Share

Man Who Can't Be Moved
Man Who Can't Be Moved
Author: Elraa Hafa06

Bab 1

"Sudah sampai!" 

Lelaki itu memindai raut wajah sang wanita setelah melepas penutup mata. Berjongkok di sebelahnya. 

Mulut sang wanita terbuka lebar kala menyisir pandangan di sekitaran tempatnya berada. Sungguh, tidak ada yang berubah dari tempat ini. Bangunan putih itu masih berdiri tegak di sana, dengan pohon ketapang yang tumbuh di sekitarnya. 

"Terima kasih banyak sudah membawaku kemari." 

Bangunan itu adalah salah satu kenangan lama milik keluarganya yang sudah lama ditinggalkan dan terbengkalai. 

Aine kembali kemari setelah belasan tahun lamanya. Hanya saja kali ini ia kembali dengan banyak kenangan yang tertinggal di sana.

Sang lelaki mengangguk. Tangan itu meraih puncak kepala si wanita. Mengacaknya gemas, membuat wanitanya mengerucutkan bibir sebal.

Tanpa sadar sang wanita mencoba berdiri dari kursi roda yang ia duduki. Bergetar tangannya berusaha untuk berdiri, menumpukan berat badan pada kedua kaki. Ia berdiri. Maniknya berpendar cerah memperhatikan tempat yang sudah lama ingin ia datangi setelah sekian lama. 

"Aku selalu ingin kemari, tapi sayangnya tak punya cukup kekuatan untuk pergi sendirian." 

Lalu tak lama senyum manis kembali terukir di wajahnya. Setelahnya, ia kembali memutuskan untuk duduk di kursi roda karena kelelahan. Walaupun hanya sebentar rasanya itu sungguh hal yang patut disyukuri karena semenjak seluruh tubuhnya melemah ia hanya bisa menggerakkan tangan, leher dan kepalanya saja. 

Wanita itu tersenyum senang sekali sembari memperhatikan lekat pada lelaki di belakangnya. Seolah mengatakan,

'lihat, Sayang aku sudah bisa berdiri!'

Sang lelaki terpekur sejenak, setelahnya kembali mengumbar senyum pada wanitanya.  Setidaknya, sebaris senyum milik sang wanita telah kembali, setelah lama tak muncul.

Taman yang ramai akan tawa anak-anak yang sedang bermain, juga orangtua yang sibuk mengawasi anak-anak mereka. Suasana di tempat ini sangat menyejukkan, sangat asri dan terjaga. Embusan angin sore menerpa wajah mereka. Keduanya menikmatinya, menutup mata, menarik napas dalam-dalam.

Sang wanita sedang sibuk menolehkan pandangannya ke kiri kadang ke kanan memperhatikan setiap momen, seolah tidak ingin melewatinya. Diikuti sang lelaki sembari mendorong pelan kursi roda miliknya.

Sang lelaki menghentikan kursi saat tiba di salah satu bangku besi panjang di bawah pohon kersen yang di mana banyak daun dan buahnya berserakan jatuh. Ia berjalan menghadap sang wanita, mengulurkan tangan lalu berucap, "mau dibantu, Tuan Putri?" ujarnya ramah dengan senyuman yang memperlihatkan gigi putih miliknya berderet rapi. Matanya terlihat menyipit.

Senyum teduh milik lelaki itu membuat sang wanita ikut mengukir senyum. Diraihnya tangan lelaki itu, mencoba berdiri dengan segenap kekuatan kaki yang ia mampu walau kesulitan.

Setelah berhasil menduduki bangku panjang. Sang lelaki ikut duduk di sebelahnya. Menumpu kedua sikut pada paha, mengamati raut wajah wanita di sebelahnya. 

"Ada apa? Kamu capek?" 

"Kalau kamu capek, aku sudah menyewa hotel untuk kita. Mau istirahat sekarang?" imbuhnya lagi. Sang wanita menatapnya sebentar sebelum memilih menunduk.

Perasaan sedih menyergap isi hati sang wanita. 

"Maaf, aku terlalu banyak menyusahkan kamu. Mengikat dengan perjanjian seolah kamu adalah boneka. Chandra, sekarang kamu boleh pergi. Aku sudah bisa sendiri, jangan pedulikan aku lagi. Kamu bebas sekarang." Sang wanita menyeka sudut matanya yang entah sejak kapan tiba-tiba dipenuhi genangan air mata. 

