Share

Chapter 5

Shania melajukan mobilnya dalam perjalanan pulang dari kantor dengan tenang, dan sedikit penat di tubuhnya. Ia telah mengerjakan banyak hal hari ini, terang saja ia merasa lelah. Tapi stamina Shania cukup teruji. Gadis dengan pola makan sehat dan gaya hidup yang tidak serampangan—kecuali saat ia menginginkannya—itu terbukti jarang sakit. Dan kelelahan fisik apapun yang menderanya, biasanya enggan bertahan lama. 

Shania berkonsentrasi dengan baik, menyusuri jalanan di depannya. Ia merasa semuanya akan berjalan baik-baik saja, sampai ia dapati sebuah petualangan ternyata menantinya sore itu. 

"Aaaa!" Seorang pria berteriak sambil menutup wajahnya dari samping dengan kedua tangannya. Jelas saja ia berlari sembarangan di jalan, sampai-sampai hampir tertabrak mobil Shania.

Shania bukannya tidak kaget. Ia bahkan merasa jantungnya hampir copot. Katakutan akan melukai orang yang hampir tertabrak itu seketika menguasai dirinya. Tapi di saat yang bersamaan ia pun merasa jengkel dan juga tidak mengerti kenapa pria itu sembarangan saja berlari.

Shania bergegas keluar dari mobil untuk melihat orang itu. Tapi wajah yang ia temui seolah membuatnya menyesal keluar dari mobil.  

"Tuan Edward!" hardik Shania. "Kenapa sembarangan lari-lari di jalan? Bagaimana kalau sampai tertabrak kendaraan?"

"Hh! Sudahlah, diam!" sergah Tuan Edward. Ia terlihat lega melihat Shania. Tapi dengan terburu-buru ia melanjutkan ucapannya, "Tidak perlu banyak bertanya, sekarang ayo kita pergi dari sini!" 

Tanpa menunggu apapun, Tuan Edward menarik tangan Shania masuk ke dalam mobil. Ia bergegas mengemudikan mobil itu meski Shania yang tidak mengerti apa yang terjadi terus menggerecokinya dengan berbagai pertanyaan. "Ada apa? Kenapa berlari-lari tidak jelas? Lagipula—dimana mobil Anda, sampai harus membajak mobil saya seperti ini?"

"Demi Tuhan, diamlah!" hardik Tuan Edward tegas, setengah stres. Shania akhirnya terpaksa diam dan menunggu sampai ketegangan di wajah Edward mereda. Ia bersedekap dengan ekspresi kesal sembari menunggu kesempatan itu datang.

"Aku," kata Tuan Edward, "meninggalkan mobilku tidak jauh dari tempatmu hampir menabrakku tadi. Ada demo besar di sana. Aku terjebak. Akhirnya aku tinggalkan mobilku di sana, dan lari begitu saja." Tuan Edward melirikkan matanya pada Shania yang tampak mendengarkannya. "Kalau kita tidak segera pergi dari tempat itu, rombongan anarkis itu pasti akan segera sampai di tempat itu, dan bahkan kamu pun tidak akan bisa keluar."

"Benarkah?" ujar Shania ragu. "Demo apa? Aku tidak tahu kalau akan ada demo, hari ini."

"Tidak penting kamu tahu atau tidak. Aku juga tidak menyempatkan diri untuk melihat apa yang mereka tuntutkan. Itu bukan urusanku."

Shania tak terkejut dengan ucapan Edward. Kepentingan umum memang sepertinya tidak pernah menjadi bagian dari urusan tuan di sampingnya itu. 

"Baik," ujar Shania serius, "jadi apa sekarang kita—maksudku aku—ehm, saya—harus mengantar Anda ke rumah?"

"Tentu," jawab Tuan Edward khidmat. "Aku tidak merasa kamu akan mengambil pilihan lain yang tidak bijak."

"Baik! Akan saya anggap itu permintaan. Meskipun biasanya permintaan itu disampaikan dengan jelas, dan baik. Tapi tidak masalah. Hanya saja, kita harus berhenti dulu di apotek, nanti."

"Untuk apa?" tanya Edward mengerutkan kening.

"Ibu saya meminta saya membeli obat untuk anak panti. Hanya itu."

Sadar dirinya menumpang, Edward mengiakan permintaan itu tanpa terlalu banyak protes, sementara Shania kini menikmati perjalanan dengan bersedekap nyaman sembari menyandarkan dirinya di kursinya dengan rileks, karena ia seolah mendapatkan sopir baru untuk menggantikannya menyetir mobil barang sejenak. Tuan Edward memandang gadis yang jelas-jelas memanfaatkan keadaan itu dengan tatapan tanpa ekspresi. 

Sesuai janji yang telah diucapkan pada sang pemilik mobil, yang kini memegang peran bak putri raja, Tuan Edward menghentikan mobil itu saat mereka melewati sebuah apotek. Shania tanpa babibu langsung turun untuk segera menuntaskan keperluannya. Bukan tanpa alasan. Ia pun sejujurnya penat dan segera ingin sampai ke rumah. 

