Perfect honeymoon [INDONESIA]
Perfect honeymoon [INDONESIA]
Author: Sunrise Prince
Bagian pertama

Selamat datang di kehidupan Yogi, seorang pengangguran yang sibuk mencari pekerjaan namun justru memperoleh pernikahan yang tidak dia bayangkan.

Selamat membaca. 

Yoggi mendorong sepeda motornya sampai ke depan rumah. Tadi motornya kehabisan bensin dan dia baru ingat bahwa dompetnya telah mengheningkan cipta sejak seminggu yang lalu. Setelah wisuda dua bulan lalu, kehidupan Yoggi berubah. Tidak ada lagi uang jajan atau uang bensin.

“Kalau mau duit, kerja! Cari kerja!”

Begitu kata ayahnya yang hanya berprofesi sebagai tukang sablon sederhana. Dulunya ketika era digital belum merajalela seperti saat ini, usaha ayahnya terbilang cukup baik. Banyak orderan yang masuk. Di tahun-tahun itu bahkan Yoggi sering mendapatkan uang jajan lebih banyak jika ikut membantu pekerjaan ayahnya.

“Dari mana, Yog?”

Yogi menoleh pada sumber datangnya pertanyaan tersebut. Ibu-ibu dengan daster bergambar bunga-bunga berdiri tidak jauh darinya, tepatnya di seberang jalan.

Itu Bu Suwita, tetangga yang rajin sekali mengurusi kehidupan banyak orang. Seluruh penghuni kompleks sudah khatam dengan tabiat wanita itu. Semua orang pernah jadi bahan pembicaraannya. Jika ada gossip terbaru, dipastikan dia adalah orang pertama yang menerima gossip itu lalu menyebarkan ke ibu-ibu kompleks lainnya.

Mulai dari tetangga yang telat menikah atau cepat-cepat menikah, mulai dari yang sibuk belajar sampai sekolah magister sampai yang tidak pernah sekolah, mulai  dari yang menikah belasan tahun tapi belum hamil sampai pengantin baru yang sangat subur hingga hamil berulang kali dalam kurun waktu singkat, mulai dari para pekerja yang pulang larut malam sampai pengangguran banyak acara sepertinya.

Rasanya tak ada satupun hal yang dialami oleh warga komplek yang tidak dijadikannya bahan pembicaraan.

“Udah dapat kerja?” tanya  Bu Suwita lagi. Dia masih berdiri di sana, masih menanti jawaban dari Yoggi.

Awal-awal yogi menganggap itu pertanyaan basa-basi. Biasalah, ibu-ibu suka penasaran sama kehidupan mahasiswa setelah lulus kuliah. Namun seiring berjalannya waktu, Yogipun kesal mendengar basa-basi busuk tersebut. Siapa yang tidak kesal kalau ditanyakan seperti itu setiap hari?

Bahkan pernah sekali ibu suwita menanyakan pertanyaan serupa, tiga kali dalam sehari. Persis minum obat.

Yogi mendorong motornya sampai ke parkiran rumahnya. Dia mengabaikan pertanyaan dari bu Suwita. Setelah memarkirkan motornya, dia beranjak masuk ke dalam rumah lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa usang berusia hampir sebelas tahun.

Dia menarik napas panjang. Hari yang cukup melelahkan. Dia sudah mondar – mandir, kesana kemari, masuk keluar gedung perkantoran dengan membawa map berisi lamaran pekerjaan. Sayang sekali dari semua kantor yang dia datangi hanya ada satu yang membuka kesempatan kerja tapi sebagai office boy. Yogi buru-buru menolak. Bukan karena perkara ijazah sarjana pendidikan yang dia miliki tapi dia memang tidak ahli bersih-bersih. Di rumah saja dia selalu menghindar kalau disuruh menyapu apalagi harus bekerja di kantor sebagai tukang sapu?

Bisa-bisa dia dipecat sebelum bekerja.

“Kok ngos-ngosan begitu?” tanya Ibunya yang keluar dari dapur dengan daster hitam polos dan jilbab abu-abu.

“Capek, bu.”

"Cari kerja memang begitu, nak. Tidak ada yang gampang. Kalau semuanya gampang, darimana kamu belajar berjuang.”

“Capek dorong motor, Bu.” Sahut Yoggi sambul mengembuskan napas pelan.

“Motormu kenapa? bocor ban lagi? Perasaan baru kemarin ditambal?”

Ban motor bagian depannya kemarin baru saja ditambal. Bahkan orang bengkel sampai tidak tega untuk menambalnya karena hampir semua bagian ban dalamnya itu sudah penuh tambalan.

