Who wants to be a billionaire (INDONESIA)
Who wants to be a billionaire (INDONESIA)
Author: Sunrise Prince
Orang-orang sombong

“Astaga! Kamu dari mana saja? kamu tidak tahu berapa banyak pelanggan kita yang mengeluh karena pesanan air mereka belum sampai juga?” bentak Pak Bos waktu Satria tiba dengan mobil bak terbuka yang berisi puluhan galon kosong.

              “Maaf, pak. Tadi saya...”

              Belum sempat kalimat itu keluar dari mulut Satria, Pak Bos langsung membanting beberapa galon kosong di hadapannya. Semua mata seketika tertuju kepada keributan itu. Satria membungkuk, mengangkat galon itu masuk ke dalam depot.

              “Kenapa lagi dia? Selalu saja bikin masalah. Enam bulan kerja di sini selalu saja bikin si bos marah-marah. Kenapa dia nggak dipecat saja, ya?” salah satu teman sesama pekerja berkomentar. Satria mendengarnya tapi memilih tidak acuh. Dia harus menjelaskan alasan mengapa dia terlambat mengantarkan beberapa pesanan air milik pelanggan.

              Baru saja dia tiba di gudang penampungan, Pak Bos kembali mengomel panjang lebar.

              “Kamu mau alasan apalagi, Satria? Kamu baru enam bulan bekerja di sini tapi kamu selalu saja bikin masalah. Kalau tidak bisa kerja itu bilang, jadi aku bisa mencari karyawan lain untuk menggantikan posisimu. Mengerti?” hardik pak bos masih dengan emosi yang sama.

              “Baik, pak. Saya minta maaf. besok-besok saya tidak akan mengulanginya lagi.” ucap Satria dengan nada bersalah. Dia menundukan wajah, malas menatap wajah bosnya yang mengerikan itu.

              “Sebagai hukuman untukmu, kamu harus mengganti rugi galon yang tadi.”

              “Tapi, Pak?” Satria hendak protes namun bosnya itu segera pergi meninggalkannya.

              “Nggak ada tapi-tapi. Ini semua salahmu. Aku nggak mungkin membanting galon itu kalau bukan kamu yang membuatku marah dan emosi. Sekarang kembali bekerja. Aku nggak mau dengar lagi ada komplain dari pelanggan. Mengerti?” kata pak Bosnya sambil membanting pintu gudang penampungan.

              Satria mengembuskan napas pelan. Begini sekali nasibnya. Tadi dia terlambat karena harus mencarikan kado untuk hadiah ulang tahun Angela, pacarnya. Nanti malam dia akan datang ke acara ulang tahun Angela. Angela adalah seorang mahasiswi cantik, kaya dan idola para mahasiswa di kampusnya. Meskipun hanya bekerja sebagai tukang antar galon namun dia beruntung dari sekian banyak cowok di kampus, Angela tetap memilihnya.

              Tapi apa yang diharapkan Satria tidak berjalan sesuai dengan yang dia bayangkan.

              “Kamu ngapain datang kemari? Memangnya ada yang mengundangmu, hah?” bentak seorang wanita berpakaian serba mahal. Wanita itu ialah ibunya Angela.

              “Lo ngapain ke sini sih, Satria? Lo itu nggak pantas datang ke acara mewah kayak gini.” Ucap Vero, teman baik Angela. Di dekat Vero ada Renata dan Jenny, teman dekat Angela juga.

              “Aku datang karena pacarku ulang tahun. Aku ingin memberikan hadiah spesial untuknya.” Satria lantas mengeluarkan hadiah itu dari dalam saku jaketnya yang lusuh.

              Melihat kado itu, semua orang tertawa terbahak-bahak. Kado itu kecil sekali. Entah apa isinya. Mereka tidak tahu kalau Satria baru saja membelikan cincin emas hasil dia bekerja selama beberapa tahun yang dia tabung. Sebelum menjadi tukang antar galon, dia bekerja di banyak tempat. Kadang jadi cleaning service sampai tukang delivery makanan.

              “Angela nggak butuh kado murahan kayak begitu, Satria. Mendingan lo pulang saja deh, kado lo itu nggak ada gunanya sama sekali.” Tiba-tiba Lorenzo muncul dan mengacaukan segalanya. Lorenzo adalah cowok yang tak kalah populer di kampus. Orangtuanya merupakan seorang pengusaha. Dia juga tampan dan terkenal suka bermain perempuan.

              Semua orang di kampus juga tahu kalau Lorenzo mengincar Angela sejak lama.

              “Selamat malam, tante?” ucap Lorenzo sambil meraih tangan ibunya Angela dan menciumnya.

              “Malam, Lorenzo? Ah, kamu tampan sekali. Angela memang nggak salah pilih. Kamu memang cocok jadi pacarnya Angela dibandingkan tukang antar galon nggak tahu diri ini. Sudah dibilang pergi, masih saja tetap berdiri di situ.”

              Angela juga ada di sana tapi sama sekali dia tidak membela Satria.

