Oh My Husband
Oh My Husband
Author: Indri Antika

Prolog = Pertemuan Pertama

Malam itu begitu pilu, air hujan dengan tanpa meminta ijin terlebih dahulu turun begitu saja mengguyur jalanan malam yang ramai akan kendaraan yang sedang berlalu lalang.

Seorang gadis terlihat sedang berdiri ditepi jembatan, menunduk dalam menyembunyikan lelehan kristal yang bahkan kini nampak samar oleh air hujan. Kedua tangannya menggenggam erat pembatas jempatan yang ada dihadapannya. Orang-orang yang melihatnya pasti mengira dirinya adalah gadis gila yang hendak mengakhiri hidupnya.

“Bersabarlah Anna, sebentar lagi aku akan sampai di aparteman kamu!” Ujar seorang laki-laki dibalik kemudi itu.

“Cepatlah sedikit, Devan!” Seru gadis di sebrang telfon.

“Hujannya cukup lebat, aku akhiri dulu telfonnya!” Lantas, laki-laki dibalik kemudi itu langsung memutus begitu saja panggilan suara yang kini sedang berlangsung tanpa menunggu jawaban dari gadis yang ada di sebrang telfon.


Laki-laki yang disapa Devan itu menambah laju mobilnya sedikit cepat, dirinya tidak sabar untuk segera sampai di tempat kekasihnya yang merengkek ketakutan akibat hujan. Namun, semesta seperti tidak mengijinkan dirinya untuk sekedar sampai dengan cepat.


Devan menajamkan penglihatannya memastikan kalau sosok yang kini sedang berdiri dipinggir jembatan itu benar-benar manusia. Devan semakin menambah laju kecepatan mobilnya kemudian menghentikannya tepat di sebelah sosok yang kini sedang menangis dibawah derasnya air hujan yang membasahi tubuhnya.


“Apakah dia sudah gila?” Seru Devan sembari melepaskan seatbeltnya kemudian keluar begitu saja dari dalam mobilnya tanpa mempedulikan tubuhnya yang akan basah karena terkena air hujan.


“Apa kamu sudah bosan hidup, Nona?” Tanya Devan dengan nada dinginnya. Sedingin air hujan yang kini mengguyurnya. Namun, gadis itu sama sekali tidak menghiraukannya.


Merasa geram karena tidak mendapat balasan lantas, Devan langsung mencekal dengan kasar lengan atas gadis itu kemudian menariknya hingga tubuh mungil gadis itu terhuyung menabrak dirinya yang berbadankan kekar.


“Lepaskan aku!” Seru gadis itu memberontak. Mata yang sembab menghunus tajam manik coklat pekat Devan yang juga menghunus dirinya.


Dengan kasar Devan melepaskan cekalan tangannya. “Gadis gila tidak tahu terima kasih,” Cemooh Devan.


“Terima kasih untuk apa?” Tanya gadis itu.


“Bukankah kau ingin mengakhiri hidupmu dan barusan aku telah menyelamatkanmu?” Tuturnya bertanya. Manik coklat gelapnya menghunus tajam manik coklat terang milik gadis didepannya yang terlihat sembab dan sedikit merah.


Gadis kecil itu terkekeh tidak mempedulikan dinginnya air hujan yang seakan menusuk hingga tulang. “Apakah aku meminta untuk diselamatkan?’ dan siapa yang bilang kepada dirimu kalau aku hendak mengakhiri hidupku?’ otakku tidak sedangkal itu!” Balasnya dengan penuh penekanan serta tatapan yang tak kalah tajam.


Devan terdiam membenarkan apa yang dikatakan gadis cantik yang berada dihadapannya. Gadis itu memang tidak meminta dirinya untuk menyelamatkannya. Juga, tidak ada yang memberitahu dirinya kalau ada gadis yang akan mengakhiri hidupnya di tepi jembatan. Seakan tidak mau kalah, Devan akhirnya kembali membuka suara. “Berdiri ditepi jembatan malam-malam serta hujan-hujan apa namanya jika tidak ingin mengakhiri diri?.”