Tapi apa mau dikata, apotek itu mungkin baru mendapatkan hari keberuntungannya—atau mungkin memang telah terbiasa seperti itu, Shania tidak tahu. Antriannya begitu panjang. Semua pelayan dan kasir bekerja tanpa henti melayani pembeli yang berjibun dengan peluh yang sesekali mereka usap, tapi senyum lebih banyak menghiasi wajah penat mereka. Terang saja, toko mereka begitu laku. Shania yang telah begitu penat pun akhirnya harus menunggu dan bersabar. 

Kesabaran Shania berbanding terbalik dengan kesabaran Tuan Edward yang memang stoknya tipis. Pria itu memutuskan untuk menyusul sang pemilik mobil, yang mungkin bisa ia seret begitu saja untuk pulang.

"Kenapa lama sekali?" tanya Tuan Edward.

"Anda tidak lihat, antriannya begitu panjang?" jawab Shania tak bersemangat, yang terpaksa diiakan oleh Tuan Edward dalam hati. Tapi mulutnya yang terbiasa mengkritisi segala sesuatu itu tak membiarkannya diam. 

"Ini sudah terlalu lama. Apa tidak bisa dipercepat?" protes Tuan Edward.

"Tidak," jawab Shania datar. 

"Ini buruk!"

"Tidak seburuk itu kalau Anda diam."

Tuan Edward kembali bergumam mengeluhkan keadaan yang terdengar tak penting di telinga Shania, hingga akhirnya lirikan gadis itu yang tajam membuat pria itu terpaksa membesarkan hati untuk diam, meski merasa terhina. Ia berdiri di samping Shania bermaksud menunggu gadis itu. 

Entah obat apa saja dan untuk siapa saja yang dibeli seorang pembeli di depan, hingga kasir butuh waktu yang sangat lama untuk menghitungnya. Di saat itu, Shania dan Tuan Edward mendapati rentang waktu yang cukup lama untuk berdiri berdampingan menunggu giliran, hingga seseorang yang tidak mereka sadari keberadaannya, puas mengambil foto mereka berdua. Begitu halus, pelan, dan tak terbaca, hingga gerakan salah satu wartawan surat kabar itu benar-benar tak disadari oleh Shania maupun Tuan Edward.

Tampaknya wartawan itu belum cukup puas, hingga ia menambahkan jepretannya saat Tuan Edward akhirnya keluar dengan diikuti Shania di belakangnya, dilengkapi satu foto pamungkas saat akhirnya mereka masuk ke dalam satu mobil yang sama. Sempurna! 

Tuan Edward—seorang pebisnis sukses dengan nama yang sudah sangat dikenal—yang kini telah menduda, diketahui menjalin kedekatan dengan seorang gadis muda, yang mulai dikenali oleh banyak pihak dari kalangan pebisnis, sebagai seorang arsitek yang tengah naik daun. Berita ini siap untuk diperkenalkan ke tengah publik.

Kabar tentang hubungan ini, jika dinaikkan ke permukaan, akan mendongkrak popularitas surat kabar tempat ia bekerja, dan ia akan mendapatkan apresiasi tinggi atas prestasi itu. Kebahagiaan dan antusiasme seketika meruah di hati wartawan itu, seiring gerakannya yang dengan hati-hati menyimpan kamera itu di dalam tasnya. 

Sementara itu, Tuan Edward dan Shania yang telah berhasil menyelesaikan perjalanan mereka menuju rumah Tuan Edward, tampak begitu lega. Mereka kini sampai di depan rumah keluarga Ananta, yang membuat Shania tiba-tiba teringat dengan Nyonya Brenda. Bayangan tentang anak-anak sang Nyonya pun turut menghiasi benak gadis muda itu. 

Rumah besar, mewah, dan begitu megah itu, di dalamnya menyimpan kisah sedih yang tak banyak diketahui orang. Shania mulai gundah memikirkan tentang Bianca, dan beban batin yang anak itu rasakan, berikut semua tingkah pelampiasannya yang menyedihkan. Shania mendesah pelan. 

"Ada apa denganmu?" tanya Tuan Edward sembari melepas sabuk pengamannya.

"Tidak ada apa-apa," jawab Shania. "Turunlah!"

"Tentu saja!" ujar Tuan Edward itu yang langsung bersiap membuka pintu, namun suara Shania menghentikannya. 

"Sama-sama!" ucap Shania datar.

"Apa maksudmu?" tanya Edward tak mengerti.

"Tidak. Saya hanya mencoba berpikir baik dengan menganggap Anda sangat beretika. Mungkin Anda sudah mengucapkan terima kasih, hanya saja saya tidak mendengarnya. Jadi ... sama-sama," jawab Shania sedikit berceramah. 

Tuan Edward terlihat bosan. "Apa kamu mensyaratkannya untuk pertolongan yang kamu berikan?"

"Tidak, tentu tidak," jawab Shania. "Hanya saja, saya merasa penasaran bagaimana Anda menjalin interaksi dengan orang lain, selama ini. Saya bahkan belum pernah bertemu dengan orang yang—"

"Cukup! Aku tidak berminat dengan ceramahmu. Baik! Terima kasih!" sergah Tuan Edward yang kemudian keluar dari mobil dengan sangat cepat. Shania menduga ocehannya telah membuat pria itu ketakutan. 

"Sama-sama, Tuan!" desah Shania pelan dengan sedikit prihatin. 

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status