              “Saya membelikan hadiah spesial untuk Angela, tante. Semoga Angela suka.” Lorenzo lantas mengeluarkan bucket bunga dari balik punggungnya. Bunga itu bahkan harganya tidak seberapa dengan cincin emas yang dibelikan Satria. Namun ibunya Angela, tante Maria malah menyambutnya.

              “Bagus sekali, Lorenzo. Aduh, romantis sekali. Angela tentu saja suka dengan kado ini. Benar kan, Angela?” tante Maria lantas menyerahkan bunga itu pada Angela.

              Angela mengangguk lalu melangkah mendekati Lorenzo. Tanpa rasa sungkan, dia dan Lorenzo saling berpelukan cukup erat di depan mata Satria.

              “Angela? Kamu melakukan itu tepat di depan mataku? Apakah kamu sudah gila?” tanya Satria.

              “Heh! Dasar kurang ajar. Beraninya kamu bilang anakku gila? Kamu yang gila! Sana pergi! Angela nggak pantas pacaran dengan orang miskin dan kampungan sepertimu! Pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Mengerti?” bentak Tante Maria.

              Satria menatap Angela dengan tajam. Jadi selama ini mereka apa? hubungan yang mereka jalin selama ini ternyata tidak ada artinya sama sekali untuk Angela?

              “Angela? Kamu tega. Selama ini kita sudah menjalin hubungan dan kamu malah menyambut Lorenzo dibandingkan aku?”

              Angela tertawa sinis. Dia bahkan sengaja mencium pipi lorenzo di depan Satria untuk membuat Satria makin emosi. Selama ini Angela memacari Satria hanya untuk memanfaatkannya saja. Dia sering menyuruh Satria kemana-mana dan dengan bodohnya Satria menuruti perintah itu. Angela tentu lebih memilih Lorenzo yang orang kaya dibandingkan Satria yang hanya tukang antar galon.

              “Angela? Aku datang membawakanmu kado spesial ini dan kamu lebih memilih bunga itu?”

              Satria membuka kotak itu dan menunjukkan cincin emas itu kepada Angela. Semua orang tertawa melihat cincin yang diberikan Satria untuk Angela.

              “Itu pasti imitasi, kan? orang seperti lo mana mungkin bisa beli cincin emas. Untuk makan saja susahnya minta ampun, kan? hahahaha.” Vero, Renata dan Jenny kompak menertawakannya.

              Angela lantas merampas cincin itu dari tangan Satria dengan paksa. Dia tertawa kemudian melempar cincin itu ke luar jendela. Satria terkejut melihatnya.

              “Angela? Kenapa kamu melakukan itu? Aku membelinya dari hasil tabunganku selama beberapa tahun. Aku menyiapkan itu spesial untukmu, Angela. Aku membelinya 10 juta.”

              “Hahahaha! Astaga. Sepuluh juta saja? Lo nggak tahu? Bahkan harga handpohe gue lebih mahal dari cincin nggak berguna lo itu. Sudahlah, Satria. Lebih baik lo pergi dari sini. Lo itu nggak diharapkan sama sekali.” Kata Lorenzo lalu meraih pinggang Angela dan mendekapnya erat.

              “Aku nggak menyangka kamu tega melakukan ini kepadaku, Angela. Aku sudah mengorbankan banyak hal untukmu. Tapi ini balasanmu atas cinta dan perhatianku selama ini?”

              “Satria? Selama ini gue hanya manfaatin lo, doang. Gue hanya nggak mau ribet saja. Terima kasih karena lo sudah bersedia membantu gue menyelesaikan tugas-tugas gue di kampus, dan sekarang gue tinggal memasuki semester akhir dan nggak ada perkuliahan lagi.”

              Satria merasa perkataan itu begitu menusuk relung hatinya. Dia terluka tapi tak berdarah. Perempuan yang dia cintai tega melukai hatinya.

              “Harusnya lo sadar diri sejak awal, Satria. Orang kayak lo nggak pantas pacaran dengan Angela. Lo memang dasarnya nggak tahu diri, makanya mau saja dimanfaatin.” Kata Lorenzo sambil tertawa.

              Saat itu juga Satria langsung menerjang Lorenzo. Rasa sakit hatinya tak bisa lagi ditahan. Sebuah pukulan mendarat tepat di rahang Lorenzo dengan sangat kuat. Orang-orang menjerit waktu Lorenzo jatuh ke belakang menimpa kue ulang tahun setinggi setengah meter yang ada di atas meja.

              “Oh, nggak! Kue ulang tahun gue!” jerit Angela.

              Satria masih sempat-sempatnya menendang Lorenzo tepat di selangkangan. Lorenzo menjerit kesakitan sambil berguling-guling di lantai. Dia tidak tahan dengan rasa sakit itu.

              Saat itu juga Satria segera kabur dari sana waktu keributan sedang terjadi.

              “Kejar dia!!!” teriak Lorenzo pada beberapa temannya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status