Share

Bab 2: Menantikan Pertemuan

Bagaikan membuka gerbang kemenangan, celah pintu lemari semakin membentang lebar. Aku menghirup aroma yang menyejukkan ini. Rasanya membuatku tidak bisa menahan diri lagi. Suasana hatiku sangat bagus.

"Savana, aku tidak menyangka jika kau akan mengajakku pergi berkencan," nada suaraku rendah berucap seperti seorang pria yang berkarisma.

Sehelai kemeja menemani langkahku berhadapan dengan cermin, "Baiklah. Aku akan menyetujuinya. Tapi jangan salahkan aku jika kau terpesona padaku," ucapku sedikit tersipu malu, kemudian menyapu rambutku seraya berkata, "Karena aku adalah Hunter, seorang lelaki tampan."

Suasana hening sebentar sebelum aku tertawa geli. Aku sulit menahan bagaimana senangnya hatiku. Tidak ada yang tahu betapa aku sangat menantikan hari ini. Berjumpa dengan Savana!

Aku mengenakan kemeja, lalu memadukannya dengan sweter berwarna abu-abu. Rambutku sudah tertata rapi. Bahkan khusus untuk hari ini aku sampai menggunakan sabun cair baru. Parfum yang hanya aku jaga satu kali seumur hidup ikut menjadi pelengkap dalam penampilan.

"Aku datang, Savana."

Aku tiba setengah jam lebih awal dari perjanjian. Sebenarnya sengaja aku lakukan karena tidak ingin membuat Savana menunggu sekaligus tidak ingin kehilangan satu detik pun momen kebersamaan. 

Seorang waitress datang membawakan daftar menu. Aku menolak dan berkata akan memesan nanti setelah Savana datang. Tidak elegan bukan, jika kami memakan makanan yang sudah dingin?

Aku menghitung waktu sembari memperhatikan pemandangan yang terpapar di kaca restoran. Langit sangat cerah seperti hatiku. Ditambah suara musik yang mengalun indah di restoran, aku menikmatinya pula.

Dua jam berlalu, aku belum menemukan tanda-tanda kemunculan Savana. Sekarang sudah menunjukkan pukul 12.30. Apa terjadi sesuatu pada Savana?

Aku mengambil ponsel yang aku tempatkan di dalam kantong kertas mini yang cantik. Tidak ada panggilan telepon atau pesan apa pun. Kalau tidak bisa datang pasti aku akan diberitahu, bukan?

Keyakinan bahwa Savana akam datang tidak ingin beranjak pudar. Savana pasti akan datang sebentar lagi. Aku akan menunggunya sebentar lagi. Mungkin Savana terjebak macet atau terkendala sesuatu.

"Maaf, Tuan. Apa Anda sudah akan memesan?" Waitress yang sama menghampiriku dan bertanya.

Aku melihat sekeliling yang mana entah berapa kali orang-orang di sana berganti wajah. Sepertinya aku adalah orang yang paling lama menempati restoran mewah ini. Tanpa memesan apa-apa dan hanya duduk seorang diri.

"Berikan aku daftar menunya."

Waitress tersebut memberikan apa yang aku minta. Langsung saja aku memilih apa yang ingin dipesan. Melihat harga dari menu makanan, aku tidak terlalu terkejut lagi karena memang sudah berniat untuk membuat Savana terkesan.

Tempat pertemuan sendiri pun, aku yang memilih. Sebuah restoran mewah yang letaknya berada di pusat kota. Bukan berarti aku seorang pria kaya. Demi pertemuan hari ini, aku sampai membongkar celengan pribadiku. Setidaknya cukup untuk membawa Savana ke tempat pertemuan yang bagus.

"Bisakah aku memesan minuman saja terlebih dahulu untuk satu orang? Temanku belum datang dan aku tidak tahu dia ingin memesan yang mana," ucapku berharap kalau waitress akan mengerti.

"Baiklah, Tuan. Panggil kami kapan pun Tuan akan memesan." Waitress itu tampak mengerti meskipun tadi terlihat sedikit ragu.

"Kalau begitu saya akan memesan ini," tunjukku pada salah satu daftar menu minuman.

"Kami akan mengantarkannya segera."

