THE HEIR OF DRAGON
THE HEIR OF DRAGON
Author: Amelia Siauw
Prologue

     Pria tua itu menghela nafas penuh kekecewaan. "Kekaisaran Han akan jatuh…" Ia menggelengkan kepalanya, wajahnya menyiratkan kesedihan yang amat sangat.

    "Kakek, ada hal yang kau cemaskan?" Seorang remaja pria berusia pertengahan belasan tahun bertanya. Sang pria tua memandanginya.

    "Kau adalah cucu tunggalku, satu-satunya kini yang paling bisa kupercaya. Aku ingin memberimu suatu tugas. Bisakah kau melakukannya?"

    Remaja itu mengangguk cepat. "Tentu saja kakek!"

    "Pergilah ke Istana. Temui kaisar dan katakan pesanku padanya untuk berhati-hati. Tetaplah mawas diri dan sesulit apapun keadaan yang tengah ia jalani, ia tetap harus sabar dan jangan melarikan diri ke dalam kefanaan yang bukan hanya akan menjerumuskannya ke dalam kematian, namun juga seluruh keluarganya."

    "Saya menjalankan pesan kakek. Saya akan pergi sekarang juga."

    Tanpa membuang waktu lagi si remaja bergegas pergi. Di balik pintu, sang pria mengamatin bayangannya sampai ia menghilang dari pandangan. Mata tuanya berkedip murung. Aku telah mencoba sebisaku, tapi entah apakah aku bisa mengubah Takdir atau tidak Karena Roda Takdir telah berputar, kini Langit berbalik ingin menghukum keluarganya untuk segala dosa yang pernah dilakukannya.

    Si remaja memang berjalan sangat cepat, tetapi ternyata ada yang berjalan lebih cepat darinya. Tiba-tiba saja orang-orang tak dikenal itu telah menghalangi jalannya. Salah seorang yang berdiri di tengah-tengah menyeringai, lalu menghunus pedangnya. Mencoba bersikap tenang, si remaja berujar, "Tuan-Tuan, saya yakin saya tidak pernah berbuat jahat dan menyakiti hati siapapun, oleh karena itu saya yakin tidak ada dendam di antara kita. Juga kalian lihat sendiri, saya hanyalah seorang pelajar miskin yang tidak punya uang banyak. Karenanya, mohon Tuan-Tuan hentikan kekonyolan ini dan lekas beri saya jalan."

    Si pria asing menyeringai semakin lebar. "Kau memang tidak pernah menyakiti hati kami dan kami pun tidak ingin merampokmu. Tetapi pesan yang akan kausampaikan itu terlalu berbahaya, karenanya kami harus mengenyahkanmu!"

    Paras si remaja berubah pucat. "Bagaimana kalian bisa tahu?!..."          Apakah ada mata-mata musuh kekaisaran yang menyamar menjadi murid kakek…

    "Itu tidak penting. Yang penting adalah kami harus membungkammu agar tidak menyampaikan pesan itu!" Si pria asing menyerang maju, begitu pula para pengikutnya.

    Si remaja segera menghunus pedangnya dan bergegas menghadapi serangan musuh, tetapi ternyata lawannya ini benar-benar pesilat tangguh. Hanya butuh waktu semenit sampai si pria asing menangkap pergelangan tangannya, meremukkan tengkuknya dan membuatnya terkulai tidak sadarkan diri. Ia lantas melemparkan tubuh si remaja pada salah satu pengikutnya.

    "Benar-benar berbahaya jika anak ini sampai berhasil menyampaikan pesan Sun He Xian pada kaisar. Kalau begitu caranya, rencana kudeta Yang Mulia bisa-bisa malah akan gagal. Untung saja bagi kita untuk menggagalkannya." Ia memberi perintah pada pengikutnya. "Buang anak ini ke penambangan batu di Yitmaiszk. Jadi walaupun dia sadar, dia tidak akan bisa lagi menjumpai kaisar."

    Dan ketika mereka membuang si anak ke penambangan batu Yitmaiszk, sang pria tua merasakan sakit yang amat sangat di dada kirinya. Ia berusaha keras melawannya, namun sayang, rasa sakit itu lebih kuat. Ia pun jatuh tersungkur ke lantai.

