Married

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Keysa Asyila Putri binti Arsenio Galen Putra dengan maskawinnya tersebut dibayar tunai!” Devan mengucapkan kalimat ijab qabul dengan lantang serta sekali nafas tarikan.

“Bagaimana para saksi, sah?” Tanya penghulu yang membantu acara pernikahan Devan dan Keysia.

“Sah,” Ujar para perawat juga dokter yang menjadi saksi pernikahan keduanya.

Detik itu juga, Key resmi menjadi Nyonya Aderland. Keduanya pun saling bertukar cicin satu sama lain dan dilanjut dengan doa hingga acara pernikahan dadakan itu berakhir dan semua yang menjadi saksi berlalu pergi.

“Key,” Panggil Arsen.

“Iya, Pa?” Berat saat Key menjawab. Gadis itu ingin menangis sekencang-kencangnya sekaranag. Namun itu tidaklah mungkin, dihari yang menurut ayahnya itu adalah hari bahagia maka Keysia tidak akan merusaknya. Lantas Keysia menarik paksa kedua sudutnya membentuk seulas senyum peliknya.

Pernikahan yang ia harapkan akan terjadi dengan seseorang yang ia cintai dan mencintai dirinya kini malah ia lakukan dengan seorang laki-laki yang bahkan baru saja dirinya kenal. Pernikahan tanpa adanya sebuah penedekatan, tanpa tahu siapa sebelumnya sososk itu dan juga tanpa didasari dengan cinta, seperti apa jadinya?.

“Papa bahagia karena sekarang kamu sudah punya seseorang yang bisa menjaga kamu,” Ujarnya.

“Papa berharap, kamu bisa menjadi seorang istri yang baik, istri yang selalu ada untuk suami disaat keadaan susah maupun senang,” Arsen menjeda kalimatnya sejenak.

“Layani suami kamu, jangan jadi istri durhaka yang membantah perkataan suaminya,” Imbuhnya.

Keysia tidak lagi mampu untuk membendung air matanya, lelehan kristal yang sejak tadi tertahan kini akhirnya luruh menganak sungai mengguyur penuh pipi mukusnya. “Iya, udah ya Papa nggak perlu lagi mikirin itu. Key pasti akan menjadi istri yang baik buat Mas Devan,” Keysia melirik kearah Devan sekilas kemudian kembali menatap sang Papa.

“Devan,” Arsen mengalihkan perhatiannya menatap sang menantu.

“Iya, Pa?” Balas Devan tanpa rasa canggung. Laki-laki itu bahkan masih memasang tampang datar namun sopan,

Arsen yang mendengar menantunya memanggil dirinya dengan sebutan Pa itupun mengulas senyum tipisnya. “Papa titip Keysia ya, jaga dia, berikan dia cinta juga kasih sayang seperti yang papa berikan , jangan buat putri kecil papa ini bersedih karena papa sangat menyayangi dia,” Pintanya.

Devan menoleh sejenak kearah Keysia yang duduk disebelahnya sebelum akhirnya kembali menoleh kearah sang papa mertua. “Papa tenang saja, tanpa Papa minta pasti Devan akan lakukan itu,” Balasnya mantap.

“Terimakasih, sekarang Papa bisa istirahat dengan tenang,” Ujar Arsen yang kemudian memejamkan matanya dan detik itu juga mesin pendeteksi jantung yang berada disebelah brankar Arsen itu mengeluarkan suara yang panjang. “Tiiiiiittttttttttt.”

“PAPAAA,” Pekik Keysia dengan derai air mata yang mengalir deras layaknya hujan yang turun kebumi.

Sedangkan Devan, laki-laki itu tidak tinggal diam. Ia dengan segera memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan mertuanya.

“Papa bangun hiks,” Keysia mengguncang kasar tubuh sang papa berharap cinta pertamanya itu membuka mata.

Tak berselang lama, Devan juga dokter pun tiba kemudian langsung memeriksa keadaan Arsen.

“Maaf Tuan dan Nyonya Aderland, Tuan Arsen sudah meninggal dunia,” Tutur dokter itu. Lantas meminta suster untuk melepaskan alat bantu hidupnya.

“Papa jangan tinggalin key,” Keysia berhambur memeluk jasad sang papa. Gadis itu menangis sejadi-jadinya berharap sang papa akan membuka mata.

