Share

Second Destiny (Indonesia)
Second Destiny (Indonesia)
Author: Renko

Bab 1: Union Street

Aku tidak lagi mengayunkan kaki ketika berhasil mencapai Union Street. Hanya untuk melihat pemandangan yang sama, aku sampai turun di pemberhentian pertama dan berlari lagi untuk menempuh jalan yang sama sekali tidak ingin aku lewatkan.

Savana adalah alasan mengapa aku melakukan hal konyol itu. Wanita yang selalu membuat jantungku berdetak kencang. Terlebih saat melihat keelokan hatinya pada wanita tua yang ingin menyeberangi jalan.

Di tengah kota yang penuh akan kesibukan, jarang sekali ada orang meluangkan waktu untuk sekadar membantu menyeberangkan wanita tua yang begitu pelan jalannya. Namun, tidak pernah aku kira jika akan menemukan satu dari sekian persen kemustahilan.

Senyumku berhenti mengembang saat Savana melewatiku begitu cepat seperti kibasan angin. Aku hampir lupa kalau kami tidak saling mengenal. Aku hanyalah seorang pengagum rahasia, sedangkan Savana adalah wanita yang selalu tampak sibuk. Aku sampai kepayahan mengikuti gerak kaki cepatnya.

Padahal Savana tidak sedang senggang, akan tetapi menyempatkan diri untuk membantu. Terlebih tidak menunjukkan kesibukan pada orang yang dibantu. Selalu memperlihatkan sikap ramah yang dibaluti dengan senyuman. Bagaimana aku tidak terkagum akan kebaikannya?

Kami tiba di sebuah kafe minuman kecil bernama Sunrise. Tempat di mana anak remaja paling banyak menikmati waktu santai mereka. Cocok pula bagi pekerja yang ingin mencari sebuah ide atau sekadar menghabiskan minuman perlahan.

Sunrise bukan hanya menyediakan minuman sebagai menu. Ada juga sajian pencuci mulut yang dapat dijadikan sebagai teman minum.

Bagaimana aku bisa tahu begitu detail? Karena salah satu waiters di sana adalah aku, Hunter.

Kabar baiknya dari fakta lain mengenai Savana, dia adalah pelanggan tetap di tempat aku bekerja. Hal itu semakin membuatku tidak bisa menghentikan kegembiraan.

"Satu espresso."

Aku bergegas meletakkan tas dan mengenakan apron khusus pegawai. Meskipun begitu, aku masih bisa mendengar apa yang dipesan oleh Savana. Menu minuman itu -espresso- tidak pernah absen setiap kali Savana datang.

Di balik punggung yang hendak mencari tempat duduk, aku tidak bisa menyembunyikan senyuman. Aku sudah mematri jelas di kursi mana Savana akan duduk, bagaimana wanita itu memosisikan diri, benda apa saja yang dibawa. Mungkin jika ada yang mengetahuinya, aku akan dianggap sebagai CCTV berjalan.

Hari ini seperti biasa, Savana duduk bersama laptop. Mengetuk jemari di atas papan keyboard. Tidak tahu apa yang ditulis, akan tetapi aku bisa menyimpulkan kalau Savana adalah wanita pekerja keras. Anggapan itu tidak jauh-jauh dari setelan formal yang dikenakan.

Suara bel meja membuat lamunanku buyar. Seorang waiters hendak mengantarkan menu yang dipesan. Melihat satu gelas espresso di atas nampan, aku langsung mengambil alih. Berharap dapat kesempatan untuk berbicara dengan Savana dari mengantarkan pesanan.

Tidak langsung mengantarkannya, karena terlebih dahulu aku menata penampilan sejenak di depan kaca. Hanya sedikit bayangan diri yang aku dapatkan.

Hari ini aku akan menunjukkan siapa Hunter sebenarnya. Pria yang selalu membuat wanita terpesona dengan ketampanannya.

Penuh keyakinan di dalam diri, aku mengantarkan pesanan minuman. Satu gelas espresso diletakkan di atas meja. Aku menurunkan nampan ke sisi samping tubuh.

Ini tidak seperti apa yang aku rencanakan. Saat kondisi penting seperti ini, kedua kakiku gemetar. Tidak berbeda dengan tangan yang aku pindahkan ke depan untuk saling memeluk. Entah reaksi kegembiraan atau kegugupan, aku sama sekali tidak bisa berpikir dengan baik.