Aku menganggukkan kepala, lalu mendorong tubuh ke belakang. Pundakku seakan berat oleh pemikiran, kapan Savana akan datang? Meskipun harapanku masih bertahan bahwa Savana pasti akan datang, tetapi aku tidak berhenti bertanya-tanya.

Pada kenyataannya bukan sebentar, sepuluh menit, atau dua jam lagi aku menunggu. Jadwal kerja pun juga dilewati demi harapan bisa bertemu dengan Savana. Aku bahkan juga sempat tertidur sebentar.

Kali ini keberadaanku sudah seperti sorotan orang-orang. Dari sebuah sudut seorang pria yang bukan mengenakan seragam pelayan memandangiku dengan tatapan arogan. Sepertinya dia adalah pemilik restoran dan terusik lantaran aku yang tidak kunjung memesan, tetapi masih punya nyali untuk tinggal lebih lama.

Waitress yang berbicara padaku tadi datang kembali. Pada saat yang bersamaan ponsel berdering. Aku mencari-cari di mana asal suara berada. Ada dua ponsel yang aku simpan di dalam saku.

Di layar tertulis nama 'Sunny' yang tidak aku kenali siapa, tetapi aku tidak terlalu memusingkannya. Mungkin saja Savana menggunakan ponsel seorang teman.

"Halo? Aku Savana, pemilik ponsel yang ada bersamamu sekarang. Maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa keluar hari ini."

Nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah menunggu dari pagi yang terang hingga beranjak malam yang gelap. Namun, apa yang harus aku lakukan jika Savana sendiri memiliki kendala?

"Ah, ya .... Tidak apa-apa. Kalau begitu bagaimana aku harus mengembalikan ponsel ini?"

"Bisakah kau datang ke rumahku?"

Aku seketika membelalakkan mata. Bagaimana bisa seorang wanita mengusulkan pria yang baru dikenali untuk datang ke rumah? Ide itu adalah hal yang paling buruk, akan tetapi aku jelas menginginkannya. Aku bersedia untuk melakukan ide buruk itu.

"Kau bisa mengatakan alamatnya padaku," ucapku berusaha menutupi kegembiraan.

Selagi Savana menjelaskan alamat tempat tinggal, aku sulit menahan senyuman. Pikiranku tidak lagi jernih saat ini. Aku mengunjungi rumah Savana? Sepertinya aku akan menjadi gila sebentar lagi.

Pikiran yang hampir menyelam dalam membuatku langsung menggelengkan kepala. Aku tidak boleh berpikiran buruk terhadap Savana. Selain itu aku bukan pria yang suka bermain-main dengan wanita. Aku adalah Hunter, seorang pria setia yang akan melindungi dan menyayangi cinta pertamanya.

***

Saat ini aku berada di depan sebuah rumah bernuansa cerah. Aku mendekati pagar masuk untuk kemudian menekan bel. Tiba-tiba pagar terbuka lebar perlahan. Apa ini pertanda kalau aku sudah diizinkan untuk masuk ke dalam?

Masih diselimuti keraguan, aku memutuskan untuk melangkah masuk. Pekarangan terlihat bersih dan segar dengan rumput mini yang sejuk dipandang mata. Di satu sudut juga terdapat beberapa tumbuhan setinggi dada. Aku menapaki lantai batu yang mengantarkanku sampai ke depan pintu rumah.

Belum sempat mengetukkan buku jari, pintu rumah sudah terbuka lebih dulu. Darah di dadaku langsung berdesir memandangi Savana. Apakah aku sedang bermimpi?

Selama ini aku hanya mengagumi dari jauh tanpa berani untuk berbicara. Aku merasa seperti seorang pecundang. Hanya bisa melihat dan memendam perasaan saja.

Berlari hanya untuk melihat Savana setiap hari. Senang ketika aku bisa menikmati senyuman indahnya. Sedih ketika Savana terlihat berantakan. Kecewa ketika tidak bisa bertemu dengannya satu hari saja.

Kini wanita itu berdiri tepat di hadapanku dengan jarak satu meter. Nyata di depan mataku dan sangat jelas. Penampilan yang begitu segar bersama senyuman yang begitu indah. Aku masih merasa kalau semua ini adalah mimpi.

"Kau datang tanpa tersesat?" tanyanya kemudian tersenyum, "Silakan masuk."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status