Gadisi itu terdiam sekan tidak memiliki jawaban, matanya masih menghunus tajam manik mata Devan yang juga menghunus nyalang pada dirinya. “Terserah aku, mau berdiri dimana saja, apa hubungannya dengan kamu?” Balasnya kemudian. Lantas, gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan Devan yang masih setia diposisinya.


“Tidak sopan,” Cibir Devan. Namun, tidak dihiraukan oleh gadis yang kini semakin menjauh dari tempatnya berpijak hingga beberapa detik kemudian.


Brukkkk

Tubuh gadis itu tumbang. Devan yang melihat itu lantas berlari menghampiri gadis itu dan berjongkok disebelahnya. Ditepuknya pelan pipi gadis itu berharap gadis itu masih mempunyai kesadaran. “Nona?!” Panggilnya namun tidak mendapat balasan.


Tidak mau berpikir panjang, Devan langsung membopong tubuh gadis itu ala bridal styl dan membawanya masuk kedalam mobilnya. “Menyusahkan,” Gerutunya kesal ketika dirinya kesusahan untuk membuka pintu mobilnya namun pada kahirnya terbuka juga.


Devan merebahkan tubuh gadis itu dijok belakang sebelum akhirnya ia menyusul dijok depan dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang bisa dijangkau dengan cepat.



********




Beberapa menit berlalu namun, masih tidak ada tanda-tanda kalau gadis itu akan membuka matanya. Dan Devan, laki-laki itupun masih dengan setia menunggu gadis yang ditolongnya itu untuk membuka mata, entah apa yang membuat laki-laki itu rela menunggui gadis yang bahkan belum diketahui namanya dan melupakan kekasihnya yang kini sedang menunggu kedatangannya.


Suara pintu yang terbuka tak membuat atensi Devan berlaih untuk menatap gadis yang kini terlihat begitu damai dalam lelapnya.


“Tuan,” Panggil sosok yang baru masuk itu.


“Hm,” Hanya deheman yang Devan berikan sebagai jawaban. Atensinya masih ia fokusnya dengan objek yang ada dihadapannya.


“Ini pakaian ganti yang Tuan minta!” Laki-laki berpakaian serba hitam itu menyerahkan sebuah paper bag kepada Devan. Devan pun menerimanya lantas membawanya menuju kamar mandi yang ada diruang rawat gadis yang ditolongnya.


Beberapa menit kemudian, Devan keluar sudah dengan baju gantinya, kaki jenjangnya membawa tubuh tegabnya menghampiri asisten yang kini menjaga gadis di yang ditolongnya. “Pulanglah, biar aku yang jaga!” Titahnya.


“Baik Tuan!” Orang itu langsung menurut tanpa membantah dan berlalu meninggalkan atasannya.


Selang kepergian Argan lelaki berbaju serba hitam yang berstatus sebagai asisten Devan, gadis yang kini masih terpejam nampak mulai membuka matanya perlahan hingga kini benar-benar terbuka lebar membuat Devan yang semula menatap ponselnya kini beralih menatap gadis didepannya.


“Eughh,” Erangnya. Lantas gadis itu mengedarkan pandangannya dan menemukan Devan yang kini sedang menatapnya.


“Kamu?” Gadis itu menunjuk Devan dengan jari telunjuknya. Suaranya terdengar begitu lemah tak bertenaga.


“Kamu tadi pingsan dijalan, menyusahkan!” Balas Devan. Tangannya tergerak untuk menyimpan gawai yang digenggamnya kedalam saku jas yang dikenakannya.


Lantas, gadis itu merubah posisinya menjadi duduk. “Kalau menyusahkan kenapa kamu tidak meninggalkan saja aku di tengah jalan?!” Serunya dengan nada kesal.


Devan diam, laki-laki itu tidak berniat untuk membalas perkataan gadis yang baru saja membuka matanya itu.


“Aku tidak membutuhkan belas kasian!” Imbuhnya dengan ketus.