Aku bisa merasa sedikit tenang waktu memfokuskan pandangan ke arah Savana. Bulu mata panjang tampak meneduhkan. Aku juga bisa melihat bibir yang proporsional dengan hidung mancung. Hanya melihat dari sisi samping saja, sudah membuatku kehilangan akal. Terlebih saat melihatnya jelas secara keseluruhan.

"Aku akan membayarnya nanti," ucapnya menghentikan lamunanku.

Aku langsung mengalihkan pandangan. "Baiklah."

Situasi ini begitu canggung bagiku.

"Se-selamat menikmati."

Aku berbalik pergi meninggalkan segala bentuk penyesalan. Tadi, aku berniat untuk mengajak Savana berkenalan. Pada kenyataannya, hanya menjadi sebuah harapan saja. Jangankan mengajak berkenalan, berkata-kata saja aku sudah kesulitan.

Betapa pecundangnya seorang Hunter, hanya bisa melihat pujaan hatinya dari jauh saja. Sangat menyedihkan. Dalam hal ini aku merasa sangat payah. Padahal, mengajak berkenalan bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan.

Aku berdiri di belakang meja bar yang mana tingginya mencapai pinggang. Baru saja bersiap di posisi, perhatianku teralihkan ketika Savana berjalan dengan tergesa menuju kasir bersama gurat kecemasan.

Savana membayar minuman yang dipesan sebelum akhirnya keluar dari Sunrise. Apa yang terjadi? Padahal, belum lama ini Savana duduk di kursi pelanggan, tetapi sudah memutuskan untuk pergi.

Dari gurat kecemasan yang aku lihat, tampaknya ada kejadian buruk. Sayang sekali, aku tidak bisa mendapatkan informasi apa pun karena kami yang tidak saling mengenal.

Tatapanku mengarah pada kursi yang diduduki Savana tadi. Sebuah ponsel tergeletak di atas meja. Sepertinya Savana tidak sengaja meninggalkan ponsel karena tergesa. Aku bergegas mengambil ponsel untuk kemudian dibawa berlari mengejar Savana.

"Savana!" teriakku memanggil namanya.

Takdir tidak memihak pada kami karena taksi yang dinaiki Savana sudah lebih dulu pergi. Sekarang bagaimana cara untuk mengembalikannya?

Ponsel ini dilindungi oleh kunci keamanan. Apa aku menunggunya saja sampai kami bertemu lagi di Sunrise? Mungkin itu adalah keputusan yang bijak untuk saat ini.

***

Aku menyipitkan mata, tidak lepas memandangi ponsel yang mati layarnya. Ini sudah terhitung empat hari sejak ponsel Savana ada bersamaku. Tidak ada tanda-tanda sang pemilik ponsel akan menghubungi.

Aku mengangkat kepala yang rebah di atas meja, lalu beranjak ke sisi dapur. Mengalihkan perhatian dari ponsel, aku menyeduh mi instan, kemudian berhati-hati membawanya duduk bersamaku di tempat semula.

Perhatianku tersita pada ponsel kembali. Entah mengapa hanya karena benda kecil itu, hidupku menjadi rumit. Aku bahkan tidak membiarkan pandanganku lepas dari ponsel ketika berada dalam jam pelajaran, tidak ingin kehilangan satu informasi pun kalau-kalau Savana menghubungi.

Namun, tampaknya pemilik ponsel sendiri tidak peduli. Seharusnya ponsel menjadi benda terpenting yang mana tidak bisa dibiarkan hilang begitu saja.

"Bagaimana bisa Savana meninggalkanmu?" ucapku dengan frustrasi yang tidak bisa ditahan lagi.

Aku mengambil mi instan yang tidak lagi panas. Langsung saja menghirup isinya sedikit demi sedikit. Walaupun sudah sibuk mengisi perut, aku tetap saja menatap ponsel yang masih dalam keadaan sama.

Tiba-tiba layar gelap itu berubah terang. Ditambah dering dan getar ponsel yang mengagetkanku. Aku tersedak akibat terkejut di saat yang tidak tepat.

Mi instan aku letakkan dengan cepat, lalu bergegas menyelamatkan diri dengan satu gelas minuman. Setelah sedikit tenang, aku langsung meraih ponsel dan menerima panggilan.

"Syukurlah ...." Suara itu terdengar seperti embusan napas seolah lega setelah mengetahui ada orang yang mengangkat telepon. "Ponselku sepertinya tertinggal di kafe. Bisakah aku mendapatkannya kembali?"

Renko

Ini adalah novel kedua Renko di sini. Semoga satu selera denganmu~

| Like

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status