“Tambal saja, Pak. Masih kuat kok,” kata Yoggi. “Jangan lihat ban dalamnya Pak, tapi lihat semangatnya! Motor ini, beuh! Sudah turun temurun. Usianya mau lima belas tahun sekarang!” kata Yoggi ketika tukang tambal ban menawarkannya untuk pakai ban dalam bekas saja yang tambalannya tidak sebanyak ban dalam sepeda motor miliknya.

“Bukan, Bu.”

“Terus?”

“Kehabisan bensin.”

Yoggi merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Adik-adiknya masih sekolah di bangku SMA dan SMP. Kehidupan mereka juga tidak kalah miris dibandingkan dengannya. Oleh karena itu dia bersikeras untuk mendapat pekerjaan terbaik secepat mungkin sehingga dia bisa membantu biaya pendidikan adik-adiknya. Supaya ibu dan ayahnya tidak menanggung beban berat itu sendirian.

“Kalau motormu dijual, kira-kira bisa laku berapa ya?” tanya Ibunya.

“Wah! Jangankan dijual, Bu. Dikasih gratis saja kayaknnya nggak ada yang mau deh.” Jawabnya sambil tertawa.

“Kamu tidak malu setiap hari naik motor itu?”

“Kenapa harus malu sih, Bu? Aku kan nggak mencuri. Aku hanya kesana-kemari, mencari kerja, pakai motor bersejarah.”

Ibunya tersenyum lalu mengusap kepalanya.

“Ibu doakan kamu dapat pekerjaan yang baik. Kalau ada pekerjaan yang ditawarkan, ambilah. Jangan terlalu lama menimbang. Usiamu masih sangat muda, masih perlu belajar banyak, jangan hanya mencari yang gaji besar saja.” ibunya memberikan nasihat.

“Iya, Bu.”

“Ya sudah, ibu ke depan dulu. Mau beli sayur di warungnya bu Suwita.”

“Emang nggak ada warung lain ya Bu?”

“Kenapa? kita kan sudah langganan lama di warung Bu Suwita. Lagipula di sana juga ibu bisa ngutang, bayarnya nanti tunggu ayahmu pulang.”

Ayahnya sekarang bekerja sebagai pengemudi ojek online. Pernah sekali ayahnya tersesat karena tidak tahu membaca peta di maps pada handphonenya. Beruntung tersesatnya tidak terlalu jauh, hanya masuk ke area pemakaman umum.

“Sayangku, dimana?” tanya Yogi saat menjawab panggilan masuk dari pacarnya, Ainun.

“Lagi di rumah. Sayangku udah makan, belom?”

“Belum. Ibu barusan keluar beli sayur.” Jawab Yoggi.

“Aku kebetulan masak ikan goreng rica-rica. Aku bawa ke rumahmu, mau?”

“Waduh, jangan repot-repot. Aku jadi nggak enak.”

“Santai aja sayang. Kamu kan pacarku. Aku juga pengen masakanku dicicipi sama calon mertua.” Ujar Ainun diikuti tawa di akhir kalimatnya.

“Bener nih nggak ngerepotin?”

“Bener sayang.”

“Ya udah, aku tunggu di rumah ya? Aku nggak bisa jemput. Motorku lagi merajuk. Tadi haus nggak aku kasih minum. Kasihan banget ya?”

“Hahahaha. Kamu itu ada-ada saja. Aku sebentar lagi on the way. Bye, sayang!”

Panggilan itu terputus. Ainun bekerja sebagai koki di salah satu rumah makan. Mereka sudah pacaran sejak masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Ainun yang selama ini jadi tempat bersandar Yoggi, apalagi ketika jaman-jaman sedang kuliah dulu. Saat permintaan dari kampus begitu banyak sementara tidak mungkin baginya meminta pada orangtuanya. Ainun selalu jadi tempat pelariannya. Katanya meminjam tapi sampai sekarang belum diganti. Ainun juga tidak pernah menagihnya.

Karena itu Yoggi bertekad, jika mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan gaji yang cukup maka gaji pertamanya akan dia gunakan utnuk mentraktir seluruh anggota keluarga termasuk Ainun. Dia ingin membalas budi kebaikan Ainun selama ini padanya.

“Kita akan menikah, aku janji kok.” Kata Yoggi, pernah satu waktu ketika mereka sedang pacaran di dekat taman kota.

BERSAMBUNG

Comments (1)
goodnovel comment avatar
minicroissant
menarik sih ceritanya.. mau follow akun sosmed nya dong kalo boleh?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status