    "Ternyata..." Ia bergumam, nafasnya terengah-engah. "Ternyata dia tak bisa melaksanakannya. Dan akupun juga tak bisa lagi... Melindungi..."

    Tangannya yang bergetar jatuh diam ke lantai. Matanya terpejam, rapat. Nafasnya terhenti.

***

    Gadis itu masih muda. Ia pula berparas sangat cantik bak dewi khayangan, tutur katanya begitu halus dan lembut, pula wajahnya menyiratkan kebeliaan dan kehangatan yang sangat memikat.

    Siapa sangka gadis belia ini ternyata mampu melakukan pembunuhan. Pula korbannya adalah Paduka kaisar sang penguasa negeri.

    Tapi nyatanya ia telah melakukannya. Si gadis mengarahkan pandangannya kepada pria yang tengah terbaring di sampingnya, dalam keadaan tak bernyawa. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum kepuasan.

    "Kau melakukannya dengan baik sekali, keponakanku."

    Si gadis mendongak, tersenyum pada sosok yang telah berdiri di hadapannya. "Ya, Paman. Ini pekerjaan yang sangat mudah sekali. Sang kaisar begitu tergila-gila padaku, aku bisa menyuruhnya melakukan apapun yang kuinginkan. Tentunya termasuk meminum racun ini." Ia mengarahkan pandangannya ke arah mangkuk yang tergelincir jatuh di samping tempat tidur.

    "Itulah kebodohan pria. Sehebat apapun dia, pasti akan takluk dalam dekapan wanita cantik."

    "Paman, kau akan menuruti janjimu, kan? Bila aku berhasil membunuh kaisar, kau akan menjadikanku Gui fu-ren dan menobatkan anak dalam kandunganku sebagai putera mahkota?"

    Dan inilah kebebalan wanita. Selalu haus akan kekuasaan. Tapi mana mungkin aku akan membiarkanmu yang mengandung darah daging Kaisar Han mendominasi takhta?

    "Sayang sekali, aku tidak bisa mengabulkan permohonanmu yang satu itu."

    Mata si gadis terbelalak. "Paman, apa maksudmu?!..."

    Si gadis tidak sempat melanjutkan kata-katanya. Pedang milik si pria melesat begitu cepat dan tepat menusuk ke dada kirinya. Segera ia jatuh terbaring di samping pria yang baru saja dibunuhnya, juga dalam keadaan tak bernyawa.

    Sudut bibir si pria bergerak-gerak. Ia tertawa, semakin lama semakin membahana. "Hahahahahahaha! Langit memberkati jalanku! Kini aku. Akulah Penguasa negeri ini. Penguasa dunia ini!"

    Si pria terus tertawa tiada henti, tidak menyadari seorang bocah laki-laki kecil berpakaian mewah tengah mengawasinya dari balik pintu. Bola mata lugu anak itu kini melebar ketakutan. Sedetik kemudian, ia memutar tubuh kecilnya, bergegas lari.

    Suara langkah si bocah terdengar oleh pria itu. "Siapa di sana?!?"

    Si bocah berlari semakin cepat. Menjadi geram, si pria melangkah keluar ruangan dan kini telah memelototi si bocah kecil yang kini hanya dapat berdiri terpana. Ia menyeringai. "Ah kau pasti sang Pangeran yang sayangnya sekarang bukan lagi pangeran. Kau masih belum tidur? Rupanya kau hendak menyaksikan peristiwa spektakuler di mana aku menggantikan posisi Ayahandamu."

    Walau ketakutan, si bocah masih tetap mampu menunjukkan ketegarannya dan wibawa layaknya seorang bangsawan agung. "Kau berencana mengkudeta Kaisar, Perdana Menteri. Kau melanggar aturan negara. Kau akan dikenai hukuman setimpal."

    "Itu tidak akan terjadi, Nak. Karena benda ini telah berada dalam genggamanku" Si pria mengangkat tangannya yang menggenggam stempel kekaisaran tinggi-tinggi. "Kini, akulah Penguasa negeri ini. Kaisar baru, Penguasa Dunia ini!" Ia kembali melengkingkan gelegar tawanya yang penuh kesombongan. Mematung di hadapannya, sang pangeran kecil tergugu. Tubuhnya yang kecil gemetaran hebat. Ia ingin sekali melakukan sesuatu, tetapi ia tidak bisa melakukan apapun.

    Saat ini tidak bisa.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status