Share

5. Elang vs Anna

“Cepat, aku ingin wanita itu,” kata Elang memberikan perintahnya.

Seperti namanya—Elang—dia ingin mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak akan membuat mangsa kabur begitu saja, dan tidak akan melepaskan mangsa yang ada di depannya.

“Aku tidak mau tahu, kau harus mendapatkan wanita itu, berani sekali dia mengunci leherku seperti itu,”

“Boss, jadi kau ingin balas dendam hanya karena wanita itu memukulmu?”

“Diam!” bentak Elang, membuat asistennya itu mengatup mulut. “Aku tidak terima, dia membuatku terjatuh, dan juga dia mengetahui rahasiaku, bagaimana jika dia membocorkannya?”

“Boss, kau terlalu berfikir berlebihan,”

“Kau pikir aku berlebihan? Jika dia mengatakan tentang rahasiaku, kita akan tamat,” kata Elang memberikan sedikit penekanan pada akhir perkataannya.

“Baiklah boss, aku pertaruhkan hidupku untuk ini,” kata asistennya sambil menancap gass.

Di sisi lain. Dalam perjalanan kembali ke rumah, sopir taksi tengah mengemudi dengan tenang, Anna duduk bersandar di kursi mobil dengan nyaman. Ia memangku kaki serta tangannya bersandar nyaman di sandaran lengan. Sebelah siku tertekuk, Anna menatap ke luar jendela, dia mengusap dahi membayangkan kejadian yang membuatnya menjadi seperti saat ini.

Pikirannya kini beradu dengan sebuah moment kilas balik yang menyesakkan dada serta menghantui pikran dan juga mimpinya.

“Jangan ganggu anakku lagi, dasar wanita murahan. Kau tidak pantas menjadi menantu keluarga kami,” hina salah seorang wanita.

“Deff, kau tidak percaya padaku?” tanyanya, sambil menatap ke arah pria yang dipanggilnya Deff, pria itu adalah pria yang harusnya menikah dengannya, namun semuanya terbalik.

Hatinya terasa sesak membuat tangannya terkepal erat.

“Tunggu saja, akan kupastikan penderitaan kalian lebih dariku,” gumam Anna. “Akan kupastikan itu,” tegasnya lagi.

Dahulu, dia hanyalah Anna yang selalu dipandang hina oleh orang-orang, hanya karena dirinya seorang yatim piatu. Usianya 20tahun saat itu.

“Ada apa Nona?” tanya sopir taksi sambil melihat ke arah belakang, ketika mendengar suara Anna bergumam.

“Tidak. Lakukan saja pekerjaanmu, tidak perlu bertanya,” tegas Anna dengan nada dingin.

Terlihat sebuah mobil tengah melaju dari arah belakang taksi yang di naiki oleh Anna.

“Tidak bisakah kau lebih cepat lagi? Taksinya ada di depan kita, kenapa kau tidak bisa melakukannya? Huh?! Atau kau ingin diganti?” Elang berucap penuh dengan intonasi penekanan, ancaman, emosi di dalamnya.

Pria itu tidak sabar ingin segera menerkam penumpang taksi itu. Benar saja, laju mobil terlihat membuat sopir taksi menginjak rem mendadak mengakibatkan kepala Anna terbentur di jok yang berada di depannya.

“Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak bisa menyetir dengan baik?” bentak Anna karena kesal dengan apa yang baru saja terjadi padanya.

Sejenak ia mengusap dahi, ada rasa perih di sana dalam hati dirinya mengumpat sopir taksi.

“A-aku minta maaf, nona. T-tapi, ada mobil yang berhenti tiba-tiba di depan kita,” ucap sopir taksi itu terbata-bata, ia takut jika Anna marah dan tidak membayar upahnya.

Anna mengerutkan kening ketika melihat ke arah depan, memang benar sebuah mobil menghalangi jalan mereka. Ia mengutuk dirinya sendiri yang memiliki pulang naik taksi daripada diantar pulang oleh asistennya.

“Kenapa juga mobil itu berhenti tiba-tiba, menghalangi jalan saja,” umpatnya. “Argh, harusnya aku meminta Febia mengantarku pulang, jadi tidak ada drama seperti ini,” umpatnya lagi sambil mengacak rambut karena frustasi.

Rasa lelah yang telah menjalar sekujur tubuh membuatnya ingin segera merendam tubuhnya dengan air hangat.

Anna tersentak kaget ketika melihat pria yang keluar dari dalam mobil, ia jelas mengenal pria itu—Elang Aderra—berwajah dingin serta tatapan ingin segera menerjang Anna. Kini ia mengerti, pria itu telah mengikutinya sejak tadi.

“Masalah apa lagi sampai pria gila itu ada di sini, sih,” umpat Anna sambil menghela napas panjang.

“Nona mengenal pria itu?”

Anna memilih tidak menjawab hanya memberikan beberapa lembar uang daan menyuruh sopir taksi segera pergi dari sana. Ia tidak mungkin melibatkan seseorang yang tidak ada hubungan dengannya, apalagi ketika melihat Elang membawa beberapa pengawal.

“Kenapa harus membawa banyak pengawal, lagi pula sangat mudah menumbangkan mereka,” gerutu Anna menutup pintu mobil dengan kasar.