“Papa, hiks Key sayang papa, Papa bangun hiks Key tidak punya siapa-siapa selain Papa,” Ujar gadis itu dengan berlinang air mata.

Devan yang melihat itu merasa tidak tega, ntah kenapa hatinya tercubit saat melihat gadis yang baru saja dinihahinya itu menangis padahal dia sendiri tidak mempunyai rasa apa-apa.

“PAPA BANGUN!!!” Key terus mengguncang tubuh sang Papa.

“BANGUN PAPA BANGUN!!!”

“Jangan tinggalin Key sendiri,” Tangis Key semakin menjadi-jadi membuat Devan yang melihatnya semakin tidak tega.

Lantas, Devan menarik tubuh Keysia dan membiarkan gadisnya itu menangis dipelukannya, dan Key pun tidak memberontak. Jujur, ia sangat butuh sosok yang bisa ia jadikan sandaran sekarang, sosok yang bisa menguatkan dirinya saat cinta pertamanya telah pergi untuk selamanya.

Tangan kekar Dev tergerak untuk mengelus surai panjang milik istrinya. “Masih ada aku yang akan menjadi teman hidupmu,” Ujarnya. Entah Devan berucap seperti itu sadar atau tidak.

Key masih menangis dengan tersedu-sedu dibalik dada bidang Dev yang sekarang berstatuskan suaminya. Gadis itu benar-benar merasa terluka atas kepergian ayahnya.

“Dokter,” Ujar Devan memanggil dokter yang masih setia diposisinya.

“Tolong langsung diurus ya!” Pintanya.

“Baik Tuan.”

*******

Keesokan harinya, setelah acara pemakaman selesai Key pulang kerumahnya juga dengan Devan yang ikut bersama istrinya. Rumah sederhana yang jauh dari kata mewah kini hanya menyisakan kenangan buat Keysia yang masih menyelami masa duka.

“Maaf ya Mas kalau rumahnya mungkin nggak semewah rumah Mas Devan,” Ujar Key, gadis itu merasa tidak enak kepada suaminya. Key memang belum pernah kerumah Devav, tapi gadis itu cukup tau kalau Devan adalah orang yang terpandang.

“Tidak apa-apa,” Balas Devan.

Keysia kemudian membuka pintu rumahnya, gadis itu terlebih dahulu masuk kedalam diikuti dengan Devan. Kakinya terus melangkah hingga kini keduanya berhenti di depan sebuah pintu kamar. “Mas Dev istirahat aja dulu di kamar ku, aku akan siapkan makanan dulu,” Ujarnya lembut. Lantas, Key hendak berlalu menuju dapur untuk membuatkan makan siang untuk suaminya. Namun, suara Devan membuat Key mengurungkan niatnya.

“Tidak usah masak, kita pesan aja,” Ujarnya.

“Hm, baiklah,” Balas Key. Gadis itu tidak membantah apa yang dikatakan Devan. Dirinya juga tidak tersinggung dan berfikir buruk mengenai Devan yang memilih memesan makanan daripada mencoba masakannya.

“Ya udah, Mas Dev istirahat aja dulu. Key mau ke kamar Papa terlebih dahulu,” Ujar gadis itu. Dev mengangguk dan berlalu masuk kedalam kamar sederhana namun bersih juga rapi milik Keysia.

Sejenak, Dev mengedarkan pandangannnya menyapu bersih setiap sudut kamar milik istrinya itu. Kaki jenjangnya membawa tubuh tegapnya menuju ketempat tidur minimalis yang ada disudut ruangan. Devan mendudukkan dirinya kemudian memainkankan ponselnya untuk memesan makan siangnya. Selepas itu, ia kembali menyapu bersih setiap sudut kamar milik istrinya hingga kini tatapan matanya jatuh pada sebuah vigura yang menampilkan foto Keysia yang mengenakan seragam SMA.

Tangan Devan tergerak untuk melihat foto itu, ibu jarinya bergerak lembut mengusap wajah Key yang tersenyum manis. Tanpa sadar, Devan mengangkat salah satu sudut bibirnya membuat sebuah senyum tipis, sangat tipis.

Setelah puas memandang, Devan kembali meletakkan bingkai foto tersebut ditempat yang semula. Tangannya kembali tergerak untuk mengambil ponselnya dan memainkannya, terlihat disana ada beberapa pesan serta panggilan tidak terjawab dari Anna.