"Aku suka direpotkan, jangan merasa bersalah, Ai. Tidak masalah semerepotkan apapun permintaan itu, asalkan buat kamu pasti aku turuti. Karena, kamu itu penting buat aku." 

Lelaki di sebelahnya mengusap pelan jejak air mata di pipi sang wanita. 

"Kamu tau, 'kan, Chandra. Sisa hidup aku tidak lama lagi. Dokter juga bilang, kemungkinan operasi berhasil 1:1000. Sebaiknya, cari bahagiamu bersama wanita lain. Aku akan dengan senang hati menerimanya lapang dada. Serius." 

Sang wanita mendongakkan wajah menatap lelaki di sebelahnya. Memperlihatkan jari kelingking, mengisyaratkan ia sedang berjanji. 

Rambut sang wanita berkibar diterpa angin yang menutupi sebagian wajahnya. 

Sang lelaki memindai wajah wanita itu. Kembali mengumbar senyum. Tidak ada raut wajah penyesalan yang ia perlihatkan. Semua yang dilakukan untuk sang wanita memang benar tulus.

"Aku itu penyakitan, menyusahkan, banyak mau---" ucapan wanita itu dipotong. Lelaki di sebelahnya mengelus puncak kepala sang wanita. Membawanya ke dalam dekapan. Menenangkan dengan cara yang biasa dilakukan ketika wanita itu mulai menangis lagi.

"Ai, berhenti mengeluh. Kamu itu berharga."

Manik mata sang wanita berpendar meredup. Bulir bening di sudut mata kembali berdesakan keluar, tak terbendung. Dia memilih menutup mulut menyembunyikan isak tangisnya yang semakin menjadi.

Berulang kali, perkataan yang sama diucapkan oleh sang lelaki. Berulang kali juga ia tetap menangis saat mendengarnya.

Entahlah. Belakangan ini ia jadi sering sentimental terhadap kata-kata yang menyentuh. Mungkin karena suasana hatinya yang sedang kacau balau. Sang wanita menangis tersedu. 

"Kamu tau? Saat seorang pasangan mengetahui ada cela pada pasangannya lalu ia memilih meninggalkannya. Itu artinya, dia tidak benar-benar tulus dalam mencintai pasangannya. Dan, aku tidak mau jadi bagian dari mereka."

"Cela-ku banyak, Chandra. Bahkan tak terhitung. Bagaimana mana bisa kamu begitu ingin bertahan denganku!"

Teriak sang wanita. Bahunya bergetar hebat. 

"Cela-mu memang banyak. Tapi, perasaanku untukmu tetap sama. Kamu, masih yang dulu, masih orang yang paling kuharapkan bersamaku hingga nanti. Peranmu tak bisa digantikan oleh siapa pun. "

Sang lelaki tersenyum tulus. Wanitanya memperhatikan hal itu sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke bawah. Meremas kuat ujung bajunya.

"Terima kasih, Chandra." 

Wanita itu berkata setenang mungkin. 

Setidaknya sampai saat dia sudah menemukan orang yang selama ini benar-benar menganggap keberadaannya. Bagi Chandra itu sudah cukup untuk menjalani hidup dengan bahagia.

"Temukanlah untukmu wanita yang lebih pantas dibanding aku. Dan, aku minta tetaplah jadi Chandra yang kukenal.  Aku berharap, setelah nanti aku pergi kamu akan sering mengunjungiku."

" ......"

Bersamaan dengan itu suara embusan angin mendominasi pendengaran Chandra sehingga ia tidak bisa dengan jelas mendengar apa yang dikatakan Aine. 

Ingin mengatakan pada Aine namun sepertinya tidak tepat sebab wanita itu masih dalam keadaan sedih. Jadi, Chandra hanya diam. Membiarkan wanita itu melakukan apa saja yang mungkin bisa melegakan sesak di dadanya.

Setitik lalu menjadi banyak bulir bening meluncur di sudut mata sang wanita. Ia terlihat sesunggukan, tak percaya bahwa akan mengatakan ucapan perpisahan secepat ini. 

Harusnya semesta memberinya waktu yang lebih lama untuk hidup. Menghabiskan setiap harinya bahagia bersama pria yang dicintai. Menikah, punya rumah impian, memiliki momongan, hidup dalam kedamaian hingga hari tua. Namun, takdir berkata lain. Hari ini 5 tahun sudah ia bertahan dengan penyakit yang merenggut seluruh kebahagiaan dalam diri Aine. 

