Share

Petaka Rambut Berwarna
Petaka Rambut Berwarna
Author: Rindu Rinjani

Mayat di Sungai Besar

Pemandangan yang berbeda muncul di kampung Jati Kidul pagi ini. Jika biasanya di pagi hari orang pada lalu lalang untuk memulai aktivitas kerja atau sekolah, atau sibuk bersih-bersih halaman dan mengurus ternak mereka. Kali ini sebagian besar warga justru berkumpul di pinggir sungai.

Adalah Tarjo seorang pria paruh baya yang biasa mencari ikan di sungai untuk dijualnya ke pasar tengah menjadi buah bibir dusun Jati Kidul. Karena pagi ini Tarjo tidak hanya berhasil menjaring ikan air tawar dalam jumlah besar, namun ia juga mendapatkan potongan tubuh manusia.

Beberapa di antara mereka menutup hidung karena bau tak sedap dari potongan tubuh temuan Tarjo yang bercampur amisnya ikan. Ada pula yang menutup mata mereka terutama kaum hawa lantaran pemandangan yang sangat mengerikan.

"Wih, sopo kuwi yo (Wah itu siapa ya)?" tanya warga mencoba mengira-ngira mayat yang ditemukan oleh Tarjo.

Tarjo sendiri hanya diam dan duduk menekuk lututnya sambil didampingi oleh rekannya Warso. Dia terlihat ketakutan terlebih jika nanti ia akan berurusan dengan kepolisian.

Warga yang berada di sana mencoba menakut-nakuti Tarjo tentang polisi. Mereka bilang di sana dia akan dipukuli dan dipakasa untuk mengaku kalau itu adalah perbuatannya.

"Hayoh kon Jo, engko awakmu lak digepuki nang kono (Hayo Jo, nanti kamu bakal dipukulin di sana)!" seru salah seorang warga dengan dialek Jawa Timurnya yang kental menakut-nakutinya.

Ingin sekali ia mengembalikan temuannya tadi ke sungai namun hati nuraninya berkata lain. Mayat ini pasti memiliki keluarga dan mereka pasti tengah mencarinya.

***

Beberapa jam sebelumnya ....

Sepeda motor King milik Warso berhenti di depan rumah Tarjo dini hari. Seperti biasa mereka berdua akan ke Sungai Besar mencari ikan air tawar untuk nanti dijual ke pasar.

"Gak onok sing keri ta (Apa tidak ada yang tertinggal)?" tanya Warso memastikan agar perlengkapan tak ada yang tertinggal. Tarjo mengangguk tanpa menyahut omongan rekannya.

Berdua mereka berboncengan menuju sungai besar yang berjarak dua kilometer dari kediaman Tarjo. Baik Tarjo maupun Warso berprofesi serabutan. Jika tak ada garapan, menjaring ikan adalah cara mereka untuk membuat dapur rumah mereka tetap berasap.

"Mugo oleh akeh yo, po neh oleh iwak kuthuk (Semoga dapat banyak ya, apalagi kalau dapatnya ikan gabus)," kata Tarjo penuh harap.

Sejak diketahui kalau Ikan Gabus mengandung albumin yang sangat baik untuk kesehatan, Ikan ini langsung menjadi primadona para pencari Ikan, dikarenakan harga jualnya yang cukup tinggi.

Motor King milik Warso diparkir di sebuah warung kopi dua puluh empat jam yang memang ada di pinggir sungai. Mereka minum kopi sebentar dan menyewa perahu pada pemiliknya yang sedang ada di warung kopi.

Udara malam itu cukup dingin, namun mereka berdua tak peduli. Perlahan mereka menebar jaring dan menunggu hingga waktunya tiba.

Di atas perahu mereka berdua tertidur sambil mendekap tubuh mereka sendiri. Tak peduli dengan kenyamanan tidur mereka berdua yang tidak bisa membaringkan tubuh karena ukuran perahu yang tidak besar.

Sinar jingga menerpa wajah kedua pria paruh baya itu dari arah timur. Pertanda sebentar lagi pagi. Tarjo menepuk-nepuk pipi rekannya agar segera bangun dan mengangkat jaring mereka. Mereka harus tiba di pasar sebelum hari terang.

"So, Warso tangi So (So, Warso bangun)!" panggil Tarjo pada temannya.

Warso mengusap kedua matanya dan mengumpat kalau kali ini mereka sedikit kesiangan. Berdua mereka menarik jaring yang tadi ditebarnya.

"Wuih abot men Jo, akeh mesti iwake (Wih berat sekali ini Jo, pasti ikannya banyak)!" seru Warso.

"Mugo ae So (Semoga saja So)."

Bersama mereka mengangkat jaring yang sudah penuh ikan air tawar aneka macam. Sepertinya kali ini didominasi oleh ikan nila. Mereka pun menepi dan segera memilah hasil tangkapan mereka.