Sedetik kemudian ponselnya kembali berdering dengan nyaring, nama Anna tertera dilayar ponselnya. Devan kemudian menggeser icon berwarna hijau dan mendekatkan benda berbentuh pipih itu kedekat daun telinganya.

“Astaga Devan, kamu kemana saja dari kemarin tidak ada kabar? aku nungguin kamu dari kemarin dan kamu tidak kunjung tiba juga,” Seketika itu Devan langsung menjauhan gawai yang digenggamnya dari telinganya. Suara nyaring kekasihnya itu benar-benar menggertakkan telinganya.

Laki-laki itu sudah mengira kalau kekasih cerewetnya itu pasti akan menyerangnya dengan berbagai macam pertanyaan yang bisa membuat bahaya telinganya.

Devan kemudian kembali mendekatkan gawainya kedekat daun telinganya. “Maafkan aku Anna, aku tiba-tiba mendapat panggilan dari perusahaan dan harus pergi detik itu juga karena ada kepentingan mendadak yang tidak bisa aku tunda,” Alibinya karena ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Anna kekasihnya.

“Terus sekarang kamu dimana?” Tanya Anna disebrang telfon.

“Aku masih diluar kota, besok baru pulang,” Balasnya.

“Sesampainya di Jakarta kamu harus ke tempat aku!” Pinta gadis itu tanpa bisa Devan tolak.

“Iya, ya sudah aku akhiri dulu telfonnya karena sebentar lagi aku mau ada rapat.”

“Baiklah-baiklah masterku yang sibuk, Love you muach.”

“Hm,” Devan langsung memutus panggilannya begitu saja tanpa membalas ungkapan cinta atau kiss dari Anna.

Selepas bertukar suara dengan kekasihnya, Devan hendak merebahkan dirinya namuan suara pintu yang diketuk dengan sedikit keras itu membuat Devan mengurungkan niatnya. Lantas ia segera beranjak keluar dari kamar istrinya dan berlalu untuk membukakan pintu yang ternyata seorang go food yang mengantarkan pesanannya.

“Terima kasih,” Ujar Devan menerima pesanan itu kemudian segera membawanya kebelakang.

Disimpannya paper bag yang dibawanya diatas meja makan, Devan kemudian berlalu menyusul Keysia yang tadi sempat berpamitan ke kamar sang papa.

Sejenak Devan menghentikan langkahnya, ia mengintip Keysia yang ternyata ketiduran dengan posisi meringkuk serta memeluk sebuah bingkai foto.

Perlahan tangan Devan tergerak untuk membuka pintu kayu yang menyisakan sedikit celah itu disusul dengan dirinya yang melangkah masuk menghampiri istrinya yang terlelap dengan damainya serta sisa air mata yang membekas dipipinya.

Serasa tidak tega Devan untuk membangunkan Keysia, Tetapi, gadis itu pasti lapar karena dari sejak kejadian malam itu hingga sekarang Keysia belum sekalipun makan.

Mau tidak mau Devan akhirnya memutuskan untuk membangunkan istrinya. “Key,” Ujarnya lembut sembari menepuk pelan lengan Keysia.

Tidak susah untuk membangunkan gadisnya, Keysia mengerjabkan matanya dan perlahan terbuka dengan sempurna. “Mas Dev, kenapa?” Tanyanya dengan suara seraknya.

“Makan dulu,” Ajaknya kemudian berlalu terlebih dahulu dari kamar mertuanya.

Keysia kemudian beranjak untuk duduk, gadis itu menyimpan bingkai foto yang digenggamnya itu ditempat yang semula sebelum akhirnya menyusul Devan yang sudah mendudukkan dirinya di kursi meja makan.

Keysia kemudian dengan segera membantu Devan untuk mengambil makanannya sebelum ia mengambil untuk dirinya sendiri, setelah itu keduanya pun sama-sama menikmati makanannya dalam diam.

“Besok kita akan tinggal dirumah ku, apa kamu keberatan?” Tanya Devan tiba-tiba disela-sela menikmati makanannya.

Keysia menggeleng sebagai jawaban kemudian kembali memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya tanpa selera.

*

*

*

Hallo, jumpa lagi dan terima kasih buat yang sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak dan beri rate 5 ya :)

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Poe poey
bagus 🍎🍎🍎
goodnovel comment avatar
Averill Hidayatcharoline
kerennn crtanya
goodnovel comment avatar
Sim Prabu
Lanjutttt ❤️❤️❤️
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

DMCA.com Protection Status