Beberapa saat setelah Anna keluar, taksi itu pergi dari sana.

“Bawah wanita itu masuk ke dalam mobil,” titah Elang membuat Anna yang baru saja turun dari dalam mobil terkejut. Untuk pertama kali, ada seseorang yang ingin menculiknya, hal itu terkesan lucu di telinganya.

“Kenapa kau terus saja menggangguku?” tanya Anna.

Tubuhnya tidak dapat memberontak sebab dua orang pengawal memegang kedua tangannya hal itu membuat Anna kesulitan untuk bergerak. Bisa saja dia mengalahkan para pengawal yang di bawah oleh Elang tetapi dia ingin menjadi warga masyarakat yang baik.

Tubuh Anna bergerak karena paksaan dua pengawal agar mendekat ke arah Elang.

“Aku tidak mungkin membiarkanmu lolos, setelah mengetahui rahasiaku,” ucap Elang tegas.

“Rahasia? Rahasia apa? Kau pikir aku tahu rahasiamu?” kilah Anna, ia memberontak. Wajahnya begitu kesal karena dia tidak mengerti rahasia apa yang diketahui olehnya.

Hanya butuh satu tarikan membuat dirinya tidak berjalak apalagi ketika Elang mengamit gadunya dengan kasar membuat tatapan mereka bertemu satu sama lain. Pria itu membuat dirinya terpojok.

Sejenak pesona Anna menghipnotis Elang ketika melihat dengan jelas wajah itu, bibir wanita itu nampak menggoda untuk dicicipinya. Namun, bukan waktunya untuk bermain membuatnya segera menepis pikiran negative yang terlintar.

“Omong kosong, aku tahu kau mengetahuinya tapi berpura-pura tidak tahu. Kemudian akan memerasku,” cecar Elang membuka pintu mobil kemudian mendorong Anna masuk dengan paksa. “Wanita tetap sama, penggila uang,” hina Anna membuatnya terkejut dituduh sebegai penggila uang.

Dia? Penggila uang? Bahkan dia bisa membeli sebuah perusahaan menggunakan uangnya sendiri. Merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Elang padanya membuat wanita itu marah dan memberontak.

Anna tidak terima dengan tuduhan yang diberikan oleh Elang padanya. “Apa? Kau pikir aku wanita gila uang?” tanya Anna kesal.

“Aku tidak salah dong,” sambung Elang.

“Hei, apa kau gila? Kau membuatku masuk ke dalam mobil kemudian seenak jidat mengatakan jika aku wanita penggila uang, apa kau waras?” tanya Anna setengah berteriak membuat membuat pria yang berada di jok depan terkejut. Tidak pernah ada yang berteriak di depan boss mereka seperti yang dilakukan oleh Anna barusan.

“K-kau, berteriak padaku?”

“Ya, kau pikir aku berbisik?” tanya Anna balik, kali ini dia menaikan nada bicaranya karena kesal.

Elang menganga, ia pun sama tidak percaya ada wanita sekurang ajar itu padanya. Bahkan berani berteriak serta mengatai dirinya gila.

Ia tidak peduli hal itu. dia hanya ingin membuat wanita di hadapannya tunduk padanya tetapi membuat Anna apa mudah? Elang bahkan tidak tahu tentang masa lalu Anna.

“Kau tidak bisa menolak. Mulai hari ini kau adalah wanitaku, aku tidak akan membiarkanmu membocorkan rahasiaku,”

Rasa frustasi menghantui Anna berhadapan dengan pria gila yang tengah di depannya. Ingin rasanya ia membuat wajah pria itu babak belur.

Anna menggangkat satu alisnya, kemudian menghela nafas pelan. “Wanitamu? Rahasia? Hei, Pria gila dan juga stress, dengar ya. Aku … Reuel Anna, tidak akan pernah menjadi wanitamu, dan juga aku tidak tahu tentang rahasiamu,” tegas Anna. “Catatn baik-baik di kepalamu ini,” seru Anna sambi menunjuk kepala Elang. “ Aku … bukan … wa-ni-ta-mu,” lanjut Anna dengan nada tegas dan terbata-bata serta memberikan intonasi dikalimat terakhirnya.

“Kau tidak boleh menolak, kau harus menjadi wanitaku,”

“Huh! Peraturan apa itu? Memangnya kau siapa mengatur hidupku. Seenaknya membuatku menjadi wanitamu terus melayanimu di atas ranjang dan melahirkan anak untukmu? Mimpi saja kau. Lebih baik kau ke Psikiater, sepertinya kau mulai gila beneran,” cecar Anna membuat pria di depan menahan tawa, bahkan atasan mereka kesulitan menghadapi Anna.

“Er, tolong lakban,” titah Elang yang mulai kesal karena sejak tadi Anna terus saja memberontak.

“Untuk apa?”

“Untuk membuat wanita ini diam, dia terlalu berisik sejak tadi,”

“A-apa yang ingin kau lakukan padaku, pria gila?” tanya Anna gelagapan.

“Ervin, berikan padaku lakban,”

“Ta … tapi,”

“Segera,” suara Elang meninggi.

Bersambung …

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status