Chapter 7

Bagi Rezal, hari minggu adalah waktu yang tepat untuk bersantai di rumah. Di jam 8 pagi seperti ini, biasanya dia masih bergelung di bawah selimut. Namun kali ini berbeda, dia harus meluangkan waktunya untuk mengantarkan Ibunya ke rumah Naya. Ingin menolak pun percuma. Ibunya memiliki banyak cara untuk membuatnya tetap ikut.

"Aku tunggu di mobil ya, Ma." ucap Rezal memundurkan kursi mobilnya. Mulai mencari posisi yang nyaman untuk tidur.

"Mana bisa! Nggak sopan tau."

Rezal berdecak, "Ya udah, aku pulang aja. Nanti Mama telepon kalau udah selesai."

"Hemat bensin, Zal! Kamu ini nggak cinta alam banget sih. Mama mau nangis liat Jakarta yang udah kaya gini."

"Lebay!"

Dengan malas, Rezal keluar dari mobil dan menatap rumah sederhana di hadapannya. Tampak asri dengan banyaknya tanaman hijau di halaman rumah. Bahkan Rezal melihat ada sepetak tanaman sayuran yang segar.

"Lagian kenapa kita harus dateng langsung? Kan Mama udah punya nomernya Naya," tanya Rezal saat mereka sudah berdiri di depan pintu rumah.

"Jalin silaturahmi, Zal. Jadi manusia itu jangan individualis, nanti nggak dapet jodoh nangis."

Rezal tidak ingin membantah ucapan Ibunya yang semakin aneh. Jika dilihat, lama-lama Ibunya dan Naya tidak ada bedanya. Sama-sama aneh.

Cukup lama mereka menunggu sampai akhirnya pintu terbuka dan mucul gadis yang membuat Rezal dan Ibunya terkejut. Detik berikutnya Ibu Rezal tertawa melihat Naya yang menurutnya lucu. Sedangkan Rezal masih menatap gadis di depannya dengan tatapan tidak percaya.

Bagaimana tidak terkejut jika Naya muncul dengan tampilan yang berbeda. Buang jauh-jauh tentang penampilan rapinya selama magang, karena Rezal tidak melihat itu sekarang. Naya dengan rambut kusutnya membuka pintu dengan mata yang terpejam. Baju bali tipisnya yang sudah robek-robek pun semakin menambah kesan aneh. Lihat wajah polos tanpa make-up itu, Rezal masih tidak percaya jika Naya yang di hadapannya adalah Naya yang sama ketika di kantor.

Mendengar suara tawa di depannya, mata Naya mulai terbuka dengan sempurna. Dia terkejut saat melihat dua orang yang sangat dia kenal tengah berdiri di depannya. Dengan cepat Naya kembali masuk dan menyembunyikan tubuhnya di balik pintu, hanya memperlihatkan wajahnya yang sudah tidak lagi mengantuk.

"Naya belum mandi ya?" tanya Ibu Rezal masih dengan tawanya.

"Aduh Tante, jadi malu. Kenapa nggak bilang kalo mau dateng?"

"Tante udah kasih tau Ibu kamu kok."

Naya meringis mendengar itu. Jatuh sudah harga dirinya. Dia tidak menyangka jika Rezal akan melihat tampilannya yang seperti gembel ini. Percuma dia susah-susah berdandan rapi dan wangi setiap magang jika ujung-ujungnya Rezal akan melihatnya dengan pakaian yang sobek di sana-sini. Memalukan!

"Ya udah, Tan. Masuk dulu." Naya membuka pintunya lebar.

"Maaf ya Pak.. Tante. Saya baru bangun makanya kayak gini." Naya kembali meringis dan memeluk lengannya sendiri, untuk menutupi lubang ventilasi di bagian ketiaknya.

"Nggak papa, Nay. Tante maklum kok. Rezal juga suka bangun siang."

"Ya udah, saya panggil Ibuk dulu ya." Naya dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan tamunya yang menampilkan ekspresi yang berbeda.

Ibu Rezal menatap anaknya yang masih terpaku pada Naya. Perlahan dia menyenggol lengan Rezal dan menyeringai, "Kok diem sih, Zal. Kaget ya liat paha mulus Naya?"

"Ma!" Rezal memijat keningnya pelan. Jujur saja, dia juga sempat melirik kaki Naya tadi.

Dasar pria!

***

Naya berjalan ke dapur saat mendengar suara ramai dari sana. Benar saja, dia melihat Ibunya dan Ibu Rezal tengah tertawa dengan tumpukan buku kue milik Ibunya.

"Ini enak banget, Jeng. isi gula merah ya?" tanya Ibu Rezal.

Naya mendekat dan duduk di samping Ibu Rezal. Kapan lagi dia bisa sedekat ini dengan calon mertua? Untuk masalah tadi, Naya sudah melupakannya, hitung-hitung memperkenalkan bagaimana dirinya yang sebenarnya jika berada di rumah.

"Udah seger, Nay? Wangi lagi."

"Baru mandi, Tan." Naya terkekeh, "Oh ya, Pak Rezal ke mana?" tanya Naya saat tidak mendapati pria itu di dapur.

"Masih di depan kayanya. Kamu buatin minum dulu sana." Minta Ibunya yang langsung dia lakukan.