Aine sudah tak sanggup lagi melakukan apa-apa. Bahkan untuk berjalan saja harus didorong orang lain walaupun menggunakan kursi roda. Kakinya lumpuh dan tangannya kadang terasa kebas dan mati rasa ketika digerakkan. Ia merasa sangat tidak berguna. Di dalam pikirannya, ia hanya ingin pergi saja dan tak mau merepotkan lagi orang lain. Karena ia memang sejak awal tidak pernah berguna dan selalu merepotkan. 

Chandra tak pernah menyangka bahwa perkataan sang wanita adalah serius. Ia menganggap hal itu adalah sebagai lelucon seperti biasa. Kata-kata yang sering si wanita ucapkan saat sedang benar-benar butuh didengarkan dan chandra hanya menjadi seorang pendengar yang baik. Chandra menganggap semua itu hanyalah kata-kata lelucon yang tidak akan pernah jadi kenyataan.

***

Malam hari.

Langkah kakinya berhenti tepat di seberang jalan yang langsung menuju ke hotel. Ia kembali setelah kurang lebih dua jam berada di luar hotel karena tak sengaja bertemu dengan teman lama dan menerima ajakan minum bersamanya.

Menoleh ke kiri dan ke kanan, jalanan masih padat oleh kendaraan yang sedang melintas. 

Ia memperhatikan jam tangan, menunggu jalanan lengang. 

Lalu, tanpa sadar matanya menangkap sesuatu yang aneh. Di lantai dua, dari balik gorden ruangan itu sekitar 3 atau 4 bayangan orang yang sedang mondar-mandir. Tapi, ia mengabaikan hal itu.

Saat sedang menunduk, ponselnya bergetar. Sejurus kemudian, tangannya merogoh saku celana mencari-cari benda pipih itu. 

Jempolnya kanannya menggeser layar ke atas. Betapa herannya ia pada pesan yang masuk. 

[Chandra, pergilah dari hotel itu. Bersembunyilah, jangan sampai dirimu terlihat oleh orang lain!]

Sesaat setelah membaca pesan tersebut, Chandra mengerutkan alis tidak mengerti. 

Apa maksud dari pesan tersebut. Kenapa tiba-tiba saja Pak Deri mengirimkan pesan tersebut di saat-saat seperti ini?

Angin malam mendadak kencang, disusul suara dari atas langit. Petir menyambar dan pohon-pohon terlihat bergerak-gerak dihantam kencangnya angin. Suasana semakin sejuk menimbulkan gigil pada badan.

Entah kenapa perasaan Chandra mendadak tidak enak. 

Lalu tak lama terdengar suara ribut-ribut dari seberang jalan sana. Bersamaan dengan itu suara sirine ambulan terdengar, memekakkan telinga. Membuat Chandra menutup kedua telinga. Meluruskan pandangan melihat ada apa di seberang sana.

Banyak orang berkerumun di depan hotel, mengelilingi ambulan. Chandra keheranan.

Tampaknya, udara dingin malam tak mengusik orang-orang itu untuk melihat sesuatu yang membuat mereka penasaran. Banyak dari mereka terlihat berbisik-bisik saat petugas membawa seseorang ke dalam ambulan.

Chandra menarmenari udh tangan kanannya di sisi wajah, menghalangi angin yang dari tadi menyusahkannya. Menajamkan penglihatan. Namun tetap saja tak jelas bagaimana ciri-ciri orang tersebut saat dimasukkan ke dalam ambulan. Kendaraan yang berlalu-lalang menghalangi penglihatannya.  

Menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa jalanan sudah aman untuk dilewati. Hendak melangkahkan kaki, namun saat itu pula seseorang menahan lengannya membuatnya berhenti. Lalu membalikkan membalikkan badan untuk melihat ke belakang.

"Kau....?" 

"Sebaiknya, ikut aku. Saat ini kau adalah buronan polisi. Ayah menyuruhku datang membantumu. Cepatlah! kita tidak punya banyak waktu. Atau kau lebih suka mendekam di penjara?"

Buronan? Ayah? Siapa?

Sirine mobil polisi terdengar mendekat. Satu ... ah, tidak ternyata lebih dari 5 mobil polisi barusaja tiba. 

