Share

Nathan & Veera (INDONESIA)
Nathan & Veera (INDONESIA)
Author: SIM

1. Kampus.

Bukan rahasia umum lagi kalau Veera sangat membenci dosen muda itu. Alasannya apa? Entahlah. Tak ada yang tahu, dan mereka tentu tak mau tahu.

Nathan adalah salah satu dosen terfavorit mahasiswi di sini. Dia masih muda dan cerdas. Keluarganya pemilik Universitas Andalas ini, di tempat itu juga Veera melanjutkan study S1-nya sekarang.

Pagi ini Veera melangkahkan kakinya dengan malas mengekor Nathan. Mungkin lebih tepatnya dia menyeret kakinya hingga menimbulkan bunyi agak mengganggu.

Srekkk!

Ah, orang ini lagi! batin Veera jengkel menatap benci pria di depannya.

Entah masih bisa dibilang terlambat atau tidak, yang jelas Veera tidak pernah datang tepat waktu semenjak beberapa bulan yang lalu. Ketika Nathan menjabat sebagai salah satu dosen di kampus ini. Veera selalu menghadiri kelas dengan seenaknya, tanpa mengikuti jadwal atau aturan yang berlaku. Masuk kelas jika hanya moodnya bagus, tapi di bangku belakang dia cuma sibuk main ponsel.

Veera benci jika mendengarkan ocehan 'sok menggurui' dari Nathan. Benci berdekatan dengan Nathan, dan intinya ia itu muak jika harus memandang wajah Nathan.

Berbeda dengan mahasiswi yang lain, mereka akan senang ketika Nathan, dosen dengan sejuta pesona itu berdiri di depan mengoceh sambil menjelaskan materi. Walaupun saat mengajar Nathan tidak bisa dibilang dosen yang sabar. Nathan adalah dosen yang tegas, berwibawa, dan killer.

"Heh, lo nggak ada kapok-kapoknya, ya, masuk kelas telat mulu. Hobi banget dihukum sama tuh dosen uwuwuuu aku," bisik Sindy sahabatnya yang duduk bersebelahan dengan Veera.

Jijik! Pria bertampang sengak kayak gitu dikatain ganteng! batin Veera jengkel. 

"Biarin! Biarin gue dikeluarin dari kampus sekalian. Biar dia puas!" balas Veera judes. Sindy bergidik ngeri, ia menjauhka wajahnya dari amukan Veera.

Masa lalu yang telah mengubah sudut pandang Veera. Masa lalu yang selalu menghantuinya dan membayanginya hingga saat ini. Mebuat dia terlibat konfik batin yang berkempanjangan.

"Tumben kamu masuk. Saya pikir kamu tidak ingin berkuliah di sini lagi," sindir Nathan sakartis. Dia berdiri di depan papan tulis menatap Veera tajam. Sedangkan Veera hanya mendengus tidak menghiraukan perkataan dan tatapan menusuk dari Nathan. Seolah tak ada yang menarik sama sekali.

Dengan santai Veera mengambil buku catatannya dan melempar santai alat tulisnya diatas meja. Ketara sekali kalau  ia sedang memancing emosi sang dosen.

Benar saja, dari tadi ada seseorang yang tengah menahan amarah karena merasa diremehkan keberadaannya. Sang dosen tetaplah manusia biasa, yang tiap hari harus menahan emosi akibat ulah murid didiknya yang paling "bandel" itu. Bisa-bisa kalau setiap hari begini urat nadinya bakal putus.

Nathan membuka suara untuk memulai pelajaran hari ini. Pria itu memimpin doa suapaya pelajaran berjalan dengan baik.

Pelajaran baru berjalan setengah jam.

"Kalau kamu tidak niat belajar, lebih baik kamu keluar dari mata kuliah saya, Veera!" bentak Nathan penuh emosi.

Veera yang sedari tadi memilih bungkam kini siap mengeluarkan sumpah-serapahnya namun dengan cara elegan, "maaf, Pak dosen, apakah anda tidak lihat hari ini saya berada didepan anda ingin menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh. Apakah saya terlihat main-main?"

Seisi kelas menatap ngeri kearah Veera. Adegan ini mulai memanas. Bagaimanapun juga Veera saat ini terlihat sangat menakutkan.

"Bersikaplah sopan kepada dosenmu, Veera! Kalau tidak...."

"Kalau tidak kenapa?!" potong Veera dengan berani. Nathan hanya diam tak mau menanggapi, walau hatinya sedang menahan amarah yang siap meledak kapanpun. Nathan tau kapan saatnya dia harus ekstra sabar.

Kalau sudah begini seisi ruang selalu senyap. Tidak ada yang berani membuka suara. Keadaan mencekam.

"Maaf, Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi," seru Veera dengan intonasi yang agak rendah. Veera sadar kalau ia memang sudah sangat keterlaluan tadi. Namun tetap saja logatnya terlihat tidak iklas.

"Saya pengang kata-katamu." Nathan balas menatap Veera datar.

Tidak lama acara mengajarpun dimulai.

Semua menyimak apa yang telah dijelaskan Nathan didepan. Termasuk dengan Veera, ah tidak sepertinya dia bukan hanya mendengarkan tapi dia juga sibuk mencorat-coret dibukunya.

