Bintang Tenggelam
Bintang Tenggelam
Author: Senja Amor
Kelam

Hal yang tak pernah ku inginkan ternyata terjadi dan hal hal itu seakan akan menghantui diriku seumur hidup. Seharusnya saat itu aku menyesali nya, karena waktu tak bisa ku putar kembali dan aku telah menyesal meninggalkan mu dan membiarkan mu merasakan rasa pahit kehidupan bersekolah.

-Lintang

'Wiuuuu wiuuuu wiuuuu'

Suara ambulance berdentang keras membuat gendang telinga ini terasa panas dan copot.

Aku berlari dengan isak tangis yang bergemuruh dengan kecepatan langkah kaki yang semakin lama semakin kaku untuk berlari lagi.

Aku terhenti di depan sebuah gedung apartemen yang megah, semua orang berkerumun disana dengan suara bising mobil polisi dan ambulance. Garis Line berwarna kuning itu membatasi kerumunan orang orang itu.

Aku segera menerobos kerumunan itu seraya menangis tersedu sedu.

Deg!

Jantung ku terasa terhenti seketika energi ku lemas ingin segera pingsan disaat itu juga. 

"Beri jalan, beri jalan!" titah seorang polisi yang mengawal petugas ambulance yang sedang membawa jenazah bunuh diri.

Aku ambruk dengan sendirinya saat melihat korban bunuh diri itu ternyata benar Nayli. Dan yang membuat ku menangis lagi adalah ia masih memakai seragam sekolah dengan memakai geleng persahabatan yang kembar dengan ku. Nayli membeli gelang itu  dengan gantungan kunci yang sama lalu ia juga memberikan ku gelang dan gantungan kunci sebagai bukti persahabatan bahwa kita tak kan pernah berpisah.

Namun takdir berkata lain, langit dan bumi berkata lain. Dan aku membenci itu.

Aku menangis deras seraya menerobos garis line polisi tanpa berfikir ulang. 

"Nayli...Nayli!" teriak ku pada dirinya yang sudah terbaring di ranjang jenazah dengan darah terkucur di seluruh tubuh nya dan gelang itu hampir setengah berlumur oleh darah.

Salah satu seorang Polisi keluar dari dalam apartemen dengan membawa tas sekolah Nayli, dan gantungan kunci yang berbentuk love itu masih tergantung di resleting tas nya.

Ternyata dia masih memakai gelang persahabatan itu dan masih memasang gantungan kunci itu di tas nya. Padahal persahabatan ku dengan nya sudah berakhir  2 bulan lalu.

"Maaf, nak kamu tidak boleh menerobos masuk begitu saja!" 

Polisi memegangi ku dan menahan ku agar tidak melihat jenazah nya secara langsung.

"Hey pak polisi! aku ini sahabat nya kenapa tidak boleh melihat! hey! biarkan aku melihat dia sekali saja!" Aku berteriak dan berucap dingin dengan frustasi dan membentak salah satu polisi itu.

Aku tidak peduli itu polisi atau siapa pun itu yang terpenting aku ingin bertemu Nayli dan melihat nya lebih dekat seraya ingin memeluk nya untuk yang sekian kalinya.

"Saya faham nak! tapi kita harus menunggu hasil otopsi terlebih dahulu dan mayat akan kami selidiki, keluarga dan kerabat tidak boleh mendekat apalagi hanya seorang teman" celetuk Polisi itu.

"Hey! apa pak? hanya seorang teman? dia sangat berharga bagiku! kami selalu bersama, kami bersahabat bersama! kenapa kau menghalangi diriku untuk bertemu dengan nya? kenapa dia sekarang seperti itu?!" Aku berucap seraya menangis tersedu sedu menutup kedua mataku dengan kedua tangan.

"Kami faham, tapi tolong bersabar dan tolong ikuti prosedur dari kami"

Aku tak bisa bernafas rasanya sesak karena aku telah kehilangan sesosok orang yang aku cintai selama ini dan persahabatan itu telah pupus dalam sekejap.

Tak ada yang tersisa lagi hanya kenangan kenangan terdahulu yang mungkin juga akan pupus oleh waktu.