Kata-kata itu terus berputar di kepalanya. Karena tak dijawab oleh Chandra, seseorang dalam balutan jubah hitam itu menariknya pergi menjauh dari sana. 

                                 ***

Rasanya seperti belum lama ini mereka masih baik-baik saja. Sang wanita yang biasanya setia dalam senyum manisnya menyambut kedatangannya kini pergi dan tak akan pernah kembali. 

Semuanya tiba-tiba berubah. Kebahagian begitu cepat berubah menjadi duka. Ia kembali harus menerima kenyataan menyakitkan. Ditinggalkan orang yang paling disayang. Lagi dan lagi. 

Semesta memang tidak memberikan banyak waktu untuk membiarkannya hidup dalam kebahagian. 

Semenjak kecil ia memang tak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Dan sekarang pun ia kembali harus merelakan orang yang disayang, kekasih sekaligus temannya. Menyakitkan, tapi memang begitu kerja takdir. 

Chandra berdiri di sebelah pemakaman bertuliskan nama Aine Radayana. 

Cuaca belakangan ini terus-terusan hujan disertai angin kencang. Seolah menggambarkan keadaan hati Chandra yang sedang berduka.

Kemeja abu-abu lengan panjangnya berkibar diterpa angin. Di depan sana ada banyak pohon yang berguguran daunnya.  

Tatapannya tak beralih dari gundukan tanah yang belum lama ditimbun itu. Di atas tanah yang masih baru itu ada banyak macam warna bunga  bertaburan. 

Menghela napas dalam, ia menekuk lutut lalu berjongkok. Meletakkan bunga lili putih kesukaan gadis itu di atas tanah, menyentuh nisannya, lalu menangis sesenggukan. 

Chandra menyembunyikan air mata yang terus mengalir deras di pipi pucatnya yang bėanyak ditumbuhi bulu-bulu halus dengan lengan baju panjang. Ia menyandarkan wajah ke lengan kanannya.

Dua hari setelah pemakaman Aine. Chandra memutuskan untuk datang. Sengaja, datang lebih akhir karena tidak ingin mengambil resiko. Karena sekarang ia sudah berstatus sebagai tersangka pembunuhan gadis yang paling dicintainya. Padahal jelas-jelas bahwa pada saat-saat terakhir Aine, Chandra tak bersamanya.  

Tapi, kenapa malah ia yang dijadikan tersangka? Di tengah keadaan berduka karena kehilangan, Chandra dihadapkan pada posisi yang sama sekali tidak disangkanya. Dijadikan tersangka atas kematian kekasihnya sendiri. 

Bukankah menyakitkan? 

Chandra menyesal karena meninggalkan gadis itu sendirian di hotel. Kalau saja ia lebih berhati-hati. Pasti tidak akan berakhir seperti ini.  

Seorang pria bertubuh jangkung dengan pakaian serba hitam mendekat ke arahnya. 

Chandra langsung menoleh cepat, kalau-kalau saja orang yang datang adalah polisi, ia sudah berniat untuk berlari secepat mungkin, menjauh bagaimanapun caranya. 

Berhati-hati Chandra berbalik. Namun, orang yang sedang menatapnya itu dikenalnya. Setidaknya ada alasan ia menghela napas lega untuk sekarang. 

Chandra berdiri. 

Sekilas melihat pada pria berusia 45 tahun itu. Tatapan dari balik kacamata itu, Chandra paham. Bahunya ditepuk perlahan oleh pria di sebelahnya, berulang kali berusaha menegarkan. 

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Setelah pemakaman ini datanglah ke ruanganku. Ada sesuatu yang ditinggalka oleh Aine untukmu dan dia memintaku untuk memberikannya padamu.

Lalu, semua yang ingin Anda ketahui akan saya jelaskan di ruangan nanti."

Chandra mengangguk pelan. Masih tanpa mengalihkan pandangannya dari kuburan itu.

Setelahnya pria paruh baya itu pergi berpamitan, melangkah pergi tanpa banyak kata. Ia paham bagaimana rasanya kehilangan orang yang begitu berarti. Membiarkan Chandra sendiri untuk sekarang ini adalah hal terbaik yang bisa dilakukan oleh pria berkacamata itu.

___

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Puterisenja
Tentang apa ya ini😀
VIEW ALL COMMENTS
DMCA.com Protection Status