Sudah kebiasaan bagi Tarjo dan Warso untuk mengembalikan ikan-ikan kecil yang ikut terjaring ke dalam sungai. Perlahan mereka membuka jaringnya dan sebuah pemandangan aneh pun muncul.

Di tengah-tengah jaring mereka mayat seorang perempuan muda dengan rambut sebahu berada di sana. Yang mengenaskan mayat itu hanya separuh, alias dari pinggang ke kakinya tidak ada.

Tarjo terkejut bukan main hingga ia berteriak. Warso yang ada di sebelahnya menutup mulut Tarjo agar tak ada yang datang kemari. Ia bermaksud untuk mengembalikan mayat itu ke sungai dan disetujui oleh Tarjo.

Sayangnya mereka terlambat. Teriakan Tarjo cukup keras sehingga mengundang orang-orang yang berkumpul di warung kopi, pencari rumput di pinggir sungai datang ke arah mereka.

Lambat laun orang yang datang ikut-ikutan berteriak dan mengundang warga yang lalu lalang ikut melihat temuan Tarjo dan Warso. Tak tahu bagaimana ceritanya akhirnya warga kampung Jati Kidul berkumpul di sana.

***

Dua sejoli tengah duduk berhadapan sembari menikmati sajian nasi pecel di warung samping sebuah Bank Swasta. Yang perempuan mengenakan kemeja berwarna putih dengan rok sepan warna krem dan scraf yang diikat menyerupai pita melilit lehernya. Sedang di hadapannya seorang pria gagah mengenakan jaket berwarna hitam untuk menutupi seragam cokelatnya.

"Maaf ya sayang, baru sekarang ini Mas bisa antar kamu ke tempat kerja, sekaligus sarapan bareng," ujar pria berseragam cokelat itu pada kekasihnya yang duduk di hadapannya.

Dia adalah Satria Aria Wicaksana seorang polisi berpangkat IPTU. Seorang polisi muda yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan selalu berhasil memecahkan kasus-kasus kriminal yang sulit.

Baru-baru ini IPTU Satria berhasil mengungkap kasus penjualan anak-anak di bawah umur dan membuatnya mendapatkan penghargaan. Meskipun untuk memecahkan masalah ini dia harus merelakan banyak waktu pribadinya, termasuk waktu untuk bersama Ambar Herawati tunangannya.

"Nggak pa pa Mas, aku ngerti koq ini semua sudah jadi tugas dan tanggung jawab Mas," jawab Ambar sambil menyeka pipi Satria dengan tissue karena ada sisa nasi di sana.

Satria meraih tangan Ambar dan menggenggamnya, "Terima kasih ya dek, udah coba ngertiin Mas."

"Mas sudah menjadi abdi negara sebelum kenal sama aku, jadi nggak ada alasan buat aku untuk nggak ngertiin Mas."

Satria tersenyum, sambil kedua matanya menatap tunanggannya dalam-dalam.

"Cie yang mau jadi Ibu Bhayangkari," godanya pada Ambar.

"Iih apa sih Mas," jawab Ambar manja sambil mengerucutkan bibir merah mudanya.

Wajah Ambar yang putih terlihat sangat menggemaskan di mata Satria. Membuat pria tiga puluh dua tahun ini ingin selalu melindungi dan menjaganya.

Nasi di piring Satria masih tinggal seperempat dan saat itu gawainya tengah bergetar di saku celananya. Sebuah nama yang tak asing banginya yang harus segera dijawab panggilannya. 

"Bentar ya," jelasnya pada Ambar.

Satria pun menjawab telepon dari komandannya, Bima Aksara. Saat itu ia diperintahkan untuk segera meluncur ke sungai besar di kampung Jati Kidul dan mengurus kehebohan yang sedang terjadi di sana.

"Ya, siap komandan, saya meluncur ke sana sekarang juga," jawab Satria sambil mengakhiri panggilannya.

Satria pun berpaling ke arah kekasihnya. Ada rasa tidak enak saat memandang wajah Ambar yang menatapnya dengan pandangan yang sendu.

"Telepon dari Pak Bima Mas?" tanya Ambar yang diikuti oleh anggukan Satria.

"Iya dek mmm," Satria seolah tak sanggup meneruskan kata-katanya.

"Mas harus pergi?" tanya Ambar lagi dan dibalas dengan anggukan darinya.

"Pergilah Mas, disana lebih butuh Mas."

"Lalu kamu gimana?"

"Kantorku di sebelah Mas, aku bisa jalan kaki ke sana," jawab Ambar dengan senyum untuk memberi semangat pada kekasihnya.

"Nanti Mas jemput ya!" pamit Satria.

"Gampang soal itu Mas, sekarang Mas selesaikan tugas Mas dulu!" Satria pun mengeluarkan dompetnya serta mengeluarkan selembar uang berwarna merah dan diletakkan di meja.

"Ini buat bayar ya Dek, Mas pergi dulu. Doakan semua lancar!" pamitnya berlalu.

DMCA.com Protection Status