Jlep!

~~~~~~

20 Hari mendiang Nayli.

"Hey kenapa kau tiba tiba datang kesini?" tanya Arkan dengan memakai seragam bela diri.

"Aku ingin berlatih bela diri dengan mu" ucap ku tanpa basa basi.

"Apa? hey, apa aku tidak salah dengar? kenapa kau mau belajar bela diri bersama ku?" Arkan terkekeh dan terheran heran karena tiba tiba aku ingin belajar bela diri.

"Aku punya alasan tersendiri, lagi pula lebih baik juga kan kalau aku bisa belajar bela diri, aku bisa menjaga diri ku sendiri, tolong ajari aku kau kan sangat ahli dalam bidang ini" ucap ku memohon pada Arkan.

"Meski kau tidak belajar bela diri aku akan selalu menjaga mu! memang kamu yakin??"

"Hey! tentu saja aku yakin, makanya aku jauh jauh kemari hanya untuk berlatih dengan mu!" ucap ku seraya berdecak.

Arkan terkekeh seraya berucap

"Okelah, aku izin coach dulu untuk melatih gadis nakal ini, tunggu disini ya"

"Hey! Dasar! hem baiklah"

Aku menunggu Arkan, seraya melihat langit langit gedung bela diri ini yang besar dan luas. Peralatan untuk bela diri pun sangat lengkap dan isi ruangan ini sangat bersih dan rapi.

'Hem, ruangan ini sangat nyaman padahal jika dilihat dari luar, gedung ini sangat menyeramkan dan biasa saja, padahal dalam nya dimodif seindah ini, memang kita tidak bisa melihat apapun itu hanya dari luar saja melainkan dalam nya juga sangat perlu' Gumam ku dengan mengulas senyum.

Arkan menghampiri ku seraya menjulurkan seragam bela diri perempuan.

"Pakailah itu, ruang ganti nya sebelah sana" ucap Arkan seraya menunjukkan ruangan ganti.

"Baiklah"

3 menit kemudian....

Aku dan Arkan sudah siap untuk berlatih. 

"Kamu pegang tangan kanan ku ini lalu banting aku seperti ini, paham?"

"Hem baiklah"

"Okay mulai!"

'Brakkkk'

"Good"

"Sekarang pegang pundak ku lalu banting aku lagi dari samping!" 

Aku melakukan titah Arkan namun Arkan menangkis lawanan ku.

Aku yang entah mengapa melawan tangkisan Arkan lagi dengan cepat dan sigap hingga membuat ia terbanting keras.

'Prokkkk...Prokkkk...Prokkk' 

Salah satu seorang coach ber tepuk tangan dengan berjalan menghampiri ku dan Arkan seraya berucap "Good! very very perfect! kamu menangkis nya sangat sempurna! dan kamu bisa mengalahkan sang raja karate kita" 

Arkan segera bangkit dan membungkuk kan tubuh nya seraya menundukkan kepala nya menghadap coach itu.

"Nama mu siapa?" tanya coach itu dengan sosialita.

"Lintang"

"Nama yang dalam artian pemberani dan unik" celetuk coach itu seraya mengangguk anggukan kepala nya.

"Memang, nama ini anti pasaran" celetuk ku berbangga dengan nama Lintang.

coach itu malah terkekeh dan Arkan pun ikut terkekeh.

"Arkan, ini teman mu?"

"Iya coach, dia teman saya sejak kecil"

"Good!"

"Bagaimana kalau kamu ikut berlatih disini setiap minggu bersama Arkan? itu penawaran yang sangat bagus bukan?" tanya coach itu dengan tersenyum miring.

"Ikut di kelas coach Mario apa coach Wahyu?" tanya Arkan 

"Coach Mario! saya sendiri yang akan mentutor kamu, jadi kamu bisa satu kelas dengan Arkan, kamu bisa langsung naik ke level ini karena kamu sudah good dan tinggal berlatih prosedur karate dengan benar saja, gimana?"

"Wah penawaran yang bagus coach, Lintang bagaimana menurut mu apa kamu mau ambil kelas ini per minggu?" tanya Arkan yang ditujukan kepada ku.

"Hem, baiklah aku akan mengambil kelas ini" ucapku mengulas senyum.

"Coach terimakasih sekali lagi aku akan belajar dengan giat dan tekun untuk memperdalam ilmu karate ini" ucap ku datar dengan setengah menunduk.

"Okey! kamu bisa mulai minggu depan untuk kemari!"

"Arkan, kamu juga harus bimbing dia dengan baik karena kamu juga akan menjadi coach setelah ini" imbuh coach Mario dengan menepuk pundak Arkan.

"Baik coach, terimakasih"

~~~~~~~

"Hey, minumlah ini" celetuk Arkan seraya memberi ku sebotol jus alfukat kesukaan ku.

"Terimakasih,"

"Terimakasih juga untuk latihan hari ini Arkan,"

"Sama sama, hey! sekarang aku senang kamu bisa bergabung dalam karate ini bersama ku," 

"Aku sangat beruntung ternyata bisa langsung naik level seperti mu dan bisa sekelas dengan mu," celetuk ku bersemangat.

"Menurut ku juga seperti itu, jarang sekali coach Mario menaik kan level kepada seseorang, mungkin tangkisan mu tadi membuat coach tergila gila" celetuk Arkan seraya terkekeh.

"Hey! jangan bercanda tapi aku tidak sehebat dirimu"

"Hey! seperti nya kamu tadi sedang menghepas semua masalah mu dengan ingin berlatih karate bersama ku" tanya Arkan seraya meneguk sebotol jus nya.

"Yah, kamu benar aku ingin menghempaskan masalah ku yang terus menghantui diriku dari dulu dengan melakukan kegiatan seperti itu" ucapku singkat.

"Masalah dari dulu? masalah apa?"

"Masalah yang tak kan pernah terlupakan tapi aku bersikeras mencoba melupakan nya" ucapku seraya menunduk dan hanyut memikirkan masalah yang dahulu masih menghantui ku sampai sekarang.

Akankah aku bisa melupakan semua itu akankah aku bisa membuka lembaran baru dan menghapus jejak Kenangan terburuk di masa lalu? Akan kah aku bisa meminta maaf kepadanya dan menyesali smuanya;

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status