"Pak Rezal biasanya minum apa, Tante?"

"Rezal sukanya kopi."

Naya mengangguk dan mulai mengambil cangkir.

"Kopinya tanpa gula ya, Nay. Kayanya mulai dari sekarang kamu harus tau deh kesukaan anak Tante." Ibu Rezal tersenyum menggoda.

"Jadi malu." Wajah Naya memerah.

"Kamu tenang aja, Tante restuin!"

"Alhamdulillah." Kali ini Ibu Naya yang berbicara.

Mereka tertawa saat menyadari betapa nyambungnya mereka ketika berbicara. Tidak ada keraguan pada diri Ibu Rezal. Dia hanya ingin anaknya segera menikah. Lagi pula dia juga menyukai Naya dan keluarganya. Begitu sederhana dan berwarna.

Naya berjalan ke luar rumah saat tidak mendapati Rezal di ruang tamu. Dia melihat pria itu sedang berada di halaman rumah dan memperhatikan beberapa sayuran yang dia tanam bersama Ibunya. Dengan nampan di tangannya, Naya keluar dan menghampiri Rezal.

"Ngapain, Pak?" tanya Naya membuat Rezal berbalik. Dia cukup lega saat melihat Naya sudah rapi dengan celana dan baju panjangnya.

"Siapa yang nanem?" tanya Rezal menerima kopi dari tangan Naya.

"Saya sama Ibuk, Pak. Saya prihatin sama Jakarta yang makin panas tiap harinya. Jadi sedih."

Rezal mengerutkan keningnya mendengar itu. Lagi-lagi dia mendegar adanya kesamaan antara Naya dengan Ibunya.

"Kamu mirip sama Mama saya."

"Jodoh kali, Pak." Naya tertawa mendengar ucapannya sendiri.

"Bukannya kamu takut sama saya?"

"Bapak terlalu manis buat ditakutin."

Rezal menggelengkan kepalanya mendengar itu, "Jangan sampai Mama saya denger. Bercandaan kamu ekstrim."

Nggak ada yang bercanda, Pak. Ini hati cuma bisa cenat-cenut sama Bapak! batin Naya berteriak.

"Ini kenapa nggak ada ikannya?" tanya Rezal menunjuk kolam buatan yang tampak kering. Bahkan diisi beberapa pot bunga yang besar.

Naya tersenyum kecut melihat itu, "Ayah saya yang suka melihara ikan, Pak."

"Di mana Ayah kamu?"

Rezal melihat Naya hanya bisa tersenyum. Seolah menyadari sesuatu, dia mulai menyentuh bahu Naya. "Maaf. Saya nggak tau dan nggak maksud untuk—"

"Ayah saya belum meninggal kok, Pak." Naya terkekeh pelan. "Dulu Ayah saya suka melihara ikan di sini, tapi semenjak punya istri baru ikannya ikut pindah rumah."

Rezal menatap Naya tidak percaya. Dia bisa melihat ada pancaran kesedihan dari mata itu, tapi yang tidak dia percayai adalah Naya masih bisa terlihat tegar dengan candaan khasnya.

"Maaf, saya nggak maksud buat ungkit masa lalu kamu."

Naya menatap Rezal dengan mata yang berbinar, "Nggak papa kok, Pak. Anggap aja lagi pendekatan."

"Nay.." Rezal memperingati Naya untuk tidak terlalu jauh menggodanya. "Jadi Ibu kamu jualan kue?" tanya Rezal lagi saat teringat dengan Ibunya yang akan memesan kue. Dia ingin mengalihkan pembicaraan.

"Iya, Pak. Ibuk saya keren ya, cuma jualan kue tapi bisa nyekolahin anaknya sampe kuliah."

Rezal tersenyum tipis melihat wajah berbinar Naya yang tengah membicarakan Ibunya. "Kalau gitu kamu harus belajar yang bener. Jangan buat usaha Ibu kamu sia-sia."

"Iya, Pak. Saya juga bantu Ibuk jualan kok. Saya juga cari uang buat jajan sendiri."

"Dari hobi kamu?" tanya Rezal memastikan. Naya mengangguk.

"Cita-cita kamu apa?"

"Cuma mau cepet lulus, cari kerja, terus nabung biar bisa buka toko kue buat Ibuk." Naya kembali tersenyum dengan pandangan menerawang. Dalam hatinya, dia mengamini semua ucapannya.

"Bagus."

Naya menatap Rezal dan tersenyum jahil, "Ada satu lagi cita-cita saya, Pak."

"Apa?" tanya Rezal penasaran.

"Nikah sama Bapak."

Detik itu juga Rezal meminum habis kopinya dan masuk ke dalam rumah, mengabaikan Naya yang tertawa terbahak di belakangnya. Dia mulai jengah dengan rayuan Naya yang tidak ada hentinya. Sempat Rezal bertanya-tanya, ke mana perginya Naya yang takut dan sungkan padanya?

***

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Gusty Ibunda Alwufi
lucu sama naya.cuek kyknya kesannya tomboy deh
goodnovel comment avatar
Rahayu Hikmayanti
dari awal baca sampai sini sumpah bikin sakit perut ke tawa ma tingkah kocak Naya... 🤣🤣🤣
goodnovel comment avatar
Kiki iqy
kocaknya naya cuma buat nutupin sedihnya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status