Orang lain pasti mengira Veera sedang mencatat apa yang dijelaskan Nathan, tapi asal kalian tahu, Veera tengah sibuk menggambar monster diatas kertas bewarna putih itu dengan pulpen yang menari-nari disana.

Dua jam lebih sepuluh menit. Kelas sudah bubar dari tadi. Hanya tinggal beberapa orang yang masih bercengkrama dengan teman di sebelahnya. Veera sendiri sedang fokus mengutak-ngatik ponselnya. Dia tidak sadar sedari tadi sedang diawasi oleh seseorang dari mejanya.

"Veera!"

"Ya?!" Veera menoleh kearah sumber suara yang sedang memanggilnya. Nathan, dia berdiri sambil memengang beberapa berkas. Namun beberapa barang seperti laptop, buku, dan tas besar masih tergeletak diatas meja.

Veera paham Nathan sedang memberikan kode meminta bantuan. Dia tidak bisa membawa beberapa barang sendiri dan membutuhkan satu orang lagi untuk membawanya.

"Tolong bawakan ini keruangan saya!" perintah Nathan sambil memperlihatkan barang bawaannya.

"Suruh saja yang lain!"

Sayangnya Veera menolaknya mentah-mentah dengan tatapan permusuhannya. Disaat yang lain akan dengan senang membantu dosen untuk mencari nilai tambah. Beberapa manusia yang masih berada didalam sana hanya diam menyaksikan perdebatan mereka lagi.

"Tolong lebih sopan sedikit!"

"Maaf, Pak, saya ada keperluan mendadak." 

Dengan penuh penghormatan dan penekanan Veera langsung pergi meninggalkan Nathan yang menggeram kesal dan beberapa orang yang masih melongo menyaksikan mereka.

"Saya bantu ya, Pak!" seru Maya yang kebetulan duduk dibangku paling depan. 

Nathan menghebuskan nafas pasrahnya. Untung masih ada orang lain yang peduli dengan keadaan Nathan. Walaupun sebenarnya Nathan ingin berbicara empat mata dengan Veera yang berakhir dengan kegagalan. 

***

Selesai memarkirkan mobilnya, Veera memasuki rumah dengan perasaan dongkol yang jelas ketara sekali diraut wajahnya. Di ruang tamu sudah menunggu kedua orang tuanya yang sibuk mengobrol di sofa.

Tumben Papa dan Mama ada dirumah, pikirnya. 

Tapi dengan cuek Veera melangkahkan kakinya menuju kamarnya sebelum suara berat seseorang menginterupsinya.

"Veera, Papa sama Mama mau bicara sama kamu, Nak," Veera menghentikan langkahnya ketika dia hampir menginjak satu anak tangga. Dengan cemas dia mentatap kedua orang tuanya.

"Soal apa, Pa?"

"Kamu ada masalah lagi di Kampus?" tanya Anton- papanya-to the poin. Veera mengernyit, di Kampus dia tidak pernah memilik masalah, apalagi yang terlalu serius sehingga harus melibatkan kedua orang tuanya seperti ini.

Tapi, kalau tentang masalahnya dengan Nathan. Maka jawabannya adalah...

'Ya'

"Enggak kok, nggak ada apa-apa," dustanya.

"Katanya kamu telat lagi," kali ini Anita-mamanya- ikut menimpali. Bahkan sudah menjadi fakta kalau Veera selalu telat masuk kuliah.

"Oh, tadi Veera..... ban mobil Veera bocor, makannya telat, Ma."

"Kalau kemarin?" Kali ini Anton yang bertanya. Kemarin Veera membolos lagi karena lapar dia pergi ke kantin dan malas untuk kembali ke kelas.

"Kemarin Veera kesasar, Pa, kelasnya pindah?" balas Veera cuek.

Anton menghela nafas letih. 

"Veera, sampai kapan kamu begini terus? Kapan kamu mau berubah dan menerimanya?" Anita menatap Veera sedih. Dia juga tahu apa yang dirasakan oleh anaknya itu, tapi sampai kapan dia harus bersikap seperti itu terus. Kapan dia mau berdamai dengan masa lalunya.

Sekuat apapun Veera melupakan masa lalunya itu, kenyataannya dia tetap tidak bisa melupakannya. Terlalu banyak kebahagiaan yang dia dapatkan ketika dulu. Tapi tidak lama setelah itu, kebahagiaannya harus lenyap melebur dengan kekecewaan dan kehampaan.

Siapapun tahu bagaimana rasa sakitnya bagaimana masa depanmu hancur. Sesuatu yang berharga dalam dirimu direnggut begitu saja.

"Veera, ingat kamu sudah memiliki anak dari Nathan, kan!"

Veera kembali tercengang. Benar sekali dia dan Nathan telah menikah, tapi itu semua bukan kehendaknya, melainkan karena terpaksa. Dia sama sekali tidak mencintai pria itu. Memory tentang masa lalunya kembali berputar, mengingat semuanya hanya membuat dadanya sesak.

"Veera nggak akan berubah, Ma. Veera benci Nathan sampai kapanpun!" serunya sambil berlari menuju kamarnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status