Pintu ruang rawat yang semula tertutup dengan rapat tiba-tiba terbuka disusul dengan seorang perawat yang kini berjalan menghampiri gadis yang masih setia diposisinya.


“Nona Key, Tuan Arsen ingin bertemu dengan anda,” Ujar perawat itu.


“Papa,” Seru gadis yang disapa Key itu dengan tiba-tiba. Dengan segera ia beranjak dari ranjangnya dan berlalu keluar menuju ruang rawat papanya membuat Devan yang tidak mengerti apa-apa menatap penuh tanya.


“Suster,” Pnggil Devan pada perawat yang kini sedang merapikan ranjang Key.


Suster itu menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian menatap kearah Devan, “Iya Tuan?”


“Siapa Tuan Arsen?” Tanyanya.


“Beliau pasien dirumah sakit ini, Tuan. Sudah dua minggu beliau dirawat dan Nona Key tadi adalah putri Tuan Arsen,” Terang perawat itu.



**********


“Papa kenapa belum tidur? Ini kan sudah malam,” Ujar Key. Gadis itu menggenggam erat telapak tangan sang papa yang tidak terdapat selang infus.


“Key,” Panggil Arsen dengan suara yang bergetar. Tangannya yang lemah tergerak untuk melepaskan cassal kanual yang digunakan untuk membantu dirinya bernafas. Dan Key yang melihat itu langsung membantu ayahnya untuk melepaskannya.


“Iya, Key disini,” Balas Key lembut.


“Key, boleh papa minta sesuatu dari Key?” Tanya Arsen.


“Tentu saja, apa yang Papa inginkan pasti akan Key penuhi selagi Key sanggup,” Balas Key dengan cepat.


“Papa hanya mau Key menikah sebelum papa tidak ada, Papa ingin melihat Key dengan seseorang yang bisa menggantikan Key untuk menjaga papa, memberikan cinta dan kasih sayang yang selama ini Key dapat dari papa,” Terangnya.


“Papa nggak boleh ngomong kayak gitu, Key pasti akan menikah kok nanti kalau sudah menemukan sosok yang tepat dan meskipun Key sudah menikah tapi tetap saja cinta dan kasih sayang papa tidak akan tergantikan,” Balas Key lembut.


“Tapi sayang, papa sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” Ujar sang papa.


Key terdiam, gadis itu merasa sedih sekarang. Ditatapnya wajah sang ayah yang sudah nampak berbeda dengan sebelum-sebelumnya hingga tanpa terasa setitik air mata meleleh begitu saja melewati pelupuk mata Key kemudian mengalir deras membasahi pipi mulusnya.


“Maaf kan Key, Pa. Key tidak bisa memenuhi keinginan Papa untuk yang ini tapi Key yakin suatu hari nanti Papa akan bisa menyaksikan itu,” Key menjeda kalimatnya, gadis itu sudah mulai terisak menginga kekasihnya yang meninggalkannya karena dirinya yang tidak sepanding dengan keluarganya.


Key segera menghapus air matanya yang kian mengalir deras. “Udah, Papa nggak usah mikirin itu ya, Papa fokus saja dengan kesehatan Papa supaya Papa cepat sembuh dan kelak bisa meyaksikan Key berbahagia dengan sosok terbaik pilihan Key,” Lanjutnya.


Tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang sejak daritadi memperhatikan interaksi antara Key juga Papanya, Arsen. Sosok itu kemudian melangkahkan kakinya mendekati Key yang duduk membelakangi pintu.


“Saya bersedia menikahi Putri anda,” Ujarnya tiba-tiba membuat Key juga Arsen yang mendengarnya tersentak kaget dan langsung menoleh kearah sosok tersebut.


“Kamu siapa?” Tanya Arsen lemah.


Devan melangh sedikit mendekat kearah laki-laki paruh baya yang kini terbaring lemah. “Saya Devan dan saya bersedia untuk menikah dengan Keysia.”

Related chapters

DMCA.com Protection Status