angin yang bertiup kencang malam ini cukup memacu adrenalin. Dari kejahuan samar-samar terdengar teriakkan beberpa kawan yang memberi dukungan yang semakin membuatnya terbakar semangat untuk menambah kecepantan.

Udara malam ini yang sebenarnya sangat dingin malah terasa panas. Peluh menetes di pelipisnya. Bandannya terasa lengket. Mungkin itu akibat dari jaket kulitnya yang sudah sangat berembun atau rasa was-was karena memburu garis finis.

Tiga si penantang balapan tadi masih belum nampak di belakang.

Tinggal satu kali putaran. Adan sudah dapat memprediksi bahwa ia akan menang ketika tahu rivalnya masih tertinggal jauh di belakang. Dan salah satu dari mereka mulai terlihat. Dalam hati Adan masih berharap-harap cemas untuk kemenangannya.

“Sial, aku tidak boleh kalah!” ujarnya memperingati diri sendiri.

Rute di depanya ada belokan yang lumayan mengganggu. Adan mengurangi kecepatan. Berbelok. Namun sesuatu hal aneh yang tidak masuk akal membuat tubuhnya tiba-tiba panas dingin, lemas, dan itu sangat mengganggu kosentrasinya.

Seperti seorang perempuan yang tengah menatap kearahnya dengan mata merah menyala yang kosong. Juga cahaya-cahaya yang tidak terlalu terang bewarna merah menyelimuti tubuh sesosok itu. Tiba-tiba tubuhnya terasa kaku, bagai terikat tali transparan. Adan sama sekali tidak bisa bergerak.

Sial.

Adan lepas kendali. Di depan ada pohon beringin raksasa. Tapi dia tidak bisa menggunakan remnya.

Terlambat.

Adan semakin melaju dengan motornya.

Brakkkk…..

Dan semuanya gelap........ 

“ADANNNN…..”

***

Alwi menarik kursi disamping Adan. Dia meneliti semua luka dari ujung kaki sampai kepala sahabatnya itu. Adan terlihat memprihatinkan. Kaki kanannya patah. Tangannya terdapat banyak bekas parutan aspal yang belum mengering. Beberapa bagian tubuhnya penuh dengan lebam. Dan yang paling parah terdapat pada wajah Adan yang tidak seperti dulu lagi. Wajah Adan yang sekarang hampir berubah total. Dalam hati Alwi bertanya-tanya apakah ini memang benar sahabatnya?

Beberapa waktu lalu dokter memperlihatkan hasil rontgen tulang tengkorak Adan yang mengalami retakan cukup parah. Bagian hidunya bergeser kedalam. Sekarang wajah temannya itu tampak tidak simetris. Miring. Lebam. Sangat aneh, dan lucu?

“Lo kagak ada kepikiran buat ngabarin Laras atau gimana?” tanya Alwi.

“Memangnya Laras nggak dikasih tau?”

“Kagak ada yang berani.”

“Yaudah, jangan dikasih tau.”

“Anak-anak udah pada diintrogasi sama si Laras, tapi kagak ada yang berani ngomong. Mereka Cuma bilang kagak tau,” seru Alwi. Lelaki kurus itu mengingat-ngingat kapan terakhir Laras yang terus-terusan menerornya untuk menanyakan keberadaan Adan. Dua sahabatnya yang lain, termasuk satu geng dengan Adan juga menjadi sasaran introgasi oleh perempuan yang sedang mencemaskan kekasihnya itu. Cukup sial bagi Alwi karena di antara ketiganya, Alwi-lah yang paling dekat dengan Adan.

“Kalau Laras sampe tau alasan gue kayak gini, pasti dia bakal ngamuk.” Adan melirik kaki kananya dengan tatapan kosong. Teringat pada kejadian suatu pagi sebelum kecelakaan, Laras sudah mewanti-wanti padanya untuk tidak ikut balapan. Ketika ia malah menantang dengan bertanya apa yang akan terjadi kalau dia tetap ikut balapan? Laras hanya menjawab ia akan celaka.

Huh, lagi-lagi prediksi yang tidak jelas asal muasalnya. Memang, Laras mengaku ia memiliki kelebihan dalam penglihatan, alias indra keenam. Tapi justru kelebihan itulah yang membuat Adan sebal, pasalnya semua hal selalu saja disangkut pautkan dengan hal mistik.

“Ya jelas lah dia bakal marah. Lo kagak kasian apa, udah seminggu dia nyari-nyariin lo. Taulah cewek kalau kagak dapet kabar sehari aja frustasinya kayak gimana,” seru Alwi.

“Biarin aja. Biar nanti dia tau sendiri.”

“Kagak enak lo rasanya digituin.”

Drttt…. Drttt….. Drttt….

Alwi melotot terkejut melihat panggilan masuk di ponselnya. “Laras nih. Gimana nih?” Alwi memperlihatkan layar ponselnya pada Adan. Adan memberi kode supaya Alwi mengangkat telpon tersebut. Alwi mengangguk, “hallo… Laras, ada apa?” sapa Alwi setenang mungkin.

“Adan ada sama kamu kan?”

“Hah…..,” Alwi melirik Adan memberi tahu kalau Laras sudah tahu, tapi Adan tetap menyuruh supaya Alwi pura-pura tidak tahu, “kagak ada kok, Ras,” ujar Alwi.

“Aku lagi di rumah sakit. Orang tua Adan sendiri yang ngasih tahu. Kamu jangan bohong.”

Tuuttt….

Sambungan telepon putus.

Alwi menatap Adan putus asa. Dia tidak mau ikut campur ke dalam masalah yang dibuat sahabatnya itu. 

“Dan, gue pulang dulu ya. Gue kagak enak sama Laras,” ujarnya memelas.

“Udahlah, biarin aja. Palingan marahnya cuma sebentar,” Adan tetap santai. Sebenarnya ia juga was-was dengan sikap Laras nanti. 

“Tapi firasat gue kagak enak nih.”

“Plis, temenin gue lah,” bujuk Adan.

Belum sempat Alwi pergi. Laras sudah lebih dulu masuk dengan wajah datarnya.

Kedatangan Laras yang tiba-tiba membuat atmosfer mencekam. Tidak ada yang berani bersuara. Termasuk Adan yang sedari tadi terlihat santai kini dia ikutan tegang seperti Alwi.

“Kenapa kamu nggak ngabarin aku kalau kamu lagi dirawat di rumah sakit?” tanya Laras to the poin.

“Aku nggak mau kamu khawatir. ”

Laras menggeleng cepat. 

“Aku nggak khawatir sama kamu,” seru Laras geram.

Alwi yang sadar suasana sedang tidak kondusif mencoba meberanikan diri untuk menengahi. “Eh, Ras. Sebenernya Adan koma selama empat hari, dan kagak ada yang berani ngabarin kamu. Maaf, Ras.”

Laras berusaha memahami maksud Alwi. Lelaki kurus itu tidak sepenuhnya salah. Dia hanya ingin membela sahabatnya. Juga tidak ingin membuat Laras khawatir maupun sedih. Tapi Laras malah menangkap ada maksud lain.

“Kamu balapan lagi?” Laras kembali mengarahkan tatapan matanya kearah Adan. Lelaki itu menunduk.

“Iya.”

Laras memejamkan mata. Menahan emosi yang bergejolak. “Ternyata… omongan kamu nggak bisa dipegang ya?” nafasnya berembus pelan. Laras berbalik keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata. Laras kecewa pada Adan. Adan yang selalu seenaknya sendiri.

Tbc..... 

DMCA.com Protection Status